Membawa Mimpi ke Negara Kiwi (5)

Lani – Kona, Hawaii

 

Di bawah sana air sungai keliatan milky blue, sangat indah, dengan pepohanan rimbun di sekitarnya, sejauh mata memandang hijau royo-royo, udara cerah dan cukup hangat, banyak turis yang mampir ketempat ini pada hari itu kebanyakan turis dari Eropa.

(72A) Hokitika Gorge dengan jembatan gantungnya yang mentul-mentul kalau dilewati

(72 B) Hokitika gorge dengan jembatan gantungnya yang bergoyang-goyang

(72C) Hokitika gorge diambil dari sisi yang berbeda

(72D) papan petunjuk di pintu depan sebelum memasuki daerah wisata Hokitika Gorge

(73) Dorothy falls

(73A) air kolam dari Dorothy falls kelihatan merah kecoklatan seperti air teh

(73B) papan petunjuk ke tempat wisata

(73C) pentulis dengan Dorothy Falls di latar belakang…….

Setelah puas menikmati Dorothy Falls, kami balik ke motel, aku segera mandi dan siap-siap ke gereja. Cukup jalan kaki karena gerejanya sangat dekat dengan lokasi motel kami.

Gereja nampak lengang, tidak penuh sama sekali. Kebanyakan yang ke gereja orang tua, ada beberapa anak muda dan anak-anak balita. Ada perbedaan dengan gereja Katolik di Kona, di gereja ini tidak disediakan buku pemandu misa, baik doa dan nyanyian pujian, semua telah diprogram di laptop dengan menggunakan proyektor ditampilkan di dinding depan di sebelah altar. Ide yang bagus, jadi tidak usah menggunakan buku panduan misa yang tebal. Karena pada misa sore ini tidak ada koor, jadi tidak tahu apakah mereka punya kumpulan koor atau tidak.

Setelah misa selesai, di depan pintu keluar aku sempat salaman dan berkenalan dengan pastornya, yang berasal di India. Aku ditanya datang darimana? Aku jawab dari Hawaii, aku beritahukan pastor kami di Kona asalnya dari Samoa. Yang dijawab: sampaikan salam saya untuk pastormu di Kona dan selamat menikmati kunjunganmu di New Zealand. Masih ditambahkan, pastornya mengatakan sangat senang tinggal di Hokitika karena suasananya yang sepi, damai, indah, segar udaranya. Aku hanya mengangguk-angguk, antara setuju dan tidak. Aku tidak setuju karena seperti kota mati. Kota Hokitika baru menggeliat dan ada kegiatan setelah jam 9 pagi. Setuju karena memang sangat sepi, damai, menurutku cocok buat kota pensiunan (lansia).

Setelah pamitan, segera aku jalan balik ke motel, ternyata my partner sudah siap-siap untuk menjemputku. Karena aku sudah sampai di motel duluan, akhirnya kami jalan kaki ke kota mencari restoran untuk makan malam. Dia memasrahkan ke aku ingin makan apa dan dimana, karena ini hari istimewaku jadi aku bebas memilih mau makan di restoran apa sesukaku.

Pilihanku jatuh ke restoran India nama restoran ini “Priya”. Aku pesan chicken tikka masala sedang dia memilih lamb bryani.

Aku perhatikan ada perbedaan antara Amerika dan New Zealand dalam cara memberikan air minum. Di Amerika, air minum dihidangkan sudah dituang di dalam gelas, kalau di New Zealand diberikan masih di dalam botol gelas, serta gelas kosong, jadi pelanggan bisa menuangkan sesukanya. Jadi air minum tidak pernah diletakkan langsung di meja tamu di dalam gelas.

Kesanku masakan di restoran ini enak, karena aku tidak makan daging kambing hanya bertanya apakah enak? Dijawab: delicious….so tender. Yang jelas bikin hidungnya meler karena tidak hanya penuh dengan bumbu akan tetapi memang pedas.

Kelupaan memotret makanannya, baru ingat setelah makanan tandas, ludes, masuk perut hahaha…..

Sesampai di motel, kami segera mengepak semua barang karena besok harus melanjutkan perjalanan.

Tanggal 5 February 2012: Bangun tidur, mandi, segera menaikkan semua barang ke mobil, tepat jam 10 pagi kami check out dan meninggalkan kota Hokitika. Masih sempat beli kopi dan muffin untuk sarapan dalam perjalanan.

Pagi yang cerah, walau agak dingin. Kami stop untuk ke toilet, di kota HARI-HARI. Untuk urusan toilet di tiap kota selalu disediakan toilet umum, pada umumnya bersih, tapi ada juga yang kotor, tapi menurutku tidak separah di Cina seperti yang diceritakan oleh teman-teman Baltyra.

Aku temukan perbedaan lagi antara toilet di New Zealand dengan di Amerika, handle untuk flush di Amerika di sisi kiri, kalau di New Zealand button untuk flush selalu di atas, jadi dipencet.

Aku perhatikan di beberapa tempat disediakan mesin pengering tangan setelah cuci tangan, tapi ada juga yang menyediakan kertas. Bentuk mesin pengering tangan ada dua macam, model pengeringnya di bawah, atau tangan dimasukkan ke lobang pengering.

Ketika stop di toilet, di sebelah ada bangunan kecil, ternyata museum, tentang penerbang dari Australia yang kehabisan bahan bakar dan mendarat di kota ini. Silahkan dilihat link nya kalau tertarik untuk mengetahui lebih jauh : http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_Menzies

Akhirnya tibalah kami di lake WAHAPO, kami tidak berhenti lama di sini. Karena tujuan kami ke Franz Josef Town, ada tempat wisata terkenal dengan nama yang sama untuk melihat glacier. Karena kota turis jadi ramai sekali, banyak toko, restoran, café, motel, hotel, inn, penginapan untuk backpacker.

(74) Lake Wahapo, airnya sangat tenang hingga aku bisa memotret bayangan pohon pinus di atas air danau

(74A) Lake Wahapo

(75) bunga liar di pinggiran danau, entah apa namanya aku tertarik karena keindahannya…….

Aku sempat ke toilet umum, bentuknya seperti rumah, di sebelah pintu ada tombol-tombol untuk membuka, tombol hijau menandakan toilet tidak dipakai, tombol merah artinya toilet sedang dipakai. Pertama ragu-ragu, agak bingung juga, karena belum pernah menggunakan toilet semacam ini, walau pernah melihat di kota San Francisco. Takutnya bisa masuk, tidak bisa keluar, dasar ndeso…..katrok banget hahahah…….

Begitu masuk pintu tertutup secara otomatis, music segera mengumandang, di dalam juga ada tombol-tombol, untuk sabun pencuci tangan, kertas untuk lap, serta kran air. Satu perbedaan lagi dengan Amerika, yang selalu disediakan toilet seat sebelum kita jongkok menggunakan toilet, di New Zealand dan Australia, mereka menggunakan kertas yang telah dibasahi dengan cairan sanitasi untuk mengelap toilet sebelum diduduki.

Aku berpikir kalau toilet saja senyaman ini, bersih, tidak bau, bisa-bisa setelah masuk malah lupa keluar karena ketiduran wakakakak……

Kami menginap semalam di kota Franz Josef. Makan siang di restoran dekat dengan lake MATHESON. Aku pesan white bait patty, salad, my partner menikmati chicken Turkish sandwich, ditutup dengan pan forte, Italian fruit cake tidak ketinggalan white short black coffee dan aku pesan latte.

(76) Pan forte, Italian fruit cake, teh hijau…..aku kelupaan mengambil foto white bait sandwich…….

Setelah perut kenyang, kami hiking di jalan setapak mengelilingi lake Matheson, cukup capai juga karena lokasi pendakian yang naik turun, mengitari danau, tapi pemandangannya indah semuanya kelihatan hijau di sisi kanan, kiri jalan.

Selesai hiking kami segera menuju penginapan kami lokasinya di downtown Franz Josef, namanya RAIN FOREST RETREAT.

(77) papan petunjuk menuju ke lokasi Franz Josef glacier

(77A) Franz Josef glacier tampak dari kejauhan

(77B) Franz Josef glacier dari sisi yang berbeda

(77C) beberapa air terjun dilokasi Franz Josef glacier

(77D) sungai yang mengalir dengan sangat deras di bawah Franz Josef glacier, tampak bongkahan es yang mengapung di atas sungai

(77E) tampak glacier yang berwarna biru dengan lobang mirip goa, di bawahnya air sungai mengalir

(77F) nampak bongkahan bebatuan di sepanjang jalanan menuju ke glacier

(77G) pentulis dengan latar belakang salah satu air terjun di lokasi Franz Josef glacier

(77H) Franz Josef glacier dari kejauhan, aku foto dari depan restaurant di pagi hari

(78) St. Josef Glacier pada pagi hari

Tidak sempat istirahat, langsung mandi, dan segera berjalan kaki mengelilingi kota turis ini, sambil melihat-lihat restoran apa yang ingin kami datangi untuk makan malam. Pilihan kami jatuh pada restoran di pinggir jalan karena tertarik dengan menunya ada satu paket yang dinamakan satu porsi untuk berdua. Kami memesan KAIMOANA seafood platter isinya squid goreng, udang rebus, beberapa pickled muscles, irisan smoked salmon, irisan roti, dan saus tartar. Sebagai hidangan penutup kami memilih 2 macam dessert vanilla panecotta, frozen strawberry cake in frozen chocolate and coconut. Semuanya enak dan wuenaaaaaak……..

(78) dua macam dessert….yum! Aku lupa ambil foto Kaimoana seafood platter, baru ingat setelah habis tandasss amblasss………

Selesai makan malam, kami langsung kembali ke motel dan segera tidur karena kecapaian di perjalanan, hiking yang cukup jauh menguras tenaga.

Bersambung………

 

128 Comments to "Membawa Mimpi ke Negara Kiwi (5)"

  1. Lani  23 April, 2012 at 22:24

    HENNIE : hah????? ngos2-an gimana????? ingat dunk………dikau lbh muda jauh dr diriku……….hrs lbh kuat to…….baru segini udah ngos2-an……..senin kemis napasnya kayak org kena bengek ya????? wakakakak……….iya tuh aku diledek ama EA…….mosok baju ndak ganti2…….sampai bau penguk……..pdhal jg dicuci……..nah urusan satu ini dikerjakan oleh sidia lo………betul2 dimanjakan…….udah dikasih kado msh diurusi yg lain2nya……..jd hrs kasih service top markotop wakakaka……..betooooool komentar2nya mmg lbh menarik dr artikelnya ya……..

    pasti berani melewati jembatan ini, asyikkkkkkk………pura2 ketakutan trs gemandul………sama yg bs diganduli………kkkkkkkk

  2. Lani  23 April, 2012 at 22:21

    124 SU : plok…….plok………plok……..jiaaaaaaah OMA satu ini selain kemplink………kinyis2…….bening……ternyata puinterrrrrrrrrr tenannnnn…….sapa meragukannya????

  3. Lani  23 April, 2012 at 22:20

    XA : iki mesam-mesem kecut? campur legi…….ato ada paitnya sedikit????? biar komplit……banyak missing link nya? mgm kusengaja agar artikel ini jejeg……..hehehe……..silahkan aja pakai your imajinasi XA…….

    pertanyaanmu, kapan bs ke NZ????? lo, kan udah dpt ticket gratis, malah ditukar duit iki pieeeeeeeeee???????

  4. HennieTriana Oberst  23 April, 2012 at 21:42

    Lani, waduh aku ngos-ngosan nih bacanya, ketinggalan. Habis baca artikelmu aku baca komentanya, masih belum tuntas. Tapi bikin ngakak
    Hebat ya dirimu, kalau aku diajak jalan seperti ini nggak sanggup hehehe… Lewat jembatan gantung mentul-mentul seperti itu aku juga nggak berani. Tapi kalau ada yang bida diganduli sih bolehlah.
    Foto berikutnya ganti ya bajunya (hahaha…EA protes..).

  5. Silvia  23 April, 2012 at 20:02

    Yang jelas Alexa, intinya adl lautan ku sebrangi, gunung ku dakinya……demi si dia (Pasti Lani setuju deh. Hihihi)

  6. Lani  19 April, 2012 at 01:04

    NEV : mmg ndak perlu berbaju brukut krn musim panassssss………jd klu semriwing yg kau maksudkan itu ya benerrrrrrr……..
    boleh2 balapan mlayu karo kang Anuuuuuu………..jd iso menthul2 bareng………ato dr sana terjun ke keli dibawahnya??????

  7. nevergiveupyo  18 April, 2012 at 12:59

    haha… kan ndak brukut to subo..makanya semriwing…
    btw, say benar2 terobsesi balapan lari sama kang anoew di jembatan itu lho.. nul menul mentulllll

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *