Tradisi Menjalankan Masa Puasa, Pra-Paskah dan Paskah dalam Masyarakat Jerman

Indriati See – Jerman

 

Dibandingkan dengan negara tetangganya yaitu Belanda, masyarakat Jerman masih sangat ketat mempraktekkan ritual keagamaan mereka. Masyarakat Jerman yang beragama Katholik sebanyak 29,20% yang tersebar di sebelah Selatan dan Barat, Protestan sebanyak 29,30% di sebelah Utara, 37,20% tanpa Kepercayaan di sebelah Timur, Muslim 4,88 % (ca.4 juta) dan selebihnya untuk Keyakinan lainnya dari jumlah penduduk keseluruhan per 2010 menurut Wikipedia.

Kalau dilihat dari angka persentase bagi mereka yang tidak mempunyai keyakinan, dimana angka tersebut cukup besar maka tidak mengherankanlah jika mereka berdemonstrasi menuntut dihapuskannya Larangan Pesta Dansa dan Pesta-pesta lainnya yang diadakan pada Hari Jum’at Agung. Puji Tuhan, sampai sekarang masih banyak orang yang respek, biarlah mereka berteriak dan berdemonstrasi … upacara keagamaan berlanjut terus.

Sudah sewajarnya juga jika hari-hari libur yang dipraktekkan, sebagian besar mengikuti Kalendar Gereja terutama Gereja Katholik.

Karnaval di Kota Mainz

Tradisi memasuki masa puasa biasanya ditandai oleh Pesta Karnaval yang diselenggarakan oleh setiap organisasi yang ada baik itu berupa pawai di jalan (Karnevalsumzug) seperti yang terkenal dari kota Köln, Aachen, Mainz dst atau di dalam gedung (Karnevalssitzung).

Pesta Karnaval resmi dibuka pada hari St. Martin yang jatuh pada tanggal 11 November tepat pada jam 11:11 dan berlangsung sampai satu hari sebelum hari Rabu Abu (hari pertama puasa) yang tahun ini jatuh pada tanggal 22 Februari.

Bagi umat Katholik Jerman yang saya kenal, biasanya selama masa puasa, mereka berpantang dan kebanyakan dari mereka berpantang untuk tidak minum alkohol, ngemil manisan seperti coklat, merokok dan niatan pribadi lainnya.

Pada upacara hari Rabu Abu (Aschermittwoch), semua sekolah mengizinkan para murid mereka untuk boleh meninggalkan kelas pada jam mata pelajaran pertama dan kedua untuk mengikuti Misa Rabu Abu di gereja setempat. Setelah penerimaan abu maka puasapun bisa dimulai.

Masa puasa yang berlangsung selama 40 hari sangat terasa, sudah pasti bagi mereka yang menjalaninya. Kami yang tinggal di wilayah yang boleh dibilang masyarakatnya masih sangat ketat menjalankan ritual keagamaan, benar-benar turut merasakan apa arti dari masa puasa dan berpantang tersebut.

Dari sisi komersial, penjualan kebutuhan pesta Paskah sudah dimulai dari bulan Januari (setelah Hari Raya Pesta Tiga Raja – 6 Januari). Hm … melihat keadaan demikian kami para orang tua hanya bisa mengajarkan kepada anak-anak kami, apa arti dari Perayaan Keagamaan berikut dengan simbol-simbolnya, juga pelaksanaan dan penerapannya. Lucu bukan membeli telur Paskah setelah Pesta Natal selesai !!

Pelaksanaan Minggu Palem (Palmsonntag), iring-irangan hanya diikuti oleh anak-anak calon penerima Komuni Pertama dan daun yang dipergunakan untuk upacara bukan daun Palem melainkan daun Buchsbaum yang dibentuk dan dihias seperti di bawah ini:

 

Hari Kamis Putih dalam bahasa Jerman dinamakan Gründonnerstag (Kamis Hijau), asal muasal nama Gründonnerstag dimulai pada abad ke 13 yang berasal dari bahasa Latin dies viridium (hari Hijau) yang mengacu pada Injil Lukas 23,31 tentang grünes Holz (kayu hijau).

Upacara ini mengingatkan kita akan Perjamuan akhir dari Jesus Kristus bersama dengan para murid-muridNya. Setelah pemindahan Sakramen Maha Kudus dan meja altar, maka waktu dipersiapkan bagi mereka yang ingin mengikuti Jam Suci. Jam Suci bertujuan untuk menemani Jesus dalam doa dan sakrat mautNya di Taman Getsemani.

Upacara hari Jum’at Agung (Karfreitag) di gereja St. Michael dimana saya aktiv sedikit berbeda dengan upacara di gereja di Jakarta, dimana pada upacara tersebut umat tidak menyium Salib tetapi menerima Komuni. Penyiuman Salib hanya dilakukan oleh Pastor, Putra/i Altar, dan Petugas misa. Selama upacara misa, karena meja altar sudah disingkirkan maka pemberkatan Hosti dilakukan didepan Tabernakel.

Bagi saya pribadi yang sangat berkesan adalah misa Malam Paskah (Karsamstag), mengapa ?

 

Pemberkatan Api Paska

Sebelum misa dimulai, umat berkumpul di depan gereja, mengelilingi tungku api. Udara malam itu lumayan dingin terutama berangin. Tepat pukul 21:00, Pastor kami diikuti oleh 6 orang Putra dan Putri Altar berjalan ke arah tungku api untuk memberkati api dan menyalakan Lilin Paskah, lalu api tersebut dibagi-bagikan kepada umat dengan berupa lilin. Kemudian Pastor berjalan memasuki gereja diikuti oleh seluruh umat, suasana di gereja hanya diterangi oleh satu lampu demi kepentingan pemain orgel. Dalam upacara misa tersebut juga diadakan pemberkatan air suci untuk keperluan Sakramen Permandian dan juga Lilin Paskah 2012.

 

Cäcilia Kirchenchor – Hofheim im Ried

Pada hari Minggu Paskah (Ostersonntag), saya yang ikut menjadi anggota Paduan Suara Gereja turut memeriahkan perayaan Pesta Kebangkitan Jesus tersebut. Ada perasaan gembira bercampur haru karena sebagai orang asing satu-satunya ditambah dengan jauh dari orang tua dan sanak keluarga, benar-benar saya menemukan ikatan cinta kasih dari seluruh umat yang hadir di gereja dalam Perjamuan Kudus tersebut.

Pada hari Senin Paskah (Ostermontag) atau disebut juga hari Paskah Kedua, misa diadakan satu kali yaitu di pagi hari bagi mereka yang tidak sempat hadir pada misa di hari Minggu Paskah.

Liburan Paskah bagi sekolah-sekolah berlangsung selama 3 (tiga) minggu dan dimulai tidak serentak karena untuk menghindari penuhnya arus mudik dan liburan bagi sektor transport publik dan jalan bebas hambatan.

Sekian sekelumit tentang Paskah dari masyarakat Jerman di lingkungan tempat tinggal saya dan tentunya belum terlambat untuk mengucapkan SELAMAT PASKAH kepada teman-teman Baltyra yang merayakannya.

 

25 Comments to "Tradisi Menjalankan Masa Puasa, Pra-Paskah dan Paskah dalam Masyarakat Jerman"

  1. Indriati See  15 April, 2012 at 18:05

    @JC

    Sama2 Josh, di Jerman masih ketat merayakan ritual keagamaan, bahkan hari santa-santo yang jatuh pada hari biasa masih dirayakan … saya berharap untuk selamanya …

  2. Indriati See  15 April, 2012 at 17:57

    @Linda C

    Sudah bagus sista kalau bisa berpantang sampai selesai dan berpuasa semampunya fisik sista Saya pribadi berpantang makanan yang mengandung Kohlenhydrat dan makan kenyang sehari sekali kadang2 pagi atau siang saja … dalam masyarakat Jerman yang saya kenal terutama generasi yang masih aktiv bekerja, mereka hanya berpantang saja …

    Met berhari melewati waktu yang indah ya

  3. Meitasari S  14 April, 2012 at 11:01

    slmt paskah, tx ceritanya. Br tau lho, seru ya!

  4. EA.Inakawa  14 April, 2012 at 04:39

    Terima kasih Mbak Indriati………selamat bersenang di weekend kali ini,salam sejuk

  5. Dj.  14 April, 2012 at 02:16

    Maaf ada yang ketinggalan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.