Kisah di Dusun Empolah – Dua Malaikat Tangguh

Angela Januarti Kwee – Rawak, Kalimantan Barat

 

“Kita siang ini langsung menuju kampung  ya?!” ujar ketua tim kami mengkonfirmasi.

Masing-masing kami berkemas mempersiapkan perlengkapan untuk menginap satu malam di dusun bernama Empolah. Dusun yang tidak terlalu luas dengan jumlah 35 Kepala Keluarga (KK). Waktu normal menuju dusun ini hanya satu setengah jam dari kecamatan Ella Hilir. Tapi kami memerlukan tiga jam perjalanan untuk sampai menggunakan motor. Beruntung cuaca sangat bagus, tidak hujan. Jalan yang ditempuh juga beragam. Mulai jalan tanah kuning berbatu kecil, tanah berbatu besar seperti di kawasan air terjun dan jalan tikus. Kami juga menyeberangi sungai Ella dengan sampan yang ditarik menggunakan tali yang terhubung ke seberang sungai. Masyarakat Nanga Kalan ini cukup kreatif, mereka tidak perlu membeli bahan bakar untuk sampan. Penghasilan Rp 5.000 untuk satu motor sekali menyeberang bisa menjadi pendapatan bersih.

Sepanjang perjalanan sembari berbincang dengan teman yang memboncengku, aku terus menggagumi permadangan alam sekitar. Masyarakat menanami lahan mereka dengan karet lokal/alam dan unggul. Banyak juga terdapat hutan yang memang belum terjamah. Semua ini membuatku tak berhenti berdecak kagum. Sudah cukup jarang aku bisa menikmati suasana ini. Seperti sedang bermimpi indah.

Menjelang senja, sekitar pukul setengah lima sore kami sampai di dusun Empolah. Dusun ini berada di bawah perbukitan. Suasana sejuk sangat terasa, bukit di sekitarnya ditutupi kabut tebal. Derasnya aliran sungai yang menghantam bebatuan besar disetiap sudut sungai menambah semarak dusun. Ini menjadi nyanyian tidur kami sepanjang malam karena sungainya berada tepat di belakang rumah penduduk.

Ada banyak anak-anak yang tengah bermain menarik perhatianku untuk menemui mereka. Kami bercanda dan berfoto bersama. Tawanya membuat hatiku gembira. Selain banyak anak-anak, aku juga memperhatikan rumah-rumah penduduk. Entah mengapa satu rumah menarik perhatianku. Rumah berbahan dasar kayu yang sederhana. Tampak penghuninya sedang tidak ada meski pintu rumah terbuka.

“Aku ingin bertemu dan berbincang dengan pemilik rumah,” ucapku pada seorang teman.

“Nanti kita tanya ke pak Jami.” Kebetulan pak Jami adalah salah satu penduduk yang membawa kami ke dusun ini dan menyediakan tempat menginap.

Keesokan hari di pagi yang sejuk. Aku, satu teman dan pak Jami duduk bersantai di beranda rumahnya. Kami berbincang ditemani kopi susu hangat dan biskuit. Sejenak aku kembali teringat niatku dan memberitahu pak Jami. Karena sulit untuk menunjuk rumah yang kumaksud, aku memilih memperlihatkan foto rumah penduduk yang aku ambil kemarin.

“Yang tinggal di rumah ini dua kakak beradik yang masih SD. Mereka hanya tinggal berdua tanpa orangtua.” Aku menggerutkan dahi. Masa sich?

Dua anak yang pak Jami ceritakan bernama Dedi Pabriyanto (14 tahun) dan Debi Susanto (10 tahun). Kurang lebih satu tahun belakangan, kedua orangtuanya mengadu nasib di kawasan Kalimatan Tengah (Kal-Teng). Kebetulan daerah di sini dekat dengan kawasan perbatasan Kal-Teng. Mereka enam bersaudara. Dua saudara bersama kedua orangtuanya, dua kakak perempuan sekolah SMP dan SMA di kota kabupaten bernama Nanga Pinoh.

Selama hampir setahun ini, hanya satu kali orangtuanya mengirimkan uang dan menjenguk mereka. Selebihnya mereka bekerja sendiri memenuhi kebutuhan. Sepulang sekolah, mereka menoreh kebun karet orangtuanya. Menurut pak Jami kedua anak ini tergolong hemat. Penghasilan satu bulan menoreh digunakan untuk memenuhi tiga bulan kebutuhan mereka.

Masyarakat di sini juga merasa sangat prihatin. Terkadang mereka diberi sayur dan hasil buruan hutan oleh masyarakat. Pak Jami sendiri sering menanyakan tentang keadaan mereka, baik biaya hidup, kesehatan, sekolah, keamanan dan pekerjaannya.

Meski mereka sudah terlihat biasa dengan keadaan ini. Namun sebagai seorang anak, aku pribadi merasa sedih bila memikirkan saat mereka rindu orangtuanya. Sebelum mereka berangkat sekolah, aku berkesempatan bertemu dan berfoto bersama. Satu cerita dan kesempatan yang tak pernah bisa kulupakan. Dua anak ini memberikan motivasi tersendiri untukku. Mereka tidak mengeluh, tapi terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terlepas dari sosok anak-anak yang perlu perhatian dari orangtua, mereka mampu belajar mandiri sejak dini. Mereka akan tumbuh dewasa menjadi anak yang tangguh.

Aku merindukan mereka … semoga ada kesempatan kembali ke sana.

 

Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Angela Januarti Kwee! Make yourself at home ya…dan ditunggu artikel-artikelnya yang lain. Terima kasih pak Handoko Widadgo yang mengenalkan Baltyra dan mengajak Angela bergabung.

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

25 Comments to "Kisah di Dusun Empolah – Dua Malaikat Tangguh"

  1. Handoko Widagdo  25 April, 2012 at 07:12

    Angela, apakah kampung ini dibangun oleh perusahaan kayu atau perusahaan sawit? Jelas model rumah seperti ini tidak dibangun oleh penduduk setempat. Jika benar bahwa bangunan ini dibuat oleh perusahaan, bagaimana ceritanya sehingga ada orang yang sekarang tidak mendapat pekerjaan di kampungnya sendiri? Tolong digali lagi, karena ini bisa menjadi bahan tulisan yang lebih dahsyat. (Siapa tahu setelah semua informasi terkumpul bisa menjadi latar belakang sebuah novel).

  2. Angela Januarti  20 April, 2012 at 10:36

    Kak Chadra : bila negara tidak bisa menyiapkan lapangan pekerjaan, mungkin kita bisa ^-^

    Ibu Lani : Salam kenal.

    Kak Inakawa : Salam sejuk kembali. Iya, ada banyak. Biasanya di perkampung daerah kami juga seperti itu. Sejak kecil sudah terdidik untuk bekerja, tapi kadang malah buat mereka nggak mau sekolah karena keasyikan bekerja. Aku salut dengan dua anak ini, mereka tetap semangat untuk sekolah dan bekerja memenuhi kebutuhannya.

    Kak Adhe : Salam kenal ^-^

  3. Adhe  19 April, 2012 at 07:52

    senang baca artikel ini, melihat sisi terpencil dr Indonesia, melihat ketangguhan jiwa orang2 disana yg hidup bersahabat dg alam, sempat ‘meleleh’ melihat 2 kakak beradik yg berjuang hidup sendiri, tekanan ekonomi membuat orang tua mereka harus memilih jalan ‘membiarkan’ anaknya berjuang sendiri, semoga anak2 ini tetap sayang pada orrunya, midup memang harus memilih. thanks Angela, welcome home @Baltyra.

  4. EA.Inakawa  19 April, 2012 at 03:18

    Angela : Selamat Datang di Rumah Kita Baltyra,semoga betah disini……

    Dipedesaan bukan hanya di kalimantan,banyak anak anak TANGGUH seperti yang mbak temukan,kalau saja mereka terdidik & ter arah niscaya mereka akan menjadi Pemimpin Yang tangguh juga dikemudian hari,salam sejuk

  5. Lani  19 April, 2012 at 01:43

    Salam kenal ANGELA……..selamat gabung disini……….dan mahalo buat HAND yg telah membawa satu penulis baru dirumah kita bersama…….

    tulisan yg menarik, mengenalkan salah satu sisi kehidupan dinegara kepulauan…..mengenai dua kakak beradik, menyedihkan, tp jg membahagiakan, memberikan semangat bagi yg lainnya…….semoga ortu segera berkumpul kembali…….dgn anak2nya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.