Kunti

Chandra Sasadara

 

Meskipun matahari belum setinggi tombak, angin kering yang dibawa musim kemarau telah menyapu seisi hutan hingga merontokkan daun-daun tua yang masih setia memeluk ranting pohon. Daun-daun berwarna coklat tua yang telah rontok itu seperti hamparan karpet yang menutupi tanah hutan. Tidak ada yang terusik oleh perubahan warna dan musim yang silih berganti mengikuti usia hutan. Semua penghuninya tenggelam dalam aliran sunyi yang menghipnotis, tidak terkecuali seorang perempuan tua yang sedang duduk padmasana dengan tangan membentuk guyan mudra. Ia sedang tenggelam dalam hatha yoga melalui penyatuan tubuh dan nafas di bawah pohon yang sedang meranggas.

Perempuan tua yang masih menyisahkan kecantikan di garis wajahnya itu belum mengubah posisi duduknya meskipun matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Menjelang sore, saat matahari mengurangi panasnya, perempuan itu mengubah duduknya menjadi ardha padmasana dengan bentuk tangan namaste murda. Ia lakukan itu agar mencapi raja yoga secara sempurna, usaha untuk menyatukan pikiran dan mentalnya. Gigitan udara malam akhirnya memaksa perempuan tua itu menghentikan samadinya, kembali ke pondok kayu di tengah hutan yang telah dihuninya selama tiga tahun bersama kedua kakak iparnya. Raja Dristarasta dan Gandhari.

Tidak saling bicara, meskipun mereka duduk dalam satu lingkaran. Perempuan tua itu membagikan kacang-kacangan yang masih tersisa ke dalam tiga mangkuk kayu. Tidak banyak, tapi cukup untuk mengganjal perut agar dingin malam di musim kemarau itu tidak terlalu merobek raganya yang sudah tua renta. Tanpa tergesa, sisa kacang yang ada di mangkuk dikunyah pelan-pelan dengan gigi yang mulai goyah. Ia tutup kenikmatan kacang itu dengan beberapa teguk air dalam gayung kayu yang disodorkan oleh Gandhari.

Usia dan ribuan peristiwa yang dilakoninya telah mengubah jalan hidupnya. Puluhan tahun lalu dirinya masih seorang permaisuri seorang Maharaja Hastinapura. Prabu Pandu yang tersohor sakti dan bijaksana. Bahkan empat tahun lalu ia masih ibu kandung Maharaja Yudhistira, raja Hastinapura yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. Kini ia hanya seorang perempuan pertapa yang berbagi hidup dengan puluhan pertapa lainya di hutan meranggas.

Pada saat Raja Dristarasta meminta ijin kepada Maharaja Yudhistira untuk menjalani kehidupan sunyasa di hutan, ia telah bertekad untuk menyertainya. Meskipun awalnya Yudhistira tidak menyetujuinya. Tekadnya untuk menyertai Raja Dristarasta menjalani sunyasa tidak lain untuk menebus pilihan hidup yang selama ini dinggap menyalahi dharma. Ia merasa bukan seorang ibu yang suci seperti yang selama ini dibicarakan orang. Ia hanya perempuan biasa yang juga melakukan banyak kesalahan, hanya bedanya ia pernah menjadi permaisuri dan ibusuri Maharaja Hastinapuran. Ia sadar bahwa derajat yang pernah dimilikinya tidak akan membuat dirinya kembali suci seperti saat dilahirkan kecuali dengan cara menempuh jalan sunyi. Melipat keinginan, menundukan gejolak batin dan menyerahkan sisa hidupnya kepada Yang Maha Agung.

Tiga tahun dalam kehidupan sunyasa tidak membuat perempuan tua itu bisa melupakan perang besar keluarga Bharata yang terjadi delapan belas tahun lalu. Perang yang telah menyiksa batinya selama ini. Perang yang hampir memusnakan Wangsa Bharata, membuat ribuan perempuan menjadi janda, anak-anak kehilangan orang tua dan orang tua kehilangan anak-anaknya. Ia tidak pernah menyesal melahirkan Yudhistira, Bimasena, Partha atau membesarkan Nakula dan Sahadewa. Ia hanya menyesali pilihan hidupnya. Ia menyesal karena rahasia hidupnya tidak disampaikan kepada anak-anaknya ketika memutuskan untuk merebut Hastinapura dengan jalan perang.

