Wednesday, 18 April 2012
Nunuk Pulandari
Saat-saat menunggu di lobby Hotel Garuda
Teman-teman di Baltyra dengan gaya super yakin, kami berempat berjalan kaki menuju ke Hotel Garuda …Dari stasiun..Tanpa bertanya-tanya. Hanya dengan ancer-ancer semacam tower putih yang masih saya ingat, yang ujungnya terlihat ada di sebelah kanan tempat parkiran stasiun Yogya. .. Itu saja.Ternyata jaraknya memang sangat dekat. Mungkin hanya plus minus 200-300m? Dengan berjalan kaki hanya memakan waktu 5 – 10 menit. Sebuah perjalanan singkat yang mengingatkan kembali saat pertama kali ke Yogya naik KA dari Jakarta dengan salah seorang sahabat Belanda saya. Puluhan tahun lalu.
Waktu itu, begitu turun dari KA, di luar Stasiun kami ditawari taksi dan delman. Tentu kami memilih naik delman. Setelah harga disepakati bersama, dengan agak berputar-putar (begitu rasanya), akhirnya kami sampai di Hotel Garuda…. Saya ingat pak kusirnya waktu itu, keluar parkiran stasiun BUKANNYA belok kanan, tetapi dia belok ke kiri. Rupanya pak kusir berputar mengitari setasiun menuju samping hotel… Achhhhh, achhh… Sekarang saya baru sadar bahwa dalam perjalanan tempo dulu kami telah dibohongi…. Ha, ha, ha, tidak tahu bahwa jarak Hotel Garuda dan Stasiun boleh disamakan dengan perumpamaan yang berbunyi: ”Jaraknya hanya selemparan batu kerikil saja “. Tapiii, itu dulu…
Sampai di bagian resepsionis hotel kami dipersilahkan untuk langsung menuju ke lobby Mataram. Di lobby ini kami bisa duduk dengan tenang minum juice buah ditemani nyamikan enak, sambil menikmati tabuhan gamelan yang mengalun merdu…Dan di lobby ini pula kami bisa mengakses internet dengan mudah dan lancar. Itu tujuan utama kami. Mengakses internet untuk mencari adres dan nomer mobiel (HP) dimas Hilman, dari salah satu silang e-mail yang ada.
Foto 1. Tempat duduk di ruang Mataram
Sementara Birrute mencoba mengakses sambungan internetnya, saya mulai mengamati keadaan di sekitar lobby Mataram.
Dari tempat kami duduk, di sebelah kanan belakang Birrutte (dengan computer di pangkuan) tampak seperangkat gamelan yang sore itu sedang ditabuh, mengumandangkan langgam elok menjambut datangnya saat makan malam (1 ½ jam kemudian). Dan di dekat pojok penabuh gamelan, terdapat restaurant yang pada saat itu masih tutup (lihat foto 3).
Foto 2. Ibu pesinden sambil menabuh bersenandung langgam Jawa.
Foto 3. Ruang makan hotel yang didekorasikan selaras dengan tradisi Jawa.
Di belakang sebelah kanan Lei (lihat foto 1), tertata rapih dalam gantungan, kemeja-kemeja batik pria, kebaya dan kain batik. Dengan berbagai macam jenis bahan dan motief serta warna. Semuanya indah dan menarik. Hanya bila melihat harganya yang berlipat ganda bila dibandingkan dengan harga di Pertokoan sekitar Hotel di sepanjang Malioboro, bisa dimengerti kalau sejak kami beristirahat di sana sampai meninggalkan lobby, tidak satupun terlihat pengunjung hotel yang menengoknya. Apalagi membelinya… Hal ini, seperti yang diceritakan oleh mbak penjualnya: ”Sayang sekali, sangat jarang ada tamu yang membeli kemeja dan bahan batik lainnya. Mungkin mereka lebih senang membeli di Malioboro, ya bu”. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan saja.
Foto 4. Seorang mbak yang baru lulus dari salah satu akademi di Yogya, sedang nyambi bekerja untuk mengisi waktunya yang kosong sementara menunggu panggilan dari lamarannya..
