Dewi Aichi – Brazil
Menjelang hari Paskah. Bagi umat yang merayakan, hari Jumat, tanggal 6 April 2012, adalah hari dimana tidak diperbolehkan makan daging. Di Brasil di sebut “Sexta Feira Da Paixão”.
Meskipun saya bukan salah satu umat yang merayakan, namun siang itu saya menyiapkan 2 ekor ikan yang cukup besar dengan berat per ekornya kurang lebih 4 kg. Saya bumbuin ikan tersebut pada Kamis malam, kemudian saya simpan di kulkas agar bumbu meresap.
Memang sengaja, siang itu saya mengundang beberapa teman untuk makan siang di rumah saya. Salah satunya adalah seorang teman yang baru saja menjalani operasi awal, untuk menjalani proses penyembuhan kanker rahim yang dideritanya. Namanya Priscila.
Kami berempat, akhir-akhir ini menjadi pemulung. Maksudnya bekerja sama mencari kaleng bekas, yang masih bagus, untuk dikumpulkan. Selama Priscila berada di rumah sakit, saya dan 2 teman lagi rajin mengumpulkan kaleng-kaleng bekas, dengan bertanya ke teman-teman di lingkungan kerja.
Kaleng-kaleng tersebut kami hadiahkan untuk Priscila, yang senang mendekorasi barang bekas menjadi barang yang indah dan bermanfaat. Dua minggu setelah kepulangannya dari rumah sakit, Priscila menyibukkan diri dengan mengecat dan menggambari kaleng-kaleng bekas tersebut.
Target tercapai! Jumat ini semua kaleng bekas telah berubah menjadi kaleng-kaleng yang cantik dan berwarna warni. Kami juga telah memesan chocolate non sugar untuk mengisi kaleng-kaleng tersebut.
Di meja makan dapur saya digunakan untuk membagi chocolate. Sambil bercanda dan ngobrol apa saja, akhirnya semua kaleng sudah terisi dengan chocolate. Kami memesan non sugar karena chocolate tersebut akan kami bingkiskan untuk panti jompo yang berada di dekat rumah saya.
Setelah selesai, kami berempat berangkat untuk mengunjungi panti jompo. Melalui interphone kami memberitahu kedatangan kami. Dua perawat menyambut kami. Memang, sebelumnya kami sudah memberitahu pihat panti, akan kedatangan kami.
Akhirnya kami bisa masuk dan bercakap-cakap dengan mereka yang telah lanjut usia. Ada yang masih bisa berkomunikasi dengan baik, ada yang harus nempelin mulut ke kuping agar bisa terdengar suara sapaan kami.
Panti jompo yang kami kunjungi ini bukan panti jompo dimana penghuninya memilih untuk tinggal di panti jompo. Tetapi lebih dikarenakan anak-anaknya tidak mau atau mungkin tidak ada waktu untuk merawat orang tuanya yang telah lanjut usia dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Saya sangat terharu saat mengunjungi panti jompo ini, sekitar satu jam kami menyempatkan diri berada di ruang yang memang disediakan untuk menonton TV. Ruang yang cukup bersih dan nyaman, sangat luas, dengan sofa sofa yang empuk, untuk sekedar berkumpul dan nonton TV bersama.
Ketika kami berada di ruang itu, di depan sana salah satu perawat sedang menerima tamu sepasang suami istri yang membawa seorang pria usia lanjut dalam kursi roda. Kemudian perawat tersebut membawa penghuni baru tersebut ke ruang di mana kami berada. Memperkenalkan kepada kami semua.
Namanya Angelo, usianya kira-kira 80 tahun. Angelo terserang stroke, matanya terpejam, mulutnya terbuka, tidak bisa berkomunikasi, tidak bergerak. Di kakinya ada luka masih baru dan terlihat jahitan bekas operasi yang cukup memanjang dari bawah lutut hingga tungkai.
Perawat menceritakan kepada kami bahwa, anaknya menyerahkan perawatan bapak ini kepada panti. Menurut cerita dari perawatnya lagi, orang-orang lanjut usia ini memiliki anak-anak yang ekonominya berkecukupan namun tidak cukup waktu untuk merawatnya.
Jumat siang itu, aku termenung, jika Tuhan menganugerahkan panjang umur untuk saya hingga usia lanjut, apakah anak saya akan menyerahkan saya ke panti jompo, atau sayalah yang memilih untuk tinggal di panti jompo, menikmati masa-masa akhir hidup saya bersama teman-teman lanjut usia, berkomunitas dengan sesama manula, dengan demikian, di penghujung hidup saya, tidak merepotkan keluarga anak saya.
April 17th, 2012 at 17:56
Lani, panti jompo ini hanya beberapa meter dari rumahku, tiap hari aku menyapa mereka yang masih kuat jalan pagi, atau yang ditemani para perawat melakukan kegiatan jalan pagi atau sore…waktu berkunjung, kami melihat keluarga orang Jepang yang kalau di lihat penampilannya waduh….oke banget, mobilnya juga, sedang menengok ibunya yang di panti, membawa sabun, bodycream, parfum, dan seorang mani padi untuk merawat kuku ibunya.
Memang mereka dari keluarga berkecukupan, anak anak kan sukses berkat orang tua, setelah sukses, ngga ada waktu untuk merawat, maka dititipkannya ke panti…begitu kira kira, ahhh…ini hanya perasaanku saja….
Silvia, aduhhh…..cuma segitu kecilnya yang masih bisa saya lakukan, kecilllll banget, benar juga Silvia….seandainya permintaan kita di setujui….aku juga mempunyai permintaan yang sama seperti dirimu….sekali lagi terima kasih,
Elnino….Priscila itu sakitnya berat, tapi jika dirimu melihat sendiri penampilannya…walahhhh…kita yang sehat jadi malu, kalah gesit wakaka…pas aku nengok, sehari setelah operasi…dia sendirian di RS sedang di depan laptopnya, ke toilet sendiri, jalan ke koridor sendiri sambil badannya ditempelin kantong buat BAB ..lha itu lihat sendiri to…seminggu saja menghasilkan kaleng segitu banyaknya…eh ..itu meja makan di dapurku pendek kok, cuma kelihatannya saja panjang he he….maklum ya..memfasilitasi bikin pastel yang panjangnya seperti stagen..wakaka…kok yo kelingan wae lho…..taplak meja sudah dua Minggu blom tak ganti sampai sekarang ha ha…
April 17th, 2012 at 17:44
Wow…dah mejeng to kalengku he he….terima kasih redaksi baltyra…!
Pak Handoko…terima kasih, sebentar lagi juga saya jompowati…kalau dianugerahi umur panjang…
Elnino terima kasih..ahh….cuma mengisi waktu libur Jumat yang lalu, meski mbungkusin chocolate nya sampai pegel, dari bakule Chocolate belum dibungkusin,
Linda, itu kaleng bekas susu bayi dan kaleng bekas buah kalengan,semua itu temanku yang ngecat, aku sama yang lain hanya ngumpulin, minta ke teman atau tetangga…soal nanti mau menghuni panti jompo atau bersama anak, masih dipikir dulu he he…perlu dibicarakan sama anak nanti.
Post dulu ahh…takut ilang…
April 17th, 2012 at 17:08
Mbak Dewi : Terima kasih artikel yang mengingatkan saya tentang ke Manusiawian ini……saya sll ingat pesan para orang tua,rajin rajinlah kamu mengunjungi orang tua karena itu adalah berkah bagimu.
Memang tidak mudah yaaa membayangkan kalau KELAK kita menua & jompo kita dipisahkan dari keramaian anak,menantu & cucu. kalau saya sih tetap berpegang ketika kita telah Jompo maka kewajiban anaklah merawat & menjaga kita sebagaimana kita menjaga & merawat mereka sehingga dewasa dengan BAIK & BENAR. salam sejuk
April 17th, 2012 at 14:46
Dewi Aichi, sungguh mulia hatimu! Luar biasa! Kagum aku akan kegiatan-kegiatanmu seperti ini. Walaaaaahhh Elnino malah mengingatkan kembali pastel Brazil yang spektakuler lagi…hahaha…
April 17th, 2012 at 11:41
Salam buat Priscila ya…semoga sekarang kondisinya sudah lebih baik. Luar biasa, dalam sakitnya dia masih sempat melakukan hal2 bermakna untuk sesama.
Aduh, aku terpesona dg kaleng2 berwarna ceria n gemes sama coklat yg bungkusnya imut2 ini.
Btw, meja dapurmu panjang amat ya Wik? Pasti utk memfasilitasimu membuat pastel Brazil yg spektakuler itu ya?
April 17th, 2012 at 11:30
Dewi Aichi ini hatinya bagus.
Suami dan saya sudah punya beberapa alternatif pilihan bagaimana kami mau menghabiskan masa tua kami. Cuma manusia kan hanya bisa berencana, entah bagaimana nanti jadinya. Yang jelas saya tidak bisa membayangkan menghabiskan masa tua hanya diam di rumah hanya untuk nonton tv dan membaca terus. Bosan sekali.
Seperti yang sudah saya tulis berkali2, saya sih cuma minta sama Pencipta saya agar dapat tiket pulang duluan dari suami setelah tugas2 saya selesai di bumi ini. Entah deh surat permohonan saya ini dapat cap stempel “Disetujui” atau “Ditolak” oleh Beliau
April 17th, 2012 at 11:19
DA : waaaaaah…..pertama kaleng2 yg telah didaur ulang jd cantik….ini menginspirasiku utk memberitahu, program director ditempat aku kerja, yaitu panti jompo.
Hari2ku keluar masuk panti jompo di Kona, panti jompo ini termasuk yg plg waah utk Kona, krn mahalnya.
Oleh krnya yg bs tinggal disini hrs sakunya tebal……
Aku bekerja menemani (bukan merawat) krn ditempat ini ada klinik, perawat, dan pegawai yg bekerja utk melayani mrk.
Sdg aku kerja privat, ibu yg saya temani usianya hampir 88, orgnya baik banget, dgn catatan klu dementianya ndak sdg kumat!
Pekerjaan ini aku nikmati saja, krn bukan pekerjaan yg berat, lagian sekalian nunut makan gratis krn ada restorannya.
Tiap hr sll ada kegiatan buat penghuninya, ada kolam renang, pool table, olahraga, film, dan pekerjaan tangan, scrabble, bingo, menggambar, music/karaoke, tarian, pergi berbelanja, dan field trip. Pokok-e penghuninya dimanjakan, usia mrk diatas 80 bahkan ada yg 101.
April 17th, 2012 at 11:05
1. kaleng-kaleng bekasnya setelah didaur ulang jadi terlihat indah dan ramai.
2. kalo buat saya pribadi, kelak nggak keberatan “mendamparkan” diri ke panti jompo, agar saya jangan jadi beban buat generasi di bawah saya.
April 17th, 2012 at 10:24
Ah, temanku dari Brazil ini sungguh berhati mulia. Gak heran, temannya sedunia… Hebat!! *tepuk2 pundak Dewi Aichi
April 17th, 2012 at 08:32
Mbak Dewi dan kawan-kawan telah menjadi anugerah bagi jompowan dan jompowati. Terima kasih Mbak Dewi.