[Serial Deliku] Gudeg vs Sandwich, Sama Saja – Sami Mawon

Dian Nugraheni

 

Dulu kala, ketika masih menjadi anak kos di Jogja, kalau bicara soal membeli makanan, perbincangan seperti ini sering muncul di antara aku dan teman-teman kos lainnya, “Mbak, mau beli makan, yaa, boleh nitip nggak..? Beli makannya di mana..?”

Jawab temanku, “Boleh.., aku mau beli makan di bu Dukuh..”

Kataku lagi, “Ahh, nggak jadi ah, sebenere sih masakan bu Dukuh enak, tapi bu Dukuhnya itu lho.., mosok njualin banyak orang cuma pakai jarik sama kutang Jawa begitu doang, mana kemringet, mana ngambil sayurannya dikobok pakai tangan begitu…, nggak jadi nitip lah…”

Jadinya kalau masih ada pilihan, biasanya aku akan mencari makanan di warung selain warungnya Bu Dukuh. Tapi sebenernya juga, aku sering pengeeen banget beli makan di warung bu Dukuh, karena dia satu-satunya warung yang suka masak opor ceker. Opor ceker itu benar-benar kesukaanku. Dan bu Dukuh selalu ngobok-obok baskom berisi ceker berkuah opor itu untuk mengambil cekernya, sama sekali nggak pakai sendok.

Hal yang sama juga dilakukan Si Mbok penjual Gudeg, ketika njualin nasi Gudeg, dia akan mengambili tahu, tempe, suwir ayam, telor, krecek, bahkan mengambil Gudegnya, hanya dengan tangannya. Tapi entah kenapa, kalau sudah lama menghindar dari Gudeg, akhirnya pulang juga ke warung Gudeg itu untuk beli sebungkus nasi Gudeg yang jelas-jelas dicomotin pakai tangan.

Hmm, itu dulu. Masa lalu.

Sekarang ini, aku masih kerja di Deli, Kedai Sandwich. Tadinya cuma di meja kasir, tapi beberapa hari ini aku berada di dapur untuk menggantikan temanku yang sakit, dan akhirnya temanku itu malah nggak masuk sama sekali, alias keluar. Kayaknya, aku akan berada di dapur dalam waktu yang cukup panjang.

Setelah di dapur Sandwich, aku juga baru ngeh, baru sadar kalau dapur Sandwich itu jorok juga lho. Di dapur ada satu buah grill, wajan besi berbentuk segi panjang. Setiap pagi, ada seorang temanku yang prepare, menyiapkan bahan-bahan yang bisa digoreng duluan sebelum pelanggan datang. Utamanya adalah menggoreng berpound-pound (hampir setara dengan berkilo-kilo) bacon. Maklumlah, karena orang-orang di Amerika sangat menggemari apa yang disebut bacon ini.

Bacon adalah daging babi yang diiris berbentuk pita panjang, bila digoreng setengah kering, akan nampak nyemek, berlemak. Keliatannya, rasanya bener-bener mak nyus. Tapi bila digoreng garing, akan kemriuk seperti keripik yang terbuat dari daging. Menggoreng bacon tak perlu lagi dikasih minyak goreng, karena daging babi malah akan menghasilkan sisa gorengan berupa minyak yang sangat banyak. Baunya harum minta ampun, menggoda selera.

Setelah itu, di bekas wajan untuk menggoreng bacon itu, akan digunakan untuk menggoreng semua bahan daging isian sandwich yang dipesan pelanggan. Daging isian sandwich ini  bermacam-macam, yang berasal dari daging Sapi, antara lain ada Pastrami, Roast Beef, Brisket. Kemudian yang berasal dari Ayam, ada  Grill Chicken, Breded Chicken. Juga ada macam-macam fish, ikan, yaitu Tilapia, Salmon, dan Cod Fish.

Jadi, baik daging sapi atau pun daging ayam isian sandwich, sebenarnya juga tercampur dengan minyak bacon, minyak babi, karena digoreng dalam satu wajan yang sama tidak dibersihkan lebih dahulu setelah dipakai untuk menggoreng bacon.

Hal ini sering menjadi masalah bila pembeli sandwich adalah orang-orang yang tidak mengkonsumsi daging babi, seperti kaum Moslem, atau sebagian besar kaum Jews. Mereka selalu bertanya, “Apakah anda punya Kosher Sandwich..?” Dan jawaban dari kami pastilah, “We don’t have any kosher sandwich…” Yaa, mungkin daging sapi dan ayamnya, atau ikannya, kosher, tapi cara memasaknya, sama sekali tidak kosher.

Kosher, terjemahan umumnya adalah tidak mengandung bahan-bahan yang berasal dari babi, mungkin kalau dalam istilah kaum Moslem, adalah halal. Maka di Amerika pun ada produk yang diberi tulisan “Halal”  atau “Kosher” dalam kemasannya. Juga ada “Kosher Store”, yaitu toko yang menjual barang-barang yang tidak mengandung bahan yang berasal dari babi.

