Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Wajib Praktek Kerja bagi Siswa SMP/SMA di Jerman

Wednesday, 18 April 2012

Viewed 2829 times, 1 times today | 53 Comments |

Indriati See – Jerman

 

Satu dari banyak hal yang membuat saya kagum dari kurikulum sekolah di Jerman adalah wajib menjalankan Praktek Kerja atau yang sering disebut dalam Bahasa Jerman Praktikum bagi siswa/i SMP dan SMA. Praktikum tersebut bisa dipraktekkan di kelas 8 atau 9 dan untuk yang kedua kalinya di kelas 10 atau 11.

BASF Ludwigshafen – Germany

Program praktikum ini dilaksanakan atas dukungan dari semua Perusahaan, Organisasi, Lembaga dan Institusi yang ada dengan mengadakan bagian khusus menerima para murid SMP dan SMA yang ingin menjalankan praktikum.

Bagaimana pelaksanaannya ?

1)       Setiap siswa diberi kebebasan untuk memilih Perusahaan, Organisasi, Lembaga atau Institusi yang menjadi tujuan bagi praktikumnya.

2)       Setiap siswa harus membuat Surat Lamaran Praktikum seperti layaknya membuat surat lamaran kerja ditambah dengan Surat Pengantar dari Sekolah.

3)       Jika mendapat jawaban positif dari Perusahaan, Organisasi, Lembaga atau Institusi yang dipilih maka praktikumpun bisa dimulai.

4)       Masa praktikum untuk kelas 8 atau 9 berlangsung 2 (dua) minggu dan untuk kelas 10 atau 11 berlangsung satu minggu.

Pengenalan organisasi kantor

Ketika putra sulung dan putri kedua kami duduk di kelas 8, suami saya menyarankan agar mereka praktikum di salah satu industri besar dan pilihanpun jatuh pada Industri BASF (Chemical Company) di Ludwigshafen. Mengingat kedua anak kami siswa dari Gymnasium (SMP dan SMA jurusan IPA) dan ingin melanjutkan ke universitas, sangat disayangkan jika praktikum pertama kali dilakukan di Perusahaan, Lembaga, Organisasi atau Institusi kecil.

Dengan pemilihan tempat praktikum di industri besar, kita memberi motivasi kepada anak-anak agar melihat langsung profesi-profesi yang dibutuhkan dalam wilayah industri, sistem organisasi yang diterapkan, rythmus dan disiplin kerja yang dituntut, cara berkomunikasi dengan Pembimbing Praktikum dan pegawai-pegawai lainnya, membuat laporan kerja yang harus dipertanggung jawabkan kepada Pembimbing Praktikum dan tentunya memberi gambaran tentang jurusan apa yang akan anak-anak ambil di universitas nanti.

Melayani makan untuk para jompo

 

Selama praktikum berlangsung, anak-anak tidak diberi keistimewaan, maksud saya, mereka harus datang tepat pada waktunya yaitu pukul 08:00 dan pulang pada pukul 16:00 seperti para pegawai lainnya.

Yang paling membuat senang kedua putra dan putri kami adalah dengan ditempatkannya mereka di Laboratorium BASF. Bisa dibayangkan eksperimen dalam laboratorium yang diperlihatkan kepada anak.anak … benar-benar pokok bahasan yang sangat menarik dan berguna!

Selama masa praktikum yang dilaksanakan serentak dari satu kelas atau satu angkatan, maka tugas pelajaran dari sekolah dibebaskan. Setiap anak langsung berangkat dari rumah masing-masing ke tempat praktikum dengan demikian mereka tidak saling bertemu teman sekelas selama 2 (dua) minggu.

 

Menyuapi salah satu pasien jompo

 

Untuk praktikum di kelas 10 yang berlangsung selama satu minggu, pilihan kami serahkan kepada anak-anak. Putra sulung memilih praktikum di Supermarket bahan-bahan bangunan dan elektronik (Bauhaus) dan adiknya di Panti Jompo.