*****

Alun-alun Kerajaan Bhoja penuh sesak oleh ribuan orang yang sedang melihat ketangkasan para kesatria peserta sayembara. Prabu Kuntibhoja, penguasa negeri Bhoja itu sedang menyelenggarakan sayembara untuk mencari pendamping hidup bagi anak angkatnya. Seorang perempuan muda dan cantik bernama Pritha yang telah menjadi mimpi setiap pemuda,  pangeran, kesatria dan raja. Gadis bernama Pritha itu sebenarnya adalah anak Sura keturunan Wangsa Yadawa. Sura menyerahkan Pritha kepada Kuntibhoja karena pengusaha negeri Bhoja itu belum memiliki anak.

Sebagai perempuan cantik yang diperebutkan oleh para pangeran, raja dan kesatria rasanya tidak ada salahnya kalau ia menginginkan pilihan hatinya tampil sebagai pemenang. Pritha sejak lama telah mendengar kemasyuran dan ketampanan Mahaprabu Pandu dari negeri Hastinapura. Menurut penjelasan ayahnya, Prabu Pandu selain sakti juga seorang raja yang bijaksana dan dicintai rakyatnya. Sejak saat itu, gadis jelita anak angkat Kuntibhoja itu memimpikan penguasa Hastinapura bisa menjemputnya, membawanya sebagai permaisuri Hastinapura.

Meledaklah kegembiraan Pritha ketika Parbu Kuntibhoja menyatakan bahwa pemenang sayembara adalah Prabu Pandu dari Hastinapura. Kalau tidak mengingat ia adalah seorang putri raja yang sedang menjadi pusat perhatian, ingin rasanya memeluk dan mengalungkan bunga di leher laki-laki gagah yang menjadi pujaan hatinya itu. Perempuan jelita itu berusaha untuk menutupi kegembiraan hatinya ketika Prabu Pandu hanya berjarak beberapa hasta dari tempatnya duduk. Ia duduk persis di samping bapak angkatnya.  Sambil memberikan senyumnya yang paling menawan, Pritha membalas lirikan mata Prabu Pandu ketika laki-laki itu menundukan kepalanya di depan Prabu Kuntibhoja untuk menerima kalungan bunga sebagai tanda kemenangan.

Kuntibhoja melepaskan anak angkatnya untuk dibawa oleh Prabu Pandu ke Hastinapura. Penguasa negeri Bhoja itu mengatakan bahwa setelah menjadi istri Prabu Pandu, Pritha akan menggunakan namanya, yaitu Kunti. Pelepasan kedua mempelai telah selesai dilakukan, kereta Prabu Pandu dan mengiringnya melesat menuju Kotaraja Hastinapura. Namun perempuan cantik yang baru saja mendapat nama Kunti itu tidak bisa menutupi gejolak hatinya. Batinnya seperti berayun antara kebahagiaan sebagai seorang istri maharaja dari negari besar dan rahasia hidup yang dipendamnya. Rahasia kelam saat usianya masih remaja.

Ingatanya terlempar ketika dirinya masih berada di padepokan Resi Druwasa. Resi sakti itu merelakan mantra sakti adityarhedaya untuk diwariskan kepadanya. Menurut sang resi, mantra itu bisa digunakan untuk menghadirkan siapa saja, termasuk dewa. Sejak menerima mantra adityarhedaya, remaja cantik tidak bisa tidur. Ia penasaran untuk mencoba mantranya. Remaja itu telah membayangkan seorang dewa yang menurut cerita berwajah tampan dan tubuhnya mengeluarkan cahaya menyilaukan. Ia ingin menghadirkan Bhatara Surya agar bisa melihatnya langsung.

