Lani – Kona, Hawaii
Aloha teman-temin di Baltyra, apakabar semuanya? Semoga semuanya dalam keadaan sehat serta selamat.
Kalau mas DJ bisa pamer klepon, Indri dengan bolu hijau dan kang Fire dengan helm tumonya, aku tidak mau kalah dengan mereka, ingin berbagi cerita tentang sepeda.
Aku ingin bercerita mengenai sepeda, yah…sepeda baruku. Keinginan untuk mempunyai sepeda sudah agak lama, tapi dengan beberapa pertimbangan dan kendala yang ada selalu saja tertunda-tunda untuk mewujudkannya.
Hingga akhirnya pada tanggal 29 February 2012 dengan dibantu oleh temanku sebut saja dengan R, aku diantar ke beberapa department store.
Pilihan jatuh di Sports Authority store, karena jenis, model, serta harga sepedanya paling lengkap dibanding dengan toko yang kami kunjungi sebelumnya.
Untung ada R, yang membantu, memilih, mempertimbangkan, karena aku malah pusing sendiri, bukan karena model dan style nya saja, akan tetapi dengan bentuk ban sepedanya yang berbeda-beda, ada ban buat sepeda gunung, ban untuk di jalanan rata, mulai dari yang mulus, bentuk ban yang besar, sampai ban yang pating gronjal= tidak rata.
Belum lagi hampir semua model sepeda menggunakan gear/persnelling? Seumur-umur aku belum pernah menaiki/nggenjot sepeda yang pakai perpindahan gear.
Hal baru lainnya, bahwa sepeda-sepeda ini juga ada ukuran masing-masing disesuaikan dengan tinggi badan yang akan menaikinya, ukuran dalam inches, masih dibedakan lagi sepeda buat pria atau wanita.
Berbicara mengenai ukuran sepeda, jadi teringat ketika di New Zealand, aku ajak my partner untuk bersepeda, dia mempunyai 4 sepeda dengan berbagai keperluan yang berbeda. Ajakanku ditolaknya, aku tanya mengapa? Dikatakan sepeda itu bukan untuk ukuran badanku, karena aku terlalu pendek, kakiku tidak bakal sampai untuk menggenjot pedalnya…
Dijelaskan begitu aku tertawa ngakak-ngakak, ya iyalah……menurut mpek Dul aku dikatakan tingginya hanya 140 cm saja, sedang my partner menyamai Aki Buto tinggi badannya hahaha…..
Kembali tentang sepeda, bentuk stang sepeda juga bergagai macam, ada yang sejajar lurus, melebar, melengkung ke bawah, dan ada yang berbentuk seperti huruf U sepeda yang dinaiki para atlit. Rem ada yang terletak di pedal, ada yang di stang sepeda.
(1) sepeda baruku, berwarna hijau pupus, di keranjang terlihat rantai pengikat sepeda, dan botol minum
Sepeda yang pernah aku punyai ketika masih di SMP, adalah sepeda jengki biasa, sederhana, tidak canggih sama sekali. Kemudian di SMA aku tidak naik sepeda lagi, karena jarak SMA dan rumah jauh, diganti naik brompit seingatku Yamaha bebek.
Boleh dikatakan sepeda bagiku adalah barang baru, setelah sekian puluh tahun tidak pernah menaikinya. Semuanya dimulai dari nol, dalam artian harus latihan untuk menaikinya, bukan berarti aku harus belajar naik sepeda, akan tetapi membiasakannya kembali dan belajar memindah-mindahkan persnelling di kiri dan kanan stang sepeda.
Mungkin banyak member Baltyra yang membatin, berpikir, sampai berkerinyut keningnya, bahkan pusing, begitu ndeso diriku ini, apalagi kalau Aki Buto ikut berkomentar……lemessssss diriku dikuya-kuya.
(2) tampak dari depan, terlihat lampu kecil terpasang di keranjang sepeda.
Sepeda yang aku butuhkan adalah sepeda untuk aku naiki ketempat kerja di jalanan ber-aspal, harganya tidak lebih dari $300, tidak perlu yang super canggih seperti yang dipakai untuk pertandingan Iron Man hahahah…….
Kalau sepeda seperti itu, jelas aku tidak mampu membelinya dan tidak sesuai dengan kebutuhan.
Setelah bertukar pikiran dengan R, dan melibatkan teknisi sepeda di toko yang bersangkutan, mendengarkan dan mengikuti saran-saran mereka, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada sepeda untuk wanita berwarna hijau pupus, model sepeda satu-satunya yang sesuai dengan yang aku butuhkan, dengan ukuran tinggi tubuhku, bentuk stang, dan harganya pas dengan budgetku.
Yang aku tidak suka adalah bentuk sadelnya terlalu sempit tidak nyaman untuk diduduki, aku minta untuk diganti, kemudian aku minta dipasang lampu depan dan belakang karena aku berangkat kerja masih gelap gulita, tidak ingin nyungsep di lubang atau nabrak, walau ada lampu jalanan akan tetapi tidak dipasang di semua di jalanan yang aku lewati.
(3) tampak dari belakang
Kedua lampu kecil, berwarna putih dan merah, bisa di stel dua macam, berkedip-kedip dan tanpa kedip, kalau tidak salah nama lampu ini dinamakan LED? Tolong dibenarkan kalau salah sebut/nama. Lampu putih aku pasang di depan, lampu merah di belakang di bawah sadel sepeda.
Urusan lampu selesai, aku ingin keranjang yang dipasang di depan sepeda, ternyata di toko ini persediaan habis, hanya tersisa satu model, keranjang terbuat dari rotan aku tidak suka, karena kalau kehujanan basah dan jamuren.
Aku butuh pompa sepeda, ada berbagai model, pompa tangan, pompa kaki, atau pompa injak, artinya pompa diinjak dengan kaki untuk memompa udaranya.
Teknisi sepeda mengatakan tidak perlu pompa, ban dalam bisa dimasuki cairan semacam lem berwarna hijau muda, jika ban bocor cairan itu langsung menutup kebocoran secara otomatis.
Aku tanya, bagaimana bisa tahu kalau cairan itu habis terpakai karena ban sudah terdapat banyak lubang? Dijawab cairan akan keluar banyak, hal itu bisa terlihat, artinya harus ganti ban dalam.
Satu lagi butuh kunci sepeda, R memberi rantai terbuat dari kawat dilapis plastic, di kedua ujungnya ada lobang. Aku hanya beli gemboknya saja. Kalau sepeda diparkir diikat dengan rantai itu di seputar jeruji ban dan tempat parkir khusus untuk sepeda, kedua ujung rantai ditemukan, kemudian dikunci dengan gembok.
Dikenakan biaya penning/sticker yang dibayarkan ke county of Hawaii, sebesar $ 12.00, cukup dikenakan biaya sekali saja berlaku untuk selamanya. Seiingatku di Indonesia sepeda juga dikenai biaya penning ini, malah ada jangka waktu kedaluwarsanya, entah untuk berapa lama, aku lupa.
(4) sadel sepeda yang telah diganti agak melebar
Aku membeli kartu garansi $15.00 berlaku 2 tahun, jika ada kerusakan sepeda, semua akan diganti, tanpa bayar biaya tukang.
Dari harga sepeda $229 membengkak dengan segala macam asessori, penning, kartu garansi, gembok, tax, total $ 334.
Setelah semua urusan pembelian beres, temanku, R memintaku menaiki sepeda untuk mengetahui apakah sudah pas dengan tinggi badanku, atau masih perlu diturunkan lagi sadelnya. Sepeda dipegangi oleh teknisi yang merangkap sales person.
Keluar dari toko, temanku, R memberi saran untuk berlatih dulu menaiki sepeda dengan berkeliling, di halaman parkir di depan toko sepeda mengingat aku sudah lama tidak pernah menggenjot sepeda, apalagi dengan gear yang harus ganti-ganti. Sarannya aku setujui, apalagi halaman parkir yang luas, jadi tidak mengganggu para pengguna parkir lainnya.
(5) sepedaku, sebagai alat angkut merangkap sebagai sarana berolahraga
Pertama kali menaiki sepeda setelah sekian puluh tahun, merasa tidak nyaman, was-was terutama nantinya kalau harus meluncur di jalan raya bersama-sama dengan kendaraan lainnya, walau ada jalur khusus untuk sepeda. Aku berlatih hampir sejam, sambil bertanya kalau ada yang tidak tahu.
Karena sepeda tidak mungkin dimasukkan ke bagasi mobil R, aku harus menaikinya dari toko menuju ke apt ku. R menyarankan untuk lewat jalan belakang yang sepi dari kendaraan, dengan pesan hati-hati. Kami bertemu di apt ku, karena R akan menyepuh/mengoles sepeda dengan anti karat.
Problem di Hawaii untuk semua barang yang terbuat dari besi cepat atau lambat akan berkarat/karatan, karena dampak dari air laut.
Sepeda telah aku gunakan untuk kerja sambil berolahraga 3 kali seminggu menempuh jarak total 21 miles, menambah variasi olahragaku, yang tadinya jalan cepat, lari, sekarang ditambah dengan bersepeda. Moga-moga tidak akan ada akibat samping yang buruk dengan mempunyai sikil gebug maling (apa ya terjemahannya yang paling pas dalam bahasa Indonesia?) hahahaha…….
Marilah kita giatkan untuk bersepeda………
Ahui’hou
Lani
Kona-The Big Island of Hawaii
March 17. 2012
Pages: « 10 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: « 10 9 [8] 7 6 5 4 3 2 1 »
April 12th, 2012 at 10:23
Oooh, punya sepeda baru toh, boncengannya mana?. Nanti kalau aku ke Kona, mau ikut ketempat kerjanya, moso’ aku jalan kaki, nyonya rumah naik sepeda. Warna sepedanya genit segenit masternya. Salam sudrun.
April 12th, 2012 at 04:04
78 INDRI : wah jd gitu to aturan di Jerman, jual speda hrs dgn pompanya? klu di Amerika pompa, keranjang, sadel, lampu, merupakan assesories, jd boleh punya/tdk tergantung pembeli……….aku ndak mau susah2 makanya pake liquid dimasukin ke roda dalam sepeda, jd klu ban bocor langsung bs dilem secara otomatis, drpd memompa pake keluar tenaga hahahha………dasar pemalas!
nah utk roda tertutup, tdk semua speda modelnya begitu, hanya bbrp pakai roda tertutup lagian klu hujan lbh baik speda dirumahkan……..eman2 hujan2-an cepat neyenk………..
April 12th, 2012 at 02:28
Turut bahagia dengan sepeda barunya Mbak Lani
Penjualan sepeda tanpa pompa atau tidak lengkap kalau di Jerman bisa diprotes hehe … untungnya tidak ada sepeda yang dijual tanpa roda ya hahaha … *canda.com*
Usulan: kedua rodanya harus tertutup mbak Lani, nanti kalau hujan baju mbak kotor karena kecipratan lumpur … nah … lo ada pengeluaran ekstra lagi
April 11th, 2012 at 07:48
MAS DJ : wah, klu usia 3 th yo belum butut mas……….apalagi mahal lo harga segitu……..apalagi spedanya mas 3X lipat…….ini namanya sdh saingan sama atlit Iron Man hahaha…….
klu semua sdh ada yg urus berangkat tinggal bawa badan, dan tas kecil saja yo enak mas……ndak pating grandul abot…….jd berangkat sendiri? tp nanti pasti ditiliki to krn disana hampir sebulan mengko mbakyu Susi kangen……apa bs niliki sama bawa makanan?????
moga2 semuanya berjalan dgn lancar, aman dan cepat balik sembuh spt sediakala
April 11th, 2012 at 07:44
ASIANERATA : salam kenal…..lewat Baltyra……asyiknya baca sambil nyruput kopi……….pasti bacanya pagi2 neh???? seneng warna ijo lumut to???? dlm hal ini krn ndak ada pilihan jd mau tdk mau ya dibeli…….mumpung harganya diskon
April 11th, 2012 at 07:43
EL-NANO-NANO : jarang sekali pit pake slebor zaman saiki lo ya……ada jg tp aku ndak seneng modele kunoooo……trs stangnya njepaplang (apa ya bhs Indo nya?), dan rem nya dipedal…….aku ndak biasa ngerem dipedal, malah bisa2 njengkelit……tibo, ngaplang2 dijalanan……..waaaaaah……malah dinggo tontonan..
naik speda ndak pas hujan, klu hujan naik mobil minta jemputan teman……….hehehe……..eman2 pit-e berhujan-hujan mengko cepet neyenk kayak jempole kang Anuuuuuuu wakakaka…….
April 11th, 2012 at 06:05
Sepedanya apik yu… Warnanya cantik, paporitku. Tapi kok ora nganggo slebor to? Kalo dipake pas ujan, bisa kotor semua baju belakangmu…
April 11th, 2012 at 03:53
baca cerita Lani tentang ‘sepeda baruku’ sambil nyeruput kopi.
Warna sepedanya bagus lho Lan…ijo-ijo lumut, warna favouriteku…selamat yah buat sepeda barunya
April 11th, 2012 at 03:41
Butut sekali juga tidak sih, karena baru 3 tahun yang lalu Dj. belikan dan seharga € 370,-
Dia takut bawa sepedanya Dj. karena harganya 3X lipat dari yang dia punya.
Ya jelas dikunci, tapi yang namanya maling, ya memang sudah ahlinya….
Minggu depan yu, tgl. 17 April, naik KA express di arah Swiss, karena tempatnya memang diperbatasan Jerman dengan Swiss, hanya dibatasi saungai Rhein saja.
Tgl. 13 DHL ambil 2 koffer dirumah, agar Dj. berangkat hanya bawa trilli dan tas camera saja.
Nah inilah untungnya, semua sudah ada yang urus dari asuransi dan ticket KA juga sudah Dj. terima.
Tgl. 17 jam 7:50 pagi dari Mainz ke Basel dan pindah KA ke Bad Säckingen dan di bad Säckingen, Dj. akan di jemput oleh pegawai dari Rehab. Langsung dapat kamar dan besoknya baru akan pemeriksaan akan kesehatan Dj. Tgl. Kalau selesai cepat, ya tgl. 18 sudah bisa ikuti program Therapynya selama 3 minggu.
Selamat menikmati bersepedahan dengan sepeda yang baru.
April 11th, 2012 at 02:39
MAS DJ : aku numpak pit esuk2 uput2 buat kerja sambil nggenjot pit……menikmati semilirnya angin pantai dipagi hari…….aku pakai baju hangat soale adem je, semribit angine…..pakai kaos tangan jg……..
Daniel malah kecolongan sepeda, tp speda butut ya ora menyesal banget2……..coba klu dia mau bawa speda punya mas, ilang…….geloooooooo……..
emangnya spedanya ndak dikunci to mas kok sampai dikutil?????
aku msh lari, jalan kemana-mana dan ditambah numpak pittt………maunya sehat mas…….la ini msh di Mainz? kpn rehabnya?