Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Cerita di atas kereta

Thursday, 19 April 2012

Viewed 1283 times, 1 times today | 23 Comments |

Taufikul

 

Halo kawan-kawan Baltyra! Lama tidak menyapa dan masuk ke lorong-lorong tulisan kalian, maka ini saya bawakan cerita membosankan dari saya. Hehehehe, maaf sudah lama tidak muncul. Ini sekadar tulisan sapaan, semoga berkenan, soal kereta yang saya tumpangi saban pergi jauh. Perjalanan dengan kereta mahal di pengalamannya.

#1#

Ini pulang. Entah apa itu pulang, yang jelas kereta sudah jalan dan kenangan tercecer di belakang. “Mijon…mijon…mijon!”

Lihat orang-orang terkantuk perlahan, mau lelap biar tak dirong-rong keekonomian kereta yang menelusur selatan. Kini penumpang bisa tidur, membawa mimpi-mimpi di kereta ekonomi. “Air…air…air…” Karena dulu kereta kelas 3 ini seperti gerbong pengungsi, banyak yang tak bisa duduk akhirnya tidur sambil berdiri.

Penjual kipas masih banyak, jual tahu juga tetap, apalagi yang menenteng kopi… sekarang orang-orang ini bisa lewat tak perlu melanggar tubuh yang tergeletak di lantai. Kata kakek tua yang kukenal karena dulu sama-sama dapat tiket dari calo, ‘ada perbaikan di atas sana.’

“Kopi…kopi…kopi!” Entah apa yang diperbaiki, yang jelas si kakek lebih bahagia. Kakek Binar, dulu dia bilang begitu, memberi kartu nama. Anggota suatu mlm, entah apa namanya, jual obat herbal yang kini kubawa untuk ibu.

“Goreng…goreng…” Aku tahu ibu pasti suka obat ini, sebab ia benci kemotherapi. Rambutnya berguguran, batuknya bertebaran, kepalanya melayang-layang, begitu kisahnya padaku perihal pengobatan moderen itu.

Aku juga tak suka ibu menderita, “Bolanya bekelnya sepuluh…bolanya bekelnya sepuluh…,” dan tak tahu harus bagaimana selain menerima tawaran si kakek yang kenal di kereta. Kubelikan obat dari mlm… entah mlm apa.

“Maaf ya pak, barangkali berminat… bulpen dua ribu rupiah…” Mungkin kereta ini lebih cepat daripada yang kupikirkan. Atau pikiranku terlalu lambat untuk mengikutinya. Seolah, naik kereta selalu sama, selalu ke jogja dan ke jogja…padahal rumah ibu tak di sana. Tapi biarlah ya, tempat itu kulewati saja, hitung-hitung plesiran ke masa lalu.

Ah, kereta …”Tahu ngemil, tahu ngemil…lontong tahu lontong…” “Ekstrajoss, rokok, rokok…permen, tisu, rokok, rokok…”

Tibalah tengah malam dengan hening yang istimewa, sebab derunya suara perjalanan selalu membuatku ingin terlelap. Entah kenapa, suara berisik dalam sebuah perjalanan itu semerdu hujan; bahkan pada metromini yang terbuat dari rongsokan berkarat di Ibukota.

Setelah kereta Progo melewati Purworejo, ada yang harus kamu tunggu. Kereta ini selalu membawa kenangan jelang masuk Jogja nanti. Suara pengamen yang selalu kudengar jika pulang dengan Progo. Aku tak tahu pasti mereka naik dari mana, mungkin Purworejo, mungkin juga Wates.

“…..nalikane kowe barang ora ketemu… thak  kewerkewer…” suara khas macam itu selalu ada. “….mlaku-mlaku karo ngguya-ngguyu, ombenane ???? meler karo susu….thak ewerewer…” dan ini menjadi penanda masuk kota Jogjakarta.

“…… kenalan karo wong Kertosono, gantengeee koyo arjune ngagemane koyo raden Gatotkoco….”

 

#2#

Perjalanan pertama ke luar kota dengan embel-embel tugas kantor alias liputan ternyata pakai kereta. Yang ini kereta eksekutip. Dari ketiga jenis kelas kereta, ini yang paling unggul, yang tiketnya bisa lebih mahal dari pesawat. Tapi perjalanan kereta selalu lebih istimewa (atau karena aku tak pernah naik pesawat :P).

Yup, April ini aku resmi jadi karyawan sebuah perusahaan #gagpenting. Liputan pertama ini beda dengan desk yang biasa kupegang setahun terakhir. Kali ini adalah kunjungan lapangan oleh sejumlah wartawan yang sering meliput di Bulog.

Tak banyak kenal orang Bulog, aku seperti orang hilang saja di antara mereka. Humas Bulog yang kukenal dulu karena nguber-uber data anggaran impor beras, sudah pindah entah di mana. Niatku sih keluar kantor saja, karena redaktur juga bosan melihat manusia culun yang pura-pura bisa otak-atik grafik Bloomberg, yang tiap hari datang dengan wajah manyun dan bisanya nulis emas dan minyak saja. :D

Ya sudah, berbekal beberapa celana dalam dan kaos di tas, kudatangi Gambir dan kutemukan orang-orang baru. Kecuali satu waratawan perempuan yang beberapa kali kulihat. Kami pernah salaman untuk kenalan dua atau tiga kali dan masih juga merasa tidak kenal. Tapi tak apa, itu membuat tangan kami berjabat lebih lama.

Jadilah kerjaanku sebatas mengamati tingkah laku mereka, karena aku tidak paham dengan apa yang kuliput. Ada orangtua dari koran x yang jika mandi sejam lebih (kuanggap laki-laki itu tidak butuh mandi). Selain itu, dia selalu membawa majalah penuh gambar perempuan seksi tiap kali ke kamar mandi. Atau perempuan bongkotan yang entah menulis apa, hanya semangatnya masih kukenali. Ketua forum wartawan terlihat ramah terhadap semua orang dan sepertinya kenal seluruh pejabat Bulog tiga generasi, dan tahu kebiasaan mereka di dalam kamar mandi :) .

Dan ada perempuan dari koran biru milik si biru yang menarik-narik tanganku untuk duduk berjejer ;) Yey! Sayangnya, aku lebih suka duduk sendiri. Hahahaha

Lalu, naik kereta. Perjalanan Jakarta-Solo. Lalu bis, Solo-Nganjuk-Madiun-Kediri-Surabaya :(. Tapi ini benar-benar perjalanan, bukan liputan :D. Dan di Surabaya hanya beberapa jam untuk mendengar petani berdikusi dengan Bulog. Petani-petani ini terlalu cerdas di mataku, atau mereka memang cerdas sekarang, tapi tetap saja pasrah.

Terlalu sebentar hingga Surabaya tak penah terbayang di pikiranku beberpa menit selepas kutinggalkan. Sebelum masuk Stasiun Pasar Turi, dan juga setelah semua wartawan meneteng oleh-oleh masing-masing 2 kadus kecuali aku, maka kutemukan uang seratus ribu di jalan. Kebiasaan berjalan menunduk ternyata ada hasilnya, setidaknya uang seratus ribu ini bukan yang pertama dalam hidupku hahahahaha. Bahwa uang itu kutemukan di tempat remang, itu mungkin juga istimewa.

Di rombongan juga ada beberapa laki-laki tua, rambutnya beruban dan entah berapa banyak cucunya. Bagiku tampak selalu aneh bahwa ada wartawan setua itu, kupikir wartawan itu hanya sebuah fase :D hahahahahak dan bukan jalan hidup untuk dihayati saat kamu menjelang mati. Aku tidak tahu apakah mereka masih menulis atau hanya karena menyukai tur yang melelahkan ini. Pertanyaan mereka formalitas, dan bahkan aku tidak tahu apa yang ditanyakannya. :P Bahkan, aku baru tahu kepanjangan Bulog pada hari kedua perjalanan…

Di beberapa tempat kami disuruh melihat penggilingan. Waktu kecil aku juga pernah menadah beras di penggilingan. Ada pula disuruh nanya-nanya juragan-juragan beras, para pedagang, dan “pemilik” pasar beras Cipinang dari Nganjuk.

Ckckckckck, lalu giliran petani ngomong di forum, keluarlah keluhan yang sebenarnya, betapa mata mareka membara melihat pedagang yang bermitra dengan Bulog, sementara mereka sendiri kesulitan menjual dengan harga layak. Ah, biasalah itu, tidak menarik :D. Mereka hanya bisa pasrah.

Perjalananku berakhir di Jakarta lagi setelah 11 jam dikepung dingin di dalam kereta Argo Anggrek. Perjalanan apa ini kalau berakhirnya di tempat kita berangkat?? Huh! Dan sekali lagi, kereta eksekutip tidak memberi pengalaman apa-apa selain dipaksa menyelimuti seluruh tubuh (krubutan). Aku lebih suka dua kelas di bawahnya eksekutip :D, hemat dan kaya manfaat… Aku tak suka daftar menu di kereta eksekutip, khusunya di kolom harga.

Maaf ya kawan-kawan, cerita saya membosankan. Sudah tidur semua apa belum? :D

 

Share This Post

Posted by Thursday, 19 April 2012 on 09:03.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

23 Responses to “Cerita di atas kereta”

Pages: [3] 2 1 »

  1. 23
    Lani Says:

    DA, AKI BUTO : klu usia aki saiki 35, kmd terakhir naik KA 30 th yl…….la dia msh piyek iyik2……..nek ngono iki ada kesalahan ketik……opo aki pikun akuttttttttttttt? wakakakak

  2. 22
    Dewi Aichi Says:

    Fik….ha ha…dah lama tak tunggu tulisanmu je…..kok bagian terakhir nanya orang tidur wakakaka….

    Tulisannya bikin cekikikan….nulis lagi dong…yang bikin cekakaan…..!

  3. 21
    Dewi Aichi Says:

    Fik….sayang, aku ngga punya pengalaman naik KA di Indonesia….jadi ngga bisa cita pengalamanku…nanti ahhh…coba…! Alasanku sih…karena stasiun KA akan lebih jauh dari rumahku…

Pages: [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)