Manusia Baru

Wesiati Setyaningsih

 

Sudah lama saya mendengar pesan teman-teman,

“Jangan menganalisa. Jangan menghakimi. Jadilah pengamat sejati.”

Kalimat itu berulang-ulang saya dengar. Sialnya, sekeras apapun saya berusaha, paling Cuma mampu saya lakukan sementara. Tetap saja saya mudah sekali menghakimi dan menganalisa berdasarkan semua pengalaman masa lalu, trauma-trauma dan hal yang pernah saya alami sebelumnya. Lantas saya lupa bagaimana menjadi pengamat sejati.

Lebih sial lagi karena banyak pengalaman dan trauma-trauma yang masih sering muncul meski sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun lalu lewat.  Mereka datang timbul tenggelam. Suatu saat mereka pergi menjauh. Di saat lain tiba-tiba menyerang tanpa ampun. Yang bisa saya lakukan kalau bayangan mereka datang, saya Cuma bisa menggelengkan kepala dan berteriak dalam hati,

“Go..! Just go… Leave me alone! Tolong, pergi…”

Sekejap mereka pergi. Tapi tetap saja di saat lain mereka datang dan datang lagi. Usaha saya jadi tak terlalu berarti. Ketika saya membaca buku “Joy of living”nya Mingyur Rinpoche, saya tertumbuk pada sebuah barisan kalimat,

“Jika anda takut kepada bentuk-bentuk pikiran anda, anda memberikan mereka kekuatan untuk mengalahkan anda, karena mereka kelihatannya sangat solid dan jelas, sangat nyata. Dan semakin anda takut kepada mereka, mereka terlihat semakin kuat. Tetapi ketika anda mulai mengamati bentuk-bentuk pikiran anda, kekuatan yang anda berikan kepada mereka mulai menghilang.”

Rinpoche adalah seorang yang sudah dinobatkan sebagai pemuka agama sejak dia masih kecil. Dia tahu benar bagaimana ketakutan dan kecemasan menyergapnya tanpa ampun karena mesti menghadapi situasi yang dia rasa belum siap dia hadapi. Tak heran dia bisa menjabarkan itu semua dengan tepat.

Memang itulah yang terjadi. Semakin saya takut pada bayang-bayang yang muncul dalam pikiran saya, semakin bayang-bayang itu muncul berulang-ulang. Timbul tenggelam. Saya seperti kanak-kanak yang ketakutan pada suara gemerisik daun di malam hari dan merasa para hantu sedang mempersiapkan diri menyerang saya. Padahal andai saja saya berani keluar dan menatap halaman di gelapnya malam, tak akan ada satupun hantu yang saya bayangkan sebelumnya akan terlihat. Mungkin begitulah perumpamaannya.

Dengan membaca buku Rinpoche ini, pelan-pelan saya mengikuti apa kata beliau untuk terbuka dan sadar terhadap bentuk-bentuk pikiran. Pikiran itu, tulis Rinpoche, seperti sungai. Jadi tak ada gunanya menghentikan aliran sungai. Sama juga menghentikan detak jantung atau nafas kita sendiri. Buat apa? Tidak mungkin bisa.

Jadi sekarang kalau bayangan itu muncul, seperti bayangan yang menyakitkan saat saya dulu dicubitin ibu  di usia sekitar 5 tahun, saya mencoba untuk mengamati pikiran saya. Saya mengamati respon perasaan saya sendiri. Saya tidak lagi mengibaskan kepala dengan kesal dan menyuruhnya pergi. Entah kenapa, meski awalnya masih sering terbawa, lama-lama bayangan-bayangan seperti itu bisa terlepas sendiri.

Dan tibalah saya pada situasi yang digambarkan Rinpoche, yaitu membiarkan pikiran berputar sesuka mereka, seperti orang dewasa memperhatikan anak-anaknya bermain.

Kalau awalnya durasi antara terbawa pada bayangan sampai ke terlepasnya bayangan dari benak saya cukup panjang, bahkan saat pertama kali saya seperti orang yang tenggelam dan menggapai-gapai ranting di tepi sungai, lama-lama jaraknya mengecil. Jadi setiap kali bayangan masa lalu itu datang, tak berapa lama kemudian bayangan itu terlepas dari kepala saya. Itu karena tiap kali bayangan itu datang, saya justru berusaha menoleh ke arahnya. Bukan lagi berlari menjauh darinya atau menyuruhnya pergi jauh-jauh.

Saya kira andai saja saya bisa melepaskan pengalaman masa lalu, bahwa ibu saya suka marah-marah dan berarti sampai sekarang masih suka marah-marah, mungkin saya bisa mulai melepaskan penghakiman. Ibu saya suka marah-marah? Itu kan dulu. Sekarang mungkin berbeda.

