Ngidham

Probo Harjanti

 

Ngidham, berasal dari kata idham. Merupakan kata dalam bahasa Jawa, kalau dalam bahasa Indonesia,’h’-nya hilang, menjadi idam. Artinya sama, ingin. Kalau diidham-idhamke, artinya kepingin banget, saya pakai ‘banget’ ya, soalnya kalau pakai ‘sekali’, teman saya yang wts (waton sulaya) akan bilang, berarti inginnya hanya sekali thok!

Kalau idham mendapat ater-ater (imbuhan yang ada di depan kata dasar), jadi ngidham. Ngidham, istilah yang sering sekali dipakai untuk orang hamil, yang menginginkan sesuatu. Meski artinya tetap kepingin, tetapi memang banyak dipakai untuk menyebut keinginan perempuan hamil, yang konon  katanya banyinyalah yang pingin. Kalau tidak hamil dikatakan ngidham, berarti sangat ingin.

Banyak perempuan hamil, yang ingin memiliki sesuatu, atau makan sesuatu, dengan amat sangat. Bahkan ada yang dengan cara tidak lazim, misalnya ingin mangga muda, tapi harus ‘dicuri’ dulu, bukan dari beli. Konon kalau barang itu dari beli, si perempuan ngidam bakal tahu, meskipun suaminya tidak memberi tahu. Saya sendiri tidak tahu, karena belum pernah mengalami hal yang sama.

Saat mengandung anak I, ibu Widati, teman suami saya wanti-wanti sama saya, untuk tidak menuruti rasa ingin yang berlebihan.

“Kalau ingin (ngidham) sesuatu, jangan dituruti, nanti akan berpengaruh pada janin, saat sudah lahir kalau minta sesuatu sak dheg-sak nyet (harus ada/ dituruti)!”

Sak dheg-sak nyet, adalah istilah untuk menyebut permintaan yang tidak bisa disemayani, ditunda. Minta sekarang, belikan sekarang juga. Jadi maunya harus, harus, dan harus ada.

Itu pesan wanti-wantinya pada saya. Jadi, saat saya rasanya kepingin jeruk Bali yang memang saya dari dulu suka, saya pendam dan tidak saya ceritakan pada suami. Juga tidak lantas beli sendiri. Saya tidak tahu pasti apakah itu termasuk ngidam atau tidak. Jadi kalau ditanya bagaimanan rasanya ngidam, saya tidak bisa menjawab, karena tidak tahu persis.

Sering kita dengar, seorang suami pontang-panting tengah malam cari rujak, cari makanan demi menuruti istri yang sedang hamil. Kadang, saat makanan datang, sama istri hanya dilihat, atau diterima dan tidak diapa-apakan, sudah hilang selera. Atau katanya sudah tak ingin lagi. Ada pula yang ingin mangga, tapi harus suami yang metik, kadang malah harus curian. Kalau suami jatuh dan digebugi orang, siapa yang rugi coba?

Saya sering heran juga, kalau tengah malam suami pergi mencari makanan, mana hujan-hujan, untuk  menuruti orang ngidam. Kalau sampai terjadi sesuatu, kecelakaan misalnya, apakah si istri tidak menyesal seumur hidup? Nyuri mangga ketahuan, atau jatuh sampai celaka, apa tidak menyesal? Kadang ada istri yang ingin ngetes seberapa sayang (dan tunduk?) suami terhadapnya dengan keinginan-keinginan yang aneh tersebut. Alasan awalnya sih ngidham, bayinya yang ingin (katanya), kalau tidak dituruti nanti bayinya ‘ngeces’ , berliur. Padahal sepertinya semua bayi yang belum bergigi, dan saat gigi mulai tumbuh, pastilah ngeces, keluar air liurnya. Begitu juga saat periode suka memasukkan benda ke dalam mulut juga  pasti ngeces.

Saya merenungkan pesan Bu Wid tersebut. Saat di dalam kandungan, kita sebenarnya sudah mendidik bayi kita, dengan kebiasaan kita. Kalau kita sering memaksakan kehendak, nanti kita akan dipaksa pula sama anak kita, dengan cara serupa tapi beda. Kalau ibunya marah, ngambeg, saat yang diinginkan tidak ada, nanti anak kita akan guling-guling di depan penjual mainan yang dimintanya, atau ndheprok sambil nangis ngglolo di depan toko mainan, sampai permintaan dituruti. Jangan-jangan itu adalah hasil didikan dari acara ngidham ibunya….entahlah. yang jelas, alangkah baiknya tidak menyiksa suami dengan keinginan yang aneh-aneh saat hamil. Puasa, dengan menahan keinginan-keinginan yang bakal menyusahkan suami kita sendiri.

Tapi, bukan berarti dilarang ngidham, dilarang bermanja-manja pada suami, atau suami dilarang memanjakan istri. Hanya jangan berlebihan. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan kurang baik? Kalau permintaan wajar dan tidak terlalu neko-neko, ya tak apa-apa. Wong yang neko-neko pun, suami mungkin dengan senang hati mencarinya.

Ke dua anak saya untungnya bisa disemayani kalau meminta sesuatu. Maksudnya ditunda,  kalau sudah ada uang baru dibelikan, begitu kata kami. Kami  ingin membiasakan mereka, bahwa tidak setiap permintaan dapat terpenuih saat itu juga. Kamilah sebenarnya yang  berusaha menahan diri,  untuk tidak selalu menuruti keinginan anak, biar mereka tahu artinya kecewa dan  menunggu. Di  saat yang tepat, atau saat anak tidak memintanya lagi, justru kita belikan. Tentu semua melihat situasi dan kondisi. Kami sering menyanyikan lagu ini, ketika keinginanannya sulit kami penuhi, karena harga mau pun manfaat: pingin sih boleh saja, tapi tidak harus beli…..

 

105 Comments to "Ngidham"

  1. probo  25 April, 2012 at 14:25

    iya tuh ….bea paket sama isinya kan jauh lebih mahal bea paketnya hehehe….

  2. HennieTriana Oberst  24 April, 2012 at 22:11

    Mbak Probo, saya waktu hamil ngidam asinan sayur Jakarta dan kripik pedes Sumatra Barat.
    Tapi nggak pernah nyusahin suami, asinan sampai hari ini nggak bisa dinikmati, nggak bisa bikin dan nggak ada yang jual. Sedangkan kripiknya saya khusus pesan dari Sumatra dan dipaketkan ke Jerman Nyusahin suaminya mungkin bea paketnya ya hehehe…

  3. probo  24 April, 2012 at 21:11

    semoga begitu ya Pak ODB

  4. Ouw Djiam Biauw  18 April, 2012 at 19:03

    Bu guru nan cantik suatu saat pasti kita kan bertemu kembali,siapa tahu bisa ikutan dengan Mas Djoko nanti dibulan JUli mendatang.Salam dari Cengkareng

  5. probo  18 April, 2012 at 16:29

    Pak ODB, bukan malu-malu…wong aslinya malu-malui kok…..
    benar2 kesusu…….
    sempat nyesel, mestinya saya berdua sama ragil saja….biar suami yang ke tempat sodara hehehe
    kan jadi nggak kesusu-susu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.