Les Privat dari Guru Kelas = Ketidakadilan

Cinde Laras

 

JANGAN JADI ORANG BAIK
oleh Jaka Winarno

jangan jadi orang jujur
jika kamu ingin dipercaya
karena hari ini
yang mau menjilatlah
yang disuka

jangan jadi idealis
jika tak ingin berakhir tragis
karena hari ini
orang-orang pragmatislah
yang menyesaki kolong negeri ini

jangan jadi orang baik
jika kamu ingin jadi pemimpin
karena hari ini
mereka yang pandai membangun citralah
yang banyak dipuja

karena hari ini
jujur, adalah sesuatu yang layak dimuseumkan
idealisme, cuma dianggap guyonan
baik, hanya sekedar bahan tertawaan

 

Wedew, puisi yang ditulis oleh sahabat saya ini rasanya menohok sekali. Kenyataan pahit yang membuat setiap orang yang ‘sadar diri’ menjadi makin apatis dengan masa depan yang bakal kita dan anak-anak kita jalani. Tak lama berselang, dengan maksud agar orangtua murid lainnya memahami tentang pentingnya kejujuran dan idealisme dalam mendidik anak-anak, tanpa sengaja terjadi friksi yang mengakibatkan saya harus berseberangan pendapat dengan mereka.

Adalah sebuah kenyataan, bila saat ini, hampir di semua sekolah perkotaan, guru-guru kelas juga mengajar dalam les privat bagi anak-anak didik mereka yang bersedia membayar dengan imbalan tertentu. Sudah lumrah dilakukan, begitu alasannya.

Toh, banyak juga orangtua-orangtua lain yang melakukan hal yang sama, mengirim anak-anak mereka untuk mengikuti les privat dengan guru kelasnya. Tujuannya mungkin bagus, daripada si anak keluyuran bermain saat orangtua mereka bekerja mencari nafkah, anak-anak mereka bisa belajar lebih banyak dengan bimbingan si guru secara privat. Jadi ada 2 keuntungan yang didapat = 1) tetap bisa memonitor perkembangan anak dengan bantuan guru dan 2) anak-anak mereka mendapatkan tambahan ilmu.

Memberikan les privat pada anak didik seperti ini sudah terjadi sejak berpuluh tahun lalu, bahkan ketika saya masih duduk di SMP pun hal serupa sudah sering terjadi. Guru A yang notabene guru kelas si anak, mengadakan les tambahan bagi siswa yang diampunya. Hanya saja, sejak jaman dulu hingga kini, tujuan mengikuti les tambahan bagi anak-anak ini tidak melulu untuk memperoleh pengetahuan lebih tentang mata pelajaran yang diikutinya, tapi juga dengan maksud agar si guru memberikan nilai bagus di raport mereka. Semua orang tahu hal itu. Jadi bukan rahasia lagi.

Bila di masa lalu, pemberian les semacam itu hanya dilakukan oleh beberapa guru, lain lagi yang terjadi di jaman sekarang. Di sekolah, nyaris semua guru memberikan les tambahan bagi siswanya. Guru SD, guru SMP, guru SMA, hampir semuanya. Bukan merupakan fenomena yang menimbulkan kegelisahan sebenarnya, sampai akhirnya saya tersadar bahwa hal ini berpotensi melahirkan ketidak-adilan bagi siswa lain yang tidak mengikuti les tambahan.

Bayangkan saja, untuk mengevaluasi hasil belajar muridnya, si guru layaknya seorang jaksa (pemberi soal) dan hakim (pemberi nilai) sekaligus. Dia tidak mungkin bertindak sebagai seorang pengacara (penasehat cara menjawab soal), karena hal itu akan membuatnya tidak objetif dalam memberikan penilaian. Di satu sisi harus memutuskan nilai berapa yang harus diberikan, di sisi lain dia merasa wajib membantu agar si murid mendapatkan nilai yang lebih baik karena telah membayar biaya les tambahan.

Adalah terlarang bagi guru untuk mencederai integritas evaluasi hasil belajar peserta didik. Dengan menerima sejumlah rupiah sebagai imbalannya memberikan les privat, secara otomatis sebenarnya si guru patut diragukan integritasnya sebagai penilai hasil evaluasi belajar. Parahnya, sepertinya orangtua murid banyak yang tidak memahami atau tidak mau memahami bahwa pemberian les privat dari guru kelas hanya akan menimbulkan kerugian bagi konduite siswa itu sendiri dan gurunya.

Dengan santai, banyak orangtua menutup mata akan hal ini. Yang penting nilai anak-anak mereka bagus, barangkali itu pertimbangan mereka. Lalu bagaimana dengan anak-anak lain yang tidak mampu mengikuti les tambahan karena keterbatasan ekonomi orangtuanya ? Adilkah apa yang dilakukan teman-temannya yang mampu itu ? Sementara mereka diajar oleh guru yang sama di jam pelajaran biasa.

Tentu saja keadilan jadi terasa jauh bagi anak-anak yang tak beruntung ini. Mereka bahkan sangat mungkin terancam menjadi penghuni tetap urutan terakhir ranking siswa di dalam kelas (meski saat ini sistem ranking sudah tidak lagi terlalu diekspose di raport, tapi tetap saja sekolah mengurutkan ranking anak murid, setidaknya sampai urutan sepuluh besar di kelas).

Bisa jadi karena hanya menerima gaji bulanan, si guru hanya mengajar tanpa memberikan trik-trik khusus bagi semua murid untuk bisa menyelesaikan soal. Yang penting mengajar sesuai kurikulum, mengajarkan trik hanya diberikan saat memberi les tambahan. Padahal bukankah seorang guru wajib memberikan pengabdian berupa pemberian remidiasi bagi siswa yang kurang dalam menerima pelajaran? Remidiasi dulu, bukan les privat bagi yang sudah mampu. Apalagi kalau sampai pemberian les privat itu mengakibatkan siswa yang kurang menjadi semakin terpinggirkan. Alangkah malangnya mereka.

Dengan iseng, sempat saya tanya berapa persen lulusan sekolah tempat anak saya belajar, yang kemudian bisa melanjutkan ke SMP negeri di jenjang berikutnya. Jawaban yang saya dapatkan membuat miris, hanya 5 persen dari jumlah murid yang ada. Itu berarti dari keseluruhan 120 siswa yang lulus SD di sekolah kami, hanya 6 anak yang bisa terjaring masuk ke SMP pilihan mereka. Selebihnya kemana ? Bila yang 95% itu ternyata juga didominasi oleh anak-anak keluarga tak mampu, maka alangkah mirisnya nasib mereka.

Semua orang tahu betapa mahalnya biaya sekolah swasta. Anak-anak orang mampu yang bisa mengikuti les privat dengan guru atau bimbingan belajar dengan institusi lain malah menjadi penikmat bagi tersedianya bangku sekolah negeri karena tingginya nilai yang bisa mereka raih dalam UN. Kalau hal itu terus terjadi, maka jangan heran bila di kemudian hari saya akan bertemu dengan alumni sekolah yang memilih tidak meneruskan pendidikan karena alasan ekonomi dan kekurangan pencapaian nilai.

Mendengar penjelasan tentang betapa banyaknya siswa yang tidak bisa meraih bangku sekolah negeri di jenjang berikutnya, membuat saya berpikir untuk bisa membantu. Saya mengusulkan bahwa sebaiknya guru-guru kelas yang ada jangan hanya terpancang pada memberikan bahan-bahan yang didapatkan dari diknas, tapi juga mau mempelajari bahan-bahan ajar yang dipelajari di bimbingan belajar yang seringkali malah bisa mengangkat kemampuan siswa dalam menjawab soal.

Tidak perlu semua materi diberikan kepada murid, cukup sebagian saja yang penting dan sering dijadikan soal dalam UN. Tidak cukup hanya memberikan kisi-kisi, materi ajar bimbingan tes bisa memberikan trik-trik cara menjawab soal dengan cepat dan tepat. Barangkali saja, dengan cara itu, jumlah siswa sekolah kami yang bakal diterima sekolah negeri menjadi lebih banyak. Tapi sekali lagi, demi asas keadilan, semestinya tambahan pengetahuan itu diberikan kepada siswa tanpa melalui les privat. Tambahan untuk semua murid, dan bukan privat. Jadi tidak perlu lagi biaya tambahan untuk hal itu. Cukup diberikan dengan memanfaatkan waktu sekolah yang ada. Bukankah guru yang baik (baca = profesional) dituntut untuk bisa memberikan cukup pengetahuan dengan waktu yang tersedia?

Lalu bagaimana bila kondisi anak-anak murid memang begitu buruknya hingga terpaksa para guru harus memberikan les tambahan ? Bisa saja hal itu dilakukan, tapi jangan sampai terjadi guru kelas mengajar les tambahan bagi muridnya sendiri. Lakukanlah secara bersilang, misal guru kelas 3A mengajar muris kelas 3B, guru kelas 3B mengajar murid kelas 3C, dan sebaliknya guru kelas 3C mengajar murid kelas 3A. Hal itu bisa menjauhkan para guru yang terkait dari berbuat tidak objetif bagi muridnya sendiri.

Berkaca dari hal itu, saya hanya bisa berharap. Semoga guru-guru sekolah kami tak lagi mengadakan les privat, kecuali pengadaannya dilakukan dengan cara yang seadil-adilnya bagi kebaikan semua.

 

21 Comments to "Les Privat dari Guru Kelas = Ketidakadilan"

  1. gek diah  8 February, 2017 at 07:32

    Sekarang saya sedang mengalami ketidakadilan ini,sebagai orang tua saya sangat sedih. Putra saya yang periang kini mulai enggan malah terlihat takut untuk pergi ke sekolah. Putra saya tidak ikut les tambahan di wali kelasnya karena sayang berfikir usia 7 th selain belajar dia juga butuh istirahat, bermain dan kalaupun les itu harus pengembangan minat dan bakatnya. Tapi apa yg terjadi hal ini justru membuat walinya judes dan sering memarahinya. Tulisnya kurang bagus tapi tidak ada remidi ataupun pendampingan untuknya. Jarak tempuh rumah dan sekolah yang agak jauh membuat kami juga sering terlambat, tp awalnya saya berpikir ini sekolah favorit sehingga saya relakan anak saya jauh2 berangkat sekolah untuk mendapat pendidikan yg terbaik. Tapi kenyataannya berbeda justru ketidaknyamanan yang anak saya dapatkan. Ternyata benar saat ini banyak guru yang tidak layak disebut pahlawan tanpa tanda jasa.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.