Teruntuk Wanita-wanita Hebat (2): Zai Jian Hong Kong, Ni Hao Jogja

Yang Mulia Enief Adhara

 

ZAI JIAN HONGKONG, NI HAO JOGJA

Sewaktu aku lihat Madam Wu, airmataku lagi lagi membanjir, Madam Wu turut hanyut dalam duka, dipeluknya tubuhku, dibisikkan kata-kata yang membangkitkan semangatku untuk melanjutkan hidup, walau tanpa Ibu.

Madam Wu seorang wanita pengusaha, suaminya sudah lama tiada, anak satu-satunya tinggal di Amerika untuk mengambil gelar master. Madam Wu wanita yang cukup disegani, usahanya ada banyak, memiliki perusahaan yang menaungi beberapa brand internasional. Walau aku tidak paham merek juga fashion, namun aku sering di ajak ke Pacific Place untuk sekedar melihat toko-toko miliknya.

Madam Wu walau sudah berusia lanjut, namun selalu tampil trendy. Tubuh langsingnya sangat terjaga. Tak sekali aku melihatnya memakai sepatu dengan hak tinggi di usianya sekarang. Rambutnya yang masih dominan hitam disanggul kecil. Kalung mutiara atau berlian ukuran kecil selalu menjadi pemanis busana yang dikenakannya.

Madam Wu tinggal di sebuah apartment mewah di kawasan Central Hongkong. Huniannya tertata penuh selera. Beruntung aku bekerja pada bos seperti Madam Wu. Ramah, royal dan sayang padaku. Madam Wu saat bercakap dengan ku selalu memakai 2 bahasa, Inggris dan Mandarin. Beliau menganggapku seperti anak sendiri.

Tugas utamaku adalah memasak, beliau sering menjamu sahabat sahabatnya di rumah. Selain memasak aku juga membereskan rumah walau rumah itu jarang berdebu dan selalu rapi. Sejujurnya aku betah sekali, apartment itu berisi 3 kamar, satu ruang duduk luas yang menyatu dengan pantry, toilet dan gudang kecil.

Kamar tidur milik Madam Wu lumayan besar bersambung dengan ruang pakaian dan toilet, didominasi warna cream dan kayu. Kamar anak laki-lakinya yang sedang di Amerika bergaya modern didominasi warna biru muda. Ruang duduk lebih bergaya klasik modern sedangkan pantry-nya bergaya modern. Kamarku bergaya minimalis dengan warna cream.

Madam juga memiliki usaha ekspedisi barang, Pub dan travel agent. Beliau sangat menyukai hasil masakanku, baginya tanganku seperti tangan dewa. Berkali-kali aku mendapat bonus uang saat makan malam bersama sahabat-sahabatnya berjalan sukses, aku selalu diberi uang hampir separuh gajiku. Intinya tabunganku ‘gemuk’ berkat kemurahan hati Madam Wu.

Madam sering heran melihat dandananku yang bisa dibilang seadanya. Berkali-kali ia memaksa agar aku berbelanja, namun entahlah, aku toh merasa tidak cantik. Pernah suatu sore tiba-tiba Madam membawa sebuah gaun terusan berikut sepasang sepatu. Baju dan sepatu itu akan dihadiahkan pada Jessica Ong asisten pribadinya. Dan Madam kadang menjadi usil, dipaksanya aku mandi dan menjajal gaun berikut sepatu tadi.

Jujur saja aku ketakutan namun Madam tetap saja memaksa. Bahkan membantuku memakai baju indah bermodel simple itu. Warna biru muda begitu menyala di kulitku yang coklat dan menurut Madam, aku cantik sekali. Ku lihat label baju itu bertuliskan ‘Stella McCartney’ dan dengan lugu aku berkata, ‘seperti nama penyanyi jaman dulu ya Madam ?’, dan Madam tersenyum sambil menjawab, ‘Dia memang putri dari Lord McCartney anggota The Beatles’.

Lebih tolol lagi aku bertanya kira-kira berapa dolar harga baju itu, dan mulutku melongo saat tahu baju itu seharga hampir 3 bulan gajiku. Saat menegangkan adalah ketika Madam Wu memaksaku memakai sepatu hak runcing seperti yang sering dipakainya. Aku benar-benar diam mematung, tak sanggup bergerak dan aneh betul rasanya, dan dengan semangat Madam memotretku sambil memuji diriku bagai seorang bintang.

Namun aku tetaplah gadis desa yang tidak PD, aku tetap tampil seadanya. Aku memang tidak bergaul baik di Jogja juga di Hongkong. Rasanya malu sekali untuk bercakap-cakap dengan orang lain. Itulah sedikit gambaran kehidupanku bersama Madam Wu.

******

Madam Wu tidak membebani banyak tugas, aku sendiri sibuk berkemas. Di masa berkabung ini Madam malah menyuruhku banyak keluar rumah agar aku tidak selalu menangis. “Kamu segera kembali ke Indonesia, nikmatilah saat-saat terakhir di sini”, Ujar Madam dengan ramah. Aku menghabiskan hari-hari dengan pergi seorang diri, dengan MTR aku menjelajahi Hongkong. Ya detik makin bertambah dan ingin aku nikmati semaksimal mungkin.

Menelusuri Leighton Road di kawasan Causeway Bay lalu berpindah ke Peak Tramway melihat Victoria Peak dan Peak Tower yang merupakan kompleks perbelanjaan di wilayah Victoria Gap, lalu ke Times Square sebuah pusat perbelanjaan yang indah. Lalu esoknya aku berada di Wan Chai menuju Star Avenue dekat Victoria Harbour yang bersebrangan dengan Tsim Sha Tsui. Lalu berpindah ke Kowloon melihat area belanja di Nathan Road berlanjut ke Harbour City menikmati Star Ferry yang terkenal itu.

Di Central aku menelusuri Hollywood Street ke kawasan barat dengan Soho yang menjadi tujuan utama atau dikenal South Of Hollywood Road. Di sini banyak toko barang antik yang sangat mengagumkan. Agak malam kawasan Lan Kwai Fong di kawasan Central yang menjadi area clubbing menampilkan aneka Pub yang keren, yang salah satunya milik Madam Wu.

Kawasan Central yang bergengsi membuatku tersadar betapa banyak barang indah ditawarkan dan 3 tahun di Hongkong baru aku sempatkan untuk menikmati. Dari Chater Road aku melihat pria dan wanita yang berdandan modis. Di kawasan ini banyak ku lihat deretan pertokoan yang menjual karya designer papan atas, yang tentu saja harganya membuatku melotot.

Aku ingat sekitar 2 tahun lalu saat Madam Wu ingin berbelanja dan aku diajak serta, aku melihat beliau membeli beberapa busana karya Michael Kors. Mengucapnya pun aku sulit namun itulah Madam Wu, ia ingin aku tampil pintar dan aku dipaksa mengucap segala nama tadi dengan baik dan benar. Beliau ingin saat aku bekerja dengannya, aku memiliki kemajuan.

Hasilnya cukup berguna, saat Madam akan ke New York, akulah yang diperintah untuk mengambil pesanan beberapa baju di butik Michael Kors di kawasan Central, sekali itu aku bagai gadis kaya, menenteng kantung belanja sampai 6 buah dengan label ternama, semua orang menatapku, ahh mungkin mereka pikir aku mencurinya, tapi aku tidak perduli, semua atas perintah Madam. Inilah enaknya bekerja dengan orang kaya namun baik hati, aku memiliki ilmu juga pengalaman baru yang sebelumnya aku tidak ketahui.

*****

Namun jalan-jalan memang bukan bagian dari diriku, aku akhirnya lebih memilih diam dalam rumah, memasak dimsum, ayam panggang atau ikan. Madam menghindari daging merah, itu sumber penyakit kata Madam tegas. Hingga di hari ke 5 pun tiba. Ku lihat Madam masih ada di rumah padahal sudah pukul 11.18 siang. Aku bertanya padanya, kenapa masih di rumah. Dan ternyata dia sengaja mengosongkan jadwal.

“Kamu lusa sudah bisa kembali ke Indonesia, dokumen sudah beres semua, barang-barangmu nanti saya urus, jadi kamu bawa barang inti saja Uci”, Ujar Madam sambil sibuk membaca beberapa surat.

“Xie xie Madam Wu, Anda sangat baik hati, entah kapan saya bisa membalas kebaikan Anda, oh iyaa apakah Anda akan makan siang di rumah, saya memasak Ikan dengan kuah jahe dan beberapa macam sayuran”, Ujarku.

“Wah itu makanan para ratu, tentu saya tak mau melewatkannya, lagi pula kan saya sudah bilang hari ini off, sekian tahun Kamu bekerja disini, saya belum pernah seharian bersamamu”, Sahut Madam sambil berjalan ke arah meja makan kaca yang berada di ruang duduk.

“Terima kasih sekali lagi Madam, Anda baik hati, dengan senang hati akan saya temani Madam” Ujarku seraya menuju pantry untuk menyiapkan peralatan makan berikut hidangan yang sudah kumasak.

****

Madam Wu mengajakku makan bersama, kami duduk di meja makan yang tepat berada di sisi jendela kaca. Pemandangan kota yang megah menjadi hiburan yang tak membosankan mata. Kami berada di lantai 25, artinya pandangan kami menjadi luas menikmati Hongkong baik siang maupun malam.

Sambil menyantap hidangan, Madam terus saja memuji masakanku. Ikan yang dimasak dengan kuah jahe itu menjadi favoritnya. Kadang Madam menutup mata berusaha meresapi kelembutan daging ikan beraroma jahe. Dan makan siang itu kami isi dengan berbincang.

“Wah apa jadinya yaa tanpa kamu di sini ? Berat sekali melepaskanmu pergi tapi saya tidak mau menjadi penyebab kebimbangan di hati kamu, mungkin di samping Nenekmu, hidupmu akan lebih berarti”, Ujar Madam dengan wajah agak muram.

“Andai bisa, saya ingin terus bekerja di sini. Tapi Nenek sendirian, siapa lagi yang akan merawat kalau bukan saya”, aku bicara dengan rasa sedih karena ini pilihan sulit.

“Sudahlah jangan difikirkan, saya jelas-jelas kehilangan orang yang terpercaya, tapi Nenekmu lebih utama, pulanglah, yang penting kita tetap jadi keluarga yaa ?!!”, Madam menyeruput teh dari cawan kecil di sisinya.

“Pasti saya akan berkirim kabar dengan Madam, tak bisa saya lupa dengan orang sebaik Anda”, ujarku dengan mata berkaca-kaca.

“Sudahlah Uci, jangan sedih, kapan-pun Kamu boleh berkunjung ke sini, oh yaa saya ada kenalan, Ayahnya adalah teman baik saya, dia tinggal di Bandung, apakah Kamu mau bekerja dengan dia? Orangnya baik kok”, Madam menatapku.

Aku tersenyum ceria, “Wah terima kasih Madam, Anda benar benar baik mau menolong saya”, Sahutku penuh semangat.

Madam meletakkan sumpit, lalu menatapku lagi dengan tajam, “Kamu bagai anak saya sendiri, jadi membantumu adalah kewajiban. Nanti saya hubungi dia, semoga Kamu cocok yaa”.

*****

Dan malam itu aku berfikir, aku tetap harus bekerja demi peningkatan hidup yang lebih baik dan rasanya Jogjakarta dan Bandung tidaklah terlalu jauh. Apa lagi calon bos aku di Bandung adalah anak dari sahabat Madam, aku percaya Madam tidak sembarangan memilihkan bos baru untukku.

 

4 Comments to "Teruntuk Wanita-wanita Hebat (2): Zai Jian Hong Kong, Ni Hao Jogja"

  1. Alvina VB  13 April, 2012 at 22:17

    Ditunggu lanjutannya…

  2. [email protected]  13 April, 2012 at 14:04

    huaaa…… bersambung…..
    jangan lama lama….

    hayooooo……

  3. J C  13 April, 2012 at 10:39

    Penulisnya sangat-sangat paham banget seluk beluk Hong Kong…

  4. Linda Cheang  13 April, 2012 at 10:10

    huan ying ni, Uci

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.