Entah kenapa saya tiba pada suatu pemikiran bahwa andai saja saya bisa melakukan hal itu pada semua hal, saya bisa saja menemukan banyak hal yang berbeda. Bisa saya mampu menatap segala sesuatu yang ada saat ini dengan apa adanya saat ini, tanpa dipengaruhi prasangka dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya bisa saja jadi manusia baru.

Manusia baru yang lebih damai, tenang dan bahagia. Siapa tahu…

 

Terima kasih untuk mas Herry Anggoro yang sudah mengirimkan buku “Joy of Living” ini pada saya…

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

17 Comments to "Manusia Baru"

  1. EA.Inakawa  17 April, 2012 at 23:57

    Wesiati ” siapapun pasti mengalami hal yang sama dengan berbagai bentuk alam pikirannya……anda tidak sendirian. Ada yang bilang perbanyak saja aktivitas,hindarkan kesendirian. salam sejuk

  2. Itsmi  17 April, 2012 at 21:34

    Silvia, apa yang kamu tulis untuk saya itu tidak gaget karena saya kira wajar wajrlah sebagai puberal….termasuk benci pada diri sendiri…. berontak itu hal yang sehat… proses melepas……begitulah manusia yang menuju ke kedewasaan…
    tentu saya tidak tau, persoalan kamu sebagai pribadi… tapi problem itu waktu puber keluar lagi… itu juga tidak masalah, bedanya kalau sudah dalam pernikahan, mendat feedback langsung… itulah kelebihan dari pernikahan….

    kalau wanita sebagai pelaku itu juga terjadi cuma tidak umum….

  3. Silvia  17 April, 2012 at 16:43

    Wesiati: Dari pengalaman saya untuk belajar mengampuni, mencoba mengerti itu juga levelnya beda-beda dan butuh proses deh. Tidak semudah membalikkan tangan. Apalagi kalau kita dipermalukan dimuka umum oleh org tsb. Respon kita menunjukkan sejauh mana rasa pengertian kita terhadap sesama dan apakah kita tahu jati diri kita sebenarnya dihadapan Pencipta. Kadang2 terlalu banyak pujian yg berlebihan yang diterima seseorang bisa membuat dia lupa diri.

  4. Silvia  17 April, 2012 at 16:35

    Wesiati, terima kasih buat balasannya yang lengkap. O, iya Itsmi itu cowo sejati loh. Seneng lihat cewe pakai rok mini, seneng lihat cewe cakep, dsb…..(betul kan Itsmi? )Dipanggil mbak nanti dia mengalami bingung sendiri loh. Hihihi……

    Ya yang jelas memang (buat saya) pikiran yg masuk itu kudu dikelola. Yang tidak sesuai dengan FirmanNya, kudu dibuang ke tempat sampah segera. Kalau ingatan masa lalu datang lagi, ya kadang memang saya harus nasehati jiwa saya sendiri.

    Betul baik sekali untuk mencoba mengerti latar belakang seseorang agar kita bisa melepaskan pengampunan dan rasa mengerti terhadap seseorang.

  5. Silvia  17 April, 2012 at 16:26

    Selamat pagi Itsmi.

    Kalau Itsmi jadi salah satu orang tua saya dulu, entah kuat atau tidak punya anak seperti saya. Saya saja saat itu suka merasa benci sekali sama diri sendiri. Residu apa yang pernah saya alami ketika saya kecil sampai masa-masa saya masih berusia belasan ini sempat keluar loh di pernikahan kami. Saya sendiri terkejut. “Loh koq ini muncul lagi?” Saya sampai bilang sama suami bahwa saya berterima kasih sekali atas kasih tanpa pamrihnya dia terhadap saya.

    Makanya kalau ada yang menduga saya ini cewe lemah lembut…..wah ini dugaan meleset sekali

    Yang saya ceritakan di komen sebelumnya itu pelaku kekerasannya malah sang wanita dan dia cerita memang bawaannya mudah sekali marah-marah dan ingin pukulin orang. Dia juga cerita kalau dia marah sama orang itu tidak cepat lupa dan tidak mau memaafkan cepat-cepat.

    Kalau pria yang jadi pelakunya, memang yg saya tahu juga kebanyakan papa-nya mereka dulunya juga begitu. Mereka sendiri sebetulnya tidak suka mereka menjadi seperti ayahnya, tapi ya begitu kalau sudah marah bawaannya jadi keras begitu.

  6. Itsmi  17 April, 2012 at 14:07

    “Jangan menganalisa. Jangan menghakimi. Jadilah pengamat sejati.”

    caba kamu amati kalimat ini, untuk saya kalimat ini BULL SHIT. tidak ada dasarnya.

  7. Itsmi  17 April, 2012 at 13:49

    mengamati pikiran itu wajar dan banyak yang melupakan untuk melakukannya tapi bukan berarti kita hanya mengamati aja karena kalau kita hanya berkonsentrasi ke dalam, siapa bilang bahwa apa yang kita amati itu benar….. ? orang yang berteori mengamati dengan menulis buku dia juga mendapat feedback….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.