Ayo, Ayo Beternak Puisi

Gunawan Budi Susanto

 

Prasaran Gunawan Budi Susanto: “Semarang Temu Penyair Muda”, 16 Desember 2011

Saudara-Saudari, para penyair dan bukan penyair! Tak gampang, bagi saya, untuk sekadar mengomentari – apalagi menakar secara kritis – (119) puisi dari (78) penyair yang terantologikan dalamBeternak Penyair ini. Terlalu banyak puisi dari terlalu banyak penyair, jika saya paksakan untuk mengomentari – apalagi menakar secara kritis – akan membutuhkan banyak waktu dan ruang. Dan, hasilnya, akan lebih banyak mencerminkan kengawuran lantaran keterbatasan kemampuan saya mencecapcerapi setiap puisi dari setiap penyair. Mencari “benang merah” yang mungkin bisa memberikan gambaran tentang puisi dan kepenyairan saat ini pun, menurut pendapat saya, lebay: lantaran bakal memunculkan simpulan yang spekulatif dan sumir. Dan, karena itu, kontraproduktif.

Jadi, izinkan saya berkelit: berbicara perkara lain – yang kalau Anda anggap tidak penting, tidak urgen, tidak signifikan, tidak relevan bagi forum ini, ya cuekin saja dan tinggalkan saya. Saya ingin mengajukan topik: seni dalam rentang ketegangan antara kekuasaan dan realitas di masyarakat. Implikasinya: masih perlukan puisi ditulis? Untuk apa? Untuk siapa? Seberapa penting sih puisi itu? Seberapa strategis sih posisi sang penyair dalam ruang kehidupan bersama? Jangan-jangan, seseorang menulis dan bakal terus menulis puisi lantaran kadung memercayai dan terlambungkan oleh pernyataan Kennedy bahwa “… jika politik bengkok, puisilah yang meluruskannya”? Selanjutnya: lantaran puisi perlu tetap ditulis, maka para penyair merasa perlu bertemu, berkumpul, dan jika mungkin melancarkan “sebuah revolusi” kepenyairan?

Nah, untuk tak berpanjang-panjang, berikut ini saya hadirkan kembali “percakapan” saya dengan beberapa kawan, setelah saya menulis status di facebook. – Terima kasih kepada Mbois Land, Warih Wening, Iwan Gitara, GT Arfen Ae, Agung Wahyu Nugroho, Wesiati Setyaningsih, dan Timur Sinar Suprabana yang terlibat percakapan, serta Sariman Lawantiran, Timur Sinar Suprabana, Ida Mayong Senandung Kalbu, Awang Uwung, Faizal Ichall, Muhammad Rantauan Alwiy, Mbois Land, Warih Wening, dan yang mengeklik “suka” status di dinding saya itu. *) Tolong Anda pahami bagian “puisi, polisi, polusi” dalam status itu sebagai representasi topik “seni (puisi) dalam rentang ketegangan antara kekuasaan (yang polisional-represif) dan realitas (koruptif-polutif) di masyarakat”.

Pada akhir prasaran, saya sertakan lampiran “Sastra Salah Kedaden”, sebagai variabel lain untuk memahami kerangka percakapan tersebut.

 

Kang Putu

sepagi ini, nglilir, mikir: puisi, polisi, polusi…. (di negeri acakadut ini, kini, apa yang lebih dibutuhkan: puisi atau polisi? yang lebih bisa dipercaya, aku tahu: puisi, dan bukan polisi!) jadi, hidup puisi? atau, hidup puisi! *pikiran mbruwet.

 

Timur Sinar Suprabana, Awang Uwung, Muhammad Rantauan Alwiy, Warih Wening, Faizal Ichall, dan 2 lainnya menyukai ini.

 

Mbois Land‎:

Hidoep itoe Poeisi…

 

Kang Putu

jika benar “hidoep itoe poeisi”, bung Mbois Land, betapa tak mengenakkan: acap kali direcoki oleh polisi dan polusi…

 

Warih Wening

puisi juga hidup

 

Kang Putu

jika benar “puisi juga hidup”, siapa yang menghidupi, siapa yang menghidup-hidupkan, sedulur Warih Wening? kenapa pula acap kali puisi kalah moncer dari sang penulis puisi?

 

Mbois Land‎:

djika demikian Kang Putu jang BaekHati,

bahkan polisipoen seboewah poeisi, halmanah soekakkk bikin poloesi setiap hari zonderrr preiiiiiii…..

 

Kang Putu

lah, jika “polisipoen saboewah poeisi jang soekak bikin poloesi zonder prei”, bagaimana mungkin kennedy sampai pernah bilang, “jika politik bengkok, puisi yang meluruskannya.”? apakah pernyataan itu tidak berlebihan, lebay, bung Mbois Land?

 

Kang Putu

jadi, apa sesungguhnya arti dan fungsi puisi — sesungguh benar puisi — dalam hidup kita ini, bung Mbois Land dan sedulur Warih Wening?

 

Warih Wening

yah buktinya pulisi bisa nangkep yg bikin puisi Kang Putu

 

Kang Putu

bisa nangkep dan boleh nangkep tentu berbeda bukan? tapi, benar memang: ada masa polisi sibuk mengejar-ngejar penulis puisi. nah, ini saya comotkan puisi, yang membuat penulisnya dulu jadi buron.

 

Sajak Lima

sajak basabasuki

 

Kekuasaan Yang Maha Esa

Kemanusiaan yang ditindas dan ditumpas

Primordialisme Indonesia

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kemunafikan dalam pengharusan perseorangan

Penderitaan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

Catatan:

Sajak ini ditulis basabasuki tahun (kalau tidak salah) 1991. Basabasuki antara lain membacakan sajak ini pada aksi kampanye golput 1992, yang menyebabkan lukas luwarso dan ike poltak ditangkap, dan basabasuki diuber-uber aparat keamanan. Pada kesempatan lain, judul sajak ini adalah “Pancasilap”.

 

Iwan Gitara

mbruwet kang. Ngopi ndisit lah.. :-)

 

Warih Wening

hla kalau zaman nya rezim soeharto,…..nangkep dan boleh nangkep, Kang Putu

 

Kang Putu

‎Iwan Gitara, apakah ngopi ndhisit bisa mengurangi kembruwetan? atau, mungkin dari secangkir kopi yang kita minum: jadi puisi, jadi lagu? syukurlah. dan, sedulur Warih Wening, apakah kini tak ada lagi polisi menangkap penyair karena puisinya? jika iya, apakah polisi sudah makin tahu apa itu puisi dan fungsi puisi atau penyair kini tak perlu “ditakuti” lagi, maka biarlah penyair berpuisi, polisi tetap berlalu?

 

Warih Wening

Saya kira sampai setik ini polisi nggak ngerti puisi,…kalau masalah penyair itu ditakuti mungkin berkaitan dng HAM

 

Gt Arfen Ae

hehe.. ketuhanan yang maha esa sama dgn

tuhan tdk ada & tak dibutuhkan di indonesia yg tak merdeka”. :).. he

polisi!!!!

 

Kang Putu

HAM: hak asasi manusia? bukankah itu hak setiap manusia, bukan cuma hak penyair sebagai manusia? bukankah puisi, syair, sajak itu senilai dengan lukisan, nyanyian, tarian, drama, teater, etc — karya seni (estetis-filosofis?)? jadi, jika memang masih perlu “ditakuti”, banyak dong yang mesti dimusuhi di negeri ini? negeri yang tak merdeka ini, kata bung Gt Arfen Ae? lalu, bagaimana pula dengan petani, buruh, nelayan? kenapa mereka juga masih selalu digusur-gusur, ditangkapi? di mana posisi puisi, apa makna puisi bagi mereka?

 

Gt Arfen Ae

hehe.. ketuhanan yang maha esa sama dgn

tuhan tdk ada & tak dibutuhkan di indonesia yg tak merdeka”. :).. he

polisi!!!!

 

Warih Wening

Hahahaha itulah INDONESIA,……negeri penuh dng carut marut,banyak yg nggak jelas di negeri ini

 

Agung Wahyu Nugroho

Ambil air wudu nekuk pinggang ngelipat lutut sujud ati jd bening kang putu.

