The Story from the Top End (1)

Nyai EQ di pinggir pantai

 

Sudah lama sekali saya pengin bercerita tentang pengalaman saya wira-wiri selama 2 tahun ke ujung utara negeri Australia ini. Tapi baru sekarang kesampaian, setelah semuanya tenang dan menyenangkan, saya membuka kembali album-album saya, dan mulai menulis.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Darwin, pada bulan Februari 2010, dengan visa turis. Transit di Bali beberapa hari, dan terkantuk-kantuk di dalam pesawat selama 2,5 jam. Mendarat di Darwin International Airport pada jam 3 dini hari dan masih harus menjalani serangkaian acara sebelum bisa keluar dari bandara. Saat itu saya masih berpasangan dengan seorang laki-laki asal Tasmania yang tinggal menetap di Darwin. Jadi selama ada di Darwin, saya tinggal di rumahnya.

Yang akan saya ceritakan bukan hal saya tinggal sama mantan saya itu, tapi hal-hal yang saya lihat selama saya berada di Darwin.

Darwin kota yang kecil, berada di ujung utara Benua Australia. Oleh sebab itu Darwin sering disebut sebagai The Top End, berada di wilayah Northen Territory (NT), sebagai ibu kotanya.

Darwin berpenduduk sekitar 127.500 orang (sensus tahun 2008), merupakan kota terpadat di wilayah Top End, tetapi merupakan ibu kota yang penduduknya paling sedikit, jika dibandingkan dengan ibu kota-ibu kota lainnya di seluruh wilayah Australia.

Penduduk Darwin sangat heterogen. Saya menemui beberapa suku bangsa yang hidup bersama-sama di Darwin. Kebanyakan dari mereka adalah suku asli Australia yang disebut sebagai orang Aborigin, kemudian juga banyak ditemui orang-orang dari negara Thailand, Indonesia, Yunani, Cina, Afrika, India,Vietnam dan bahkan juga Korea dan Jepang.

Orang-orang Aborigin bisa ditemui di berbagai sudut kota Darwin. Mereka sangat khas, baik penampilan, cara berpakaian, maupun baunya. Kaum perempuannya biasanya mengenakan baju terusan seperti daster dengan warna-warna cerah (hijau, merah, biru cerah, oranye), atau kaos T-shirt yang dipadukan dengan rok panjang. Jarang yang memakai sepatu, sering terlihat memakai sandal jepit dan membawa tas kresek. Rambutnya diikat dengan ikat rambut seperti  ibu-ibu kampung di Indonesia.

Sket berwarna tentang perempuan Aborigin, yang saya buat ketika saya sedang menunggu bis di halte dekat Casuarina Square (pusat perbelanjaan).

Remajanya terlihat lebih keren dengan pakaian yang berbeda. Seperti para remaja Australia lainnya. Lengkap dengan headphone, kadang-kadang kacamata hitam dan tas ransel. Para lelakinya lebih sering terlihat mengenakan jeans lusuh dan kaos atau hem biasa. Sering terlihat memakai topi dan merokok.

Pria Aborigin ini bernama Timothy Cook, biasa kami panggil Tim, dia seorang seniman hebat dan teman yang menyenangkan.

Mereka punya kebiasaan bersuara keras bila sedang berbicara. Bahkan bisa dibilang nyaris saling teriak. Begitu juga bila mereka sedang berada di dalam bis kota. Yang satu berada di ujung depan, satunya lagi berada di ujung belakang, padahal bis kotanya panjang sekali, akibatnya mereka akan saling bersuara keras. Sering pula mereka berbicara dalam bahasa mereka (bukan bahasa Inggris).  Beberapa di antara mereka sering terlihat mabuk dan bikin onar. Pertama kali melihat mereka, saya merasa takut juga.

Mereka sering terlihat bergerombol di taman-taman kota, duduk-duduk, ngobrol di keteduhan pepohonan. Di antara mereka ada para pekerja keras dan seniman-seniman handal. Yang lainnya bekerja part time dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kluyuran ke sana-kemari.

