Hanya Jika (4)

Anoew

 

ELANG

“Ini tanganku untuk kau genggam, ini tubuhku untuk kau peluk
Ini bibirku untuk kau cium, tapi tak bisa kau miliki aku”  (*)

 

Melirik ke jam tangan yang sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, saya bertanya-tanya dalam hati kenapa dia belum menelepon atau, paling tidak menyapa lewat gtalk seperti kebiasaan bila kami sedang berjauhan. Toh dia ada BB yang mendukungnya untuk selalu online tiap saat 24 jam sehari, kecuali saat dia tidur atau lagi di WC. Tapi entahlah.., dan ini membuat saya sebal. Meneruskan membaca sambil sesekali melirik ke chat window saya berharap ia muncul dan menyapa seperti biasanya karena saya tahu benar bahwa dia itu seorang yang benar-benar membutuhkan belaian kasih sayang, dan akan resah bila tak mendapatkannya sebentar saja. Lalu seperti ada jalinan batin yang kuat, tak lama kemudian gelembung itu muncul di sudut kanan bawah monitor dan ia menyapa, “hai cantik.” Saya tersenyum dan membalasnya dengan, “halo jelek” yang lalu dijawabnya dengan icon :-* Saya lantas bertanya tentang pekerjaannya, apa saja yang dia lakukan di lapangan dan bagaimana pertemuannya dengan pihak tripika.

Dia menceritakan keluh kesahnya tentang betapa sulit menemui seorang Camat yang lagaknya sudah mirip pejabat tinggi saja, susah ditemui. Saya tertawa, dan menyarankan supaya kembali saja nanti setelah usai jam makan siang, tentu dengan janjian lebih dulu via telepon. Ia menolak dan lebih memilih menunggu saja di kantor kecamatan karena menurutnya, ada staf kecamatan wanita yang menemaninya. Hmm.., saya menghela nafas lantas mengetik di chat window “cakep nggak?” yang dijawabnya dengan, “iya sih, tapi nggak secantik kamu.” Hal itu membuat saya makin sebal dan dengan gemas mengingatkannya supaya jangan kecentilan di sana sementara saya di sini menungguinya sendiri. Huh.. enak saja!

Berbagai perbincangan tentang segala hal dengannya membuat waktu terasa cepat berlalu hingga tak terasa sudah pukul dua belas kurang dan setelah itu, ia berpamitan tanpa mengatakan hendak kemana atau mau apa, hanya ia berjanji akan menghubungi lagi setelah mengetikkan :-* sebanyak dua kali di layar. Saya tak hendak menanyakan, hanya mengingatkannya supaya ia me-charge BB-nya di kantor itu sekalian makan siang. Ia setuju, lalu saya kembali melanjutkan membaca ceritanya, sambil menikmati coklat yang keempat.

***

Sore itu sehabis magrib saat sedang berbaring di kamar, kakak perempuanku masuk tanpa mengetuk pintu dan berkata bahwa ada Rere yang sudah menunggu di teras. “Tumben kok dia dateng lagi? Si Ria kemana?” tanyanya curiga.

“Tau..” Aku mengangkat bahu sambil berjalan melewatinya.

“Elu selingkuh lagi, ya?!” Dia tersenyum dengan matanya terus menatapku.

Tanpa menghiraukan pertanyaannya aku segera menuju ke teras dan kujumpai di sana seorang gadis dengan senyumnya sambil jari tangannya mengacung membentuk huruf V. Aaah, dia sudah berubah sekarang, tidak ada lagi kemanjaan di matanya. Ia tampak lebih dewasa dengan setelan kemeja dan rok mini yang dikenakannya. Rambutnya sudah dipotong sebahu. Dadanya semakin montok dan membusung, tidak lagi seperti dulu saat pertama kukecup putingnya, buah dadanya belumlah selesai tumbuh. Ke bawah, kulihat indah dua batang paha putih menyapa dari balutan rok mininya.

Rere menghampiriku dan mengulurkan tangan. “Kok bengong?”

Aku tersenyum lantas menyuruhnya duduk. Rere mendudukkan tubuhnya di atas meja teras, tepat di sampingku duduk. “Aku butuh bantuanmu kali ini”, ujarnya tanpa basa-basi sambil menyilangkan kaki kanannya.

“Hmm, apa yang membuatmu yakin kalau aku bisa membantu?” Sahutku sambil melirik ke pahanya.

Dia tersipu. “Aku punya pacar..,” ujarnya kemudian sambil menatapku.

Aku mulai menyulut rokok sambil mengangguk.

“….tapi putus seminggu yang lalu,” sambungnya kemudian. “Waktu itu memang kurasa aku yang salah sih.. Jadi malam ini, pas hari ulang tahunnya, aku pengen minta maaf.”

Aku memandangnya dengan heran. “Lalu apa perlunya aku di sana?”

“Umm..,” ia menggaruk dagunya. “Pokoknya aku pengen kamu ada di sana..”

Wanita memang susah dimengerti, apalagi dalam beberapa masalah yang menyangkut perasaannya. “Baiklah,” jawabku tanpa pikir panjang. “Mau berangkat sekarang?”

Rere tertawa girang lantas berdiri dan berkata “yuk”, lalu melangkah mendahuluiku ke pagar teras. Saat itu aku sungguh terpesona. Ia tampak semakin anggun dan menarik, hingga aku nyaris tak percaya bahwa gadis itu pernah kupermainkan perasaannya dengan keji enam bulan yang lalu. Rere tersipu lagi saat menyadari aku tak berkedip, lantas mengayunkan tinju mungilnya. Memukul bahuku. “Masih aja ya.., matamu mesum! Ayuk ah..!” Ujarnya dengan senyum dikulum, lalu menyeret tanganku. Aku nyengir, lantas menghidupkan motorku yang entah sudah ada berapa tapak pantat gadis di sana selama ini.

Saat melajukan motor dengan Rere yang memeluk pinggangku erat, aku masih terdiam dengan pikiran ini melayang ke masa lalu saat-saat masih bersamanya. Meskipun begitu, aku tak tahu harus berkata apa dan tak tahu harus memulai dari mana. Aku sudah tidak pernah lagi menjumpainya sejak drama tragedi di depan kostnya dulu itu. Menelepon pun hanya sekali, yaitu beberapa hari setelah kejadian itu, hanya untuk meminta maaf yang bersambut tangisan tanpa ada kata terucap.

Tidak berapa lama kemudian kami sampai di depan hotel tempat pesta ulang tahun itu diadakan. Rere tidak menunggu sampai aku mematikan mesin saat mendadak dia turun dari boncengan dan berujar, “kamu tunggu aja ya, mau kan? Enggak lama kok…”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Dasar,” desisku yang dibalasnya dengan leletan lidah dan lambaian tangan.

Tak berapa lama kemudian aku sudah keluar dari pelataran hotel, dan kebingungan. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang sedang kulakukan di sini. Dan sekarang, apa yang akan kulakukan? Akhirnya motor kuarahkan ke warung yang tak terlalu jauh dari hotel itu lalu memesan kopi, lantas sambil merokok pikiran ini melayang ke saat-saat pertama bertemu dengan Rere hingga akhirnya berpisah saat aku sengaja membawa gadis lain yang kukenalkan sebagai tunangan.

“Ini tunanganku,” begitu kataku sambil melirik ke arah Ria yang berdiri di sebelah sambil melipat tangan ke dada.

Saat itu Rere memandang dengan wajah berkerut. Kurasa ia sangat bingung waktu itu. Tidak ada keributan antara kami sebelumnya, tapi mendadak siang-siang aku datang ke kostnya dengan membawa seorang gadis lain dan mengakuinya sebagai tunangan.

“Aku enggak tau.., ini maksudnya apa..,” waktu itu ia terbata, “aku nggak paham..”

“Enggak ada yang perlu kamu tau, nggak ada yang perlu kamu paham. Aku cuma mau ngasih tau, ini tunanganku. Titik!” Ucapku cepat saat itu, lalu membalikkan tubuh sambil menggandeng tangan gadis di sebelahku.

Rere menyusul lalu menghentikan langkahku, jemarinya mencengkeram lenganku. “Zosh.. aku.. aku nggak ngerti..!” Saat itu aku menepis lengannya, tapi ia kembali mencengkeram. Akhirnya kugenggam pergelangan tangannya dengan kasar, menariknya, dan menyentak. “Dia tunanganku. Ngerti?! Aku pergi!” Desisku saat itu. Rere menjerit saat itu, meneriakkan namaku dengan air matanya mengucur. Aku menatapnya dengan dingin. Aku lupa bagaimana rasanya waktu itu. Yang kuingat hanyalah, bahwa aku berlalu dan menghidupkan mesin motor lantas pergi dengan meninggalkan kepulan debu di belakang.

Selang beberapa saat setelah sampai di rumah Ria dan duduk di teras, aku menatap gadis itu dengan pandangan kosong dan, menangis. Percayalah, aku memang seorang yang mudah menangis. “Puas?” tanyaku waktu itu. Dan Ria hanya mengangkat bahu. “Entahlah,” ia menjawab.” Kalau kamu enggak rela kita bisa balik ke kostnya sekarang.” Sahutnya dengan pandangan lurus ke depan. Dan saat itu aku hanya terdiam. Permainan yang kami lakukan saat itu adalah, permainan dosa.

Mengingat semua itu membuat mulutku pahit, bukan hanya karena telah lima batang rokok kuhisap. Pahit karena ternyata benar bahwa aku seorang bajingan yang dengan entengnya mempermainkan hati perempuan, meskipun itu sebenarnya kulakukan atas permintaan Ria yang saat itu menodongku agar memilih dia atau Rere. Saat itu aku galau sungguh. Bagaimana tidak jika, Ria yang berulang kali berkhianat dan aku yang sedang menikmati waktuku dengan gadis lain bernama Rere, mendadak ia kembali dan memaksaku dengan pilihan yang sungguh sulit kurasa. Tapi baiklah, memang aku lebih memilih Ria, gadis yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Dan setelah peristiwa itu, aku semakin bingung apakah tindakanku saat itu dengan memutuskan hubungan dengan Rere dan mengakui Ria sebagai tunanganku betul atau salah.

Saat akan menyulut rokok yang keenam, kulihat gadis itu di loby hotel dengan matanya yang kesana-kemari. Sepertinya ia mencariku. Lalu sambil menyalakan mesin motor dan menghampirinya aku bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya yang dia sebut pesta itu dimana sih? Sepertinya tak tampak suatu kegiatan hingar-bingar di sana. Hotel itu sendiri tak asing lagi bagiku karena beberapa kali aku datang ke hotel itu dengan gadis-gadisku untuk bermalam atau, sekedar meluangkan waktu-waktu menjemukan di ruang karaokenya. Tapi kalau pesta ulang tahun, entahlah.

Rere tersenyum saat melihatku datang, namun sekilas dapat kutangkap raut sedih saat aku memandang wajahnya. Hmm wanita.., tak akan pernah reda dilanda kebingungan. Lalu ia naik ke boncengan motor tanpa memperdulikan pandangan nakal satpam yang melahap betis dan pahanya, indah mengkilat diterpa lampu dari loby hotel.

“Zosh,” kudengar ia berbisik. Bibirnya menempel di telingaku. “Bawa aku pergi dari sini.”

Aku menarik napas panjang dan mengusap-usap pahanya dengan lembut. “Aku tau.. aku tau..”

Tak berapa lama kemudian motor yang kami naiki sudah meninggalkan gerbang hotel dan selama beberapa puluh meter selanjutnya, tak ada satu patah pun kata yang terlontar antara kami. Aku pun membiarkannya larut dengan perasaannya sendiri dan mulai merasa pasti dengan dugaanku tentang seorang gadis yang patah hati, yang mengharapkan laki-laki dengan penuh kasih sayang akan tetapi lantas hilang. Dan saat ingin kembali, justru kenyataan yang pahit yang ditemuinya! Dulu aku juga yang melakukannya pada gadis yang sedang terisak di punggungku saat ini. Ah Rere, maafkan aku yaaa…, maafkan aku. Aku benar-benar seorang bajingan. Barangkali memang aku tidak usah menemuinya tadi sore. Mungkin akan lebih baik jika aku pura-pura tidur atau menyuruh kakak perempuanku mengatakan kalau aku tak ada di rumah.

“Zosh,” gadis itu kembali mendesah di telingaku.

“Apa?” sahutku tanpa menoleh.

“Ke taman, yuk?! Kayak dulu. Aku kangen…”

Aku tertawa. Lalu menggelengkan kepala, “Enggak ah. Ini udah malem, kita pulang aja.”

“Zosh..!” Dia mendesak. Maksudku dalam arti sesungguhnya yaitu, menekankan dadanya ke punggung hingga kurasakan usapan lembut itu.