 

Kang Putu

kalau sampean bersikukuh dengan ucapan: “hehe.. ketuhanan yang maha esa sama dgn tuhan tdk ada & tak dibutuhkan di indonesia yg tak merdeka”. :).. he polisi!!!!”, sekali lagi, bung Gt Arfen Ae: di mana posisi puisi dalam denyut kehidupan masyarakat di negeri ini? apakah puisi masih dibutuhkan di “INDONESIA,……negeri penuh dng carut marut,banyak yg nggak jelas di negeri ini”, sedulur Warih Wening? dan, saudaraku Agung Wahyu Nugroho: saat ini, meski pikiranku mbruwet, hatiku bening, sepening puisi kawan-kawan mudaku — yang sedang “beternak puisi”!

 

Gt Arfen Ae

bgmn klu ham diganti dengan kewajiban asasi manusia & hak asasi tuhan. bisa kena pasal berlapis tu polisi dsb.

 

Kang Putu

sampean belum menjawab pertanyaanku, bung Gt Arfen Ae: di mana posisi puisi dalam denyut kehidupan masyarakat di negeri acakadut ini? apa makna puisi dalam situasi serbatakberkepastian (hukum, ekonomi, etc) sekarang ini?

 

Warih Wening

Puisi masih dibutuhkan Kang Putu, meskipun polisi nggak butuh puisi,…..polisi itu butuh tangkepan

 

Gt Arfen Ae

puisi bagiku adl pendobrak, letaknya di antara akal& hati, maka ada titik singgung yg tipis apa itu karya tuhan atau mns

 

Kang Putu

puisi masih dibutuhkan untuk apa, sedulur Warih Wening? apakah karena, seperti kata bung Gt Arfen Ae: puisi bagiku adl pendobrak, letaknya di antara akal& hati, maka ada titik singgung yg tipis apa itu karya tuhan atau mns?

 

Warih Wening

Yah ,paling gampang krn puisi itu bisa untk meluapkan kata hati bagi mrk2 yg gemar menulis puisi meskipun gregetnya nggak bisa disamakan dng penyair yg sudah punya nama

 

Wesiati Setyaningsih

puisi menyehatkan jiwaku. pulisi memuleskan perutku. lha tidur dimana2 ok. lagi enak2 naik motor mak jendul. :D

 

Gt Arfen Ae

puisi akan kehilangan makna bgku jk tak memberi manfaat sedikitpun sec. nyata bg masy meski dlm kadar.

 

Wesiati Setyaningsih

halah, gayane arfen to. “memberi manfaat secara nyata bagi masyarakat” ok. gini ya dik. kalo jiwa kita sehat dengan pusi, meski itu bikinan sendiri dan kita nikmati sendiri, lalu kita berkarya dengan senang hati, itu kan ‘manfaat secara nyata untuk masyarakat juga’. (halah, malah tambah gaya).

 

Gt Arfen Ae

“itu dalam kadar mb wes”, he..:).. acap kali puisi hy mampu menoleh dlm tatarn realita.. bahkan “gagal”,sengaja atau tdk

 

Wesiati Setyaningsih

gitu ya? (*termenung) buatku semua puisi itu bagus aja… (*mikir kapan beli brownies buat dibawa besok sabtu ke SM)

 

Kang Putu

maaf, tujuh jam lalu: aku menghilang karena bateraiku drop. maaf, Warih Wening, Gt Arfen Ae, Wesiati Setyaningsih. sedulur @Warih Wening: apakah kepunyanamaan penyair berbanding lurus atau punya korelasi poistif dengan karya mereka? intinya: penyair terkenal sama sebangun dengan puisi yang indah, bagus, bermutu? @Wesiati Setyaningsih: puisi macam apa yang bisa “menyehatkan jiwaku”? setiap atau semua puisi? lalu, @Gt Arfen Ae: bagaimana pula wujud kebermanfaatan puisi secara nyata bagi masyarakat? dan, apa pula yang sampean maksud “acap kali puisi hy mampu menoleh dlm tatarn … bahkan ‘gagal’, sengaja atau tdk”?

 

Wesiati Setyaningsih

puisi yang kau buat dengan sepenuh hati dan untuk dirimu sendiri. in my case, it works…

 

Kang Putu

matur nuwun, Wesiati Setyaningsih. lalu, bagaimana dengan puisi orang lain yang ditulis (untuk dibaca atau ditujukan) pada banyak orang? bukankah ada, misalnya, penyair menyatakan aku menulis untuk dunia, bukan untuk orang per orang?

