Cinta Tanpa Kata

Gunawan Budi Susanto

 

Judul: Baran

Skenario: Majid Majidi

Sutradara: Majid Majidi

Pemain: Hossein Abedini, Mohammad Amir Naji, Zahra Bahrami, Hossein Rahimi, dan Hossein Mahjoob

Produser: Majid Majidi dan Fouad Nahas

Segmen: Dewasa

Tahun 1979, Afganistan diserang dan diduduki Uni Soviet. Saat sepuluh tahun kemudian tentara pendudukan terusir, negeri itu pun amat sunyi. Kerusakan akibat perang, kebrutalan penguasa Taliban, dan kekeringan tiga tahun membuat jutaan warga pergi meninggalkan negeri itu.

Di Iran, menurut perkiraan PBB, hidup 1,5 juta pengungsi dari Afganistan. Kebanyakan generasi muda pengungsi itu pun lahir di Iran serta belum pernah ke negeri leluhur mereka.

Banyak pengungsi bekerja secara ilegal. Tak ayal, mereka harus segera menyembunyikan diri setiap kali aparat pengawas tenaga kerja pemerintah Iran menginspeksi. Nasib mereka kian papa karena berupah kecil dan tak memperoleh jaminan keselamatan kerja.

Itulah latar yang membingkai kisah dalam film ini. Cerita berpusat pada Latif (Hossein Abedin). Pemuda pemberang itu bekerja di proyek pembangunan gedung di Teheran. Dia membantu Memar (Mohammad Amir Naji), pelaksana proyek, berbelanja dan menyajikan makanan dan minuman bagi para buruh bangunan berkebangsaan Iran, Kurdi, Turki, Lur, dan Afganistan.

Suatu saat dia dijadikan kuli bangunan. Dan, posisinya digantikan Rahmat (Zahra Bahrami), anak Najaf (Gholam Ali Bakhis), pengungsi Afganistan yang tak lagi bekerja karena kakinya patah akibat terjatuh dari lantai keempat. Latif marah dan memperlakukan Rahmat secara kejam. Namun setelah mengetahui rahasia Rahmat yang ternyata seorang gadis, perasaan pemuda Lur itu melunak. Diam-diam dia selalu memperingan beban penderitaan kerja sang gadis di tengah kekerasan dunia lelaki. Dan, itulah pernyataan cinta sang pemberang.

Maka dia pun tertempelak ketika aparat pengawas tenaga kerja memaksa Memar memecat semua pekerja Afganistan. Dia merasa tak mampu lagi bertahan, tanpa kehadiran Rahmat, si tambatan hati.

Judul film ini, Baran, diambil dari nama asli Rahmat, sang gadis. Baran, berarti hujan, hadir dalam gambar yang indah. Namun keindahan gambar yang memenangi kategori best picture dalam Festival Film Montreal, Kanada, 2001, itu justru memperkuat kesan betapa getir kehidupan para tokoh cerita.

Kegetiran nasib mereka, terutama para pengungsi Afganistan, tercermin dalam kebungkaman Baran. Ya, dia membisu sepanjang jalinan cerita. Kebungkaman itu merupakan pula simbolisasi ketertekanan pengungsi Afganistan, terutama kaum wanita, di negeri orang. Kebungkaman yang memendam hasrat obsesif untuk suatu saat, entah kapan, kembali ke negeri leluhur.

Karakter Baran yang membungkam bertolak belakang dengan Latif yang meletup-letup. Namun kebungkaman yang dingin, nyaris tanpa perubahan ekspresi, itu justru mengunjukkan daya tahan luar biasa. Daya tahan yang seolah tak bakal menggelincirkan dia ke tubir keputusasaan itu terbalut dalam tubuh belia yang berkesan ringkih.

Film garapan sutradara Majid Majidi, sutradara yang menuai keberhasilan di berbagai festival lewat filmChildren of Heaven, ini tidak terpeleset ke dalam penggambaran derita berlarat-larat. Bara optimisme tetap menguar. Dan, itu tercermin dalam kebungkaman Baran dan kemeletup-letupan Latif.

Pada pengujung cerita, Baran menutup cadar. Namun tatapan matanya menyala di balik cadar, sesaat sebelum meninggalkan Latif, kembali ke Afganistan bersama keluarganya. Dia “kembali” menjadi perempuan, sebagai tanggapan terhadap hasrat cinta Latif yang tak pernah terucap lewat kata. Dan, Latif? Dia tersenyum, menatap bekas alas sepatu Baran yang tercetak di lumpur, di bawah rinai gerimis.

Film ini, sungguh, bukan cuma indah secara filmis. Baran mencuat pula sebagai “dokumen sosial” yang mengharukan. Barangkali karena itu pula AO Scott dalam The New York Times menyatakan, “Baranmengunjukkan kekuatan sinema. Ia menjelmakan kenyataan hidup sehari-hari ke dalam penggambaran yang liris dan penuh keagungan.” (gunawan budi susanto)

 

6 Comments to "Cinta Tanpa Kata"

  1. J C  16 April, 2012 at 10:33

    Kang Putu, sepertinya cerita dalam fim ini kuat sekali ya. Ditambah baca komen mas Sumonggo, sepertinya memang film-film Iran membawa pesan yang sangat kuat. Aku belum pernah coba nonton sih. Coba aku lihat-lihat di tempat langgananku, nanti dibeli nambahi koleksi…

    Sinetron dan film Indonesia? Walaaaaahhhh…ya gitu lah…genre paling mustajab dari jaman aku kecil ya pocong, hantu, setan, kuntilanak, semuanya horor murahan, belakangan ditambah suster-suster yang ngesot, nglemprak, ngepot, ndlosor dan ngowoh segala… belum lagi sinetron sampah yang isinya mata melotot, mulut menjap-menjep mecucu nyinyir ala Dinasti Punjabi…

  2. Lani  16 April, 2012 at 02:01

    KANG MONGGO : film2 Indonesia???? mrk bukannya ndak bs bikin film bagus, bermutu……….tp mrk ndak mau merugi, jd ya mbuntut selera pasaran yaitu film2 sampah……spt yg kang Monggo tuliskan, kuntilanak, trs apa itu yg ngesot2…..setan, demit……..klu ndak mengumbah arus bawah…….kemewahan……nangis2, pokok-e ora mutu blassssssss……..ya mo gimana lagi????? itu film gampang, murah biayane, dan larissssssssss……….mengeduk do-it to??????

  3. Indriati See  16 April, 2012 at 01:53

    @Mas Gunawan dan @Mas Sumonggo
    Terima kasih tuk infonya … saya setuju dengan pendapatnya Mas summonggo tentang film2 Iran …

    Untuk perfilman Indonesia … saya tidak bisa banyak berkomentar … TST

    Salam bahagia selalu dari seberang …

  4. Handoko Widagdo  15 April, 2012 at 07:20

    Kapan ya Kang Putu alias Mas Gunawan membuat film….setidaknya skenario.

  5. Chadra Sasadara  14 April, 2012 at 12:49

    cintah yg berkelindan dengan nasib papa selalu memberikan gambaran pilu, menyentuh sekaligus keindahan. terima kasih

  6. Sumonggo  14 April, 2012 at 11:14

    Film-film Iran memang luar biasa, sejak Children of Heaven dan Turtles Can Fly, saya jatuh cinta pada film Iran. Jenuh dengan layar yang didominasi genre Hollywood. Sayang, televisi kita sangat irit memutar film Iran. Adakah yang tahu dimana bisa memperoleh film-film berkualitas seperti ini? Offside, Buddha collapsed out of shame, White balloon, No One Knows About Persian Cats, The Silence, The Song of the Sparrows, The House is Black (Forough Farrokhzad), Taste of Cherry (Kiarostami), Where’s the Friend’s Home? Kiarostami), The Colour of Paradise (Rang-e Khoda), Crimson Gold, A Time for Drunken Horses, About Elly,
    Scream of the ants, Leila
    Perfilman kita perlu belajar banyak dari sineas Iran, membuat film berkualitas dan membumi, tanpa perlu mengumbar pocong, kuntilanak, dan segala kejorokan dan hura-hura.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.