Gym, Meditasi dan Akidah

Wesiati Setyaningsih

 

GYM

Saya sedang membaca buku tulisan Mingyur Rinpoche tentang meditasi dan serasa ingin memeluk beliau ketika saya membaca tulisan ini :

“Orang-orang yang sering pergi ke pusat kebugaran, sebagai contoh, paling tidak memiliki sebuah konsep kasar tentang apa yang ingin mereka dapatkan dengan capek-capek berkeringat melakukan tredmill atau mengangkat beban. Prinsip yang sama juga berlaku untuk sebuah usaha menyadari secara langsung kapasitas alami kita meraih kebahagiaan. Kita perlu tahu apa tujuan kita dan bagaimana mencapainya.” (hal. 115)

Itu saya lihat dari teman-teman saya di tempat fitnes. Kagum rasanya melihat mereka berubah bentuk dari waktu ke waktu. Ada yang awalnya masih buncit, beberapa minggu tak bertemu tiba-tiba perutnya sudah rata. Hanya niat yang keras yang bisa membuat seseorang seperti itu.

Saya memang belum mencapai hasil seperti itu. Mungkin saya kurang motivasi dan niat. Tapi setidaknya saya menemukan hal lain. Buat saya gym sudah seperti gua meditasi dimana saya bisa mendalami dan memahami diri saya sendiri lewat latihan yang sudah diatur sejak awal. Sepuluh menit pemanasan dengan sepeda statis atau tredmill,  lalu sit up,  kemudian latihan beban sesuka saya seperti yang pernah diajarkan personal trainer saya, lalu kembali ke sepeda statis atau tredmill.

Saya bisa benar-benar merasakan nafas saya saat bersepeda, saat sit up, atau saat latihan beban. Kapan lagi saya bisa benar-benar fokus pada nafas saya dalam sebuah kegiatan kalau bukan saat mengatur nafas agar tak ngos-ngosan? Bahkan jarang-jarang saya merasa benar-benar bernafas. Sering kali kalau setelah mengajar dengan jam beruntun saya duduk di kursi saya di ruang guru, menghela nafas panjang dan berkata,

“Nafas dulu ah…”

Terlintas di benak saya segera,

“Lhah, memangnya dari tadi enggak bernafas?”

Begitulah. Saya bernafas sepanjang hari sejak berpuluh tahun lalu. Tapi entah berapa persen yang saya sadari. Saat fitnes saya bisa benar-benar merasa kalau saya sedang bernafas.

 

MEDITASI

Pada dasarnya semua orang bisa dan pasti sempat melakukan meditasi. Dalam agama saya ada istilah tafakur yang menurut saya kurang lebih seperti meditasi juga. Di buku ini, meditasi jadi tampak sederhana karena apa saja boleh. Tidak ada batasan dan keharusan.

Namun toh sebagai pemula, mempraktekkan variasi meditasi di buku ini membuat saya seperti anak-anak yang jatuh-jatuh saat belajar naik sepeda. Mingyur Rinpoche sendiri mengatakan bahwa satu-dua minggu, seorang pemula mungkin belum mencapai apa-apa. Pikiran masih kisruh dan belum bisa menikmati apa yang disebut dengan ketenangan.

Saya juga begitu. Kalau Mingyur Rinpoche mengatakan, “meditasilah dengan berbagai jenis. Biar tidak bosan”. Yang dimaksud adalah, sesaat kita mengamati pikiran. Sesaat kemudian mengosongkan pikiran. Sesaat kemudian ketika masih terdengar suara-suara bising, meditasi suara. Lalu meditasi indera perasa yang seperti memindai rasa yang dialami seluruh tubuh. Dan seterusnya berganti-ganti sesuai keinginan.

Jadi saya berusaha mencoba waktu di kelas mengamati murid-murid mengerjakan soal yang saya berikan. Mereka tampak di mata saya sebagai manusia-manusia yang sama seperti saya. Ingin mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Itulah mengapa beberapa dari mereka malah bergurau dan bukannya mengerjakan tugas di bukunya. Sementara yang lain asik dengan pekerjaannya.

Di ruang guru saya bisa ganti meditasi suara, berusaha mengijinkan suara teman yang memiliki volume suara sangat tinggi untuk melewati telinga saya. Meski sempat terpikir, “ ya ampun. Itu ngomong kok kaya orang adzan tanpa TOA.” Tapi, ups….  Biarkan saja lah. Beliau Cuma orang yang ingin bahagia. Sama seperti saya juga. Ingin bahagia.

