Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kisah Pendekar Wing Chun

Thursday, 19 April 2012

Viewed 1524 times, 1 times today | 20 Comments |

Ary Hana

 

Artikel sebelumnya:

http://baltyra.com/2012/04/04/jejak-hantu-pecinan-di-banda-neira/

 

Lim Bloeder turun dari kapal. Kedua tangannya terikat pada rantai besi, terhubung bersama puluhan tangan orang hukuman lain. Dia dibuang dari Batavia ke pulau terpencil ini. Dia dianggap memobilisasi orang Cina di Batavia dan membahayakan kedudukan pemerintahan Hindia Belanda, hingga mereka perlu menyingkirkannya jauh-jauh agar tak kembali mengacau Batavia.

Di bawah todongan bedil kumpeni, Lim dan kawan-kawannya setengah menyeret kaki tuju istana gubernur jendral.

Tubuh Lim mengurus menulang. Mirip lemas tak bertenaga. Lebih sebulan terombang-ambing di lautan dalam kapal kayu tanpa cukup makan melemahkan fisiknya. Namun tidak semangatnya. Mata sipitnya masih mengobarkan amarah. Martabatnya sudah direndahkan.

‘Sungguh pulau yang cantik…amat cantik,’ pikirnya sambil melangkah, membebek prajurit di depannya. Matanya mencuri pandang sekitar. Ada gunung api hijau menjulang di kirinya, seolah membelah birunya langit. Sementara di belakangnya sebuah pulau panjang nan senyap menabur kesuburan, terpisah laut yang dipenuhi perahu kayu. Perahu yang dbuat dengan melubangi batang pohon halaban. Sungguh melenakan.

“Membungkuk!” perintah prajurit di depannya. Serentak para hukuman  merendahkan badan, nyaris wajah mereka menyentuh tanah. Di depan mereka, menjulang istana putih yang halamannya dipenuhi para tuan besar berkulit pucat. Berpasang mata memandang para terpidana. Lim tahu, di pulau ini dia bakal diperbudak. Namun dia pun mengerti, nasib manusia bisa berubah  seiring kepindahan tempat.

“Bawalah keranda kematianmu kemana pun kau pergi, agar kau tahu kapan bisa merebahkan tubuhmu di atasnya suatu waktu, dan membiarkan orang lain membopongnya untuk membawamu pulang,” nasihat gurunya di tanah leluhur dulu. Murid langsung Leung Bok Chao.

Tentu dia takkan membawa keranda kematian dalam arti sebenarnya. Maksud gurunya pastilah dia bisa mati kapan saja, namun juga bisa menentukan saat kematiannya sendiri. Sekarang pun dia bisa mati. Coba dia maju menyerang satu prajurit, kumpeni pasti takkan membuang waktu untuk membedornya. Namun bukan itu mau gurunya juga pinta hatinya. Dia harus mati setelah berjuang dan berguna buat sesama. Kematian yang bermakna.

*****

Membungkuk, terpanggang, membuat kesadarannya melayang. Ingatannya pun terbang ke peristiwa lima tahun silam. Kala itu dengan gagah bermartabat dirinya meninggalkan sukunya, Hakka, di sebuah desa pelosok ujung Sichuan. Niatnya bulat, hendak menjajal nasib di tanah harapan. Baru 18 tahun umurnya, pemuda gagah, berbadan tegap, dengan rambut panjang dikelabang satu rapi. Dia merasa perkasa ketika itu, tangkas, berkat kesigapannya berlatih ilmu beladiri di perguruan milik anak turun Leung Bok Chao itu.

Banyak sudah teman sedesanya yang merantau. Pemuda gagah yang merasa punya masa depan cerah sepertinya. Mereka menuju tanah emas di barat selatan. Ada yang ke Kukang, Deli, Singkawang. Dia sendiri hanya pasrah kepada kapal yang membawa, hampir delapan bulan, sebelum akhirnya berlabuh di Sunda Kelapa.

Batavia kala itu tampak semarak di matanya. Begitu ramai pelabuhan, penuh kapal dan orang-orang bertubuh coklat dan bertelanjang badan, hanya mengenakan cawat, terbungkuk-bungkuk membawa beban di punggung. Para kuli angkut. Tentu mereka penduduk asli.  Ada juga satu dua lelaki bertubuh tegap, tinggi, dengan topi menghias kepala, dan tongkat yang siap naik-turun memberi perintah atau cambukan jika si kuli lambat bergerak. Meneer mereka menyebutnya. Tuan Belanda.

Sebentar dia turun di pelabuhan, segera digiring seseorang menuju kedai makan seorang Hakka juga. Ikatan kesukuan di tanah rantau eratlah sangat. Di rumah pedagang beras itu dia dan beberapa kawan ditampung, sebelum mendapat kerja.

“Batavia kini tidak seaman dulu. Orang-orang putih banyak yang anti Cina. Kalian harus hati-hati menjaga sikap dan jarak. Kalau ada kesempatan, larilah ke Andalas. Kerja di tambang atau kebun jauh lebih baik ketimbang di kota ini,” begitu petuah paman pemilik kedai.

Kata paman itu lagi, jangan sekali-kali mau bekerja di jawatan kereta api. Banyak orang Cina yang mati kelaparan dan dimakan binatang buas tatkala memasang bantalan rel. Tiga hari kemudian, Lim sudah mendapat pekerjaan. Menjadi babu cuci piring  sebuah rumah makan dekat kawasan Glodok. Walau tak suka, dia membisu. Sambil mencari peluang yang lebih baik tentunya. Toh di tanah orang ini tak ada kawan seperguruannya yang tahu. Tak ada malu yang mesti ditanggung.

Perlahan, posisinya naik. Menjadi pemotong sayur, pencacah daging, hingga benar-benar sebagai koki. Sepasang tangannya yang gesit dan gerakannya yang tangkas, membuatnya disukai majikan. Namun hanya setahun dia bertahan di warung itu, sebelum pindah ke sebuah toko roti milik orang Han. Alasan kepindahannya sederhana saja. Dia memergoki tokenya memperkosa salah satu pelayan. Amoy dari Fujian.

Di toko roti bintangnya mulai bersinar. Tak sekedar membersihkan oven, mengaduk adonan, atau memanggang roti, Lim juga dia diajar majikannya meramu resep roti. Majikannya tahu, Lim bukan sembarang orang. Orang Hakka satu ini punya gerakan lentur dan tenaga bak kuda. Gerakannya pun cepat. Mirip yang dimiliki pendeta di Kuil Setan. Majikannya mungkin bisa mengendus, namun tak pernah tahu buruhnya yang satu ini telah belajar ilmu san zhan sejak balita.

Satu hal yang paling disukai Lim adalah mengolah bloeder. Bloeder baginya amat menantang. Bagaimana membuat kue buntet itu mengembang tapi tak merekah pucuknya. Pas panasnya, tepat ukuran biangnya. Bloedernya amat disuka para meneer dan noni mereka. Toko roti Samo Han pun semakin ramai.

Sejak bekerja di toko roti pergaulan Lim semakin luas. Tak hanya paham bahasa Belanda dia, tapi juga bahasa Melayu. Tahulah dia nasib orang Cina di Batavia tak lebih baik dibanding di tanah sendiri. Kerap malah lebih buruk. “Kalau mau nasib baik, kita bisa ke Deli atau Bangka,” begitu selalu ajakan kawan-kawannya. Namun Lim mencoba bertahan. Dia merasa, banyak yang bisa dilihatnya di Batavia ini.

Hingga suatu hari beberapa kawannya datang mendadak. Mirip diburu-buru. Di bagian dapur mereka berbincang. Tentang rencana Gubernur Jendral baru membersihkan pusat kota dari orang Cina. “Kita bisa dicincang. Mirip enam puluh tahun lalu. Kita mesti melawan,” seru seorang dari mereka.

Lim tidak berkata apa. Dia asyik dengan pikirannya sendiri. Mereka-reka kenapa bloeder buatannya kali ini kurang mengembang. Dia tak peduli dengan rencana gubernur jendral. Majikannya orang kepercayaan penguasa. Mereka kerap memesan kue dan roti di Samo Han. Namun kawan-kawannya terus ribut. Mau tak mau dia setuju ikut terlibat dengan gerakan mereka. Dia pun tak ingin melihat kawan-kawannya dibantai, jika itu benar.

Beberapa kali Lim membantu mereka diam-diam. Memata-matai pegawai kumpeni yang berbelanja di tokonya, ikut meledakkan gudang mesiu, hingga merampok kereta pembesar kumpeni. Hasil rampokan, mereka gunakan untuk menghidupi janda-janda keluarga Cina yang lelakinya diciduk kumpeni. Lim mulai menikmati perannya sebagai Robin Hood. Kawan-kawannya pun semakin hormat kepadanya.

Hingga suatu hari dia membuat kesalahan. Bukan tertangkap saat beraksi, namun kala menggelar rapat rahasia di belakang dapur. Seorang langganan majikannya memergoki mereka. Lalu, terdamparlah dia di sini. Begitu cerita bermula.

*****

Lim bertanya, akankah nasibnya lebih buruk dari budak pala. Akankah hidupnya berakhir di pulau cantik ini sebagai manusia terlarang? Lim melenguh, seakan menolak nasibnya. ‘Semoga dewa laut bermurah hati kepadaku,’ doanya. Semoga hidupnya lebih baik semenjak dia menginjakkan kaki di pulau cantik ini, doa semesta. Dia tahu, semesta akan membantunya dengan kekuatan dewa-dewa.

Lim masih tunduk menatap rumput ketika seorang prajurit memanggil namanya. Tendangan di tubuhnya membuatnya terhuyung, melangkah ke depan.

“Kowe Lim, kowe ikut Tuan Van Broeke ke Pulau Ay. Kowe mesti bantu dia punya kebun pala. Mengerti?” teriak seorang tuan putih lantang. Wajahnya yang gemuk kemerahan tersembunyi dari balik topinya.

“Mengerti Meneer,” jawab Lim.

Seorang prajurit melepas borgol besi di tangannya. Mengumpul dia dengan sekelompok narapidana yang hendak menuju Pulau Ay. Kora-kora berayun menuju Ay. Laut tenang. Dayung kayu di tangannya, bergerak lincah melajukan perahu. Lim masih membisu dengan mata nyalang. Bisu yang sama beberapa jam kemudian jelang daratan Pulau Ay. Bisu yang membekukan udara, menenangkan ombak lautan.

Seekor ikan terbang mengejutkan bisunya. Sisik keemasan ikan itu menyilaukan pandangannya. Nyaris Lim menjatuhkan dayungnya.

“Hanya ikan kecil.. jangan takut,” tawa seorang serdadu Belanda. Merendahkan.

Lim mengelap bibir dengan lidahnya. Ikan emas. Akankah nasibnya akan berubah? Lim tersenyum. Sekejap hatinya merasa ringan. Seringan gerakan ikan bersisik emas yang melayang ke udara.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 19 April 2012 on 09:04.

Categories: Nusantara. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

20 Responses to “Kisah Pendekar Wing Chun”

Pages: [2] 1 »

  1. 20
    J C Says:

    Gelem, gelem aku novelnya…

  2. 19
    ah Says:

    kayaknya ini jadi novel pendek, 50 hal

  3. 18
    mbelgedeshu nktumbaba Says:

    saya menantikan kisah selanjutnya dari twa ke Lim

  4. 17
    Lani Says:

    AKI BUTO : waaaaaah……kamu itu bs didapuk jd asisten prof Sejarah iki……jd pendekat Wing chun yg dijadikan aliran kungfu/silat Wing Chun seorg wanita???? lah, dirimu sampai apal urut2-annya…….sumbernya drmn to???? aku jd ingat semua serial silat KHO PING HO

  5. 16
    EA.Inakawa Says:

    Ceritera bersambung yang bagus……Lim Bloeder loe harus bertahan sampai ceritera ini berachir yaaa. salam sejuk

  6. 15
    AH Says:

    kornelya : hehe.. tulisan ini ‘banyak lubang’, nggak sempat menggali literatur lebih jauh karena keterbatasan waktu. sambungannya ‘entahlah’

  7. 14
    AH Says:

    makasih JC, lim dibuang ke neira berdasarkan data dari ANRI sebelum tahun 1803, mungkin 179sekian. bisa jadi dia ikut mendirikan klenteng kongsi di banda, dan membuat orang-orang cina yang dibuang ke banda saat itu mendapat kedudukan ‘istimewa’ dari kumpeni (walau sudah ada pedagang dari cina yang melakukan kontak dengan belanda, juga penduduk lokal pada abad ke-10).

    oya, beberapa orang cina ini kemudian menjadi saudagar yang sangat makmur, bahkan pemilik matatita hall (semacam klub kumpul-kumpul dan pesta belanda di banda) adalah orang cina.

    kelak belanda sampai perlu mengangkat seorang kapitan untuk memimpin orang cina di banda. salah seorang kapitan (Chu) adalah bekas orang buangan dari batavia

  8. 13
    Kornelya Says:

    Fiksinya baguus sekali, aku jadi penasaran, ditunggu kisah petualangan Lim selanjutnya.

  9. 12
    J C Says:

    Ary Hana, aku seneng buanget bacanya, fiksi ‘rodo ngawurmu’ sungguh pas sekali. Senang menelisik kepingan-kepingan sejarah seperti ini. Sekedar melengkapi sedikit:

    Kungfu Wing Chun dikenal di seluruh dunia saat ini karena diperkenalkan dan digunakan oleh Bruce Lee. Tanpa Bruce Lee, Wing Chun tidak akan dikenal luas seperti sekarang ini. Bruce Lee berguru kepada yang bernama Yip Man (Ye Wen: 1893 – 1972). Yip Man sendiri adalah murid generasi ke 5 dari pendekar Wing Chun (seorang wanita) yang namanya dijadikan aliran kungfu ini. Wing Chun sendiri mendapatkan ilmunya diajari oleh seorang rahib wanita yang menciptakan kungfu khusus dengan gerakan dasar pertarungan ular dan bangau.

    Wing Chun bersuamikan Leung Bok Chau dan menurunkan ilmunya turun temurun sampai ke cicit murid yang bernama Chen Hua Shun. CHS inilah guru Yip Man, dan Yip Man pindah dari Mainland China ke Hong Kong membuka perguruan Wing Chun, dan salah satu muridnya adalah Bruce Lee.

    Hari ini Wing Chun dikenal dan identik dengan Yip Man yang dianggap Grand Master Wing Chun dunia. Kalau menilik dan menelisik peninggalan kepingan sejarah di Banda Neira yang jelas-jelas bertuliskan: “murid Wing Chun” (Yong Chun di zi, 咏春弟子) yang terukir di kelenteng di Banda Neira, dan melihat angka tahun yang jauh lebih awal dari 1893, kemungkinan besar, bahwa si Pendekar Lim dari Batavia ini memang masih murid langsung Wing Chun. Ternyata Wing Chun sudah ada di Hindia Belanda jauh sebelum Yip Man lahir.

  10. 11
    AH Says:

    mbak lani : hehe.. saya mau ‘mambung’ dulu ke saparua, nusa laut , seramcs.. baru nulis lagi nanti2

    alvina : belom ada buku yg berkisah ttg pecinan ato lim di banda neira. ini cuma hasil ngumpulin data sejarah yg berserak, lalu direkonstruksi lewat fiksi ‘rodo ngawur’

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)