 

Wesiati Setyaningsih

sejauh itu dibuat dengan hati, pasti kerasa energinya..

 

Kang Putu

memang ada puisi yang dibuat tidak “dengan hati”, sehingga pasti tidak “kerasa energinya”, sedulurku? bisakah kau katakan lebih spesifik apa yang kaumaksud “dibuat dengan hati”?

 

Wesiati Setyaningsih

aku bicara pengalamanku dewe wae ya mas, kadang aku nulis note cuma biar orang suka. bar nek tak waca, aku ga suka. ya memang yang komen banyak tapi itu mungkin penghargaan aja. sementara aku sendiri ga puas. beda dengan tulisan yang bener aku buat dengan hati. aku tidak peduli ada yang coment atau tidak. aku puas banget denga tulisan itu. dan tanpa sadar, itu terasa. seperti tulisan ‘stigma’ itu, aku menulis dengan hati. aku benar2 menulis apa yang kurasakan. kurasa ada energi yang terasa ketika dibaca.

 

Warih Wening

masalah berbanding lurus apa nggak , kan mrk sudah punya nama besar dan itupun yg menilai masyarakat ,sudah barang tentu mrk yg punya nama juga mesti jaga karya nya agar nggak berkesan ecek2. Kang Putu

 

Wesiati Setyaningsih

tentang penyair yang bilang menulis untuk dunia, ya gapapa. mungkin aja dia bisa. tapi nek aku dewe, aku rak iso. aku menulis untuk diriku sendiri. maksudnya, mengeluarkan apa yang aku tulis. dan setelah menulis itu aku lega. lalu aku share. kali ada yang mau bara. ewadene orang2 bilang itu bagus, itu ekses…

 

Wesiati Setyaningsih

salah tulis, seharusnya ‘kali ada yang mau baca…’ maaf.. :D

 

Kang Putu

matur nuwun, sedulur Warih Wening. matur nuwun, sedulur Wesiati Setyaningsih. sungguh, aku merasa memperoleh tambahan energi untuk bisa lebih menikmati dan memahami puisi. meski, masih ada ganjalan bagiku, yakni: nama besar seseorang, penyair misalnya, bisa saja tidak (atau tidak selalu) diperoleh berdasar karyanya bukan? bisa pula karena citraan media — dengan kata lain, acap terjadi pembesaran.

 

Warih Wening

The great man is born, not by design Kang Putu

 

Kang Putu

namun, kita tahu istilah kanonisasi dalam sastra. bukankah itu by design? ada dan banyak penyair yang karyanya dinilai sebagai bagian dari “sastra kanon” — dus akhirnya sang penyair pun bernama besar. itu politisasi dalam sastra, dan itu by design, sedulur Warih Wening.

 

Warih Wening

ya kalau pun itu ada ya sungguh memprihatinkan Kang Putu,dan sangat memalukan……..iso2 diguyu pitik hahahahaha

 

Kang Putu

lagipula, sedulur, ruang kelahiran “the great” tidak vakum bukan? seseorang lahir, dan kelak menjadi orang besar, misalnya, seperti kartini, seperti soekarno, seperti pramoedya ananta toer, lantaran pergulatan pikiran, perasaan, perbuatan mereka terjadi di dan berkait-paut dengan ruang sosial pada masanya bukan?

 

Warih Wening

leres Kang Putu,setidaknya perbuatan mrk bahkan karyanya pasti menggegerkan dunia dan semua orang mengakuinya

 

Kang Putu

jadi, sampean pun sepakat bukan bahwa nama besar penyair, entah tua, entah muda — aha, istilah apa pula ini: penyair muda! — tak selalu berbanding lurus dengan kualitas karya? dan, acap kali media pun “terlibat” (sadar atau tidak) melakukan praktik pembesaran terhadap penyair a atau pengerdilan terhadap penyair b, lantaran terseret arus politisasi lewat kanonisasi sastra. begitu, sedulur Warih Wening?

 

Warih Wening

karya yg nggak bermutu ya tetap nggak bernutu, Kang Putu, BERLIAN TETAP BERLIAN MESKIPUN DITARUH DI COMBERAN. BATU KALI YA TETAP BATU KALI WALAU DITARUH DIDLM ISTANA YG MEGAH

 

Kang Putu

ya, matur nuwun, sedulur. izinkan saya mengakhiri dialog kita dengan salam: salam setengah merdeka!

 

Warih Wening

sami2 Kang Putu,nuwun duka inggkang kathah

 

Timur Sinar Suprabana ‎………….

hidup puisi DAN hidup polisi….

BUKAN atau, Kang Putu.

soal ucapan kennedy…, jelas BERLEBIHAN.

mestinya, “kalau politik itu bengkok…. PENYAIR yang meluruskan…” bisa melalui puisi… dapat melalui gerakan yang bahkan sama sekali tidak ada kaitannya dengan puisi….

 

Kang Putu

matur nuwun atas pelurusan sampean, sedulur Timur Sinar Suprabana. sungguh, bertambah lagi energi bagi saya untuk makin bisa menikmati setiap puisi dari siapa pun.

***

Saudara-Saudari, baik penyair maupun bukan penyair, setelah mencermati kembali percakapan tersebut, izinkan saya mengajukan beberapa simpulan. Pertama, baik kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa kita acakadut maupun tidak, puisi tetap perlu ditulis – sebagai manifestasi dan ekspresi estetis, yang bisa berfungsi macam-macam, misalnya sebagai media katarsis, hiburan, atau kritik. (Sebaliknya, kehadiran atau keberadaan polisi – mengikuti analog dalam status saya – bisa saja tak diperlukan.) Jadi, yang lebih penting: hidup puisi! Hidup-hidupilah puisi, dan bukan polisi.

Kedua, karena tidak muncul tiba-tiba dari ruang kosong, puisi senantiasa bicara (melalui hati, melalui pikiran) tentang manusia dan kemanusiaan. Ketiga, kualitas puisi tak berbanding lurus dengan, misalnya, ternama atau tidak ternama sang penyair, dimuat atau tidak dimuat di suatu media (cetak/online), dikenal atau tidak dikenal akademisi (sastra), ditulis oleh “penyair tua” atau “penyair muda” – ah, istilah apa pula ini (?) – lantaran semua itu masuk wilayah politisasi sastra. Kualitas puisi lebih ditentukan oleh kepaduan aspek intrinsik dan ekstrinsik karya. Keempat, ayo, ayo “beternak” puisi: siapa pun boleh, di mana pun oke(h).

Hopla!

 

  • Gunawan Budi Susanto, penulis kumpulan cerpen Nyanyian Penggali Kubur (Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri, 2011)

Lampiran:

Sastra Salah Kedaden by Gunawan Budi Susanto

Indonesia sesungguhnya adalah ekstensi, perluasan, dari Jawa yang salah asuh. Segala apa yang “berbau dan berjiwa” Jawa, terutama yang buruk-buruk, itulah Indonesia masa kini.

Secara pribadi, setelah puluhan tahun masa bocah sebagai anak Jawa terlewati, baru sekarang sayangeh, menyadari, bahwa takut, wedi, adalah perkara pertama yang diajarkan para orang tua, sengaja atau tidak, kepada anak-anak mereka. Ya, anak-anak harus takut kepada orang tua atau orang-orang yang lebih tua atau dituakan atau sesuatu di luar diri manusia. Dengan harapan, si anak mampu bersikap sebagaimana mestinya sebagai manusia (lebih) muda kepada yang tua, kepada liyan.

Perkara kedua adalah mengenal rasa malu, isin, dan ketiga segan, sungkan. Itulah hasil elaborasi Hildred Geertz (1983) mengenai pola asuh anak dalam konteks hubungan sosial di masyarakat Jawa yang hierarkis dan paternalistis. Wedi, isin, sungkan adalah tiga pangkal penghormatan, urmat, seseorang marang liyan, kepada orang lain.

Perspektif itu pula yang mengemuka dalam hubungan antara pribadi dan masyarakat, antara warga negara dan negara (pemerintah), antara yang dikuasai dan penguasa, serta (berpuncak pada) antarakawula dan Gusti. Itulah yang dalam hubungan antara warga negara dan negara agaknya berlaku sejak Ken Arok.

Substansi rasa takut pula yang termanifestasikan ketika negeri ini menjadi Indonesia. Negara yang, sebagaimana simpulan Brian May (1998), dilahirkan setelah penculikan, dilahirkan kembali dalam kudeta, dan dibaptis dengan darah pembantaian.

