Dukun

Chandra Sasadara

 

Langit masih temaram, ujung timur belum merah penuh. Lelehan embun masih setia membasahi dahan dan memeluk erat daun-daun. Kokok ayam masih tersisah satu dua di kejauhan sedangkan cicit burung sedang ramai menyapa alam. Di antara suara alam yang sedang menyambut pagi, terdengar suara ritmis benturan lesung dan alu bersautan. Tidak jauh, hanya beberapa rumah dari tempat keluargaku tinggal. Suara lesung dan alu itu menandakan bahwa beberapa keluarga di lingkungan kami akan memasak nasi dan bubur jagung. Bubur jagung, itulah yang selalu aku bayangkan setiap ada suara lesung dan alu berbunyi di pagi buta.

Ibu pasti sedang membantu tetangga yang akan memasak nasi dan bubur jagung itu pikirku. Sejak selesai sholat subuh tadi tidak terdengar suara ibu di dalam rumah. Aku bermaksud untuk rebahan di teras depan gubuk nenek, seperti kebiasaanku selama ini. Selesai sholat subuh aku selalu rajin tidur lagi sampai adik perempuanku berteriak meminta bantuan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Gubuk nenek berada di samping rumah tinggal kami, masih dalam satu pekarangan  namun agak ke belakang. Sejak ibu menikah, nenek meminta dibuatkan gubuk panggung di sebelah rumah induk yang kami tempati. Gubuk itu berdinding anyaman bambu berlapis apu tebal, lantai dari papan gluguh begitu juga sembilan tiangnya. Hingga saat ini gubuk itu masih kokoh sebab setiap tahun selalu ada orang yang menawarkan diri untuk membiayai perbaikan tempat tinggal nenek itu.

Meskipun berada dalam satu pekarangan dan satu deretan pagar, pekarangan depan kami memiliki dua tempat masuk. Satu tempat masuk yang langsung menuju ke gubuk nenek dan satu lagi tempat masuk menuju rumah induk yang kami huni. Sebenarnya apa yang kami sebut sebagai pagar hanya teridiri dari turus jaranan setinggi dada orang dewasa yang ditanam berjarak dan dijepit belahan bambu tipis. Tidak ada pintu pagar sehingga kapanpun orang-orang mau bertemu nenek bisa langsung masuk tanpa mengganggu tempat tinggal kami. Nenek tinggal sendiri di gubuknya, sedangkan aku tinggal di rumah induk bersama kedua orang tuaku dan seorang adik perempuanku.

(Ilustrasi: Wikipedia)

Ketika melintas dari rumah induk menuju ke gubuk nenek, aku melihat ibu berjalan di antara pagar depan gubuk. Bukankah ibu sedang membantu membuat nasi dan bubur jagung di rumah tetangga pikirku. Tidak, sepertinya ibu sedang melakukan sesuatu di pagar itu. Betul, ibu sedang menaburkan sesuatu di tanah, persis di bawa pagar. Tidak mungkin ibu menaburkan obat penyubur pohon, sebab selama ini justru ibu yang meminta aku untuk memotong daun jaranan pagar itu supaya tidak cepat tinggi dan besar. Biar tetap seperti pagar katanya.

Aku menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaan ibu sambil mencari jawaban atas penasaranku. Namun ibu menolak sambil mengatakan, ini hanya garam. Garam? Untuk apa ibu menaburkan garam di pagar depan gubuk nenek. Aku tahu bahwa garam biasa ditabur di depan pintu rumah untuk menghalau ular, bukan di pagar. Kalau hanya pagar depan yang ditaburi garam bukankah ular masih bisa masuk dari pekarangan samping atau belakang yang banyak ditumbuhi pohon bambu. Lagi pula selama ini nenek selalu melarang kami untuk menghalau, mengusir dan membunuh binatang yang masuk atau berada di dalam pekarangan.