Aku menghela nafas, mengeluh dalam hati. Ia tahu betul kelemahanku dan aku masih ingat, bila ia berkehendak akan susah untuk menentangnya. Apalagi jika sudah memakai acara mendesakkan dada. Maka kubelokkan motor tepat di persimpangan di depan, tak perduli dengan lampu merah yang menyala dan rambu “Belok Kiri Ikuti Isyarat Lampu”. Tidak ada yang kupikirkan saat itu dan sesekali, isak tangisnya terdengar samar di antara desis angin malam dan kelap lampu jalan yang berlari. Selang beberapa meter menjelang gerbang Taman Kota, Rere menggenggam lengan kiri atasku lalu, “stop!”

“Di sini?” tanyaku heran sambil menoleh ke belakang, hendak memastikan.

“Iya.”

Akhirnya kuinjak pedal rem, dan motor kuarahkan ke pinggir di jalanan yang sepi, dimana ada sebuah bangku yang meskipun agak kotor, tapi sepertinya lumayan buat tempat duduk.

“Aku mau nangis,” ia berkata. “Tapi aku tau kamu pasti nggak suka.”

“Iya, aku nggak suka cewek cengeng. Tapi..”

“Kalau mau nangis, nangis aja.. iya, kan?!” Sahutnya.

Aku tertawa kecil. Ia ikut tertawa.

“Jadi,” ucapku beberapa saat, “ada orang lain kah?” sambungku sambil tersenyum. Mencoba bersimpati.

Rere mengangguk tanpa menoleh. Dari sudut mataku, kulihat ia memandang ke arah sepatunya dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya membasah.

“Sssssh, jangan sedih terus-terusan gitu dong..”, ujarku kemudian. Masih dengan senyum.

Rere menoleh lalu menggeleng, “Aku enggak papa kok.. Soalnya udah pernah.”

Senyumku jadi garing seketika.

“Aku mau dipeluk..” mendadak kata-kata itu keluar darinya.

Tuhan…, aku berbisik dalam hati. Apa yang ia pikirkan saat ini? “Jangan. Aku nggak mau,” ucapku lalu menundukkan kepala. Aku tak mau ‘hal-hal yang diinginkan’ terjadi lagi di luar dugaan.

Rere tertawa. Nadanya sumbang. “Sudah kuduga. Padahal aku kangen pelukanmu, makanya aku ngajakin kamu tadi.” Ia menghela nafas dalam-dalam. “Yaaah.., mungkin aku emang nggak layak buat dicintai siapapun.”

“Re..!” Ucapku dengan nada protes. Kupalingkan wajahku dan sedikit terenyuh saat ia juga sedang menatapku. Tatapannya kosong. Ia tersenyum, dan kosong pula.

“Semenit aja.. Please..!”

Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Tapi tanganku bergerak lebih cepat dari otakku. Terangkat, lalu merengkuhnya dalam dekapanku, membelai rambutnya, mengecup ubun-ubunnya. Lalu yang terjadi kemudian adalah, aku membiarkan gadis itu menangis sejadi-jadinya. Ia tersedu dan makin bergetar di dadaku. Sementara aku hanya dapat diam tak bergerak, sambil mengawasi situasi jalanan yang memang sepi tapi siapa tahu, ada orang iseng yang berniat merusak suasana ini. Lima menit lamanya kubiarkan ia seperti itu sampai akhirnya ia menarik tubuhnya. Matanya masih basah. Kujulurkan tanganku mengusap air mata yang mengalir di pipinya sambil memprotesnya, “katanya semenit, kok jadi lima menit?”

Rere tersenyum lalu menyahut, “trims Zosh.”

Aku juga tersenyum.

***

Membaca sampai di sini saya ikut merasakan kehangatan laki-laki itu yang, sepertinya rela meluangkan waktunya untuk setiap gadis. Di sisi lain saya juga merasakan kesakitan seorang gadis yang bernama Rere saat ditinggalkannya sekaligus juga benci luar biasa kepada Ria yang menjadi monster saat itu. Monster yang dingin dan menakutkan. Sambil menggeser pantat yang mulai terasa panas di kursi, saya melanjutkan membaca kisahnya.

***

Saat itu di mataku, ia berubah menjadi Rere yang dulu, Rere yang kekanak-kanakan saat pertama aku berjumpa dengannya. Ia suka melipat bibir bawahnya dan gayanya saat mengusap air mata, terlihat menggemaskan dengan bulu matanya yang lentik itu ikut melayu bila bersedih. Sesaat aku kembali merasakan rasa sayang yang muncul di dadaku.

“Kamu tau sesuatu, nggak?” Ia bertanya, sambil mengusap sudut matanya yang lain.

“Hmm..?” gumamku dengan nada bertanya.

“Susah mencari penggantimu.”

“Aaah…!” Aku menggeleng, menolak pendapatnya.

Iya.” Ia mengangguk dan tersenyum. Senyum yang tawar.

“Sudahlah..,” tukasku, “yang penting kan aku sekarang ada di sini, nemenin kamu. Aku masih sayang kamu kok..” Keceplosan, dalam hati aku memaki diriku sendiri. Husss! Mulutmu itu..!

Ia semakin lebar tersenyum. Bukan lagi senyum yang tawar. “Iya. Aku tau itu. Kamu bisa juga baik pas lagi jahat.”

Aku terdiam. “Kamu belum bisa memaafkan aku, ya?” tanyaku kemudian.

Rere menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah menduganya”, ujarku sambil menggaruk kepala.

“Tapi aku tau..”

“Tau apa..?” Aku mengangkat alis sambil menatap matanya.

“Iya aku tau..,” desisnya. “Semuanya bohong, kan?!”

“Maksudnya?”

“Tunanganmu itu. Gadis yang kamu akui sebagai tunangan dulu itu, sudah meninggalkanmu kan?!

“Aku…”

“Karena memang ia nggak pernah kamu miliki dan, waktu itu kamu cuma mau bikin aku sakit hati.” sambungnya tajam.

“Aku.. aku..”

“Iya!”

Di hadapanku, mendadak Rere seolah berubah menjadi sosok yang menakutkan dengan jemarinya menuding ke arahku. Seolah mengatakan ‘kamu jahaaat..!’

“Kamu tau dari mana..?” desahku tanpa berani memandangnya.

Kudengar ia mengeluh, “..aku selalu di belakangmu, Zosh. Selalu.”

Aku menoleh lemah ke arahnya. “Dan kamu mengajakku ke sini cuma mau mentertawaiku?”

Dia menggeleng. “Aku menyayangimu.” Ujarnya sambil mengusap punggungku.

Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Rasa sayang, memang berbeda arti dengan cinta.

“Sini, deh. Aku mau kasih tau kamu.” Ia menggapai lenganku, melingkarkannya di lehernya lalu mengulum bibirku. Tanpa sadar itu membuatku terpejam. Terpejam..!

“Jangan, Re..!” desahku menggeliat sesudahnya. Aku sadar apa yang akan ditunjukkannya padaku. Aku tahu sekali.

“Ssst.., diem!” Ia berbisik. “Aku mau kamu dengar ini.”

“Jangan, Re. Jangan! Aku nggak mau dengar!” Aku berusaha mendorongnya menjauh, tapi ia menekanku dengan berat tubuhnya.

***

Hati saya semakin panas dan mengutuki gadis itu, yang menurut saya sama kejamnya dengan gadis yang dia sebut dengan nama Ria. Tak sadar mulut ini mengunyah coklat dengan geram dan meremasi bungkusnya dengan gemas.

***

“Zosh, dua minggu yang lalu aku masih mencintainya. Aku berusaha keras membangun cintaku padanya,” Rere menarik napasnya lalu menghembuskannya di bibirku. “Zosh,” lanjutnya masih mendesah, “Ia melamarku..”

Aku tercekat sampai di situ dan tak hendak mendengarkan ceritanya lagi tentang percintaannya dengan kekasihnya. Aku meronta.

“Jangan bergerak!” mendadak suaranya terdengar tegas dan memerintah.

Aku terdiam dan memejamkan mata. Ya Tuhaaaan, bisikku, mengapa pertobatanku tak Kau kabulkan?

“Ia melamarku,” kembali ia melanjutkan. “Dan kamu tau kan, kalau laki-laki mengajak menikah, pasti ada maunya.”

Jangan, pekikku dalam hati. Hentikan cerita ini sampai di sini. Tapi gadis itu bersikeras.

“Memang, Zosh,” ia mendesis. Gadis itu kembali menempelkan bibirnya dan jemarinya menelusup ke dadaku di antara kancing kemeja yang direnggutnya, mengusapi puting susuku.

“Ia meniduriku, Zosh.” Suaranya bergetar. “Ia meniduriku.. hhhhh..! Ia meniduriku semalam suntuk!” Rere memekik di depan wajahku, kurasakan ludahnya menyembur.

“Re..! Stop!!” aku meringis merasakan tangannya yang kian mencengkeram putingku dengan keras.

“Dan ia mencampakkanku setelahnya!”

“Rere..!” aku berteriak sekuat tenaga, dan meronta.

“Aku memang sudah bukan perawan lagi, Zosh! Berapa kali dulu kita melakukannya, hah?! Lalu dengan pacarku itu, kami pun sering melakukannya! Berulang kali karena aku yakin dengannya dan ia berjanji mau menikahiku. Tapi saat aku telat mens dan bermaksud memberinya kejutan di ulang tahunnya, dia mencampakanku! Dia mencampakkanku! Apa salahku, Zosh..??!!”

Rere menangis. Aku juga menangis. Ya Tuhaaan.., inikah balasannya? Inikah balasan dari ulahku yang pernah menyakiti hatinya? Kalau memang dia sedih hati, kenapa aku harus merasa lebih sedih lagi? Aku sungguh tak tega melihatnya menangis untuk kesekian kalinya. Dan waktu itu aku berharap keadaannya akan menjadi baik, bukan malah seperti sekarang ini. Ampuni aku Tuhan…, ampunilah aku..!

“Aku tadi mau mengenalkannya kepadamu, berharap hubungan kita baik-baik saja seterusnya,” ia menyambung.

“Tapi sayang, Zosh,” Rere mengeluh. “Sayang karena ternyata ia lagi asik bercinta dengan gadis lain di hotel itu tadi. Aku memergokinya.”

Aku tercekat. Kedua tanganku yang menutup telinga tak kuasa menahan susupan suaranya.

“Zosh!”

Aku nyaris tidak mendengar ia memanggil namaku. Tapi kemudian kurasakan jemarinya menjambak rambutku dan tangannya yang lain menepis kedua tanganku dari telinga, lantas menatapku tajam. “Aku rasa sudah cukup. Antar aku pulang. Cepat..!”

Aku tak kuasa bergerak lagi. Lemas kurasa.

“Dasar tukang mempermainkan gadis! Heran aku kenapa dulu bisa menyukaimu!!”

Kudengar ia mengumpat beberapa kata lagi sebelum akhirnya melemparkan kepalaku ke bawah, menghantam lututku sendiri. Tidak ada sakit fisik yang kurasakan saat itu, hanya sakit di jiwaku ini.

***

Melirik ke jam tangan, ternyata sudah menunjukkan pukul satu. Pantas saja perut saya terasa lapar. Membuang bungkus coklat keempat yang kusut masai karena tanpa sadar saya remas-remas, saya mulai berpikir tentang dia. Sosok laki-laki yang saya sayangi itu ternyata mempunyai masa lalu yang kelam. Masa lalu yang berliku. Entah apa yang membuatnya seperti itu, yang harus menjalani kisah percintaan memilukan sejak dari awal. Pengkhianatan? Saya rasa tidak juga. Dia melakukan pengkhianatan hanya sekedar untuk memuaskan hati si Ria, gadis pertama kali dimana ia menaruh harapan besar yang ternyata kemudian salah. Lalu mencoba mencari kebahagiaannya sendiri dengan terbang kesana-kemari tanpa mau dimiliki hatinya oleh siapa pun terkecuali Ria.

“Aku adalah mimpi-mimpi sedang melintasi
Sang perawan yang beramain dengan perasaan” (*)

(*) Lyric lagu “Elang – Dewa 19”

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

36 Comments to "Hanya Jika (4)"

  1. sisca  7 June, 2012 at 13:36

    Cantiknya foto di pinggir pantaaiii…sapa ya?

  2. Dewi Aichi  19 April, 2012 at 21:39

    Ke taman yuk…kayak dulu….aku kangennnnn..!

  3. Linda Cheang  17 April, 2012 at 11:14

    Kang Anoew, maksude, di pass itu, rok mininya? hehehe…

  4. Chadra Sasadara  17 April, 2012 at 09:43

    spertinnya ini CERITA PESANAN. ayoooo ngaku siapa yg pesan cerita ini..hehehhe

  5. [email protected]  17 April, 2012 at 07:37

    Zosh….. Zosh Zen? atau Zoseph Zhen?…..ahhh… hanya jika….
    ihihhihiihhihiihhiihhi….

  6. Lani  17 April, 2012 at 05:40

    AY : sek…..sek……emank dikau udah pernah ketemu sosok buto? la nek gede duwur, angklung2 koyok cagak listrik yo iyoooooo……….tp putih??? koyok sapi maksudmu????? nah, kuwi kudu dipentelengi sik…….utk sepakat klu dia putih…….kebo bule kaleeeeeee

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.