China Xinjiang Mukam Arts Ensemble

JC – Global Citizen

 

Hari Jumat, tepatnya di hari Jumat Agung tanggal 6 April, istri mendapat sms dari seorang kenalan yang menawarkan undangan satu pertunjukan seni. Setelah sama-sama membaca sms’nya, kami memutuskan untuk menerima tawaran tsb. Ada satu kata yang menarik kami, yaitu “Xinjiang”. Kami memutuskan untuk hadir dalam acara pertunjukan seni dari Xinjiang. Dua bocah juga kami ajak serta untuk mulai mengenalkan ke mereka acara seni yang unik dan saya yakin menarik ini.

Xinjiang adalah salah satu daerah Otonomi di Tiongkok dengan mayoritas penduduknya adalah suku minoritas: Etnis Uyghur, ئۇيغۇر, 维吾尔, pinyin: Weiwuer. Etnis ini adalah kelompok etnis Turki yang tinggal di daerah Asia Tengah dan Timur. Etnis Uyghur banyak tinggal di Xinjiang Uyghur Autonomous Region – China. Diperkirakan sekitar 80%-nya tinggal di daerah yang bernama Tarim Basin.Xinjiang Uyghur Autonomous Region membentang di wilayah seluas 1.709.400 km2, yang berarti mencapai sekitar seperenam luas total daratan China. Daerah ini dibatasi oleh Pegunungan Altay di utara, Pamirs di barat, Pegunungan Karakoram, Altun dan Kunlun di selatan. Pegunungan Tianshan membelah wilayah ini menjadi utara dan selatan yang masing-masing memiliki iklim dan landscape yang berbeda. Dua gurun pasir terbesar di China, Tarim Basin dan Taklimakan Desert terletak di bagian selatan Xinjiang. Sementara Junggar Basin, Karamay Oilfields dan lembah Sungai Ili yang subur terletak di bagian utara Xinjiang. Turpan Basin, tempat terpanas dan titik terendah di China terletak di ujung timur Pegunungan Tianshan. Sungai-sungai Tarim, Yarkant, Yurunkax, dan Qarran mengairi tanah pertanian sekitarnya melalui Tarim Basin. Sementara sungai-sungai Ili, Irtish, Ulungur dan Manas mengaliri arable land dan daerah berpadang rumput di utara Xinjiang.

Saya pernah menuliskannya lengkap, selengkap-lengkapnya di: 56 Etnis Suku di China: Etnis Uyghur (http://baltyra.com/2010/09/19/56-etnis-suku-di-china-etnis-uyghur/).

Perjalanan dari rumah ke Taman Ismail Marzuki berjalan lancar. Tempat parkir juga tidak susah didapat. Gerimis kecil mengiringi langkah kami memasuki Teater Jakarta. Lobby sudah lumayan penuh para undangan yang menanti dibukanya pintu masuk, tidak banyak wajah yang saya kenal di situ. Tak berapa lama menunggu pintu masuk dibuka dan para undangan segera memasuki Teater Jakarta. Kebetulan kami mendapatkan deret ketiga dari panggung.

Sekitar 20 menit menunggu, seorang MC wanita berjilbab memasuki panggung dan membuka acara dengan salam: “Assalammualaikum Wr. Wb”. Sebagai informasi, bahwa etnis Uyghur ini mayoritas beragama Islam dan wajahnya tidak menunjukkan garis oriental sama sekali, lebih dekat ke garis Turki dan Eropa. Acara protokoler standar seperti pembukaan dengan pemukulan gong, pidato ini itu cepat berlalu.

Seorang MC wanita dengan busana warna warni meriah hadir di panggung dan mengucapkan salam “Assalammualaikum Wr. Wb” dengan intonasi yang berbeda dengan yang biasa saya dengar di Indonesia. Kemudian dia nyerocos dalam bahasa Arab (atau Uyghur?) dan kemudian disambung bahasa Mandarin, diterjemahkan oleh MC yang satu lagi, menjelaskan sepintas apa itu Seni Mukam dari Xinjiang. Bagaimana bentuk kesenian ini, sepenggal sejarahnya dan sekelumit cerita sana sini.