Masalahnya, kadang-kadang saya tidak tahu apa yang sedang saya lakukan. Apakah saya sedang mengamati pikiran atau sedang mengosongkan pikiran. Sampai batas ini kadang saya bingung senditi. Tapi saya biarkan saja. Tidak ada meditasi yang salah kok. Semua benar. Jadi saya santai saja.

Kalau Mingyur Rinpoche bersahabat dengan mantra-mantra, saya kira beliau akan mengangguk setuju kalau mantra-mantra yang dia pakai untuk menjaga kesadarannya dalam meditasi saya ganti dengan lafal dzikir kesukaan saya. Yang penting saya bisa menikmati dengungan suara saya sendiri yang seolah menggema di dalam hati.

Dari semua pengalaman, variasi meditasi yang paling saya suka adalah meditasi welas asih. Sebuah variasi dimana kita membayangkan seseorang atau sesuatu yang membahagiakan. Dengan memelihara kebahagiaan itu, kita membayangkan saat udara yang hangat keluar dari nafas pada saat itu juga terhembus kebahagiaan yang menyebar ke seluruh alam semesta. Sementara ketika menarik nafas, bayangkan penderitaan semua mahluk seluruh alam raya ini terhisap juga. Entah kenapa setiap selesai meditasi ini saya merasa bahagia.

Bagaimanapun, tidak ada langkah awal yang langsung sukses dan menyenangkan. Rinpoche juga mengatakan begitu. Tidak langsung enak. Naik sepeda juga tidak langsung lancar. Membiasakan diri untuk berolah raga juga pasti awalnya tidak nyaman. Begitu juga dengan membiasakan diri makan makanan sehat (yang ini si pasti sangat-sangat tidak enak awalnya). Tapi semua itu masalah pembiasaan.

Saya masih ingat ketika awal-awal saja mulai fitnes.  Membayangkan berangkat saja sudah jengah. Tapi saya paksakan karena saya sudah terlanjur janji ketemuan dengan personal trainer saya saat itu. Tidak enak kalau tidak jadi berangkat sementara dia sudah menunggu di gym. Akhirnya malah sekarang, meski tanpa personal trainer, saya rindu fitnes kalau sudah seminggu tidak ke sana.

Begitu juga dengan meditasi ini. Meski saya paling suka meditasi welas asih, toh awalnya saya pontang panting saat membayangkan udara kasih sayang keluar bersama nafas saya. Dan tarikan nafas saya menghisap penderitaan. Sungguh tidak mudah. Toh itu semua masalah pembiasaan.

 

AKIDAH

Karena suka pada buku ini, saya merekomendasikan pada orang lain yang menurut saya membutuhkan pelajaran-pelajaran dari buku ini. Tapi saya mengerutkan kening ketika mendapat jawaban,

“Maaf, itu kan buku tentang agama lain. Saya takut akidah saya terganggu.”

Saya jadi mengintip diri saya sendiri. Apakah akidah saya terganggu? Saya meragukannya. Namun tak apa. Saya tidak bisa memaksa seseorang melangkah keluar dari kotak kalau dia ketakutan karena merasa di luar kotak itu ada ular besar yang akan menerkam dia padahal sebenarnya itu hanya sebatang pohon tak berdaya.

Saya sendiri belajar tentang apa saja. Dan ketika saya masih menjalankan ibadah sesuai agama saya, itu karena pilihan. Bukan lagi karena keharusan dan takut dosa. Saya tetap melakukannya karena itulah satu-satunya cara beribadah yang saya tahu. Dan bagaimanapun beribadah adalah jalan saya untuk ‘meraihNYA’. Apakah akidah saya terganggu? Entahlah. Jangan-jangan akidah saya memang sudah tidak jelas dari awal. Jadi buat apa takut terganggu? (Sepertinya saya juga tidak paham benar apa itu akidah. Dulu saya remidi di pelajaran agama waktu SMA.)

Setiap orang melalui jalannya sendiri-sendiri. Tapi saya kira Tuhan juga tidak akan mengutuk saya sebagai pengkhianat kalau saya meniru langkah Budha untuk mencapai kedekatan denganNYA. Saya Cuma mendengar Tuhan berkata,

“Lakukan apapun, yang penting itu bisa membuatmu merasakan kehadiranKU yang selalu memeluk hatimu.”

Saya ge-er, sok tahu tentang Tuhan? Biar saja. Toh Tuhan memang bersemayam dalam diri saya lebih dekat daripada urat nadi saya sendiri. Entah kenapa saya malah jarang merasakan kehadiranNYA. Seperti betapa seringnya saya lupa kalau saya terus menerus bernafas selama hidup saya.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

19 Comments to "Gym, Meditasi dan Akidah"

  1. anoew  15 April, 2012 at 10:25

    menikmati pemandangan dada terbuka juga bisa jadi meditasi lho…. termasuk ‘yang lain2nya’…

    Perlu dicoba, siapa tau tantangan berat bisa dilewati untuk memperoleh hikmat yang dalam

  2. EA.Inakawa  13 April, 2012 at 19:45

    Wesiati…..senang membaca artikel nya,kebetulan saya aktif juga melakukan meditasi bergabung dengan Falun Dafa/Falun Gong. Meditasi itu membuat rasa NYAMAN seperti ritual ibadah pendekatan kepada sang Khaliq.
    salam sejuk

  3. wesiati  13 April, 2012 at 18:43

    mas anoew. meditasi kan enggak cuma diem dan ‘samadi’ aja. apapun kegiatan, asal disadari, itupun meditasi. jadi menikmati pemandangan dada terbuka juga bisa jadi meditasi lho…. termasuk ‘yang lain2nya’….

  4. anoew  13 April, 2012 at 13:17

    Saran dari bu Nunuk perlu dicoba nih, tapi kayaknya susyah. Soale meditasi berdua, apalagi dadanya tidak tertutup.., wuaaah susyaaaah…!

  5. wesiati  13 April, 2012 at 12:38

    terima kasih buat mbak nunuk atas saran2nya….

  6. Lani  13 April, 2012 at 04:59

    11 MBAK NUK : ini aku yg belum tahu, belum pernah dengar dgn saran ke 5……..klu kangen sama seseorg…..jd klu kangen bs jg bermeditasi????? aku tdk pernah bisa bermeditasi……dlm artian pikiran tdk bs fokus…….sll mblayang kemana-mana…….mengko klu ketemu mbak Nuk, tolong diajari ya…….bermeditasi berdua………

  7. Alvina VB  13 April, 2012 at 04:46

    Bu Nunuk,
    Saya ada di Canada (bagian Timur), jadi beda dgn Belanda kl ndak salah itu 5/ 6 jaman (tergantung seasonnya). Waktu Belanda lebih maju bu…. jadi kl bu Nunuk dah ngopi di pagi hari, saya masih di p.kapuk, he..he…

  8. Kornelya  13 April, 2012 at 02:52

    Meditasi, membawa ketenangan bathin dan memberi efek “happy feeling”. Temanku seorang dadamoksa menganjurkan, agar hasilnya bagus, jika 1 -2 jam sebelum melakukannya kita tidak makan “heavy meal”. Cukup sayur/buah + air putih. Selamat bermeditasi.

  9. nu2k  12 April, 2012 at 23:04

    Mbak Wesiati dan teman-teman semua, bukan sok.. Tapi kalau saya bermeditasi di bawah ini yang selalu saya lakukan. Mungkin, mungkin lho ya, bisa memudahkan cara bermeditasi.
    Memang meditasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja selagi anda mau dan ada waktu. Ada beberapa sikap tubuh yang sangat mendukung kenyamanan dan “keberhasilan” saat bermeditasi. Pertama, usahakan agar dada anda tidak tertutupi sesuatu… Dalam artian, tidak tengkurap, tidak ditutupi bantal… Kalau baju khan memang sudah sewajarnyalah. Kedua, letakkan kedua tangan di atas paha anda (kalau anda duduk) , di sisi tubuh dengan telapak tangan yang rileks. Ketiga dalam bermeditasi diusahakan agar kepala sedikit ditekuk ke bawah dan agak dimiringkan sedikit ke kiri, seolah anda sedang melihat jantung anda (pusat dari pernafasan kita- kehidupan). Keempat, pusatkan pikiran anda pada apa yang ingin anda capai, dengan seolah “berbicara” pada pusat kehidupan anda. Kelima, seandainya anda kangen seseorang, anda bisa mencoba untuk menarik wajah yang anda rindukan agar seolah ada dihadapan anda..Keenam, biasanya dalam kedudukan seperti ini kita banyak menyebutkan dan mengingat namaNYA. Karena semuanya berasal / kembali dari/ padaNYA … Salam en semoga berhasil semuanya.. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *