Kuliner Kapuas (Sintang, Sekadau, Bodok)

Handoko Widagdo – Solo

 

Seri 1 dari catatan perjalanan ke Sintang

Bandara Susilo menyambut kami. Pesawat Kalstar yang membawa kami dari Pontianak mendarat dengan mulus. Cuaca masih panas, meski jam sudah menunjukkan setengah empat sore. Setelah menunggu beberapa saat, kami dijemput oleh sopir dan dibawa ke kantor untuk sekedar ‘say hello’ kepada mitra kerja baru. Selanjutnya kami pergi makan malam disebuah restoran China. Sayang, banyak menu yang sudah habis karena kami datang agak telat.

Hari kedua kami habiskan untuk diskusi di kantor. Kami makan siang di restoran terapung di Sungai Kapuas. Selain menyajikan makanan yang lezat, pemandangan Sungai Kapuas memuaskan selera kami.

Hari ketiga sampai keenam kami berada di lapangan. Kunjungan ke desa-desa sawit bisa kami jangkau dengan mobil penggerak empat roda. Sedangkan untuk menuju desa-desa yang belum ada sawit kami harus menggunakan sepeda motor. Bahkan kami harus jatuh dua kali karena jalanan licin dan terguyur hujan.

Pada hari keempat kami makan siang di sebuah rumah makan Dayak di Simpang Pino. Menu yang tersedia adalah ular sawa dan labi-labi yang dimasak kuah. Kami melahapnya dengan nikmat. Sayang sekali ular yang dimasak berukuran kecil dan kulitnya keras, sehingga harus aku tinggalkan. Sementara kerapas labi-labi memberi sensasi di lidah kami.

Selanjutnya, dari Simpang Pino kami menuju Kecamatan Ella. Rencananya kami akan ke Dusun Kompas di seberang sungai. Kami menggunakan empat sepeda motor. Jalan yang kami lalui adalah jalan tanah. Sebagian saja jalan tersebut telah diperkeras dengan taburan pasir. Jalanan tidak datar. Di beberapa tempat kami harus melewati tanjakan dan turunan yang cukup tajam. Sayang, saat kami sudah berjalan kira-kira 7 km, hujan mengguyur. Pemandu kami memutuskan untuk balik karena tidak mungkin melanjutkan perjalanan.

Saat perjalanan balik inilah kami terjebak lumpur. Satu sepeda motor terjebak tidak bisa jalan. Terpaksa kami harus mendorong untuk mengeluarkan sepeda motor tersebut. Pada saat kami melewati turunan, jalanan sangat licin. Pertama saya terjatuh karena tidak bisa mengontrol motor. Maklum motor ini tidak ada rem depan, sementara orang yang saya bonceng segan untuk berpegangan. Selanjutnya saya tidak berani membawa motor tersebut turun. Jadi saya menuntun motor tersebut sambil teman memegangi di belakang. Tak lama kemudian dua motor yang lain juga terjatuh. Untunglah tidak ada yang terluka. Hanya memar-memar di kaki saja. Kami selamat kembali ke Ella.

Saat bersiap keluar dari Ella, kami disuguhi semacam bakwan dan kue yang terbuat dari kacang hijau. Jika bakwan pada umumnya menggunakan udang, bakwan Ella memakai ikan teri. Rasanya? Lumayanlah untuk teman minum kopi.

”Restoran 69” di Kota Nanga Pino adalah tempat kami makan siang. Restoran China ini menyajikan berbagai menu masakan China. Ada kangkung cah taoco, kailan cah udang, cap cai, kekian dan ayam goreng. Kekian disajikan dengan saos yang terbuat dari jeruk kecil (semacam jeruk nipis) yang dicampur gula. Enak benar!

Saat kami tiba kembali ke Sintang, tiba-tiba ada SMS masuk. Ternyata SMS dari Kalstar yang memberitahukan bahwa pesawat rute Sintang-Pontianak batal terbang. Kami harus menggunakan jalan darat untuk kembali ke Pontianak. Perjalanan ditempuh selama 9 jam. Saat perjalanan itulah kami mampir ke sebuah resto di Kota Bodok. Resto ini menyajikan berbagai daging yang tidak biasa kami nikmati. Ada daging ular rimpung yang besar, daging tupai, kalong, trenggiling, kodok, babi hutan dan daging beruang. Ada juga labi-labi dan ikan toman. Sayang, salah satu teman tidak bisa melihat menu yang aneh-aneh tersebut, sehingga kami hanya memesan kangkung cah taoco, kodok goreng, cap cai, kekian dan babi hutan panggang.

Satu lagi keanekaragaman kuliner Indonesia yang luar biasa.

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

118 Comments to "Kuliner Kapuas (Sintang, Sekadau, Bodok)"

  1. Handoko Widagdo  30 April, 2012 at 07:29

    Imeii, sayangnya saya gak dapat tumis pakis, meski melihat banyak pakis yang bisa dimakan. Pakis ditumis adalah salah satu masakan favoritku.

  2. Imeii  30 April, 2012 at 00:43

    bung Hand.. nyobain tumis pakis ngga? ooh enak itu..

  3. Handoko Widagdo  27 April, 2012 at 15:51

    Di Kalimantan banyak daun bangkire, daun meranti….mau?

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 15:50

    Premise itu betul….apalagi daripada mati. Tapi di Kalimantan banyak dedaunan bisa disantap gak spt di bumi Priangan?

  5. Handoko Widagdo  27 April, 2012 at 15:46

    Mas Iwan, awalnya mual, selanjutntya mau lahap.

  6. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 14:39

    Aduh Mas Han…agak “mual” lihat foto-foto makanannya karena tak bisa memakannya. Apalagi rumah makan itu…walah… ada hewan-hewan ‘luar biasa’ disantap.

  7. Handoko Widagdo  23 April, 2012 at 13:38

    Hennie, itulah hambatan psikologis yang harus disingkirkan. memang tidak mudah. Saya juga punya masalah seperti itu. Saya dulu suka ikan patin. Tapi, saat saya bertugas di Kalteng, saya lihat ikan patin sebesar bayi yang dipotong kepalanya. Badannya persis badan bayi. Sampai sekarang kalau lihat ikan patin selalu terbayang bayi yang terpotong. Jadi gak pernah lagi mau makan ikan patin.

  8. HennieTriana Oberst  23 April, 2012 at 13:36

    Benar mas Hand, kalau makanannya disajikan menggugah selera dan tak disebutkan terbuat dari apa, mungkin saya akan mencobanya tanpa membayangkan yang aneh-aneh.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.