Sejarah senantiasa berulang! Maka, kita tahu, pemerintahan “orde baru” pun terlahir dari pembunuhan (para jenderal Angkatan Darat), dibaptis dengan darah pembantaian (massa komunis dan soekarnois pascakudeta 1965), serta limbung dan sekarat setelah penculikan (para aktivis gerakan prodemokrasi; Wiji Thukul dan kawan-kawan).

Lalu, bagaimana rasa hormat bisa terunjukkan pada pemerintahan yang “belepotan darah rakyat” jika semata-mata dialasi rasa takut? Bagaimana rakyat mengunjukkan rasa hormat jika para elite politik ora duwe isin, tak malu-malu, mempertontonkan ketakpedulian pada nasib liyan? Dan, lebih memikirkan cara melanggengkan keberkuasaan? Dengan segala cara, halal atau tidak, berpedoman pada kitab The Prince Machiavelli?

Gung binathara, mbau dhendha hanyakrawati, sekuasa dewa, pemelihara hukum, dan penguasa dunia, yang lebih mengedepankan kemutlakan tanpa tanya, tanpa sapa? Sebagaimana pengakuan Pangeran Puger, dalam Babad Tanah Djawi, bahwa segala sesuatu di tanah Jawa, tempat kita hidup, air yang kita minum, daun, rumputan, dan lain-lain di atas bumi adalah milik raja (Moedjanto, 1987)?

Manakala upaya meraih dan menggenggam keberkuasaan, dalam segala hal, dialasi wani isin, ora duwe isin, mundur isin, ngisin-isini, dan tanpa rasa sungkan, apalagi yang tersisa? Celakalah kita, karena khazanah “kepemimpinan” di negeri ini ternyata lebih diperkaya oleh Dasamuka, Suyudana, Arok, Amangkurat, Soeharto ketimbang Semar, Bharada, Hatta….

Dalam hubungan antarmanusia, urmat marang sapepadha, ajrih asih marang liyan, rasa hormat kepada sesama, rasa sayang kepada orang lain pun meluntur. Yang mengedepan adalah pola transaksional, untung-rugi, dol-tinuku. Sepi ing gawe, rame ing pamrih?

 

Jawa Menjarah

Dalam kerangka pemahaman semacam itu, sesungguh benar Indonesia adalah jarahan Jawa. Segala apa telah dijarah dan dijawakan. (“Juga sastranya bukan?” ujar Kluprut) Kromonisasi (bahasa) Indonesia merebak. Politik (kebahasaan) menempatkan bahasa Jawa dialek Solo-Yogya (Mataram)meng-atasi berbagai dialek lain. Tak pelak, subkultur Solo-Yogya pun sukses menempatkan subkultur Blora-Samin, banyumasan, tegalan, pesantenan, using, jawa timuran, dan lain sebagainya sebagai subkultur pidak-pedarakan, jelata, asor, ndesit, kampungan, rendahan, kasar. (“Sastranya juga bukan?” ujar Kluprut.)

Celaka, populasi terbesar dan ketersebaran manusia Jawa yang nyaris ada di semua kawasan memperparah kromonisasi (baca: penjajahan dan penjarahan) Indonesia (oleh Jawa). Orang Jawa ada di mana-mana, orang Jawa jadi apa saja, apa-apa wong Jawa: presiden, menteri, para jenderal, kiai, sastrawan…. (“Jangan lupa, para koruptor juga!” sergah Kluprut.)

Di mana dan dikemanakan sastra Jawa yang konon adiluhung karya para pujangga yang gamben itu? Ya, di mana sastra kanon yang konon jadi acuan nilai-nilai bagi manusia Jawa – dan dalam ranah keindonesiaan masa kini? Dibaca dan kemudian diperam jauh di dasar hati? Didedah (dalam diskusi, seminar, perkuliahan, kongres), lalu dibuang tak sayang-sayang? Atau jadi sekadar kelangenan, pengisi waktu senggang?

Arus global kapitalisme atau kapitalisme global menggerus segala apa, termasuk sastra, menjadi sekadar dagangan. Perkara komoditas itu hendak sampean baca lalu buang atau simpan dan kapan-kapan digunakan, terkadang juga sudah dirancang sedemikian rupa: bacalah saya (sastra), maka Anda tergolong manusia terpelajar, berbudaya, sophisticated.