Terjemahan bebas dari Sandwich, adalah Roti Isi. Ada dua macam sandwich, yaitu Cold sandwich, dan Hot Sandwich. Cold Sandwich adalah sandwich yang diramu tanpa dipanaskan dahulu, biasanya isinya adalah salad, seperti chicken salad, tuna salad, egg salad. Selain itu ada Cold Sandwich yang berupa roti yang diisi dengan irisan daging-daging yang biasa “tampil” dalam keadaan dingin, yaitu lembaran Ham, lembaran daging Turkey, dan lain-lain.

Jenis “roti” sandwich, antara lain ada Bagel. Bagel adalah roti “keras” berbentuk bulet kayak donat. Jenis “rasanya” juga macam-macam, ada Blueberry, Onion, Sesame, Plain, Wheat, Frenchtoast, dan lain-lain. Biasanya orang makan Bagel dengan cara di toasted, dan minimal dikasih butter, atau yang lebih disukai, dikasih creamcheese.

Ada juga “roti tawar”. Roti tawar ini juga macam-macam, ada white, wheat, rye, dan lain-lain.

Selain itu ada Roti “Sub”, roti sandwich yang berbentuk panjang, atau Kaisser Roll, roti sandwich  yang berbentuk bulat, atau Bun buat Hot Dog dan Burger.Juga harus ditanyakan, apakah dia suka “toasted” untuk rotinya. Alias, rotinya dimasukkan dalam pemanggang atau tidak.

Sandwich dibuat sesuai dengan pesanan pelanggan, jadi benar-benar fresh dari dapur. Untuk hot sandwich, semua harus dipanaskan dahulu. Baru deh setelah itu, meramu sandwich…

Sembari menyiapkan bahan yang sedang dipanaskan di wajan, aku harus sudah menyiapkan rotinya, diberi alas kertas dan alumunium foil (khusus untuk yang hot sandwich), meleletinya dengan dressing. Dresing ini juga macam-macam, ada Italian Dressing, Russian Dressing, Ranch Dressing, Barbeque Saus, atau yang paling basic adalah mayones dan mustard.

Setelah dileleti dressing, tambahkan apa yang dipesan pelanggan, biasanya Letuce, Tomato, Raw Onion, irisan Avocado,dan berbagai macam keju, seperti Swiss Cheese, Paperjack Cheese, Cedar Cheese, Provolone Cheese, dan lain-lain. Tentu saja ngasih Letuce, Tomat, Onion, Avocado, dan kejunya hanya pakai tangan, nggak sempet lagi pakai capit atau sendok.

Nahh, setelah itu baru deh dikasih daging yang sudah digoreng, tutup dengan roti bagian atas, kemudian baru dibungkus. Seharian, jumlah pelanggan yang datang bisa sampai 1500 atau 2000 orang, itu berarti, kami, Sandwich Makers di  Kitchen, akan melakukan sekitar 1500 atau 2000 pengobokan plus kejorokan tiap harinya….he..he..he..

Hmm, ternyata sama aja kan, antara Gudeg, Opor Ceker, dan Sandwich…, sama-sama diobok-obok pakai tangan. Cuma bedanya, Bu Dukuh dan Si Mbok penjual Gudeg, ngobok-ngoboknya pakai tangan telanjang, tapi kalau ngobok-obok sandwich, harus pakai sarung tangan karet transparan seperti petugas medis di rumah sakit…

 

Salam obok-obok…

Virginia,

Dian Nugraheni

Minggu, 18 Maret 2012, jam 4.44 sore

(Di rumah, laper melulu…he2…menuju penggemukan yang tak bisa terhindarkan…)

 

24 Comments to "[Serial Deliku] Gudeg vs Sandwich, Sama Saja – Sami Mawon"

  1. dian nugraheni  22 April, 2012 at 04:59

    ayayayayayayahuuuu…ha2…komennya seru2 banget deh…ternyata beneeer…hampir semua makanan yang kita beli itu…melalui proses2 penjorokan, herannya, mau jorok mau enggak, kalau sudah suka…tetep ajaa….balik ke situ lagi…tetep beliii…lagi…ha2..

    mari kita nikmati yang serba obok2 deh…sayang kalau dilewatkan…he2…Makasih banyak ya teman2 …salam…..

  2. Anwari Doel Arnowo  18 April, 2012 at 08:10

    Saya diberitau orang lain, bahwa nama GUDEG itu karena asalnya dari bahasa Inggris: GOOD EGG !!??

    Anwari Doel Arnowo – 2012/04/18

  3. Linda Cheang  14 April, 2012 at 05:45

    Lani, kalo moco komentare Juragan Pondol, yo, yang salah bukan yang nyediain makannya tapi salahe dhewek liat sambel sing mangane dadi kalap ora ketulungan, hahahahaha

    makanya sediain juga NORIT selain minta kerokan sama juragan, hahaha…

  4. Kornelya  14 April, 2012 at 05:09

    Hahahaha, ci Lily, ya’ik, abang penjual dipinggir jalan. Di Solo atau Jogya Gudeg dan Serabi langgananku, diemperan dengan methode pengepakan obok-obok gitu. Suamiku tidak suka, maunya yg direstoran saja. Tapi aku akalin, setelah sampai dipenginapan aku keluar sendiri beli gudeg , empal dan bacem di pojok langgananku , sampai dikamar penginapan sambil nonton TV bacem sebakul habis dicemil ayah dan anak, empalpun dicomot, aku tak pernah bilang dimana aku beli. Salam, gudeg rasa kutang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *