Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Bandung – Yogyakarta met de trein

Wednesday, 11 April 2012

Viewed 3960 times, 2 times today | 133 Comments |

Nunuk Pulandari

 

Sebuah kebiasaan yang teman-teman di Baltyra semua sudah kenal dengan baik. Semakin lama menunda untuk mulai menulis semakin bingung darimana harus memulai menuliskannya. Mungkin bukan lagi satu kebiasaan tapi lebih tepat kalau disebut sebagai suatu “penyakit” yang mungkin juga sering teman-teman rasakan, ketika penyakit tunda-menunda sedang mengerubungi anda…malas rasanya untuk menekankan jari di atas toets-toets laptop yang ada….Tapi kali ini saya masih bisa mengalahkannya dan mulai menulis…

Sesungguhnya dari perjalanan “mudik” bulan lalu, tidaklah terlalu sukar untuk menuliskannya kalau kita membagi ceritanya dalam beberapa kelompok. Misalnya menuliskannya baik berdasarkan pada kota tujuan perjalanannya maupun berdasarkan pada hari-hari  yang penuh dengan “kegiatan”  tertentu. Hanya ada satu ganjalannya, yakni penyakit menunda dan malas yang sering menyerang tanpa mengenal waktu. Dan lebih parah lagi kalau penyakit ini masih dituruti dan ditambah dengan pelanggaran faktor disiplin yang tidak dipegang teguh…. Alhasil, bisa jadi basilah cerita yang ada.

Teman-teman  saya akan mencoba untuk menambahkan deretan cerita  tentang perjalanan ke Yogya dari Bandung dengan naik Kereta Api . Kereta yang kali ini kami naiki bernama Argo Wilis, telah dipilihkan oleh mas saya dari Bandung. KA dengan nama yang terdiri dari gabungan kata  Argo dan Wilis. Yang menurut saya terlalu berat kandungan artinya untuk diterapkan dalam kenyataan yang ada.

Kata Argo Wilis,  bisa berarti  Gunung yang berwarna hijau tua (sebuah gunung di Jawa Timur); bisa juga berarti “kereta atau kendaraan” milik negara yang megah; bisa juga  diartikan sebagai  kereta atau kendaraan” milik negara yang menghasilkan “hitungan” (dari kata wilisan) uang yang tak terhingga. Wouwww, seandainya arti ketiga bisa diterapkan timul masalah. Dikemanakan hasil pemasukan yang cukup banyak itu dilarikan. Untuk saya hal ini jelas tidak dapat dilihat  kalau dikatakan untuk membiayai perawatan KA-nya… Mungkin teman-teman lebih ahli untuk mengupas permasalahan ini..

Malam sebelum keberangkatan kami mendengar dari mas Bambang  bahwa kami akan berangkat di pagi hari jam 07.00, sesuai dengan apa yang tertera dalam karcis Argo Wilis. Kami mendapat tempat duduk di kelas eksekutief di barisan tengah. Ketika membaca dan mendengar kata eksekutief, segera terbayang sebuah kereta dan tempat yang nyaman (dalam artian yang luas).

Foto 1. Mengikuti arah jarum jam; KA yang masihmenjalankan tugasnya; kelas eksekutief dalam Argo Wilis Bandung- Solo, lewat Yogya.

Setengah jam sebelum keberangkatannya, kami sudah memasuki emperan stasiun Bandung. Sudah ada beberapa rangkaian KA yang memenuhi jalur rel keretanya. Setelah beberapa kali melongokkan kepala sambil melihat dan mencari kesana kemari, terbacalah di peron 1, nama KA Argo Wilis.

Pada saat yang bersamaan, ketika melihat rangkaian KA eksekutief yang tersedia, terasa seolah kedua bolamata saya seakan tersedot keluar. Timbul keraguan dan kepanikan. “Beginikah penampilan dan keadaan (bagian luar) body KA Argo Wilis  yang disebut dengan kelas EKSEKUTIEF”: Pertanyaan yang mengusik hati saya.  Maaf kalau saya menuliskannya dengan sangat tidak memberikan kesan keeksekutiefannya…”Betulkah ini yang namanya kereta eksekutief Argo Wilis”: Begitu bisik hati saya.  Rasanya timbul keraguan dan  was-was dalam hati. Hal ini menjadikan tidak tenteram, melihat penampilan KA yang tidak semulus, sebersih, semewah seperti arti yang diberikan dalam kata eksekutief yang disandangnya. Kami berempat saling berpandangan. Rupanya sependapat tentang hal ini, walaupun tidak sepatah katapun yang terungkap. Hanya dari cara saling pandang dan saling tersenyum, tahulah kami bahwa memang itulah KA Argo Wilis.. Yang sayangnya tidak sesuai dengan apa yang ada dalam gambaran di benak kami.

Saya sendiri masih terus berpikir: “Wouuuwww, kok jelek dan tua sekali KAnya. Lagi pula terlihat tidak terawat sama sekali. Masih layakkah KA ini menjalani route yang panjang dan lama”…Belum lagi kalau melihat harga  ticket KAnya yang kalau disetarakan dengan harga ticket pesawat Pesawat Jakarta- Yogya hampir tidak ada bedanya…  Dalam hal ini  beda harganya memang hanya berjumlah beberapa puluh ribu rupiah saja.   “Tahu begini, kami naik pesawat langsung dari Jakarta”: Sempat selintas terpikirkan. Dalam kegalauan yang ada anak saya berkata (terjemahannya):”Ayolah ibu. Kita jadi ke Yogya khan?” Lalu dia menolong menarik kopor kecil  saya.

Menaiki tangga KA, aduuuh kotornya. Tidak hanya badan KAnya tetapi rasanya tangga itu juga sudah bertahun-tahun tidak dibersihkan.  Di samping kanan dekat pintu masuk KA, terintip WC (yang seharusnya kering tetapi ternyata berceceran banyak air). Memasuki lorong kereta, keadaan agak lebih baik. Walaupun, maaf, ketika akan dudukpun tersirat keraguan antara ya dan tidak duduk. Terutama ketika melihat warna kehitaman di sana-sini di bangku kursinya,  yang jelas-jelas bukan bagian dari  warna dekorasi ataupun hiasan kain pembungkus kursinya.

Sesungguhnya saya berniat membuatkan fotonya, hanya anak laki-laki saya melarangnya (dia memang sangat bijaksana). Belum kalau melihat warna gordijnnya yang sudah tidak sewarna lagi. Melihat warna hitam dekil yang ada di lengan kursi duduknya dan melihat rongga yang terlihat antara  sisi kursi dan dinding KA, sempat menyemburatkan sedikit rasa khawatir dan takut. “ Bagaimana kalau ada Coro si Kecoa muncul dari sela-sela gelap itu”: Begitu kata hati saya… Huuuuhhhh, saya paling takut dengan Coro si Kakkerlak alias si Kecoa.  Terbesit keinginan untuk segera mengambil kain atau secarik selimut untuk melapisinya sehingga mata tidak usah melihatinya.

Foto 2. Pemandangan tidak berapa jauh dari Bandung

Di antara keraguan itu, kesadaran yang ada  segera menengahinya dengan idéé untuk menutupi sela hitam gelap memakai bantalan yang disediakan. Lalu secepatnya berusaha untuk menerima yang ada dan menghilangkan pikiran yang ada di benak serta mengenyampingkan kebiasaan yang berlaku di Belanda…dan duduk.

Thanks God, ketika KA mulai berjalan menjauhi Stasiun dan pemandangan segera berganti dengan memunculkan berbagai “lukisan”alam yang indah… Semua keraguan segera terlupakan….Semua pemikiran itu segera sirna sejalan dengan melajunya KA yang kami tunggangi.

Foto 3. Kehijauan dari aneka ragam pepohonan yang tumbuh alami

Menikmati kehijauan selama dalam perjalanan, terpikir betapa berbedanya cara pertumbuhan pohon-pohon di “hutan” di  Indonesia dan di Belanda. Perbedaan yang utama adalah fakta bahwa di Belanda tidak ada satupun pohon yang menghuni hutan di Belanda tumbuh dengan sendirinya. Di Belanda semua pepohonan dan tanaman selalu ditancapkan dengan memakai tangan manusia.  Tidak ada hutan yang pepohonannya tumbuh tanpa campur tangan para petugas pertamanannya. Seperti dalam foto 4, di bawah ini. Pepohonan yang tumbuh di hutan di Indonesia, hampir semuanya tumbuh secara alami, tanpa ada uluran tangan petugas pertamanan, perkebunan dan kehutanan untuk menancapkannya satu demi satu….Achhh, alangkah beruntungnya negeri Indonesia untuk memilikinya.

Foto 4. Tak terkecualikan hutan yang sudah mulai tumbuh kembali

Dengan naik KA Argo Wilis yang berkapasitas angkut 50 tempat duduk di kelas eksekutif tersedia alternatif perjalanan di siang hari yang sesungguhnya persis seperti yang ingin saya lakukan. Sebuah perjalanan KA yang memungkinkan selama perjalanan dapat menjepretkan camera sambil  menikmati indahnya panorama pegunungan dan kehijauan dari  Bumi Parahyangan, Banyumas, Kali Serayu dan Kali Progo.

Dalam foto-foto yang sempat saya bidik dari jendela di wagon 1, sang Argo Wilis yang melaju dengan cukup kencang tidak terbaca dan tercantum satupun nama daerah di sekitarnya yang dapat terbaca dari balik jendela KA. Dan saya, terus terang sudah lupa dan tidak lagi mengenali daerah-daerah yang telah dilewati. Cuaca di pagi itu cukup berkabut dan sang mentari masih malu untuk menampakkan dirinya.

Foto 5.  Indahnya sebuah daerah pemukiman “perkampungan” di antara persawahan yang mengelilinginya.

Ketenangan dan kedamaian nampak seolah menyelimuti daerah pemukiman yang ada.  Kadang menyiratkan satu pertanyaan: ”Bagaimana bisa harga beras begitu tinggi kalau selama dalam perjalanan terlihat hamparan sawah yang begitu luas”.  Satu pertanyaan yang sesungguhnya tidak memerlukan jawaban melihat melimpah ruahnya penduduk dari luar daerah yang menyerbu mendiami pulau Jawa.

Foto 6. Sebuah “pedesaan” dengan latar belakang “pegunungan” dan persawahan yang sudah menguning.

Dan tentunya tidak terlupakan fakta bahwa beras memang menjadi makanan pokok sebagian besar penduduknya.  Memang selama mata memandang, daerah persawahan baik yang sedang mulai disemai maupun yang sedang dituai tampak dimana-mana. Sayangnya semua itu belum dan masih jauh dari mencukupi kebutuhan para penduduknya.

Indahnya alam bumi Indonesia sudah bukan menjadi rahasia lagi bagi seluruh penghuni jagad raya ini.  Melihati sebuah daerah pemukiman pedesaan kecil dengan latar belakang gunung / bukit yang indah, yang bila diamati dengan menggunakan daya imaginasi tinggi bisa dikatakan membentuk dan menyerupai “sesuatu” (dalam hal ini sebuah wajah yang sedang tiduran) yang indah. Seperti yang nampak dalam foto 7, di bawah ini.

Foto 7. Daerah pebukitan yang menyerupai wajah seseorang yang sedang tertidur dengan nyamannya.

Melihat bentuk di daerah pebukitan di atas, terbesit pertanyaan: ” Tidakkah mungkin bahwa di balik bentuknya tersimpan cerita tentang “seseorang” yang tertidur di dalamnya. Dengan kejenjangan leher yang nampaknya mungkinkah kalau pemiliknya seorang wanita? ”.  Seseorang yang mungkin dalam kehidupan di masa lalu pernah tinggal dan berkuasa di daerah yang terlihat dalam foto 7. Nampak sebuah wajah yang  tertidur dengan nyenyak dan nyaman. Lagi pula siapa sih yang tidak ingin terbaring nyaman, di alam permai dengan keheningan di sekelilingnya.                                                                                                                      

Foto 8. Gunung “……………..” (entah apa namanya, saya lupa)  di keremangan pagi hari.

 

Foto 9. Hijaunya hamparan padi di pesawahan yang membentang luas, seolah mengiringi perjalanan kereta.

Dalam perjalanan yang cukup memakan waktu, plus minus 8 jam, juga ditawarkan beberapa sajian makanan ringan dan berat untuk mengisi perut para penumpangnya.

Foto10/11. Penawaran makan di dalam Ka dan Freddy yang memesan Bakmi Bakso

Ketika seorang pramugari KA datang menawarkan makanan, saya hanya berpikir:  Tidakkah sudah selayaknya dengan harga yang cukup mahal, terutama untuk ukuran Indonesia yang berjumlah  Rp. 225.000,- sekali jalan,  bila para penumpangnya diberikan setidaknya minuman sebagai penawar dahaga dan makanan kecil sebagai obat perut yang berkeroncongan di siang hari. Ach, rupanya sebotol kecil air putih sudah dianggap cukup sebagai salah satu bentuk service dari KA Argo Wilis pada para penumpangnya.

Melihat lamanya perjalanan, Freddy merasa lapar dan telah memesan Mie Bakso. Rasa lapar yang ada tidak cukup kalau hanya ditutup dengan Roti dan makanan yang dibawa dari rumah. Saya tidak ingat lagi berapa harga Mie Bakso tersebut. Yang jelas Freddy mengatakan bahwa rasanya enak dan terlalu sedikit untuk sekali makan.

Foto 12. Betapa hijaunya negeri Indonesia tampak dalam foto ini

 

Foto 13. Hamparan  padi yang mulai menguning, memberikan harapan indah bagi pemiliknya.

 

Foto 14. Keheningan di alam terbuka

 

Foto 15. Daerah pedesaan tidak jauh dari batas kota Yogyakarta.

Mendekati kota Yogya, segera saya teringat untuk mencari catatan alamat dimas Hilman di dalam handbag dan tas cantik saya. Memang selama di Yogya kami akan tinggal di rumah dimas Hilman. Ternyata saya baru teringat bahwa semua catatan alamat dan telefoon itu  tertinggalkan di dalam koper besar yang ada di Jakarta. Sejenak, ada kebingungan memikirkan bagaimana saya harus menyampaikan kealpaan ini pada anak-anak saya. Dan sebelum mereka menanyakannya, saya telah lebih dahulu menceriterakan apa yang sesungguhnya terjadi. Satu yang saya masih  ingat, bahwa alamat dimas Hilman juga tertera di salah satu silang e-mail kami berdua. Untuk mencari jalan keluarnya setelah sampai di Yogya, kami pergi minum dan makan sambil  istirahat di lobby Hotel Garuda. Daaannn, sambil menunggu jam yang sudah disepakati, melalui e-mail yang bisa diakses di lobby hotel tentunya alamat  dan telefoon dimas Hilman bisa ditelusuri dengan mudahnya. Terasa lega ketika semua bisa diatasi dengan mudah.

Foto 16. Birrutte mencoba mencari sambungan internet yang ada.

Sambil menunggu jam yang telah disepakati bersama, saya masih sempat berkeliling Hotel Garuda untuk melihat-lihat apa yang mereka pamerkan dan sajikan untuk para tamunya. Teman-teman cerita lanjutannya akan saya tuliskan dalam kesempatan di lain waktu. Untuk kali ini sebagian dari perjalanan liburan ke Yogya  sudah saya tuliskan. .

Werkt ze en doe doei, Nu2k

**Memasuki musim semi, tunas-tunas baru dari berbagai jenis bunga khas Belanda  di  ladang-ladang perkebunan bunga  di Belanda utara sudah mulai bertumbuhan dan sebagian sudah mulai memperlihatkan bunganya yang beraneka warna. Dari jauh sering nampak bagaikan hamparan karpet tebal yang menghiasi halaman rumahNYA. Kali ini musim semi juga diramaikan dengan dibukanya Floriade di wilayah Tenggara Belanda.. Siapa mau ikut menonton Floriade??   Selamat ber- lang weekend..**.

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 11 April 2012 on 09:29.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

133 Responses to “Bandung – Yogyakarta met de trein”

Pages: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 … 1 »

  1. 133
    nu2k Says:

    Mas Nevergiveyouup, rasanya saya sudah membaca dan membalasnya… Piyé tochhhh.. Sebentar…. Ooohh, rupanya saya baca comment anda di Yahoo, e-mail (kemarin ?) . Terus saya balas di Artikel yang sama tapi di seri kedua…Monggo toch dipirsani..Ha, ha, haaaa.. Hoe dan ook, kabar baik bukan? Bagaimana sudah berhasil “semuanya”..
    Sudah banyak data ikan yang terkumpul, atau sudah berapa kali ditiup angin waktu naik kole-kole dan hampir kecebur di teluk…Ini menurut pengalaman mbakyu ipar saya waktu mengikuti sang konco ngajeng bertugas di Dir Prikanan Ambon…
    Ramai sekali, banyak cerita “dari bunia sananya”…. Ha, ha, haaa… Fijn weekend en apa acaranya? Gr. Nu2k

  2. 132
    nevergiveupyo Says:

    selamat bu nunuk.. sudah berhasil juga menjentikkan jari jemari menari diatas tuts papan ketik….
    (saya masih kalah/atau mengalah? hehehe)

    terimakasih atas liputan liburannya…

  3. 131
    nu2k Says:

    Jeng ya itulah, lhawong baru mbuka Baltyra… Sudah baca semua artikel barunya sih.. malah sampai ke commentaarnya segala.. Semua termasuk dibaca sampai tuntas…. Tapi malas untuk mendalaminya… Hari ini kademen… Adem dem terus pakai hujan gerimis segala… Padahal sudah musim semi….

    Selamat berkarya ya… Take care, Nu2k

Pages: [14] 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 … 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)