Baiklah, sementara itu dulu tentang orang-orang Aborigin di mata saya, di Darwin, di jilid berikutnya akan saya ceritakan pengalaman saya tinggal di pulau mereka.

Darwin kota yang tenang dan nyaman, menurut saya. Tidak terlalu ramai, dan udara panasnya tidak terlampau menggigit seperti di Jogja. Darwin memiliki 2 musim, yaitu wet dan dry season. Saat wet season akan turun banyak sekali hujan yang kadang-kadang disertai badai atau bahkan cyclon. Selalu ada peringatan di TV sebelumnya jika diperkirakan akan ada badai. Saat dry season, udara menjadi panas. Matahari bersinar sampai hampir pukul 8 atau 8.30 malam.

Jalanan di Darwin seringkali tampak lengang dan sepi. Kendaraan hanya sesekali lewat, meskipun jam berangkat sekolah atau jam bubaran kantor.

Jalan raya yang begitu tenang, hijau dan sepi

Saya suka sekali berjalan kaki di kota ini. Terutama jika pagi atau sore hari. Kebetulan rumah yang saya tempati terletak di seberang laut. Jadi di depan rumah ada jalan raya, kemudian taman yang luas dan asri, selanjutnya adalah pantai dengan lautan lepas terhampar dengan indahnya.

Ada jalan di dalam taman. Sebelah kiri jalan adalah laut lepas, sebelah kanan adalah jalan raya yang di seberangnya terdapat sederetan blok-blok rumah/apartemen.

Di jalan kecil yang berada di taman, banyak orang berjalan-jalan jika sore hari. Banyak dari mereka yang membawa anjing. Ada juga yang jogging. Ada pula yang bersepeda. Anak-anak kecil akan sangat senang dan aman berjalan-jalan di sini. Menjelang matahari tenggelam, banyak orang-orang duduk di tepi pantai menunggu sunset. Banyak pula orang tua-tua bersama para teman sebaya, menaruh kursi pantai, sambil mengeluarkan makanan, minuman, bir, red wine, jus buah, apa saja sambil ngobrol dan menikmati cuaca.

Kadang-kadang saya dan beberapa kawan juga membawa alat musik seperti gitar, banjo, harmonika dan tabla, kemudian menyanyi banyak lagu dan menari-nari…sangat menyenangkan. Ada pula tempat untuk bbq’an di taman. Selain itu ada juga sarana untuk berolah raga dan tempat bermain untuk anak-anak. Semua faisilitas umum terjaga kebersihannya dan keamanannya. Saya belum pernah menemui fasilitas umum yang rusak atau di rusak, bahkan juga bebas dari corat-coret. Tidak ada yang mencongkel tempat pembakaran bbq dan membawa pulang.

 

Semua sarana umum ini aman dari tangan-tangan jahil

Bahkan pohon mangga yang berbuah sangat lebat di lapangan dekat rumah pun aman dari anak-anak. Buahnya dibiarkan berjatuhan dan jadi makanan burung.

Begitu pula buah kelapa yang tumbuh di halaman rumah. Manggarnya (bunga kelapa) yang sebenarnya sangat lezat dibikin gudeg, menjadi santapan para burung. Para burung ini juga berkeliaran di sekitar pantai, diantara orang-orang yang duduk dan makan makanan. Para burung ini juga akan kebagian remah-remahnya.

Pohon mangga yang berbuah lebat ini tumbuh di lapangan dan tidak ada yang pernah mengambil buahnya, bahkan sampai buahnya berjatuhan

Burung-burung berbagai macam jenis terbang bebas tanpa diusik siapapun. Saya sangat suka mengamati para burung yang beraneka macam ini, dari teras rumah. (kebetulan saya tinggal di lantai atas). Pernah pada suatu hari saya melihat segerombolan besar burung nuri aneka warna yang sangat ribut, mampir di pohon kelapa depan jendela rumah. Mereka sangat cerewet, jumlahnya banyak sekali, datang dan pergi silih berganti. Bulunya berwarna hijau cemerlang, dengan leher berwarna merah, ungu dan oranye. Cantik sekali. Di Jogja saya melihat burung semacam ini di pasar burung, dan tidak terlihat bahagia seperti burung-burung di Darwin.

Burung-burung yang sempat saya potret di sekitar rumah

Kadang-kadang saya bertemu dengan gerombolan burung kakak tua hitam, kakak tua putih berjambul pink atau kuning, kakaktua berbulu merah muda, sedang minum air atau bertengger di pohon di tepi jalan raya, ketika saya sedang berjalan menuju halte bis.

Berkendaraan umum di Darwin sangat menyenangkan. Selain bisnya besar, luas dan nyaman, juga dingin dan teratur. Tidak bisa berhenti di sembarang tempat. Meskipun kadang-kadang saya kehilangan “seni”nya naik bis di Jakarta, tapi nikmat juga naik bis tanpa diganggu orang jualan dan para pengamen yang suka menyanyikan lagu dengan nada tidak jelas.

Tiket bisnya seharga AUD $ 2, dengan masa berlaku selama 3 jam.

Halte bis/ bus stop yang bersih dan teduh dan bis kota Darwin

Rute jalur dan jadwal bis kota dan suasana dalam bis ketika sepi penumpang

Darwin kota yang tidak besar. Hanya ada satu mall besar, seperti Malioboro Mall di Darwin, tempat nongkrong para remaja. Namanya Casuarina Square, atau biasa di sebut dengan nama Cas. Tempatnya tak jauh dari Charles Darwin Univ, satu-satunya Universitas terbesar di Darwin. Dari rumah saya tinggal naik bis satu kali.

Ada Darwin Plaza di City. Tapi bentuknya juga tidak merupakan satu bangunan utuh seperti mall-mall besar di Jakarta. Cas terdiri dari 3 lantai : GF, Floor 1 dan Floor 2. GF berisi semacam Food court, yang akan penuh pada jam-jam makan siang. Banyak anak-anak berseragam sekolah keluyuran di mall tersebut. Mall akan tutup pada jam 5 sore. Kecuali supermarket Woolworth yang sering disebut dengan singkatan Wollies. Supermarket ini tutup pada jam 9.30 malam. Wollies bisa ditemukan di berbagai tempat. Mungkin seperti Superindo di Jogja, tapi dalam skala yang lebih besar, atau seperti Hero di Jakarta. Selain Wollies juga ada Bottle Shop yang menjual minuman beralkohol, buka sampai jam 10 malam.

Kadang-kadang saya menemukan hal-hal yang lucu dan menarik di dalam bis, di mall dan di beberapa tempat lain. Ada beberapa kejadian lucu (menurut saya) yang sempat saya potret.

Ini bukan karya instalasi

Yang seperti ini ternyata juga ada di Darwin

Fungsi lain dari trolley dan ada yang iseng dengan trolley

Do NOT leave your baggage unattended.   (?)

Cas sepertinya menjadi pusat tongkrongan anak-anak remaja Darwin yang tinggal di sekitar tempat itu. Ada juga yang datang dari kota-kota lain yang jaraknya cukup jauh dari mall tersebut. Darwin Plaza terlihat tidak seramai Cas. Dalam arti tidak banyak anak-anak remaja yang nongkrong di sekitar Darwin City. Mungkin karena City adalah pusat perkantoran, sehingga kebanyakan orang-orang dewasa dan orang-orang kantoran yang ada di sekitar tempat itu. Untuk makan siang atau sekedar berbelanja sesuatu. Banyak toko-toko suvenir di sekitar City. Juga restoran, kantor-kantor pemerintahan dan gedung-gedung kesenian, art shop maupun gallery. Ada juga pelabuhan yang disebut Wharf. Di sana ada restoran seafood yang sangat enak, dan lautnya penuh berisi air yang biru dan sangat bersih.

Pelabuhan (Wharf)

Smith Street Mall di CityMichael Street saat hujan.

Suasana Darwin City

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang City, karena saya jarang pergi ke wilayah ini. Saya lebih sering berada di Casuarina, Nightcliff dan sekitarnya. Karena tempat-tempat tersebut berada di tepi pantai dengan laut yang sangat indah.

Pantai Nightcliff pada siang hari yang cerah

Di pantai saya dapat berenang, jalan-jalan, sekedar berendam, bahkan juga memancing atau menjala ikan. Tentu saja bukan saya yang melakukannya. Tapi saya sangat senang bila umpan yang dilemparkan mendapatkan hasil, meskipun hanya ikan-ikan kecil, namun saya suka sekali. Jika sudah terkumpul cukup banyak, saya akan membersihkannya langsung di tepi laut. Membuang kotorannya ke laut, dikembalikan ke laut yang akan segera disambar burung atau kembali menjadi makanan ikan lain. Mencucinya dengan air laut yang bersih dan asin.

Sesampainya di rumah, ikan-ikan tersebut saya cuci lagi dengan air bersih tawar, lalu saya beri bumbu jahe, jeruk nipis, garam, merica, gula sedikit, kecap asin dan manis, sedikit kunyit dan bawang putih (semua bumbu dihaluskan). Setelah tercampur semua, ikan-ikan berbumbu itu saya simpan dalam freezer. Tinggal menggoreng jika ingin memakannya. Dengan nasi hangat atau kentang goreng….hmmmm….enak sekali, apalagi bila ditambah dengan irisan lombok.

Untuk mendapatkan bumbu-bumbu tersebut, saya harus pergi ke mall atau ke pasar yang digelar setiap Sabtu dan Minggu. Untuk hal ini akan saya tuliskan pada jilid 2.

Darwin adalah sebuah kota yang cukup menyenangkan, bersih dan tertata rapi.

Suasananya ijo royo-royo. Saya bahkan pernah bercanda dengan seorang kawan, saya bilang bahwa di Darwin itu rumah dan pohon, lebih banyak pohonnya. Di halaman setiap rumah/ apartemen selalu ditumbuhi pepohonan, besar dan kecil. Pohon kelapa, pohon pinang, bahkan pohon pace pun ada. Di sepanjang jalan (pedestrian) selalu tumbuh pohon bunga kamboja berbunga warna-warni, merah muda, kuning dan putih. Begitu juga pohon bunga bougenville dengan gerombolan bunganya yang sangat beragam dan semarak. Bahkan ada juga rumah yang menanam pohon jeruk lemon dengan buah yang sangat lebat, dan meskipun sampai keluar pagar, sepertinya juga tidak ada orang yang iseng mengambilnya tanpa ijin.

Taman-taman bisa ditemui di sepanjang pantai, dengan pepohonan rindang dan rumput hijau segar. Begitu juga pohon eucalyptus, tumbuh subur. Kemanapun mata memandang, yang tampak adalah jalanan yang tenang, bersih dan hijau, sementara dikejauhan tampak langit biru bersih dan air laut yang begitu bersih tanpa sampah. Pantai yang asri dan bebas dari pada pedagang, pelacur dan pengemis.

Saya berharap untuk bisa kembali lagi ke sana dalam waktu dekat ini.

Salam, sampai ketemu lagi di jilid 2 dan seterusnya.

 

19 Comments to "The Story from the Top End (1)"

  1. Faroq  2 May, 2012 at 14:50

    Terima kasih ceritanya,tolong informasikan juga kalau bisa,suatu saat saya berkunjung kesana dimana biaya penginapan murah,Saya tinggal di kota kecil California.