Kemudian tirai panggung terangkat dan terdengar lantunan lagu pembukaan Indonesia Tanah Air Pusaka yang diiringi oleh Group Musik Pesantren Modern Sahid. Group musik ini dibalut busana khas Muslim, namun dengan peralatan musik Cina. Luar biasa! Setelah lagu pembukaan selesai. Lengkingan seruling dan gesekan er hu  (mandolin?) bergantian mengalun, ternyata adalah intro lagu dahsyat Chang Hai Yi Sheng Xiao (沧海一声笑), soundtrack dari film Pendekar Hina Kelana atau 笑傲江湖. Sungguh dahsyat!

Dua lagu pembukaan habis, tirai kembali turun dan dimulailah acara sebenarnya. Acara susul menyusul tari-tarian dan nyanyian. Tarian khas Uyghur dan lagu-lagu Uyghur memenuhi ruangan selama dua jam. Penyanyi terkenal Uyghur yang bernama Izzat Ilyas melantunkan Bengawan Solo dengan luar biasa. Walaupun intonasinya sangat khas orang asing, tapi ketepatan lafal kata-kata Bahasa Indonesia dan melodi Bengawan Solo dibawakan dengan pas dan indah sekali yang disambut tepuk tangan panjang para hadirin.

Kemudian ada juga keterampilan tangan dari Hayrat Azi yang mengagumkan. Dari tiga tongkat, lima tongkat kemudian tiga buah sejenis batu bata yang diayunkan, dilempar, diputar dengan sangat memesona.

Di hampir penghujung acara, lazimnya pertunjukan musik, MC kemudian memerkenalkan para pemain dan alat-alat musiknya. Setelah perkenalan, permainan alat musik dengan lagu dan gaya khas Uyghur berkumandang.

Disusul dengan dibawakannya lagu semacam pantun untuk kekasih yang asik sekali. Pertunjukan malam itu ditutup dengan tari-tarian yang indah sekali. Di akhir acara, seluruh pemain hadir di panggung.

Kami pulang dengan perasaan puas sekali dapat menikmati pertunjukan seni unik Xinjiang Mukam Arts Ensemble yang langka dan bahkan sudah ditetapkan sebagai Representative of Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

46 Comments to "China Xinjiang Mukam Arts Ensemble"

  1. Handoko Widagdo  25 April, 2012 at 15:09

    Setelah saya cermati, yang nyanyi bengawan solo mirip Waljinah. Makanya bisa lancar menyanyi Bengawan Solo.

  2. J C  24 April, 2012 at 22:09

    Hennie: danke schone sudah mampir ya… salam …. – 3

    Ugie: terima kasih sudah mampir ya…memang warna warni kostum mereka luar biasa apik…

  3. ugie  24 April, 2012 at 21:07

    Serasa ikutan nonton deh.indah sekali… kostumnya itu warna-warna yg amboii.. Terimakasih pak JC

  4. HennieTriana Oberst  23 April, 2012 at 22:30

    JC, senangnya bisa punya kesempatan nonton pentas budaya seperti ini.
    Terima kasih ya foto-fotonya bisa mewakili, serasa ikut menonton juga.

  5. J C  18 April, 2012 at 17:05

    mas Iwan: benar sekali, sebutannya dulu lebih sering SINKIANG, lafal dialek Hokkian memang demikian. Sekarang mungkin Xinjiang karena lebih ke international commitment, jadi lidah non-Mandarin-speaking lebih memahaminya ketimbang suara dialek tertentu. Wah, menarik juga tuh usulan Yahudi Cina…hehehe…

    Juwii: sudah layak jepretan ini dikau google-plus-i barengan para fotografer favoritmu?

    Silvia: sepertinya demikian, Silvia, at least aku sendiri memang suka sekali segala jenis budaya dan seni dari berbagai pelosok dunia…

    elnino: memang sepertinya demikian itu…yang gak tahan cuma satu, AC’nya kuenceeeennnngggg dan uadeeeeeemmm di Teater Jakarta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.