Tidak aku temukan jawabanya, kenapa ibu menaburkan garam di pagar. Aku melanjutkan langkahku untuk menikmati pagi dengan tidur di teras depan gubuk nenek. Rupanya di teras gubuk sudah ada beberapa orang. Dua orang duduk sambil merokok, tiga lainnya terlentang di teras gubuk. Dua orang yang sedang merokok itu seperti pernah aku lihat. Benar, mereka orang yang menciumi tangan Mbah Dongkol sesaat sebelum meninggal dunia beberapa bulan lalu. Mereka adalah orang-orang yang saat itu menggunakan ikat kepala hitam dan mengaku berasal dari desa lain.

Akan ada peristiwa apa lagi ini pikirku. Ibu menaburkan garam di pagar dan orang-orang aneh ini muncul. Apakah dua peristiwa ini saling berhubungan atau hanya ketepatan saja.Aku tidak mau berpikir bahwa akan ada susuatu yang aneh seperti peristiwa pindah rumah yang ternyata pertanda atas kematian Mbah Dongkol. Kali ini aku yakin nenek belum akan meninggalkan gubuknya, sebab tidak ada kejadian aneh apapun yang mendahului seperti sebelum meninggalnya Mbah Dongkol saat itu.

Aku tersenyum pada dua orang itu sambil mengucapkan salam dengan pura-pura tidak pernah melihat mereka. Aku menaiki tangga yang terbuat dari batu gombong, menuju pojok teras gubuk lalu meringkuk dan menarik sarung sampai menutupi kepala. Berusaha untuk tidur, tapi tidak bisa. Menunggu orang-orang itu berbicara agar bisa mencuri dengar peristiwa apa yang akan terjadi nanti, tapi sia-sia. Sampai matahari setinggi tombak, orang-orang itu masih belum berbicara. Mereka hanya asik merokok sambil menikmati kopi yang diantarkan oleh adik perempuanku. Mereka tidak berbicara satu katapun. Bahkan nenek juga tidak keluar dari gubuknya.

Selain mulai berkeringat, aku juga bosan menunggu mereka memulai pembicaraan. Aku menuju kiwan nenek di samping gubuk untuk cuci muka, sebelum bertanya kepada ibu tentang kehadiran orang-orang itu. Belum selesai aku menuangkan air di wajahku terdengar hiruk pikuk dari arah pagar depan. Aku mempercepat cuci mukaku, setengah berlari aku menuju pagar depan. Ternyata di depan pagar telah berdiri barisan massa berbaju longgar putih dengan ikat kepala putih yang dipimpin oleh Pakde Wahab. Saudara laki-laki ibu satu bapak, anak tertua Mbah Dongkol.

Aku cepat belari ke arah Pakde Wahab, mengucap salam dan mencium tanganya. Sebelum aku tanyakan apa kepentingan orang-orang ini, Pakde Wahab telah mendahului dengan penjelasan bahwa kedatangan kelompok yang dipimpinnya untuk meminta nenek berhenti melakukan praktik perdukunan. Ia dan kelompoknya akan memaksa, kelau perlu dengan cara keras agar agama Tuhan bisa ditegakkan di kampung kami katanya. Menurut Pakde Wahab perdukunan merupakan perbuatan menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Perbuatan menyekutukan Tuhan yang dosanya tidak dapat diampuni.

*****

Sejak kecil aku memang sangat malu ketika diejek dengan sebutan “putune dukun”.  Hidup di tengah masyarakat santri, ejekan seperti itu sakitnya berlipat ganda. Banyak ustadz dari luar daerah yang diundang di kampung kami khusus untuk berceramah tentang dosa perbuatan syirik. Meskipun tidak secara langsung berbicara tentag nenek, tapi aku tahu pasti bahwa cara itu digunakan untuk mencemooh apa yang dilakukan oleh nenek. Tidak jarang mereka dengan sinis mengatakan di depanku “kenapa tidak ke rumah dukun saja.”

Aku memang malu, tapi tidak bisa marah. Berkali-kali nenek mengatakan kepadaku agar tidak memelihara anjing dalam rumah. Awalnya bingung sebab aku memang tidak memelihara anjing, tidak mungkin memelihara anjing di lingkungan santri. Dalam kalimat tanya nenek pernah mengatakan, “bukankah agama kita melarang umatnya untuk memelihara anjing dalam rumah? Sebab anjing dalam rumah membuat malaikat enggan masuk.” Belakangan ibu menjelaskan apa yang dimaksud nenek dengan kalimat itu. Anjing yang dimaksud adalah sifat marah dalam diri, sedangkan rumah adalah hati manusia dan malaikat merupakan cahaya kebenaran. Tidak mungkin kemarahan bisa hidup satu rumah dengan kebenaran Gusti Allah kata ibu. Aku baru tahu ternyata nenek melarang kami untuk marah, temasuk kepada orang yang telah mencemooh kami.

Begitulah cara nenek menasehati keluarganya dan orang lain yang datang kepadanya. Setelah dewasa aku mulai meragukan apa yang selama ini dikatakan orang tentang nenek. Menurutku, nenek jauh dari perbuatan menyekutukan Tuhan, apalagi mengajak orang lain melakukan dosa. Selain ibu, aku adalah orang yang sering menemani nenek menemui tamunya. Memang aku akui banyak tamu yang menginginkan hal-hal buruk, seperti ingin cepat kaya, ingin cepat naik pangkat atau ingin mendapat seorang perempuan yang masih menjadi istri orang dan lain-lain. Apapun yang orang minta, biasanya nenek hanya tersenyum.

Seingatku nenek memang jarang berbicara, bahkan bisa berbulan-bulan tidak berbicara. Orang yang datang biasanya hanya mendapat senyum dan nasehat nenek, tidak lebih. Nasehat yang dilipat rapi dalam sanepo, perlambang. Hanya ibu yang bisa menerjemahkan sanepo nenek. Belakangan ibu mengajarkan bagaimana memahami saneposanepo itu kepadaku.

Pada saat masih sekolah, aku sering dipanggil nenek di gubuknya hanya untuk mendapat pijitan di kepala. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai aku sadar bahwa ada sesuatu dengan pijatan nenek sebab kepalaku memang tidak sedang bermasalah. Aku tanyakan kepada ibu, kenapa nenek rajin memijat kepalaku. Dengan tersenyum ibu hanya mengatakan kalimat pendek, “agar tidak keras kepala.”

Suatu hari datang seorang perempuan kota, muda, cantik dan berpakaian mewah. Ia datang sambil menanggis, di depan nenek ia bercerita kalau suaminya akan meninggalkanya setelah bertengkar hebat. Nenek tersenyum mendengar cerita perempuan itu. Sambil telunjuknya mengarah ke tanaman melati di pagar samping nenek mengatakan, “ambil bunga itu dengan mulutmu Nduk.”. Perempuan itu turun dari teras gubuk, tanpa kesulitan ia mengambil bunga melati dengan mulutnya. Sebelum pulang, ibu membisikkan sesuatu kepada perempuan itu. Aku menebak, ibu pasti menyarankan agar perempuan itu berusaha memperbaiki cara bicara dengan suaminya. Apa yang keluar dari mulutnya sebaiknya hanya sesuatu yang berbau harum seperti melati yang diambil dengan mulutnya itu. Kira-kira itulah yang menjadi nasehat nenek kepada perempuan itu.

Aku pernah diminta nenek untuk memandikan seorang tamu laki-laki yang menurut pengakuanya akan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Sebelumnya aku diminta untuk mengisi ember, lalu laki-laki itu diperintah untuk mengambil melati dan kantil yang tumbuh di samping dan depan gubuk nenek. Kemudian nenek menaburkan bunga-bunga itu ke dalam ember berisi air yang berada di kiwan. Aku kira akan langsung mengguyurkan air itu ke tubuh calon pejabat, ternyata nenek memintaku untuk mengkafani, membungkus dengan kain putih seperti mayat. Dibantu oleh supir dan pengawalnya, laki-laki itu kami kafani. Lalu kami angkat ke kiwan dan mulai aku guyur dengan air bunga dalam posisi duduk di atas kursi plastik. Aku tahu bahwa prosesi mandi air bunga dan mengenakan kain kafan merupakan sanepo nenek kepada calon pejabat.

Setelah mandi air bunga, laki-laki itu menghadap nenek di teras gubuk. Nenek tersenyum, kemudian meminta ibu dan aku untuk menemani tamu tersebut. Tidak lama kemudian laki-laki itu pulang. Aku sempat tanya kepada ibu, kenapa nasehat nenek tidak dijelaskan kepada calon pejabat itu. Ibu mengatakan bahwa orang itu tidak menghendaki nasehat nenek. Tahu dari mana kalau tamu itu tidak menghendaki nasehat nenek. Menurut ibu, kalau nenek meninggalkan tamu sebelum tamu pulang itu artinya tamu tidak suka dinasehati. Ada banyak tamu yang datang bukan untuk mendapat nasehat tapi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya kata ibu.

Penasaranku memaksa aku bertanya kepada ibu, apa sebenarnya makna nasehat nenek sampai calon pejabat itu menolaknya. Menurut ibu, nenek sebenarnya ingin mengatakan bahwa menjadi kepala daerah itu amanat yang berat, harus dengan niat yang bersih dan tulus supaya tahan godaan. Nasehat itu disimbolkan dengan mandi air bunga, agar calon pejabat itu menyadari bahwa dirinya harus berani membersihkan diri sebelum maju dalam pemilihan. Sedangkan dikafani melambangkan perilaku yang baik saat menjabat. Diikat atau dipocong bagian kepala, agar calon pejabat itu tidak memikirkan dan menginginkan sesuatu yang bukan haknya. Diikat bagian perut agar tidak rakus dan menjaga perutnya dari barang haram. Diikat ujung kakinya supaya tidak berjalan ke arah perbuatan yang melanggar hukum. Bukankah itu nasehat yang baik pikirku. Baru calon penjabat saja tidak mau menerima nasehat, apalagi saat menjabat.

Aku pernah mengalami tekanan yang hebat berhubungan dengan sebutan nenek sebagai dukun. Aku beranikan diri untuk protes kepada ibu dan meminta ibu untuk menolak orang yang datang kepada nenek agar tidak ada lagi disebutan dukun kepada nenek. Entah apa yang dipikirkan oleh ibu, aku hanya mendapat jawaban bahwa dukun itu pituduh supoyo rukun lan tekun. Menurutku kalimat ibu itu tidak menjawab permintaanku, namun setelah aku pikirkan, kenapa pula harus malu memiliki nenek yang disebut dukun. Bukankah praktik yang dilakukan oleh nenek selama ini jauh dari klenik dan justru mendorong orang lain agar rukun dalam hidup dan giat dalam berusaha. Tidak seperti yang selama ini dituduhkan oleh Pakde Wahab dan kelompoknya.

Memang sejak meninggalnya Mbah Dongkol, Pakde Wahab semakin keras menghujat nenek baik di depan umum maupun pada saat pertemuan keluarga. Dulu Mbah Dongkol adalah satu-satunya orang yang disegani oleh Pakde Wahab. Mbah Dongkol juga yang sering membela nenek, bukan semata karena nenek pernah menjadi istrinya tapi menurut Mbah Dongkol apa yang dilakukan oleh nenek itu tidak ada yang salah. Mbah Dongkol telah meninggalkan nenek, sepertinya nenek harus berjuang sendiri untuk menghadapi anak tirinya itu. Tapi apa mungkin nenek akan melayani Pakde Wahab, bahkan berbicara saja nenek sudah lama tidak melakukanya.

*****

Kerumunan orang-orang di depan pagar depan gubuk nenek semakin banyak, sebagian besar adalah tetangga kami yang ingin melihat kejadian di rumah kami. Suasana semakin tegang, beberapa orang berbaju longgar itu mulai berteriak agar nenek keluar dari gubuknya. Mereka mengancam akan meratakan gubuk itu kalau nenek tidak mau menemui mereka. Tapi apa mungkin ancaman itu dilakukan oleh Pakde Wahab. Lagi pula kalau mereka betul-betul melaksanakan ancamanya, apakah tetangga kami yang mulai menyemut itu akan membiarkan tindakan brutal mereka.

Aku baru sadar bahwa garam yang ditabur ibu pagi tadi rupanya untuk menghalau anggota kelompok Pakde Wahab. Entah berhasil atau tidak, tapi sejauh ini belum ada orang yang berniat masuk ke pekarangan depan gubuk nenek. Ibu datang menemui Pakde Wahab. Saling berbisik beberapa saat. Tiba-tiba Pakde Wahab meminta anggota kelompoknya untuk diam. Ia bilang bahwa nenek akan segera menemuinya di teras gubuk. Aku bertanya-tanya, mengapa nenek mau melayani orang-orang yang sedang dibakar marah ini. Sejujurnya aku juga mengkhawatirkan keselamatan nenek kalau sampai mereka menerobos masuk pagar dan melakukan tindakan kasar. Semoga do’a ibu yang ditaburkan bersama garam di pagar itu bisa bekerja dengan baik.

Nenek keluar dari gubuknya, sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya keluar gubuk. Lima orang berpakaian hitam yang sejak tadi pagi menunggunya segera menyabut nenek. Mereka berdiri membantu nenek untuk berjalan dan duduk di teras gubuk. Satu persatu mereka mengucapkan salam dan mencium pungung tangan nenek. Orang-orang itu begitu menghormati nenek, mereka duduk di samping nenek dengan wajah menghujam tikar pandan yang menjadi alas duduk.

“Ibu, ijinkan kami menyambut orang-orang di luar pagar itu.” Salah seorang meminta ijin kepada nenek. Nenek tersenyum dan mengangkat tangan kananya sambil berkata pendek, “jaga anjingmu, jangan sampai menyalak.” Sepertinya nenek tidak mengijinkan. Kalimat pendek nenek itu memberikan tekanan agar mereka untuk tidak ikut-ikutan marah seperti orang-orang di luar pagar itu.  Nenek memejamkan mata sesaat sebelum Pakde Wahab tiba di teras gubuk dengan diiringi ibu.

Hanya Pakde Wahab, tidak ada anggota kelompoknya yang ikut hadir di teras gubuk untuk menemui nenek. Entah apa yang menahan orang-orang di luar pagar itu, namun tidak satupun mereka beranjak dari tempatnya berdiri di luar pagar. Bahkan suara berisik tetangga kami yang menyemut di depan pagar juga seperti lenyap. Mereka juga ikut diam, entah apa yang ditunggunya. Aku yang sejak semula waspada mulai lega dan bisa ikut mendengarkan apa yang dibicarakan nenek dengan Pakde Wahab.

Suara Pakde Wahab yang selama ini keras menghujat nenek lenyap entah kemana ketika behadapan langsung. Ia duduk bersila dengan wajah ditekuk. Kami semua diam. Mungkin hanya aku yang gelisah. Aku khawatir nenek akan memilih mengalah dan mengambil jalan mangracut di depan orang-orang ini. Aku pernah mendengar bahwa ada ngelmu batin yang memiliki daya melipat dan melepas hidup untuk dikembalikan kepada Gusti Allah. Ilmu itu disebut dengan pangracutan. Semoga nenek tidak memiliki ilmu itu pikirku.

“Wahab anakku, masih ingat pesan bapakmu?”. Nenek mulai berbicara.

“Ingat bibi.”

“Wahab, bapakmu bener yen urip iki manggonan topo, ojo duwe kareman marang pepaes dunyo.

Aku ingat, kalimat Jawa itu merupakan nasehat Mbah Dongkol kepada Pakde Wahab sesaat sebelum meninggal dunia. Tapi dari mana nenek tahu kalimat itu, bukankah nenek tidak hadir saat Mbah Dongkol melepas nafasnya yang terakhir. Tidak mungkin ibu menceritakan nasehat itu kepada nenek. Lagi pula untuk apa nenek mengingatkan nasehat Mbah Dongkol itu kepada Pakde Wahab. Apakah upaya Pakde Wahab ini hanya untuk urusan dunia materi seperti yang singgung dalam pesan berbahsa Jawa itu. Entahlah, nenek selalu mengejutkan dengan hal-hal seperti ini.

Engger Wahab, bibimu ini sudah tua, tidak perlu kamu minta, kalau sudah waktunya gubuk ini pasti akan ditinggalkan.” Tiba-tiba ribuan kunang-kunang berhampuran di kepalaku mendengar kalimat nenek itu. Orang-orang berpakaian hitam itu juga kelihatan mengeraskan rahangnya, mereka menahan tangis. Sepertinya mereka memikirkan hal yang sama denganku bahwa nenek akan memilih melipat hidupnya, mangracut. Duh Gusti, berikan jalan keluar yang baik dari masalah ini.

“Apa maksud bibi?”

“Wahab, jawablah pertanyaan bibi ini.”

“Pertanyaan apa bibi.”

Opo jatining sembah, sopo kang nyembah, sopo kang disembah?”

Pakde Wahab seperti tenggelam dalam pikirannya. Entah berusaha mencari jawaban atas pertanyaan nenek atau sedang memikirkan hal lain. Tidak lama kemudian ia pamit kepada nenek dan ibu. Aku lega pertemuan antara nenek dan Pakde Wahab selesai tanpa ada kejadian yang buruk. Namun aku juga sedih mengingat kalimat nenek yang akan meninggalkan gubuk “kalau sudah waktunya.” Nenek seperti memberikan janji kepada Pakde Wahab kalau pertanyaan itu bisa dijawab, maka tanpa diminta nenek akan meninggalkan gubuk tuanya.

 

Daftar Kata :  

Apu : kapur

Gluguh : batang kelapa

Gombong : batu kapur padat

Putune : cucunya

Turus : batang pohon

Kiwan : tempat untuk MCK

Pituduh supoyo rukun lan tekun (Petunjuk supaya rukun dan rajin)

Yen urip iki manggonan topo, ojo duwe kareman marang pepaes dunyo (hidup itu tempat bertapa/berpuasa, jangan sampai punya kesenangan terhadap tipu daya dunia)

Opo jatining sembah, sopo kang nyembah, sopo kang disembah ( apa sejatinya sembah, siapa yang disembah dan siapa yang menyembah)

 

31 Comments to "Dukun"

  1. Chadra Sasadara  15 April, 2012 at 10:51

    Bu’ Probo : kata nelayan di kampungku ” jangan membuang jangkar sebelum tahu kedalaman air laut dan arah arus”. terima kasih telah mampir di “rumah dukun”..hehehe

  2. asianerata  14 April, 2012 at 23:18

    salah satu nasehat yg sangat menyentil yaitu membalas kemarahan dng kelembutan(sewangi melati). Philosophy yg bagus sekali. Ah…seandainya dunia seperti ini, mungkin perang tak pernah ada. Terima kasih Chadra, artikel yg menyentuh sekali.

  3. probo  14 April, 2012 at 21:47

    kita sering memaknai sesuatu hanya di luarnya saja, tidak mau mengupas lebih dalam……
    kita sering tidak tahu bahwa banyak nasehat disampaikan dengan sanepa….
    terima kasih artikelnya…jadi belajar banyak

  4. Chadra Sasadara  14 April, 2012 at 12:45

    Ibu Agatha : mari sama-sama kita wujudkan keindahan dalam kisah ini. terima kasih artikelnya.

  5. Chadra Sasadara  14 April, 2012 at 12:43

    terima kasih Mbak Dewi : semoga banyak tulisan bagus lagi yg bisa kita nikmati di Baltyra ini

  6. Chadra Sasadara  14 April, 2012 at 12:42

    Terima kasih Mas Hand, semoga perubahan budaya yg sedang terjadi ini tidak membuat kita lupa “siapa kita” penghuni nusantara .

  7. Agatha  14 April, 2012 at 09:43

    Kisah yang indah tentang keanekaragaman….
    Sayang ini hanya kisah bukan nyata…. setidaknya belum di sini ..

    http://www.antaranews.com/view/?i=1194875118&c=NAS&s=

    Komnas HAM Buka Kembali Kasus Dukun Santet Banyuwangi

    Senin, 12 November 2007 20:45 WIB

    Jakarta (ANTARA News) – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan membuka kembali kasus pembantaian terhadap 116 orang yang dituding sebagai dukun santet di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 1998.

    Anggota Komnas HAM, Andi Baso, di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa pihaknya akan mengirim beberapa orang ke Banyuwangi untuk mengumpulkan data-data kembali.

    “Insya Allah, satu atau dua pekan lagi kita akan ke sana untuk mengumpulkan data kembali. Prinsipnya, kita akan tindak lanjuti serius karena korbannya banyak,” katanya.

    Baso mengatakan, dari data sementara yang didapati bahwa kasus yang ditengarai sebagai bagian dari operasi intelijen itu dapat dikategorikan pelanggaran HAM berat.

    Namun, Baso yang dikenal sebagai salah seorang pemikir muda Nahdlatul Ulama (NU) itu belum berani meyimpulkan terlalu jauh sebelum semua data dan fakta di lapangan berhasil dikumpulkan.

    “Kita juga sudah tahu nama-nama yang diduga sebagai aktor intelektual di balik pembantaian itu. Tapi, belum bisa saya sebutkan,” katanya.

    Sebelumnya, tiga orang keluarga korban datang ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta, Jumat (9/11), meminta organisasi keagamaan itu mendesak pemerintah membuka kembali kasus yang telah mengendap hampir sepuluh tahun itu.

    Alasan meminta tolong PBNU adalah selain mereka sudah pernah mengadu ke Komnas HAM, sebagian besar yang menjadi korban adalah warga NU.

    Saat kasus itu mencuat pada 1998, sebagai induk organisasi, maka PBNU juga telah membentuk tim pencari fakta yang antara lain terdiri dari KH Said Aqil Siraj, Rozy Munir, dan Mustafa Zuhad Mughni.

    Said Aqil Siraj saat menerima keluarga korban di PBNU mengemukakan, data-data yang berhasil dikumpulkan timnya saat itu telah diserahkan ke sejumlah pihak, termasuk kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam)/Panglima Angkatan Bersenjata RI (ABRI) saat itu, Jenderal TNI Wiranto. (*)

    Editor: Priyambodo RH
    COPYRIGHT © 2012

  8. Dewi Aichi  14 April, 2012 at 07:00

    Aduh…bagus banget tulisan ini, sangat mencerahkan, banyak sekali makna yang tersirat dalam tulisan ini, nasehat bijaksana dan juga budaya…ahhh…satu lagi tulisan yang bagus…

  9. Handoko Widagdo  14 April, 2012 at 06:21

    Satu lagi refleksi tentang perubahan budaya yang dilakukan dengan arif

  10. Chadra Sasadara  13 April, 2012 at 20:41

    Bu’ Nunuk : klo ditanya yuswo nenek dalam cerita ini, saya membayangkan kira-kira 97 thn (org jawa)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.