Simpanan Tuan Presiden

Langit Queen

 

Debu jalanan yang berterbangan di hempas kendaraan yang lewat tak sedikitpun menggoyahkan niat dua manusia yang sedang berjalan menelusuri setiap gang  dan jalanan maupun tempat sampah yang mereka lewati. Sesekali keduanya berhenti memungut botol plastik bekas minuman, juga kardus bekas yang mereka temukani. Terik matahari adalah teman setia sepanjang harinya, yang makin menghitamkan warna kulitnya.

Dialah Suratmi, seorang janda 40 tahunan, suaminya meninggal 3 tahun lalu, sejak itu praktis dirinyalah yang harus menanggung biaya hidup bersama anak semata wayangnya. Baju motif bebungaan yang ia kenakan telah basah oleh keringat. Pun demikian celana kain panjang yang sejak pagi ia kenakan, kotor di beberapa bagian bekas ia duduk di sembarang tempat manakala ia melepas lelah. Topi caping ia kenakan untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Karung yang ia gunakan sebagai tempat hasil pungutannya, ada di belakang punggung kirinya, satu tangan kirinya memegangi ujung karungnya. Sementara tangan kanannya membawa tongkat besi yang ujungnya melengkung, guna mengambil botol plastik bekas di setiap sudut yang ia temukan.

Di belakangnya, seorang anak berjalan mengikuti langkahnya. Namanya Dendi.  Langkah kecilnya terus mengikuti sang ibu, sambil memegang satu plastik es teh yang ia minum sembari jalan. Topi kecil bertengger di kepalanya. Kelelahan terpancar dari raut wajahnya, namun ia sama sekali tak mengeluh. Apalagi minta gendong sama sang ibu. Itulah hari-hari yang mereka berdua lalui. Menjadi pemungut botol plastik bekas, maupun dus bekas. Dengan berjalan berkilo-kilo meter dari tempat tinggalnya yang berada di pinggir rel kereta, sebuah rumah gubuk seadanya dan sesungguhnya tak layak huni.

“Mak, aku lapar…” Rengekan sang anak sontak menghentikan langkah kaki Suratmi.

Wanita itu kemudian menuntun sang anak, mencari tempat berteduh. Di trotoar tepat di bawah sebuah pohon besar ia menyuruh Dendi duduk. Wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan plastik dari kantong samping kanan celana kainnya, dan menyodorkan kepada sang anak.

“Ini, makan dulu…” Perintahnya kepada sang anak.

Dendi menerima  bungkusan dan membukanya. Sebungkus gemblong dengan taburan parutan kelapa kering. Suratmi membelinya pagi tadi di dekat gubuknya. Untuk sang anak, sementara ia sendiri masih bisa menahan lapar hingga sore nanti.

Dengan lahap anak itu memakannya. Namun matanya terus saja menatap ke seberang jalan. Di sana ada sebuah resto cepat saji yang menyediakan ayam dibalut tepung. Dengan kaca resto yang transparant membuat Dendi dengan jelas melihat anak-anak di sana bersama sang ibu dan ayah sedang menikmati makan siang bersama. Suratmi bukan tak tau, ia paham dan sedari tadi juga menatap mata anaknya. Ia tau anaknya juga ingin makan seperti itu.  Dan anak itu tahu diri, tak pernah sekalipun  meminta kepadanya. Ia membelai rambut Dendi kemudian menuntun anak itu menjauh dari sana.

“Kapan-kapan kita makan ayam itu, kalau ada uang lebih… Emak janji belikan kamu ayam di sana…” Bisiknya sembari jalan.

Dendi hanya mengangguk. Keduanya kembali duduk di bawah pohon yang letaknya jauh dari resto. Dendi melanjutkan makan sementara Suratmi melepas lelah setelah berjalan berkilo – kilo meter.

“Mak… Kata bapaknya Wanto, kita ini simpanan presiden…”. Mulut Dendi yang penuh makanan berbicara dengan polosnya kepada emaknya.

Suratmi hanya bisa bengong dengan kata-kata anaknya. Bapaknya Wanto adalah tetangganya di gubuk sebelah. Pekerjaannya sama dengan dirinya. Memungut botol plastik bekas. Usia Wanto sama dengan usia Dendi.

“Jangan bicara aneh-aneh. Emak nggak tau. Nggak paham.” Suratmi yang memang tak paham memilih tak mau tau.

Namun Dendi melanjutkan.

“Kata bapaknya Wanto, orang miskin dengan gubuk-gubuk kecil itu jarang tersorot mak. Jadi simpanan. Di sorotnya nanti klo tuan presiden butuh. Gitu mak. Kata bapaknya Wanto, itu namanya pengalihan isu, gitu mak. Jadi di simpan dulu. Kalo butuh nanti di sorot.  Kemarin aku denger dia ngobrol sama orang-orang. Di rumah pak Sugi yang lagi sakit. Mereka semua marah mak, gara-gara pak Sugi masuk rumah sakit tapi di tolak. Gak ada uang.”

Mulut kecil Dendi nyerocos tak jelas. membuat Suratmi geleng-geleng tak mengerti.

“Emak nggak ngerti yang begituan. Yang emak tau, gimana caranya supaya kita nggak kelaperan. Lalu cari uang dengan cara yang halal. Nggak ngerampok. Nggak mencuri. Pejabat itu kaya, katanya ngerampok. Mereka banyak uang, katanya mencuri. Ah… Ada-ada saja”

Waktu terus bergulir. Keduanya kembali menelusuri jalanan Jakarta. Menghentikan obrolan siang yang membuat kepala Suratmi semakin pusing saja.

***

Semilir angin malam tak mampu membuat udara sejuk di malam hari ini. Inilah Jakarta. Meski angin terkadang kencang, namun udara tetap saja panas. Di sebuah rumah gubuk nan sempit. Dendi terlihat sudah rapi, demikian juga dengan Suratmi. Di tangannya terdapat beberapa lembar ribuan hasil dari ia memungut botol plastik beberapa hari ini. Biasanya ia kumpulkan dulu selamat 3 atau 4 hari, baru kemudian ia jual kepada seorang penadah.

Ia sisihkan belasa ribu untuk membelikan ayam balut tepung di sebuah resto cepat saji. Wajah sumringan Dendi jelas sekali terlihat, karena baginya seumur hidup, baru kali ini ia akan menikmati makanan yang terlihat lezat  di iklan-iklan televisi. Meski ia tak memiliki televisi ia suka menonton di rumah Wanto. Iklan ayam yang menggugah selera.

Untuk anaknya, Suratmi akan membelikanya. Sesekali. Ia telah sisihkan belasan ribu rupiah untuk membeli sepotong ayam. Selebihnya, ia akan membeli sembako murah yang biasanya di jual di akhir bulan seperti ini.

Saat hendak melangkahkan kaki, pintu gubuknya di ketuk seseorang dari luar. Pasti ini ketua RT yang membagikan kupon pembelian sembako murah. Batin Suratmi.  Biasanya memang seperti itu adanya. Setiap akhir bulan pak RT akan membagikan kupon dari rumah ke rumah, di bantu beberapa orang lainnya.

Buru-buru ia membuka pintu dengan kunci kayu yang tinggal di putar saja.

Seseorang telah berdiri di sana. Orang yang tak ia kenal sebelumnya.

“Maaf mbak. Harap segera kosongkan rumah ini.  Akan ada penertiban. Seluruh hunian di sini akan kami bongkar….”

Tubuh Suratmi lemas seketika.

Kejadian yang sama seperti beberapa tahun lalu sebelum sang suami meninggal. Di tempat lain. Sebelum ia pindah ke sini. Ia dan beberapa warga kala itu membandel dan memilih tetap tinggal di rumah petaknya. Namun yang terjadi beberapa hari kemudian adalah, seluruh hunian sempit yang ia dan warga lain tempati terbakar… Skenario yang telah di aturkah??  Cara lain mengusir warga miskin dengan rumah gubuk?? Hingga sang suami terbakar  lalu meninggal saat hendak menolong seorang bocah yang terjebak di dalamnya. Satu orang miskin berkurang.

Ia kembali ke belakang. Menatap Dendi kemudian memeluknya…

“Kita harus segera pergi dari sini nak… Tak ada ayam tepung untuk kamu malam ini.. Kita harus segera pergi….” Suratmi menangis.

***

Malam semakin larut. Tak ada rembulan di atas sana, meski ribuan bintang mengiasi langit di gelap malam. Suratmi berjalan menelusuri terotoar, ia menenteng tas berisi beberapa baju miliknya dan juga milik Dendi. Sesungguhnya ia tak tau harus pergi ke mana. Langkah kaki Dendi terus saja mengikutinya. Tanpa sepatah katapun, tanpa keluh sedikitpun. Anak kecil ini seperti memahami betul keadaan diri dan ibunya.

Suratmi menuntun Dendi , ia hendak ke seberang jalan, dengan tujuan sekadar istirahat, di sana terdapat  emperan ruko yang lumayan lebar.Tanpa ia sadari sebuah truk tronton pengangkut besi berjalan dari arah kanan dengan laju yang sangat kencang. Dan secara bersamaan keduanya terlindas tepat di bawah roda kiri. Truk baru berhenti ketika beberapa orang berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah bawah. Ceceran darah menghiasi aspal dan remuknya beberapa bagian badan. Keduanya tak lagi bergerak.

Orang miskin kembali berkurang…..
Simpanan yang terlihat jika diperlukan…
Sekadar mengalihkan issu besar….

(Ilustrasi: Kompasiana)

 

***

 

 

11 Comments to "Simpanan Tuan Presiden"

  1. Our Daily Bread  30 April, 2012 at 09:18

    Queen of Jogja,another sad story alias unhappy ending

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.