Sesungguhnya dengan tidak adanya pengunjung yang membeli, hal ini sangat merugikan bagi mbak penjualnya. Keadaan ini sangat berhubungan erat dengan sistem penggajian yang diterima mbak penjualnya. Memang ada gaji pokok yang jumlahnya tidak lebih dari 100 Euro per bulannya. Gaji ini jumlahnya bisa dan akan bertambah dengan sekian prosen bila ada kemeja atau yang lainnya yang terjual. Jadi semakin banyak yang terjual semakin besar jumlah procentage yang diterimanya dan semakin besar pula gaji tambahan mbak penjualnya. Sayang semuanya itu hanya ada dalam teori saja…
Foto 5. Sebuah kimono yang dikreasikan oleh tangan-tangan ahli batik Indonesia dengan menggunakan benang emas dan perak yang indah…
Di sebelah lemari dengan Kimono, ada semacam lorong (gang) yang di kanan dan kirinya diletakkan beberapa meja panjang. Meja-meja ini di atasnya dipenuhi dengan berbagai souveniers baik dalam bentuk pahatan wayang kulit maupun hasil-hasil kerajinan tangan lainnya. Juga tersedia beberapa makanan kecil khas Yogya, seperti Bakpia, Racikan dll.
Satu yang lagi-lagi menjadi masalah adalah, menurut saya TERLALU mahalnya harga-harga yang dipatokkan di sana. Dan saya kira dengan berbagai alasan, untuk mengunjunginya tidak setiap orang bisa dan mau melakukannya..
Foto 6. Seperangkat wayang kulit dengan Punakawannya.
Foto 7. Di dalam hotel banyak sekali dipamerkan dan dijual hasil produk asli seni dari Indonesia, terutama dari Jateng.
Foto 8. Seperangkat tokoh pewayangan yang dipahat dengan indah dan rapihnya di atas kulit yang diregang dalam pigura yang cantik…
Foto 9. Di awal lorong bila teman-teman akan memasukinya seperangkat wayang kulit menyambut di sisi kanan..
Setelah berputar mengitari ruangan yang ada di sekitar lobby di Hotel Garuda, tanpa terasa jarum pendek jam sudah menunjukkan ke angka 16.30 pm. Dengan sedikit bergegas kami segera meninggalkan hotel dan menuju halaman depan Hotel untuk menunggu dimas Hilman.
Sedikit tentang dimas Hilman. Salah seorang DOKTOR junior (karena masih muda belia) yang telah menyelesaikan programnya di Rijksuniversiteit Leiden (tinggal menunggu saat ujian bulan Juni mendatang) yang setelah pertemuan kami ( dengan dua teman lainnya) di depan Pannekoekenhuis Leiden, menjadi bersahabat. Dan selama di Yogya kami akan bermalam di rumah dimas Hilman.
Foto 10. Suasana di sekitar rumah dimas Hilman yang masih sangat alami.
Sesuai dengan janji yang telah disepakati bersama, dimas Hilman tiba di Hotel Garuda tepat pada waktunya. Setelah saling bertukar sapa, kami memutuskan untuk segera menuju ke kediamannya. Tidak memakan waktu lama. Di perjalanan hanya diperlukan waktu tidak lebih dari 20 menit, untuk sampai di depan garasi rumah dimas Hilman. Wouwww..
Dari depan garasi, tampaklah sebuah bangunan rumah baru yang cantik arsitekturnya dan sangat effektief pembagian ruangan. Di dalamnya. Menurut dimas Hilman, semua itu tercipta berkat “campur tangan” dan kehebatan sang nyonya dalam mengurus dan mengaturnya. Masih dalam nada yang penuh dengan rasa bangga dan kagum (sudah selayaknya) , dimas Hilman melanjutkan ceritanya : ”Bu Nunuk, karena waktu dan tugas, saya hampir-hampir tidak turut campur dengan semuanya selama pembangunan rumah ini. Semua mamanya anak-anak yang mengaturnya. Baik dari mulai mencari bahan, mencari tukang dan menyelesaikannya”. Saya hanya membatin:”Tambah lagi satu wanita hebat kita. Bisa mengatasi hal-hal yang dahulunya hanya menjadi hak kaum pria”. Petje af!
Foto 11. Dimas Hilman tampak sedang mengawasi pemasangan tiang atap garasi.
Ketika kami sedang beristirahat di dalam, nampak dimas Hilman berbincang dengan dua pekerja yang sedang menyelesaikan atap garasi. Rupanya setelah diamati, ada salah satu tiang penyangga (di sebelah kanan belakang – dilihat dari posisi dimas Hilman berdiri) yang kedudukannya tidak tegak lurus sehingga posisinya agak miring keluar pagar. Dan entah bagaimana hasil akhirnya saat ini. Semoga semuanya sudah pada tempatnya seperti yang diinginkan.