  2. EQ  12 April, 2012 at 14:59

    ODB : 13 April berarti besok dooong, hahaha…boleh-boleh, jam berapa di mana ? siap meluncur….besok saya bisa off, sore jam berapa ? Sabtu juga bisa, tapi kalo minggu saya gak bisa…..Jadi kalo gak besok sore atau sabtunya……
    Kanjenge Buto : weleeeeh….ra melu-melu tapi sumangat di belakang layar alias krukupan layar, wakakakka….
    eh kanjenge Buto, mbok om ODB di kasih nomer telponku too….biar bisa sms’an kopdaaaaaar ! hihi..
    Cie Lani : wahahha…iya, dari dulu rak yo wis gitu to…ngomongin soal negara juga pasti ujung2nya sampe juga ke burung dan apem…..Kapan Endonesya jadi bersih ky gitu ? waaah….pertanyaan mudah menjawabnya susah, hihihii…..
    EA Inakawa : senang bisa berbagi cerita…….
    kornel : yups, setuju…..sayangnya di Endonesyah pemerintah dan rakyatnya gak kompak, kalo pun kompak ya kompak ngaconya…jadi yaaaaaa…..mendingan jaga diri masing2 aja, hahahhaha…….

  3. Lani  12 April, 2012 at 06:08

    KORNEL : aku se777777 mmg hrs ada kerjasama ant pem-ah dan rakyatnya………utk saling menjaga handarbeni bersama-sama utk menciptakan kebersihan, kenyamanan bersama……dari, buat dan untuk bersama…….kapan yak di Indonesia bs begini?????? ngimpi dolo kaleeeeeeee…………hehehe

  4. Kornelya  12 April, 2012 at 05:08

    EQ, kota yang bersih dan asri tergantung komitmen antara pemerintah dan warga. Jika kedua belah pihak sama-sama disiplin, impian lingkungan indah dan sehat pasti tercipta. Ditunggu kisah selanjutnya tentang suku Aborigin dan perburungan. Salam.

  5. EA.Inakawa  12 April, 2012 at 04:04

    Nyai EQ: Terima kasih sudah berbagi pengalaman perjalanannya,akan jd mudah jika satu hari sampai disana eheheh salam sejuk

  6. Lani  11 April, 2012 at 22:20

    EQ : wahahaha……ndak usah kaget binti bingung…..inilah ke unikan rumah kita bersama disini…..membahas apapun larinya pasti kesitu………ya burung, ya kuda…….dingklik…..ondo……mekrok2……apem……hehehe…….jd enjoy saja……klu semuanya jejeg malah membosankan…….coba deh tanya sama kang Anuuuuuuu & Pam-Pam…….mrk berdua pakarnya, apapun pasti lari kesana…….dgn runner up nya adl Handoko……..disambung lurahe dewe……..hehehe

  7. J C  11 April, 2012 at 20:39

    Gubbbrrrraaaakkk…kok malah mbahas manuk? terbukti sekarang yang mengambyarkan artikel adalah Kang Anoew dan PamPam… Buto tetep ora melu-melu…

  8. Ouw Djiam Biauw  11 April, 2012 at 20:04

    EQ,dari Korea terus Darwin yaahhh,Jumat 13 April 2012sore saya akan berada di Hyatt Hotel Jogja dan juga Minggunya sebelum balik ke Betawi,apakah ada kemungkinan berkopdaran,dimana bu Gucan sudah bersedia.Sebelum mendarat di Betawi 30 hari lalu,saya japri keanda tapi mental selalu.Salam dari JKT

  9. EQ  11 April, 2012 at 17:25

    Lha kok malah dho rembygan soal burung to ? weeeh….besok tak bikinkan artikel soal berung dan “burung” deh, hahahaha…*nyari foto2 burung yang lagi ndekem…..

    Darwin memang asyik kotanya, bersih dan cukup nyaman….tante Nu2k : kalo kriminal berat kayaknya aku belum pernah tahu deh, kebanyakan perkelahian remaja, kenakalan remaja dan keonaran yg disebabkan oleh minuman keras. Pencurian kecil2an juga ada….tapi kalo kriminal berat, saya belum pernah tahu.
    Dan Darwin memang benar2 ijo royo2, tenang…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.