 

Mengorganisir acara senggang untuk pasien jompo

Dari wajib praktek kerja yang diterapkan dalam kurikulum SMP dan SMA di Jerman ini, saya lihat teramat sangat positif karena:

 

1)       Pengenalan sejak dini akan lingkungan kerja secara profesional

2)       Memberi motivasi kepada anak-anak tentang bagaimana caranya untuk mencapai kesuksesan dari salah satu profesi yang kemungkinan akan diambil dikemudian hari jika mereka telah menamatkan studi.

3)       Menghargai waktu dan uang karena selama masa praktikum tersebut mereka melihat bahwa uang yang diperoleh sebagai uang saku dari orang tua, tidak dengan mudah untuk didapat.

 

Membawa pasien jompo jalan-jalan

Dari pengalaman putra dan putri kami di atas, saya pribadi berharap jika wajib praktek kerja tersebut bisa juga diterapkan pada Kurikulum Sekolah di Tanah Air, bagaimana dengan pendapat para pembaca ?

Tambahan: Selama praktikum, para pelajar tidak menerima bayaran.

 

 

Sumber Gambar:

http://ludwigshafen.files.wordpress.com/2008/06/basf.jpg + Koleksi pribadi

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 18 April 2012 on 07:17.

Categories: Dunia. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

53 Responses to “Wajib Praktek Kerja bagi Siswa SMP/SMA di Jerman”

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    matahari Says:

    Sdri Indriati See…sebenar nya anak anak di Indonesia justru sudah menjalani “praktikum”yang jauh lebih lama dibanding anak anak di Eropa yang hanya menjalani praktikum itu hanya 1 – 2 minggu…hanya saja anak anak di Indonesia tidak menyadari bahwa mereka itu sudah berada di lingkungan praktikum itu karena sudah merupakan rutinitas sehari hari . Mari kita lihat anak anak penjual majalah tabloid di kota kota besar…anak anak penyemir sepatu…mereka ini lakukan pekerjaan itu di sesudah jam sekolah..itu juga sebuah praktikum…latihan kerja..latihan menghadapai segala tingkah manusia …hanya saja tidak resmi karena memang di negri kita belum terbiasaperusahaan2 menerima anak anak usia belasan tahun untuk latihan kerja…disamping anak anak usia belasan tahun di Indonesia umumnya juga belum semandiri anak anak usia yang sama di Eropa…Kalau mengenai anak anak sekolah bekerja sukarela dipanti jompo…di negri kita juga banyak…anak anak terbiasa merawat org tua nya..merawat kakak atau adik yang mungkin..maaf..cacat atau sakit…anak anak tidak perlu ke panti jompo kalau hanya untuk merawat orang karena mereka telah lakukan sehari hari di rumah masing masing…dan itu bisa berlangsung ber tahun tahun bahkan seumur hidup mereka…Bukankah itu luar biasa?
    .Di Eropa..panti jompo memang mengharapkan para pekerja sukarelawan termasuk anak anak sekolah dari program latihan kerja karena anak anak para jompo yang tidak lagi ada waktu buat orang tua mereka…manusia sudah disibukan dng pekerjaan….mereka hanya berkunjung disaat org tua ulang tahun..mother’s day ..natal dll……atau juga karena anak anak tinggal jauh sehingga tidak bisa mengurusi org tua mereka yang sudah usia lanjut…tapi di Indonesia…anak anak sekolah. Serta .orang orang dewasa sudah terbiasa mengurusi kakek mereka yang mungkin hidup susah dan sakit2an …nenek yang sakit dan usia tua…jadi..kurang lebih sama malah anak anak di Indonesia melakukan nya mungkin ber tahun tahun.Yang saya salut..anak anak di Indonesia juga sudah belajar social sejak sekolah…misal ada teman kemalangan…mereka akan ramai ramai menyumbang…mereka akan usahakan apa saja agar bisa mengunjungi teman yang sakit ..bahkan kalau lokasi di luar kota mereka akan usahakan mengunjungi walau harus di angkutan umum ber jam jam..…dan memberikan sumbangan tadi…Yang saya lihat di Eropa…karena semua punya asuransi kesehatan dan kematian ….sumbang menyumbang itu tidak ada dalam budaya mereka…karena semua telah di urus asuransi…mereka datang ( cukup sekali ) …diam…dan pulang…mungkin mereka meletakkan bunga apabila ada teman mereka yang meninggal…tapi..anak anak di Indonesia melakukan lebih banyak dari itu…dan…tanpa pamrih….Komentar ini saya tulis agar kita juga melihat bahawa anak anak di Indonesia juga anak anak yang hebat….

  2. 29
    Kornelya Says:

    Suhu & Elnino, umur 13 tahun sudah masuk preteen. Mereka boleh melakukan pekerjaan beresiko rendah dengan persetujuan orang tua. Mengantar koran biasanya dilakukan dgn sepeda, dgn radius tdk lebih dari 1km. Kalau metik apel,bluberry itu biasanya kerjaan summer untuk anak SMA, kalau kebun milik saudara/kenalan tetangga dibawah 13 tahunpun boleh ikut, anak-anak senang terima bayaran. Salam.

  3. 28
    J C Says:

    Elnino, kalau Itsmi umur 13 sudah kerja itu bukan anak-anak di bawah umur, wong dia sudah gaduk kuping (sudah nyampai kuping), dan mungkin sudah kenal “yang macam-macam” jadi Itsmi menganggap waktu dia umur 13 tahun itu sudah DEWASA… sudah ngerti dan paham “macam-macam” lah. Kalau anak cewek rata-rata umur 14-15 sudah “paham dan ngerti macam-macam”…bener tidak, Itsmi?

  4. 27
    elnino Says:

    Program yang sangat bermanfaat. Btw anak cewekmu manis ya, Indri

    Eh, mau nanya ke Itsmi ya… Kalo gak salah di artikel yg ada anak penjual pisang dan anak2 yg membantu orang tuanya bekerja di sawah, Itsmi mengritik itu sebagai mempekerjakan anak di bawah umur. Kenapa sekarang di sini dia mendukung anak2 13+ mulai belajar cari duit? Apakah umur segitu di Belanda dianggap bukan anak2 lagi Itsmi?

  5. 26
    Silvia Says:

    Amin. Semoga ya.

    Salam hangat balik dari saya buat Indri dan keluarga didalam kasih Yesus.

  6. 25
    Indriati See Says:

    @Mas Handoko Widagdo

    Wow … kalau demikian saya tidak heran Mas Han hanya sayang mengapa tidak dilanjutkan ?

    Salam hangat tuk Mas Han dari seberang

  7. 24
    Indriati See Says:

    @Sista Silvia

    Terima kasih, dengan alasan itulah saya buat artikel diatas dengan harapan sebagai “model” bagi kurikulum di Tanah Air, saya yakin sudah ada sekolah2 (diluar sekolah kejuruan) yang mempraktekkan sistem diatas hanya belum secara nasional, ya … semoga saja menjadi kenyataan !

    Salam hangat untukmu sis dalam kasihNya

  8. 23
    Indriati See Says:

    @Lieber itsmi

    Ide yang bagus, kebetulan saya sedang menyusun tulisan tentang subyek ini … mohon ditunggu ya

  9. 22
    Indriati See Says:

    @Mas P@sP4mPr3s

    Iya … saya pribadi mendukung jika JC mau mencalonkan diri … jujur saja kalau kita memerlukan siapa saja yang mempunyai niat baik dan tulus untuk memajukan Pendidikan kita … MAJUnya suatu negara terlihat dari SISTEM PENDIDIKANnya bukan ?

  10. 21
    Indriati See Says:

    @Nia

    Kendala lainnya, mental guru yang “sok pintar dan angkuh” memang masih dipelihara sis, mereka bahkan tidak sadar kalau banyak anak2 didik mereka berpengetahuan lebih karena belajar dari orang tua mereka di rumah …

    Mental membeda-bedakan kelas dalam masyarakat, HARUS DIHILANGKAN agar anak2 orang kaya juga bisa mengerti bagaimana susahnya menjadi anak yang lahir dari keluarga yang tidak mampu, HAK mendapat PENDIDIKAN yang LAYAK adalah HAK seluruh ANAK INDONESIA tanpa memandang SARA ,9

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)