Foto 12. Mengikuti jarum jam. Memasuki rumah baru dimas Hilman, tampak ruang tamu yang memanjang dengan latar belakang air terjun (di tembok yang sedang dimatikan curahan airnya); di sebelah ruang tamu (di kiri Birrutte) ada dua kamar tidur, salah satunya menjadi kamar tidur si sulung yang kali ini ditempati kami; di sebelah tembok air terjun ada dapur dan tangga menuju ke loteng, dimana ada kamar tidur yang luas dan toilet; di sebelah kanan Birrutte ada tempat santai untuk menonton TV dan bermain gitar sesuai dengan hobby dimas Hilman; dan di tempat ini juga tersedia peralatan sejadah untuk yang memerlukannya.
Dengan lingkungan yang masih bersih dan dipenuhi pepohonan, tentunya sangat nyaman untuk tinggal di daerah tersebut.Yang juga menyenangkan adalah lancar dan tersedianya berbagai alat transportasi untuk menuju ke semua jurusan, baik untuk urusan ke pusat kota maupun untuk kunjungan ke luar kota. Terutama jaraknya yang tidak jauh baik dari campus UGM maupun dari campus-campus Universitas lainnya sangat memudahkan bagi dimas Hilman untuk mencapainya dalam mengemban dan melaksanakan tugas mulianya. Menyampaikan dan membagi ilmu yang pernah diperolehnya pada generasi penerusnya.
Seperti yang terjadi sore itu. Setelah beristirahat sebentar dan menyegarkan diri, kami langsung pergi keluar untuk mengunjungi Malioboro sambil melihat-lihat dan mencari roti untuk pengganjal perut di keesokan harinya.
Foto 13. Berbagai sarung bantal yang tertata rapi sedang menunggu pembelinya.
Foto 14. Blangkon dengan berbagai variasi dan motiefnya menanti pasangan kepalanya yang pas.
Foto 15. Sekelompok kaum muda “mahasiswa” mencari tambahan uang saku.
Malam itu di sepanjang Malioboro terlihat berbagai kesibukan. Salah satu yang menarik perhatian adalah sekelompok pemuda yang sedang memainkan alat musik dengan menyuguhkan berbagai macam irama lagu. Perlahan tetapi pasti tampak jumlah penontonnya semakin banyak. ”Mereka biasanya mahasiswa yang sedang cari tambahan uang saku, bu Nunuk”: Bisik dimas Hilman. Jadi di tengah kegalauan isi dompet para orang tuanya yang kadang datang tidak tepat waktu, tanpa segan-segan mereka berusaha untuk mengatasinya dengan menjual kelihaian jari jemarinya bermain diatas alat musik yang ada. Bravo! Mengapa tidak!
Foto 16. Suasana lesehan di sepanjang emperan Malioboro. Daftar menu terpampang di dinding.
Foto 17. Dua wanita asing yang sedang mewawancarai poro mbak yang sedang makan malam
Foto 18. Berbagai jenis makanan sebagai pelengkap makan malam sambil lesehan.
Teman-teman di Baltyra, satu ciri khan Yogya yakni malkan ala lesehan. Hanya malam itu kami tidak menggunakan kesempatan lesehan yang ada hampir di sepanjang Trotoir Malioboro.. Kali ini cukup hanya dengan mengamati dan mengaguminya apa yang ada disana.
Setelah puas berjalan di sepanjang Malioboro, akhirnya kami mengajak dimas Hilman untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Pilihan kali ini diserahkan pada tuan rumah. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dimas Hilman memilihkan masakan dari Rumah Makan Pondok Cabe untuk tempat makan malam kami.
Foto 19. Dimas Hilman, Doktor muda kita di Rumah Makan Pondok Cabe, yang cukup ramai dipenuhi mahasiswa dan kaum muda Yogya.
Foto 20. Di Pondok Cabe kita bisa makan di meja dan bisa juga sambil lesehan.
Foto 21. Demikianlah cara makan masakan pilihan dari menu yang tersedia..
Foto 22. Kami semua sedang menunggu pesanan sambil mendengarkan lagu yang dipersembahkan oleh sekelompok pemusik yang terdiri dari antara lain mahasiswa.
Sayangnya dalam kesempatan ini saya lupa tidak membidikkan lensa untuk merekam jenis makanan yang ada di meja kami. Yang jelas semua ludes gandes disantap oleh yang memesannya….
Foto 23. Kelompok pemusik yang kompak dan lihai memetik dawai-dawai alat musiknya.
Foto 24. Sedang iseng ikut nyanyi sambil guyon dengan salah satu penyanyi tetapnya.
Teman-teman, setelah makan malam selesai, dua lagu sempat saya bawakan pada malam itu, sebelum akhirnya kami meninggalkan Pondok Cabe. Sebuah Rumah Makan yang sangat menyenangkan dan cukup enak serta komplit pilihan masakannya. Bisa teman-teman coba untuk mencicipinya. Kapan ya, kita bisa sama-sama makan malam di sana lagi dimas Hilman….
Satu yang jelas, kira-kira bulan Juni mendatang dimas Hilman akan berkunjung dulu ke Belanda. Bukan hanya untuk bernostalgia saja tetapi akan mengemban dan menyelesaikan tugas utamanya di Program Doktor di Universitas Leiden. PROMOVEREN. Semoga succes dan berjalan lancar semuanya…. Tot over twee maanden!
Groeten en werkt ze untuk anda semua, Nu2k
Pages: « 13 … 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]
Pages: « 13 … 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 [1]
April 18th, 2012 at 11:06
Mbak Dian dear. Saya sempat mampir.. Tapi anak-anak tidak ada yang membeli.. Anak saya mengatakan:”Wanneer moet ik ze aan” , yang kalau diterjemahkan menjadai, kapan saya akan memakainya… Itulah masalahnya.. Tidak bisa hanya pakai T-shirt saja. Untuk dijadikan “hemd” baju kaos dalaman kok yo terlalu ruaméé karena gambar-gambarnya.. Jadi kami hanya jalan-jalan saja.. Lagi pula mbak Dian, kami masih ingin melihat yang lainnya…
Kapan akan pulkam lagi…Salam untuk “ibu pembatik-tetap sama- di Mirrota”.. Dag, daga, Nu2k
April 18th, 2012 at 11:04
bu Nunuk… dl sy kos di lempuyangan deket rumah yg bikin bakpia… bakpiannya joss gandoss… margarine nya pake blue band. rasanya lbh enak drpd yg produk wirobrajan ato mana itu yg daerah bikin bakpia… kt temen sy di disana margarine nya pake yg kiloan tanpa merek.
klo soal ini sy beli merek lha lbh enak je hehehe…
April 18th, 2012 at 10:58
Mbak Nia, sama-sama ke Yogya yullll..Bisa mengerti. Saya yang baru pulang saja sudah mulai pingin jalan lagi di Malioboro… Beli Bakpia, racikan, di pabriknya yang masih anget-anget dan boleh lihat cara bikinnya…hmmm, wangi dan enaknya… Duh….Gr. Nu2k
April 18th, 2012 at 10:29
jadi kangen ke Mirrota..hehehe
April 18th, 2012 at 10:00
kalo soal harga suvenir terlalu mahal, sepakat banget.
*tidak pake kacamata kuda, lho Bu*
April 18th, 2012 at 08:44
Tadi 2x enter ketik komen panjang-panjang ternyata hilang, kalau ini hilang lagi aku mau demo di Serpong.
April 18th, 2012 at 08:24
Waduh jadi keingat Jogja, Mbak. Senang sekli liburannya, ya???
April 18th, 2012 at 08:23
Bu Nunuk, sekedar curious, itu wanita asing dan pendampingnya ananda ‘gilo’ tidak lihat penyajian gudeg langsung dengan tangan mbok penjualnya?

Ah, lihat berbagai corak blangkon saya jadi ingat keinginan saya ingin mulai mengoleksi LURIK. Batik sudah ada beberapa lah, tapi corak lurik dan yang sejenisnya baru punya satu. Waktu itu ubek-ubek beberapa toko di Solo diantar pak Hand…
April 18th, 2012 at 08:13
wahhh, jadi pengen pulkam dan jalan2 ke Jogja….nggak mampir ke kios t shirt dagadu to, Mbak..?
April 18th, 2012 at 08:13
bu Nunuk…. bikin kangen jogja…. dah lama bgt sy gak ke malioboro