Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Wajib Praktek Kerja bagi Siswa SMP/SMA di Jerman

Wednesday, 18 April 2012

Viewed 2759 times, 2 times today | 53 Comments |

Indriati See – Jerman

 

Satu dari banyak hal yang membuat saya kagum dari kurikulum sekolah di Jerman adalah wajib menjalankan Praktek Kerja atau yang sering disebut dalam Bahasa Jerman Praktikum bagi siswa/i SMP dan SMA. Praktikum tersebut bisa dipraktekkan di kelas 8 atau 9 dan untuk yang kedua kalinya di kelas 10 atau 11.

BASF Ludwigshafen – Germany

Program praktikum ini dilaksanakan atas dukungan dari semua Perusahaan, Organisasi, Lembaga dan Institusi yang ada dengan mengadakan bagian khusus menerima para murid SMP dan SMA yang ingin menjalankan praktikum.

Bagaimana pelaksanaannya ?

1)       Setiap siswa diberi kebebasan untuk memilih Perusahaan, Organisasi, Lembaga atau Institusi yang menjadi tujuan bagi praktikumnya.

2)       Setiap siswa harus membuat Surat Lamaran Praktikum seperti layaknya membuat surat lamaran kerja ditambah dengan Surat Pengantar dari Sekolah.

3)       Jika mendapat jawaban positif dari Perusahaan, Organisasi, Lembaga atau Institusi yang dipilih maka praktikumpun bisa dimulai.

4)       Masa praktikum untuk kelas 8 atau 9 berlangsung 2 (dua) minggu dan untuk kelas 10 atau 11 berlangsung satu minggu.

Pengenalan organisasi kantor

Ketika putra sulung dan putri kedua kami duduk di kelas 8, suami saya menyarankan agar mereka praktikum di salah satu industri besar dan pilihanpun jatuh pada Industri BASF (Chemical Company) di Ludwigshafen. Mengingat kedua anak kami siswa dari Gymnasium (SMP dan SMA jurusan IPA) dan ingin melanjutkan ke universitas, sangat disayangkan jika praktikum pertama kali dilakukan di Perusahaan, Lembaga, Organisasi atau Institusi kecil.

Dengan pemilihan tempat praktikum di industri besar, kita memberi motivasi kepada anak-anak agar melihat langsung profesi-profesi yang dibutuhkan dalam wilayah industri, sistem organisasi yang diterapkan, rythmus dan disiplin kerja yang dituntut, cara berkomunikasi dengan Pembimbing Praktikum dan pegawai-pegawai lainnya, membuat laporan kerja yang harus dipertanggung jawabkan kepada Pembimbing Praktikum dan tentunya memberi gambaran tentang jurusan apa yang akan anak-anak ambil di universitas nanti.

Melayani makan untuk para jompo

 

Selama praktikum berlangsung, anak-anak tidak diberi keistimewaan, maksud saya, mereka harus datang tepat pada waktunya yaitu pukul 08:00 dan pulang pada pukul 16:00 seperti para pegawai lainnya.

Yang paling membuat senang kedua putra dan putri kami adalah dengan ditempatkannya mereka di Laboratorium BASF. Bisa dibayangkan eksperimen dalam laboratorium yang diperlihatkan kepada anak.anak … benar-benar pokok bahasan yang sangat menarik dan berguna!

Selama masa praktikum yang dilaksanakan serentak dari satu kelas atau satu angkatan, maka tugas pelajaran dari sekolah dibebaskan. Setiap anak langsung berangkat dari rumah masing-masing ke tempat praktikum dengan demikian mereka tidak saling bertemu teman sekelas selama 2 (dua) minggu.

 

Menyuapi salah satu pasien jompo

 

Untuk praktikum di kelas 10 yang berlangsung selama satu minggu, pilihan kami serahkan kepada anak-anak. Putra sulung memilih praktikum di Supermarket bahan-bahan bangunan dan elektronik (Bauhaus) dan adiknya di Panti Jompo.

 

Mengorganisir acara senggang untuk pasien jompo

Dari wajib praktek kerja yang diterapkan dalam kurikulum SMP dan SMA di Jerman ini, saya lihat teramat sangat positif karena:

 

1)       Pengenalan sejak dini akan lingkungan kerja secara profesional

2)       Memberi motivasi kepada anak-anak tentang bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan dari salah satu profesi yang kemungkinan akan diambil dikemudian hari jika mereka telah menamatkan studi.

3)       Menghargai waktu dan uang karena selama masa praktikum tersebut mereka melihat bahwa uang yang diperoleh sebagai uang saku dari orang tua, tidak dengan mudah untuk didapat.

 

Membawa pasien jompo jalan-jalan

Dari pengalaman putra dan putri kami di atas, saya pribadi berharap jika wajib praktek kerja tersebut bisa juga diterapkan pada Kurikulum Sekolah di Tanah Air, bagaimana dengan pendapat para pembaca ?

Tambahan: Selama praktikum, para pelajar tidak menerima bayaran.

 

 

Sumber Gambar:

http://ludwigshafen.files.wordpress.com/2008/06/basf.jpg + Koleksi pribadi

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 18 April 2012 on 07:17.

Categories: Dunia. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

53 Responses to “Wajib Praktek Kerja bagi Siswa SMP/SMA di Jerman”

Pages: « 6 5 4 3 2 [1]

  1. 10
    P@sP4mPr3s Says:

    dukung JC jadi menteri pendidikan…… (merangkap jadi RI1)….

  2. 9
    nia Says:

    JC emosi…
    hehehe…

  3. 8
    nia Says:

    bu Kornelya… bener buangettt… guru SMA menghina sy krn sy bantu2 di toko kaset milik family.
    trus pas ada pendataan ada pertanyaan ‘penghasilan’, temen2 nanya penghasilan apa wong msh sekolah… guru itu bilang ‘ya jadi model misalnya… yg kerenan dikit’ sambil melirik sy.
    di kampung sy itu anak sekolah kerja sambilan = miskin hahaha…

  4. 7
    J C Says:

    Huuuss Tammy, kotbah piye tho… lha memang kok, sekolah di sini mana mengajarkan hal-hal nyata seperti artikel ini? Mana ada mengajarkan budi pekerti, mengasah watak welas asih dan being humble? Sejak jaman kita duluuuuuu PMP, P4, 36 Butir Mutiara, PSPB, terus mata kuliah Kewiraan, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Sosial Dasar, sekarang PPKN, mana prakteknya? Semuanya OMONG KOSONG khan? Praktek KORUPSI tiap hari di seluruh sendi kehidupan, sinetron sampah tiap hari digelontorkan di televisi oleh Dinasti Punjabi, sistem pendidikan yang hanya mengedepankan kelulusan dan nilai saja, akhlak – apa itu? Budi pekerti – binatang apa itu?

  5. 6
    Linda Cheang Says:

    Saya menngalami kegiatan OJT alias On Job Training, seperti halnya praktikum justru ketika bersekolah di sekolah kejuruan dan ketika sudah jadi mahasiswi. Saat itu setahu saya, pelajar SMA umum tidak ada kegiatan OJT/Praktikum, hanya para pelajar dari sekolah kejuruan yang melakukannya.

    Suatu keberuntungan saya bisa melaksanakan OJT di sebuah perusahaan penerbangan besar dan ketika mahasiswi, OJT-nya di pusat pemeliharaan pesawat terbang militer senasional.

    Memang sangat baik atas keempatan bisa praktikum/OJT itu karena membuka wawasan akan dunia kerja profesional, mendewasakan diri juga, membuka pola pikir lebih terbuka, termasuk juga dengan intrik-intrik dan senggol-senggolannya, hehehe.

    Kalo kotbah soal kualitas pendidikan di Indonesia, kan, sudah oleh JC, tuh.

  6. 5
    Kornelya Says:

    Mba Indri, di Indonesia terlalu fokus pada penghafalan teori. Selain praktek kerja nyata diperusahaan-perusahaan atau kantor pemerintah; anak-anak di Eropa/Amerika juga dilatih survivor skill, ketrampilan untuk hidup mandiri. Kelas baby sitter, tukang kayu, jahit, masak, berkebun. Mereka juga seusia SMA, regardless penghasilan orang tua,mereka belajar mandiri ; kerja direstoran, dept store, antar koran, potong rumput tetangga. Di Indonesia? Bapak/mama pegawai lalu anak jadi loper koran, cuci piring direstoran? Adalah hal yg mustahil. Salam.

  7. 4
    Tammy Says:

    Hahaha JC kotbah! Kalo ngomong soal pendidikan d indo dirimu mesti kesumet (nyala?)

  8. 3
    nia Says:

    program yg bagus bgt mb Indri… menurut sy memang seharusnya lbh banyak ‘kerja lapangan’ jd anak sekolah bener2 ngerti gak cm mbayangin klo jd dokter gmn… jd insinyur gmn… jd sales gmn…
    klo apa2 serba gak jelas jdnya kyk sy nih… kerja praktik asal dapet, skripsi asal dapet, kerja beneran asal dapet… sampe skr gak ngerti sy tu maunya apa… bagusnya di bidang apa…

  9. 2
    J C Says:

    Indri, ini sangat bagus jika dapat diterapkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Sayang sekali kurikulum pendidikan di Indonesia lebih fokus ke NILAI dan PERSENTASE KELULUSAN UJIAN NASIONAL, yang huebuoh luar biasa dari tahun ke tahun.

    Praktek kerja seperti ini akan dengan nyata membentuk AKHLAK dan MORAL, serta empati dan juga mengasah rasa kasih kepada sesama manusia dan memahami kehidupan yang sebenarnya. Melihat sendiri cermin kehidupan dan life stages dan life cycle dengan melayani para oma dan opa seperti itu. Budi pekerti dan watak welas asih akan terbentuk dengan sendirinya. Jam kerja di pabrik atau kantor dan perlakuan yang sama dengan situasi sebenarnya akan mulai membentuk kemandirian sejak dini.

    Indonesia? Masih jauuuuuhhhhh sekali. Lebih banyak di sekolah-sekolah: TEORI AGAMA, KOTBAH dan KEMUNAFIKAN yang dipertontonkan agama-agama di Indonesia, tidak pernah ada contoh nyata dengan praktek kerja seperti ini, yang ada hanyalah DOGMATIS (agama apapun juga), tontonan KORUPSI setiap hari di seluruh media, contoh mulut mencong, kening berkerut dan nada sinis di sinetron sampah, menggilanya kegilaan terhadap gadgets di usia dini, aduh jauh sekali dengan yang Indri tulis di artikel ini.

    Anak Indonesia suruh praktek kerja melayani para oma dan opa? Nanti dulu, lha wong SMP saja masih dengan baby sitter/pengasuh/maid, kelas 4 masih disuapi, pembantu di rumah ada 5, bukan para oma dan opa yang dibantu/dilayani, malah jadi kebalikannya…

  10. 1
    Tammy Says:

    Kalo mau diterapkan di indonesia kayaknya masih jauh. Kurikulum aja mbulet nggak karuan.

Pages: « 6 5 4 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)