Dalam kondisi semacam itu, sastra harus kumedol, laku. Dan agar laku, terjunlah dalam arus utama komodifikasi dan segala anak turunnya. Misalnya, perhatikan kemasan! Nah, pencitraan, imagologi – termasuk membangun dan mengarahkan selera agar disebut trendi, berselera, terpelajar, dan sebagainya – didayagunakan semaksimal mungkin. Itulah, antara lain, penyakit yang diidap (sastra) Indonesia masa kini. Karena Indonesia telah terjajah dan terjarah Jawa, maka sastra Indonesia sesungguh benar adalah sastra yang njawani dalam arus kapitalisasi global.

Sampai di sini, apa lagi yang mau dikawin-mawinkan, misalnya setelah terbangun tegur sapa mesra antara sastra Indonesia dan Jawa, jika akhirnya yang tercipta adalah “makhluk mutan”: sastra salah kedaden. Jadilah (sastra) Jawa yang kehilangan kejawaan (yang konon elok adiluhung itu) dan (sastra) Indonesia tak pernah bakal menemu format imajinatif sebagaimana diimpikan oleh para founding fathers  kita.

Itulah sastra hibrida, yang celakanya serbatanggung, medioker. Ciri utamanya, antara lain, bermegah pada kecanggihan moda ungkap, tetapi kosong isi. Dampak ikutannya: terjadi puitisasi prosa atau pemrosaan puisi pada bentuk, tanpa isi. Ciri lain, bermegah pada tema (besar), namun kering estetika. Dampak ikutannya: sebagai doa amat profan, sebagai tuntunan amat menggurui, sebagai tontonannjelehi.

Namun, jangan khawatir, masih ada kok fungsi atau kebergunaan sastra semacam itu: sebagai dokumen sosial bagi para indonesianis untuk membaca obah osiking kahanan di negeri ini.

Sekian.

 

* Versi awal adalah makalah untuk seminar akademik “Membangun Tegur Sapa Sastra Indonesia-Jawa” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia bekerja sama dengan Sanggar Ilmiah Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang, Senin, 20 November 2006.

 

8 Comments to "Ayo, Ayo Beternak Puisi"

  1. J C  9 April, 2012 at 09:42

    Puisi, sajak lan sapanunggalanipun (dsb), saya hanya ikut menyimak saja dah…

  2. Dewi Aichi  9 April, 2012 at 05:25

    Kang…saya cukup menikmati karya – karya panjenengan…Karya sastra memang tak bisa semua orang mempunyai minat, atau talent..tapi saya selalu kagum dengan karya sastra..

  3. Dj.  8 April, 2012 at 22:46

    Berternak….???
    Harus ada yang jantan dan ada beberapa yang betina…
    Biar semakin berkembang biyak….!!!

    Hari ini, kami mendapat berkat Paskah alami.
    Karena udang mini di Nano aquarium kami, ternyata beranak pinak…
    Padahal tidak ada maksud untuk mengembangkannya.
    Satu kebahagiaan tersendiri.
    Salam,

  4. EA.Inakawa  8 April, 2012 at 17:37

    Mas Gunawan : Terima kasih dengan ulasan sastranya, saya sudah singgah membacanya,saya suka.
    saya boleh katakan……sastra boleh dibaca & dipelajari siapa saja,tapi sastra hanya ada & terpilih untuk yang menyukai sastra saja. Dan ini luar biasa bagi yang menyukai sastra…..karena tidak semua orang terpilih dikelompok ini.
    salam sejuk

  5. EQ  8 April, 2012 at 12:30

    i am poetry

  6. Alvina VB  8 April, 2012 at 11:11

    Mas Gunawan BS,
    Yg saya tahu penyair muda dulu (berarti sekarang gak muda lagi ya…….) adl A. Taufan Aminudin yg baca puisinya dah sampai ke LN. Hidup sastra Indonesia!!!

  7. Sumonggo  8 April, 2012 at 11:07

    “Dalam kondisi semacam itu, sastra harus kumedol, laku. Dan agar laku, terjunlah dalam arus utama komodifikasi dan segala anak turunnya.”

    Wani Piro?

  8. James  8 April, 2012 at 10:52

    SATOE Puisi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *