Lilimarie, Sebuah Musim

Seroja White

 

Jalanan masih basah, aspal hitam masih sedingin kening peri yang menganyam hujan semalaman.  Dua tubuh masih di ranjang, sejam yang lalu mereka merajah peluh.  Mata sang lelaki menatap langit-langit, ada banyak gelisah di sana,

“Aku ingin pulang..” suaranya serupa asap, begitu tipis menyentuh gendang telinga Aliana, ia tahu ada gunung ragu yang mencekat tenggorokan lelaki itu.

“Pulang ke mana…?”

“Ke kota tua itu, Aliana..” Aliana sudah duga, pasti lelaki itu ingin pulang ke sana, kota itu, La Viazza, dan Azqa.  Ya, seharusnya setahun dulu Aliana tak bawanya ikut serta.  Jelas terpancar  kerinduannya pada kota tua itu.

***

Setahun yang lalu Aliana juga sempat terpikat, pada jembatan Golden Wood.  Jembatan itu bak pelangi yang membujur sepanjang sungai  Dhisrent yang membelah tepat di tengah kota.  Dan yang paling Aliana suka adalah taman Ztezte, rumput tebal yang terhampar  seperti permadani hijau, sehingga tak perlu ada kursi-kursi  taman seperti di tempat lain. Di sana setiap orang dapat lesehan di rumput, atau berteduh di bawah rimbunan  Akasia.  Aliana masih merekam ingat ketika lelaki itu menahan tawa melihat Aliana berjingrak kesenangan karena mendapati banyak ayunan di taman itu.

“Kau tahu sayang, dulu waktu kecil saat bermain di taman, aku pasti tidak pernah dapat giliran untuk bermain ayunan.   Anak-anak lebih besar selalu terlebih dahulu menguasainya, dan tak pernah mau gantian.” Lelaki itu hanya mengulum senyum, dan tawanya pun tak surut ketika dengan kemaruk Aliana mencobai setiap ayunan yang ada di taman itu satu persatu.

Lalu setika hujan turun pun mereka masih enggan beranjak dari taman.   Lelaki itu masih berdiri di antara barisan Palm, mungkin sekitar dua puluh tiga langkah dari Aliana.  Menatap lelaki itu sejauh ini di bawah rinai hujan membuat nafas Aliana tersengal, seketika dadanya penuh dengan ketakutan seperti akan kehilangan .  lelaki itu masih di sana tak memperdulikan hujan, menatap Aliana dalam diam, dan sebuah senyum dengan ceruk kecil di kedua sudut bibirnya.  Lalu lusinan langkah kecil mendekat ke arahnya, menerobos hujan membawa sebuah payung, Azqa.

***

Sebelumnya Aliana enggan menuruti permintaan Papanya untuk menjenguk Oma di Green Vilage, sebuah kota tua sebelah utara Big Mounth. Tapi papanya bersikeras, Aliana tak pernah berjumpa dengan Oma sejak usianya tiga tahun. Oma sekarat, itu alasan yang mampu mengusik nuraninya, mungkin ini saat terakhirnya bersama Oma, hanya beberapa hari, mengapa tidak? Pikir Aliana.

Ini tak seperti yang Aliana bayangkan,  sepanjang sepertiga perjalananya menuju Green Vilage     dihabiskannya dengan decak kagum. Ron, supir papanya sampai geleng-geleng kepala, beberapa kilo meter lagi sampai ke Green vilage Aliana selalu bergumah dan menunjuk-nunjuk. Pemandangan di Green Vilage sangat indah dengan deretan hutan cemara dan dataran tinggi yang landai.

Oma memang sakit, tapi tak sekarat seperti yang digembar-gemborkan papanya.  Wajah tua Oma masih sama teduh dan bersahaja seperti dulu, walau ketika beranjak dewasa Aliana hanya sempat menjenguk Oma lewat foto-foto album keluarga.  Dulu papa dan mamanya sempat tinggal di Grand Vilage, lalu pindah ke Holle kota tempat tinggal mereka sekarang. Waktu itu Aliana baru berusia tiga tahun. Dan sekarang Aliana telah tiba di Grand Vilage kembali.

Pagi itu Oma ingin dimasakkan stuf nanas, dan Aliana menawarkan diri untuk membelikannya bahan-bahannya ke pasar,  Aliana memilih berjalan kaki.  Dua hari berada di rumah Oma membuatnya suntuk, walau menemani Oma seharian membuatnya semakin dekat dengan beliau.  Melunasi rasa rindu, dan Aliana sangat gembira karena kondisi kesehatan Oma juga semakin membaik.  Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai di pasar yang terletak di tengah kota, cukup melelahkan juga, Aliana jadi berpikir untuk mencari tumpangan sepulangnya nanti.

Pasar Dolores tak begitu ramai lapak penjual, hanya ada kios penjual daging, sayuran dan dan beberapa toko kelontong.  Setelah didapatkannya semua bahan masakan dan beberapa daftar belanja yang dititipkan Oma, kini keranjang belanjaannya penuh, huuf…berat juga ternyata. Di sebuah warung kopi Aliana singgah, melepas dahaga dengan segelas mocacinno dingin.  Aliana memilih duduk di teras warung di bawah payung besar berwarna kuning sambil melihat hilir mudik pejalan kaki. Wajah-wajah mereka selalu tersenyum, saling menyapa, say hello, obrolan singkat dan berpisah dengan sebuah pelukan yang hangat. Pemandangan yang tak akan Aliana temui di Holle.

 

Matanya terpaut pada deretan pertokoan di pinggir jalan, di sebuah jendela di sebelah Isabel taylor. Di jendela itu tampak dari kejauhan serumpun bunga Lilimarie berwarna ungu dengan pot antik terbuat dari perak. Di atas pintu masuk sebuah plang nama tertulis ‘la viazza’ dan sebuah lonceng kecil dari kuningan di bawahnya, mengingatkan Aliana pada lonceng yang sering tergantung di leher sapi pada buku-buku dongeng, menarik! Dan rasa penasaran membawanya tepat kini di depan pintu La Viazza.

“Masuk lah..” terdengar suara dari dalam, suara seorang laki-laki,  kala itu Aliana baru hendak mendorong pintu ketika suara itu kembali terdengar kembali,

“Jangan lupa bunyikan lonceng itu sebelum kau masuk, juga tutup kembali pintunya nona..”  Aliana menturuti perintah suara lelaki itu, lonceng itu berdenting lembut ketika Aliana menggoyangkannya perlahan, dan masuk.

Seketika aroma lilimarie menyergap hidungnya, pasti berasal dari serimbun lilimarie ungu di jendela itu. Memasuki ruangan itu seperti memasuki sebuah ruang keluarga, berbeda dengan perkiraaan Aliana sebelumnya, sebuah galeri art penuh dengan benda-nenda seni, semisal lukisan, ukiran, handycraff atau apa lah itu. Ruangan itu hanya berisi beberapa lukisan di dinding, dua buah patung kayu khas mozambik, beberapa vas kaca yang di letakkan sembarang di sehelai kain sutra. Di langit-langit tampak dihias dengan  bintang-bintang kecil dan bulan sabit dari perak yang dibuat seperti tirai membentuk lingkaran. Di sudut ada dua buah sofa tunggal dan sebuah meja. Sederhana tapi berkesan hangat.

Awalnya Aliana tidak melihat sesok lelaki itu karena tertutup oleh dua patung, ternyata di sebaliknya seseorang lelaki sedang memunggunginya dan sedang mengerjakan sesuatu. Lelaki itu berbalik, menyambutnya dengan sebuah senyuman, selamat datang.

“Ada yang bisa saya bantu nona..? Deg! Jantung Aliana berhenti berdegup, seakan lenyap ditelah suara bariton  lelaki  yang kini tepat berdiri dua langkah di depannya itu,

“Heloo…” Aliana kikuk, ia hanya mampu  melakukan beberapa gerakan tangan di atas udara menyatakan aku hanya mampir dan tak sengaja sampai di tempat ini. Lelaki itu tersenyum dalam, seakan dapat membaca jelas kalau perempuan yang berada di depannya itu sedang salah tingkah.  God! Mengapa aku begini? Batin Aliana.

“Hem..tadi saya tidak sengaja lewat, dan singgah…eh..galeri anda bagus, menarik…”  Aliana masih terbata, begitu berat menyusun kalimat basa-basi di bawah todongan tatap mata lelaki itu.

“Tak banyak yang dapat kau lihat di sini nona, ini hanya beberapa koleksi, kau suka apa? Lelaki itu menuangkan secangkir tea dan menyodorkannya pada Aliana, lalu digiringnya Aliana duduk di sofa, masih dengan gugup Aliana menerima secangkir tea itu dan mendekapnya dalam buku-buku tangannya.

“Maaf, saya sudah mengganggu kesibukan anda.” Ucap Aliana sambil melirik sebuah lukisan yang sepertinya hampir selesai, ternyata lelaki itu sedang asyik melukis tadi.

“It’s, ok .  Sudah mau selesai kok. Hemm…sepertinya aku baru melihatmu, kau datang dari kota?”  Aliana hanya mengangguk, dan meletakkan gelas tea  yang berada dalam genggamannya perlahan ke atas meja. Matanya menatap lilimarie ungu di jendela itu, sepertinya aku harus memilikinya, dan meletakkannya di bawah jendela kamarku nanti, pikir Aliana.  Dan lelaki itu ternyata menangkap ekor mata Aliana.

“Kau suka..? Lelaki itu berdiri dan meraih lilimarie ungu itu, dan menyerahkannya pada Aliana.

“Ini untukmu, ambil lah bila kau suka..” secarik senyum lelaki itu kembali menggetarkan hatinya, Aliana tak sanggup menolak.

“Berapa aku harus membayar, tuan?”

“Oh, no..ini untukmu kuberi, tidak perlu membayar. Anggap salam perkenalan dariku nona cantik.. “ Aliana seketika  bersemu ungu, seperti lilimarie.

Malamnya Aliana menelepon papanya.

”Pa…sepertinya aku akan lama berada  di rumah oma!” Di seberang telepon papanya hanya bisa bengong, apa yang terjadi dengan putrinya?

***

Suatu pagi oma membangunkan Aliana, seseorang teman hendak menemuinya. Seseorang? Seingat Aliana, ia tak mempunyai kenalan di kota ini, apa lagi teman. Aliana membiarkan rambut panjang hitamnya tergerai, sedikit acak-acakan dan Aliana juga hanya mengenakan switter untuk menutupi baju tidurnya yang terbuka, ia pikir ini hanya sebentar jadi tak perlu mandi dulu dan berias.

Lelaki itu melambai dari kejauhan, di sampingnya sebuah sepeda dan sebuah kotak terikat di sadel belakang. Ia masih berdiri di jalanan tepat di muka gerbang pagar kayu rumah oma.  Aliana masih tak percaya sepagi ini lelaki  itu datang menemuinya. His look so good dengan rambut abu-abu, sepasang mata kelam dan lesung pipinya itu terbingkai sangat elok di antara dua rahang yang keras, rambut ikalnya yang sedikit panjang dibiarkan seperti tanpa disisir, tapi Aliana suka!

Aliana masih mematung di depan pintu, masih belum percaya? Lelaki itu  berteriak dari kejauhan,

“Haiii…..” lelaki itu melambaikan tangannya ke arah Aliana, dengan kaki telanjang Aliana segera menyusul lelaki itu, melintasi rumput tebal yang masih basah oleh embun.

“Hai…” sapa Aliana  kembali kikuk, sambil mendekap dada, seperti belum siap menerima kehadiran lelaki itu yang begitu tiba-tiba pagi ini. Dan Aliana semakin salah tingkah ketika baru menyadari kalau ia  masih mengenakan pakaian tidur dan baru bangun tidur pula. Sungguh tak layak  menerima tamu. Lelaki itu kembali menangkap apa yang dipikirkan Aliana

“It’s, ok..nona. Aku hanya lewat dan ingin menyapamu.”

“kau..tahu dari mana, tuan? Kalau aku…”

“Ini kota kecil nona, semut pendatang pun kami akan segera tahu…hehehe…” lelaki itu mencoba mencairkan suasana. Dari depan  pintu tampak oma berseru dan memanggil

“Jhos, masuklah…” lelaki itu membalas lambaian oma, sepertinya oma akrab sekali dengan lelaki yang berada di depanku ini, pikir Aliana. Lelaki itu memenuhi undangan Oma lalu menuntun sepedanya masuk ke halaman dan menyenderkannya di pagar.  Mereka berjalan beriring, Aliana menatap tanah tak berani melirik lelaki itu barang sedikit pun. Sementara lewat ekor matanya lelaki itu menatap Aliana lekat, hatinya menyebut sebuah nama, Mayra. Setelah kunjungan pagi itu mereka semakin dekat.

Jhos mengayuh sepeda dengan perlahan, beberapa kerikil sesekali mengelincirkan ban sepeda hingga aliana terguncang dan tanpa sengaja mengalihkan pegangannya dari sadel dudukan ke pinggang Jhos, terlihat jhos pura-pura tidak tahu, lalu sekelabat Aliana melihat Jhos tersenyum, dengan gemas sebuah cubitan mendarat di perut Jhos. Mereka tertawa-tawa penuh bahagia.

Ini perjalanan menuju bukit, Jhos ingin menunjukkan sesuatu pada Aliana. Kini perjalanan tak dapat dilanjutkan dengan bersepeda, jalanan mulai menanjak dan menyempit tertutup rimbunan ilalang di kedua sisi di sepanjang perjalanan menuju bukit itu. Mereka lanjutkan berjalan kaki, entah sejak kapan kedua tangan mereka bertaut, Jhos membimbing Aliana ketika tanjakan terjal,  sesekali menjetik titik keringat yang singgah di dahi Aliana, dan Aliana membiarkannya saja, tepatnya menikmati perlakuan Jhos padanya.

Akhirnya mereka tiba di puncak bukit yang landai, Aliana terpukau . Mulutnya sampai menganga melihat rimbunan lilimarie ungu terbentang sejauh matanya memandang dan mentari yang meredup sore itu seperti sapuan cahaya emas yang hinggap pada pucuk-pucuk lilimarie.  Semerbaknya juga mulai ditarikan oleh angin, menjamahi cuping hidung, mengisi rongga dada.  Aliana kesetika menjelma menjadi seekor kupu-kupu di tengah  taman bunga, menari-nari, merentangkan tangannya menyentuhi keindahan.  Sampai ia tak perduli kedua mata Jhos menatapinya tak kalah takjub. Mayra juga suka lilimarie, bisiknya dalam hati.  Aliana berlari menuju Jhos dengan serumpun lilimarie yang dicabutnya,

“Boleh aku membawanya pulang? Aku ingin menanamnya di bawah jendela kamar, Oma pasti suka Jhos..” seru Aliana , Jhos menyetujuinya.

Mereka habiskan senja, duduk bersisihan di rumput. Saling tatap, lalu sebuah ciuman. Aliana manarik wajahnya perlahan usai sebuah ciuman yang panjang, wajahnya  bersemu malu.  Aliana kini tahu apa yang dirasakannya, ia jatuh cinta pada Jhos. Walau umur mereka terpaut jauh, buatnya Jhos adalah sosok yang mampu mengusik hatinya kini.

Belum ada sepatah kata pun yang Jhos ikrarkan atas hubungan mereka ini. Tapi Aliana berpikir mungkin Jhos bukan tipe lelaki yang menyatakan perasaan cintanya dengan kalimat ‘ I love you’ tatap mata dan prilaku Jhos padanya cukup menyakinkan Aliana bahwa lelaki itu juga jatuh cinta padanya.

Hingga pada suatu malam, Aliana menyatakannya keinginanya pada Jhos,

“jhos, besok aku kembali ke Holle. ..” bisik Aliana,  Jhos menatapnya lekat, kecemasan mulai menjalari hatinya.  Waktunya berpisah dengan Aliana. Gadis yang belakangan ini menawarkan warna lain dalam kehidupannya yang sepi. Jhos menyadari, ini bukan hanya sekedar kesenangan belaka, bersama Aliana seperti mengembalikan gairah hidupnya yang telah mati bertahun yang lalu, dibawa pergi seseorang..

“Aku ingin kau ikut denganku, Jhos..” Aliana setengah merengek membujuknya untuk turut serta ke Holle. Aliana merasa sudah cukup dewasa untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri, bersama Jhos tentunya.

“Apa aku pantas..?” Jhos menjawab pertanyaan Aliana dengan lirih. Aliana kembali menyakinkannya.  Mereka akan tinggal bersama,  Aliana akan minta papanya untuk membuatkan sebuah galeri buat Jhos.

“Aku punya Azqa, Aline…” jhos selalu memanggil nama Aliana dengan nama kecilnya itu.

“ajak dia bersama kita..” ada sedikit keengganan di kalimat yang diucapkan Aliana, tapi ia tak mau egois, Azqa anak lelaki Jhos yang berusia 10 tahun. Remaja itu pasti suka tinggal di kota, dan melanjutkan sekolahnya di sana. Jhos mengangguk dan Aliana menghambur dalam pelukannya.

***

Setahun hidup bersama Jhos, menjadikan Aliana sosok yang lain, mungkin lebih dewasa, tapi yang pasti Aliana berusaha keras menjelma menjadi sosok yang diinginkan Jhos. Buat Aliana,  lelaki itu kini adalah kehidupannya. Hanya Jhos. Hingga tanpa disadari Aliana membentang jarak menjauh dari keluarga dan lingkungannya.

Papa dan mama Aliana awalnya kurang setuju dengan hubungan mereka, bukan hanya soal umur mereka yang berbeda sangat jauh, tapi juga soal Aliana yang masih begitu muda.  Aliana gadis yang cerdas, orang tuanya berpikir seharusnya Aliana dapat melanjutkan studinya setelah sarjana, tapi Aliana memilih untuk bekerja,hidup mandiri bersama Jhos, itu sudah keputusannya.

Aliana dan Jhos menyewa sebuah apartemen sederhana tak jauh dari galeri Jhos yang awalnya dibiayai oleh papanya. Diberi nama yang sama, la viazaa dan semirip mungkin ditata seperti galeri Jhos di Green Vilage.

Aliana sadar tidak mudah bagi Jhos dan Azqa untuk beradaptasi dengan lingkungan perkotaan, Jhos lebih memilih  mengurung diri dalam galeri ketika Aliana menjagaknya sekedar untuk keluar dan berjalan-jalan. La viazza sepi, dalam seminggu paling dua atau tiga orang saja yang datang dan melihat-lihat, itu pun atas undangan Aliana kepada teman atau para kenalannya. Jhos mengalami masa-masa sulit, kadang Aliana melihat Jhos kehilangan gairah. Untuk menyelesaikan sebuah lukisan saja, Jhos membutuhkan waktu berhari-hari.  Belakangan juga Aliana sering mendapati tatap mata Jhos yang kosong.

Tak jauh berbeda dengan Azqa, Aliana juga menyadari hal itu. Walau memang dari awal ia dan Azqa tak begitu dekat, Aliana atau Azqa yang menjaga jarak, mungkin memang keduanya saling enggan. Mereka hanya berjumpa di meja makan, lalu selebihnya Azqa lebih memilih mengurung diri dalam kamar. Aliana merasa belum siap menjadi sosok ibu buat Aqza, tapi bukannya Aliana juga tidak berusaha.  Sekeras apa pun Aliana mencoba memberi perhatian pada Azqa, hasilnya nihil.  Aqza terlalu dingin padanya.

Hingga suatu malam ia dapati Jhos begitu tertekan, gelisah. Aliana mendekatinya dan mengelusnya punggungnya dengan lembut. Jhos mengecup keningnya, menyatakan kalau ia baik-baik saja. Lelaki itu lalu beranjak hendak  keluar dari kamar

“Aline, aku ingin menjenguk Aqza sebentar di kamarnya, ya..” Aliana mengangguk,

“Tidurlah duluan, aku akan menyusul nanti…” Jhos keluar dan menutup pintu dengan perlahan.

Aliana masih terbaring di ranjang. Pikirannya menerawang. Apakah Jhos bahagia hidup bersamanya? Hari demi hari Jhos terlihat semakin tertekan, beberapa kali  sempat terucap kerinduannya pada kehidupan di  Green Vilege. Sempat terpikir untuk kembali ke sana bersama Jhos, tapi itu juga bukan hal yang mudah buat Aliana.  Jiwa mudanya  akan  terkungkung, Green Vilage bukan tampat yang tepat buat Aliana. Apa lagi beberapa waktu yang lalu Aliana mendapat promosi dari perusahaan tempat ia bekerja. Kesempatan yang hanya dapat di perolehnya di holle, Metrocity.  Kota germerlap dengan banyak potensi dan masa depan yang cerah.

Dan di Green Vilage? Apa yang dapat dilakukannya di sana? Kadang keegoisannya meraja. Kalau setahun yang lalu ia tak memutuskan hidup bersama Jhos mungkin kini ia sudah berada di kota lain yang lebih besar, kebeliaan dan kecerdasan Aliana adalah modal yang sangat menjanjikan.

Menyesalkah aku? Renung Aliana, tentu tidak belanya pada dirinya sendiri. Jhos segalanya buat Aliana, mereka telah banyak melakukan pengorbanan untuk kebahagiaan mereka. Ini hal yang tidak mudah buat Aliana juga Jhos.

Semetara Jhos kini tengah berada bersama Azqa di kamarnya.  Jhos membetulkan selimut putranya itu. Dibelainya lembut rambut Azqa, lirih ia hampir berbisik,

“Maafkan papa, sayang…” Azqa menggeliat, matanya terbuka ia mendapati papanya duduk di pinggir ranjang sambil menelungkupkan muka.

“Papa…”

“Maaf papa membangunkanmu..?” Azqa bangun dari posisi tidurnya dan mengeleng.

“Papa, hayo kita kembali ke Green Vilage…”Jhos bukan tidak menangkap keinginan anaknya itu jauh-jauh hari, tapi Jhos juga tengah berusaha keras untuk menghalau kegalauan yang sama  dari dalam hatinya.

“Tapi papa tidak bisa meninggalkan Aliana..” terdengar nada putus asa pada kalimat Jhos.  Ya,  ia tak mungkin meninggalkan Aliana, ini sudah keputusannya ketika waktu pertama kali ia yakin akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Aliana, walau keyakinannya itu kini dipertanyakannya kembali.

“Katakan padaku papa,  apa kau benar-benar mencintainya..?” Jhos belum menjawab pertanyaan Azqa ketika sebuah pertanyan lain tiba tiba menohok hatinya.

“Bukan karena  Aliana mirip dengan mama, bukan?” Ahh…akhirnya, yang paling ditakutkan Jhos  menjadi kenyataan, kenyataan yang  sesungguhnya tersimpan jauh dalam hatinya, mengapa ia mencintai Aliana,  karena Aliana mirip sekali dengan Mayra, ibu Azqa.

“Jawab papa…” desak anak lelakinya itu.

“Ya, karena Aliana mampu mengembalikan kerinduan papa pada mama…sayang.” Kalimatnya mengawang, keresahannya memuncak.

Di sebalik pintu, tubuh Aliana mengigil mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Jhos.  lelaki yang dicintainya itu, ternyata hanya mencintainya karena ia mirip dengan Mayra, ibu Aqza yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Aliana menghambur keluar rumah, tangisnya pecah membelah malam.

***

Waktu adalah jawaban yang paling jujur, kepura-puraan apa pun akan luntur, dan waktu jua adalah penguji yang paling tekun memilah bagian mana dari kehidupan ini yang berisi kesungguhan atau kesenangan belaka.  Bila telah tiba waktunya, semua akan menyadarinya…

 

 

16 Comments to "Lilimarie, Sebuah Musim"

  1. seroja  7 April, 2012 at 14:19

    kang [email protected] ngak pa2 deh…aku rela jagain lilinya..hahahah, nnti d kenalkan sekalian nope-nya ndak….*nguber2 Aliana

  2. seroja  7 April, 2012 at 14:17

    [email protected] benar, kadang hati dan nurani seperti membutakan mata ketika cinta hanya terlihat membawa cahaya, sebuah hub tak cukup hanya didasari oleh cinta, kalau pun itu merupakan dasar yang penting tapi membutuhkan sebuah proses yang panjang untuk memahami kadang cinta dan kehidupan bisa saja tak singkron, dan untuk itu kita d tuntut agar lebih bijak sana menyikapinya, hadeuuu..sotoy banget dehh..hehehe..salam hangat seroja mbakyu…

  3. anoew  6 April, 2012 at 22:06

    Malam Jumat thok kalau pakai lilin..

    Salam kenal ya, Aliana..

  4. elnino  6 April, 2012 at 22:03

    Sekedar cinta saja tak kan pernah cukup menjadi pondasi yg kokoh dalam satu hubungan… Kadang kondisi memaksa kita utk tidak menerima cinta yang ada, dan cukup membiarkannya sebagaimana adanya.

    Laksana mawar yang cantik, ketika kita memaksa memetiknya untuk memuaskan ego, niscaya dia akan layu sia2… Bukan keputusan yg mudah, memang ya
    As always, nice writing Seroja….

  5. Seroja  6 April, 2012 at 17:00

    [email protected] yups, kadang rasa harus disikapi dengan bijaksana…tapi siapa yg dapat menghindari gemerlap kasmaran…senang anda telah singgah dan menikmati, salam hangat seroja_

  6. Seroja  6 April, 2012 at 16:57

    mbakyu [email protected] kasmaran seperti kembang api, indah, menyilaukan, tapi cinta butuh lebih dari itu…suwun mbakyu telah singgah..^_^

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.