Seratus Tahun Hamengkubuwono IX (4): Air Force Two for Number Nine

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SANGAT jarang seorang presiden Amerika Serikat memerintahkan pesawat kepresidenan digunakan untuk kepentingan lain, kecuali untuk hal-hal sangat mendesak yang disering disebut ‘national security’ atau yang melibatkan simbol-simbol negara, seperti mengangkut presiden dan wakil presiden AS.

Ketika Sultan Hamengkubuwono IX wafat di Washington, DC pada 2 Oktober 1988, Presiden AS Ronald Wilson Reagan mengirimkan kawat duka cita yang mendalam kepada keluarga dan bangsa Indonesia. Hal ini jarang terjadi mengingat sosok Hamengkubuwono IX sudah sepuluh tahun meninggalkan dunia politik dan jabatan publik sebagai wakil presiden Republik Indonesia.

Wafatnya Raja Mataram yang sangat mempercayai mistik itu, sangat dipahami oleh seorang Ronald Reagan yang juga sangat mempercayai hal-hal mistik berdasarkan astrologi. Kisah hidup Hamengkubuwono IX sangat kental dengan mistik dan itu diceritakannya secara terbuka kepada umum. Orang pun memakluminya karena sang sultan memang hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan, modern dan mistik.

Baik Hamengkubuwono IX dan Ronald Reagan (dan istrinya, Nancy) adalah sosok yang sangat mempercayai hal-hal yang sulit diterima akal sehat atau rasional. Tak mengherankan ketika sang sultan wafat di negerinya Reagan, presiden paling berkuasa di muka bumi itu memerintahkan pesawat kepresidenan untuk wakil presiden AS, Air Force Two berhak digunakan mengangkut jenazah Raja Mataram itu sampai sejauh mungkin, dari Washington, DC hingga ke Honolulu, Hawaii, kota kelahiran Presiden Barack Obama.

Mempercayai mistik bukanlah suatu hal aneh, justru bisa menjadi kelebihan karena dapat hidup di dua yang sulit bertemu dalam akal sehat. Toh, baik Sultan Hamengkubuwono IX maupun Presiden Ronald Reagan, dikenang dan sangat dihargai oleh rakyatnya.

 

60 Comments to "Seratus Tahun Hamengkubuwono IX (4): Air Force Two for Number Nine"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 April, 2012 at 17:38

    SELAMAT ULANG TAHUN SINUHUN. ANUGERAH UNTUK INDONESIA.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  12 April, 2012 at 17:34

    Makasih Mawar. Tiada maaf bagimu ya Mawar..

  3. Mawar09  10 April, 2012 at 00:44

    Terima kasih ya ISK untuk artikelnya, jadi tambah pengetahuan nih! Ditunggu lanjutannya.

  4. nevergiveupyo  9 April, 2012 at 13:47

    57 for Forward…

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2012 at 09:32

    Tetep gak mau meski aku yang bayarin untuk sejuta orang.

  6. Dewi Aichi  9 April, 2012 at 09:27

    Aku beliin deh nanti…Pak Iwan yang bayarin…

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2012 at 09:21

    Tetep tak mau beli tiket Titanic.

  8. Dewi Aichi  9 April, 2012 at 09:13

    Saya akan beli tiket Titanic…3D, pasti seru…..tunggu sampai main di cinema 21

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2012 at 09:05

    Benar Mas Han, orang akan selalu dihormati berdasarkan darmanya kepada orang lain, bukan karena atribut yang dia dapat.

    Kok nggak ada yang namanya hormat ya? Misalnya Muhammat Hormat. Slamet aja ada kok.

  10. IWAN SATYANEGARA KAMAH  9 April, 2012 at 09:03

    Saya termasuk yang mempercayai primbon. Primbon dibuat berdasarkan pengalaman orang ratusan tahun.Ya ikuti saja. Kalau orang Jakarta bilang, “jangan meeting di Senin pagi hari kerja, apalagi habis libur panjang”. Yaaa saya ikuti primbon itu. Itu kan pengalaman orang Jakarta. Apa salahnya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.