Malam telah mencapai puncaknya, padepokan Resi Druwasa telah tertidur. Semua siswa, bahkan sang resi juga telah terlelap dalam selimut dingin halimun pegunungan. Gadis remaja itu duduk bersila di atas pembaringan, tanpa suara ia merapal mantra sakti adityarhedaya. Tanpa disadarinya telah berdiri seorang laki-laki gagah, berwajah tampan dengan tubuh yang diselimuti cahaya tipis berdiri di sampingnya. Laki-laki berpakaian sangat mewah, mengalahkan kemewahan raja-raja yang pernah dilihatnya itu hanya tersenyum. Remaja itu hampir pingsan.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mungil anak angkat Kuntibhoja. Ia hanya tertunduk sampai laki-laki gagah yang menyilaukan itu mengatakan bahwa dirinya akan melahirkan seorang kesatria besar sebagai titisan Bhatara Surya. Ribuan kunang-kunang seperti menutupi pandangnya ketika kalimat itu didengarnya. Ia bukan hanya mencemaskan dirinya, tapi juga membayangkan malu yang akan ditanggung oleh ayahnya. Bagaimana cara menjelaskan kepada semua orang kalau ia benar-benar harus melahirkan seorang anak tanpa suami di saat usianya masih belia.

Di tengah kecemasannya, laki-laki yang berdiri di sampingnya itu mengatakan bahwa ia akan tetap perawan meskipun melahirkan seorang bayi. Laki-laki itu lenyap seperti tertiup angin. Putri Raja Bhoja itu baru sadar kalau perutnya telah besar seperti perempuan dewasa yang akan segera melahirkan. Ia panik, keluar dari padepokan menuju sungai dan melahirkan bayinya. Ia tinggalkan bayi bercahaya itu dengan perasaan hancur lebur. Sejak saat itu perasaannya tidak pernah tenang. Ia merasa telah merampas hak bayi tanpa dosa itu.

Lamunannya pecah ketika tangan kirinya digenggam oleh laki-laki yang berbagi tempat duduk dengan dirinya di dalam kereta. Sekarang ia istri Mahaprabu Pandu, laki-laki yang sekarang duduk di sebelahnya. Tidak mungkin memutar kembali alur cerita kelam di masa lalunya, apalagi di depan Suaminya. Betapa sakitnya hati Prabu Pandu kalau sampai mendengarkan bahwa perempuan yang baru saja dinikahinya itu telah memiliki anak. Dalam hati ia berdo’a agar anak yang ditinggalkan di tepi sungai itu mendapatkan orang tua asuh yang mau memberikan kasih sayangnya.

Kereta yang membawa rombongan Prabu Pandu telah mencapai gerbang kotaraja Hastinapura. Rakyat kota berjajar di sepanjang jalan sampai kereta yang membawanya memasuki halaman istana. Di dalam balairung istana telah menunggu para tetua Wangsa Bharata, penjabat tinggi negara, para pangeran dan kesatria serta pemuka agama. Namun ada yang aneh dengan perhelatan agung di balairung itu. Selain terlihat sebagai acara penyambutan menantu, acara itu juga nampak dipersiapkan untuk menikahkan seseorang.

Kunti baru menyadari bahwa selain dirinya, telah menunggu di balairung seorang perempuan cantik yang akan dinikahkan dengan suaminya. Hatinya pecah, matanya berkaca-kaca. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak segera mencapai tempat duduk di samping Prabu Pandu. Ia tidak dapat menahan air matanya ketika Resi Kripa memulai upacara pernihakan suaminya  dengan perempuan yang kemudian diketahui bernama Madri, putri Prabu Mandrapati penguasa negeri Mandaraka. Adik perempuan Narasoma, seorang kesatria peserta sayembara yang dikalahkan oleh Prabu Pandu ketika memperebutkan dirinya beberapa waktu yang lalu.

Malam pertama di istana Hastinapura dilewati tanpa sentuhan dari suami yang baru dinikahinya. Dalam hati Kunti pertanya, apakah Prabu Pandu tidak menginginkan dirinya setelah bertemu dengan Madri dari Mandaraka yang cantik jelita itu. Apakah Prabu Pandu telah mengetahui bahwa dirinya telah memiliki anak, mengingat Raja Hastinapura itu seorang yang terkenal sangat sakti mandraguna. Puluhan pertanyaan silih berganti menghinggapi kepalanya. Tiga bulan telah berlalu, namun tidak sekalipun Prabu Pandu mendatanginya seperti layaknya suami istri yang baru saja menikah.

Akhirnya hari yang ditunggunya tiba, Prabu Pandu memanggilnya. Ia datang di ruang pribadi raja, sesaat kemudian madunya juga datang. Dalam ruang pribadi itu Prabu Pandu mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melakukan hubungan suami istri karena kutukan Resi Kimindana. Raja Hastinapura itu bercerita bahwa dirinya secara tidak sengaja telah membuat Resi Kimindana marah dan menjatuhkan kutuknya. Resi itu mengatakan bahwa Sang Prabu akan meninggal dunia setelah melakukan sanggama.

Nafas Kunti kesulitan memasuki paru-parunya, wajahnya pucat dan keringatnya berlelehan. Ia melihat Madri juga seperti orang yang mau pingsan. Ruangan itu senyap seperti tidak berpenghuni. Prabu Pandu yang gagah perkasa di medan perang itu tidak mampu menahan air matanya. Raja Hastinapura itu ikut larut dalam kesedihan kedua istrinya. Beberapa saat kemudian Prabu Pandu mengeluh tentang ahli pewaris tahta yang sekarang didudukinya.

Kunti akhirnya bisa menerima keadaan suaminya. Ia tidak bisa memaksa suaminya melakukan tugasnya sebagai laki-laki kalau akan berakibat pada kematian. Kunti bercerita bahwa ia memiliki mantra sakti adityarhedaya yang bisa membuat seorang perempuan hamil tanpa harus melakukan persetubuhan. Menurut Kunti mantra itu bekerja dengan cara memanggil nama seseorang atau dewa yang diinginkan untuk menitis kepada calon anaknya. Prabu Pandu sangat gembira mendengar cerita Kunti. Penguasa Hastinapura itu bahkan meminta istri pertamanya untuk mengajarkan mantra adityarhedaya kepada Madri. Prabu pandu bertekad menyerahkan urusan kerajaan kepada Bhisma dan Widura. Ia dan kedua istrinya akan menghabiskan hidupnya di hutan untuk mensucikan hatinya.

Di hutan tempat mereka mengasingkan diri. Kunti melahirkan tiga anak laki-laki. Yudhistira, anak pertama sebagai titisan Bhatara Dharma. Bhimasena, anak kedua sebagai titisan Bhatara Bayu. Partha, anak ketiga sebagai titisan Bhatara Indra. Sedangkan Madri melahirkan dua anak laki-laki kembar yang diberi nama Nakula dan Sahadewa sebagai titisan dewa kembar, Bhatara Aswin.

*****

Apakah betul Pandawa merupakan anak-anak Prabu Pandu. Pikiran itu yang masih membayangi hidupnya bahkan di saat dirinya telah menjalani kehidupan sunyasa. Apakah perang besar Bharatayudha akan pecah kalau dirinya menceritakan siapa sesungguhnya Pandawa. Kalau cerita itu disampaikan kepada Pandawa, apakah  akan mengubah jalan sejarah. Apakah Pandawa mau menerima bahwa mereka bukan anak-anak Prabu Pandu. Apakah Pandawa akan mengurungkan niatnya untuk merebut Hastinapura dan Indraprastha kalau mereka tahu bukan keturunan Bharata.

Pertanyaan-pertanyaan yang terus menggelinding liar dalam kepalanya membuat tubuhnya bergetar. Perempuan tua itu mengubah duduknya menjadi virasana. Secara bergantian ia melakukan puraka, kumbhaka dan rechaka untuk menenangkan batinnya. Tubuhnya berhenti bergetar, hatinya mulai tenang meskipun air matanya membasahi pipi tuanya.

Kokok ayam hutan mulai bersahutan, namun perempuan tua itu masih mencari jawaban atas pertanyaannya. Ia berusaha mengingat penjelasan Bagawan Wyasa tentang Bharatayudha setelah perang itu selesai. Guru bijaksana itu mengatakan bahwa perang besar Wangsa Bharata merupakan garis kodrat, tidak ada yang bisa mencegah bahkan para dewa. Perang itu menandai kalahnya angkara murka melawan dharma. Kaurawa dan Pandawa hanya sekedar mejalani garis kodrat, perang antara keduanya telah dipersiapkan oleh alam sejak mereka semua belum lahir di dunia.

Perempuan tua itu berusaha untuk mengembalikan pertanyaan-pertanyaan yang selama delapan belas tahun menghuni ke sadarnya ke dalam garis kodrat. Perang besar itu pasti akan terjadi dengan atau tanpa kejujurannya tentang siapa Pandawa sesungguhnya. Ketidakjujurannya merupakan bagian dari kehendak alam untuk mempersiapkan Bharatayudha. Dirinya tidak lebih dari alat bagi Sang Kodrat untuk melahirkan anak-anak yang mewakili dharma kesatria. Biarkan semua larut bersama kehendak Yang Maha Luhur. Kemarin telah hilang, besok belum tentu datang.

Batin perempuan tua itu semakin tenang, hatinya mulai mencapai pucuk-pucuk kesunyian cipta. Meskipun udara di gubuknya mulai pengap, ia tetap duduk sukhasana sambil terus memutar lingkaran puraka, kumbhaka dan rechaka. Di luar gubuk, para pertapa, yogi dan murid-muridnya sibuk berkemas. Mereka tergesa meninggalkan pertapaan karena pinggiran hutan mulai terbakar. Beberapa teriakan dari para murid yogi bahkan menyebut api telah mendekati gubuk-gubuk mereka.

Perempuan tua itu masih tenggelam dalam samadinya, bahkan kesadarnya telah memasuki jagad kasunyatan yang suwung. Api telah membakar gubuk kayu tempatnya bernaung, tapi samadinya tidak terganggu sedikitpun. Ketika asap mulai menggulung tubuhnya, ia melepaskan semua tanda-tanda kehidupanya, tanpa sisa. Melesat, memanjat, menuju Sang Maha Luhur.

 

 

Daftar Kata :

Ardha padmasana           : duduk bersila dengan menumpangkan kaki kiri di atas paha kanan atau sebaliknya.

Padmasana                         : kelanjutan dari ardha padmasana, menumpangkan kaki kanan di atas kaki kiri bertumpu pada paha.

Virasana                               : duduk di atas tumit dengan kedua lutut dilipat dan renggang.

Sukhasana                          : duduk dengan dua kaki saling menyilang/bersila dengan posisi lutut rendah.

Guyan mudra                    : telapak tangan menghadap atas dengan ujung ibu jari menyentuh ujung telunjuk.

Namaste murda               : menempelkan telapak tangan di depan dada.

Hatha yoga                         : penyatuan melalui penguasaan tubuh dan nafas.

Raja yoga                             : penyatuan melalui pengusaan pikiran dan mental.

Sunyasa                               : jalan hidup yang jauh dari keramaian.

Kasunyatan                        : sepi, sunyi.

Suwung                                : kosong, hampa.

Puraka, kumbhaka dan rechaka : menarik, menahan dan melepas nafas.

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

26 Comments to "Kunti"

  1. Chadra Sasadara  21 April, 2012 at 14:55

    Bu’ Alvina : terima kasih telah mampir. radio Cawang.. entah dimana sampai sekarang “bangkainya” saja tidak bisa saya temukan..hehhehe

  2. Alvina VB  20 April, 2012 at 19:37

    Mantep…jadi inget pewayangan jadul itu setelah semua acara televisi tuntassss, pasti diakhiri oleh cerita wayang. Masih ada ndak ya di TVRI? pasti dah ilang ya, diganti sama sinetron, he..he……..Oh…Radio Cawang milik Bpknya Chandra? masih ada?

  3. Chadra Sasadara  20 April, 2012 at 12:34

    Kang JC : terima kasih . sesungguhnya itu haya istilah-istilah yang sudah banyak dikenal dalam buku-buku yoga.

  4. J C  19 April, 2012 at 21:15

    Kang Chandra Sasadara, dari kisah ini, semakin memerkaya khasanah pewayangan pakem Mahabharata. Setelah membaca versi yang ditulis Linda, terus membaca versi Panjenengan, sungguh luar biasa. Dan aku lebih kagum dan senang adalah istilah-istilah spesifik yang Panjenengan gunakan di sini, sepertinya sangat jarang orang yang kenal istilah-istilah tsb dan mengerti artinya. Glossary di bawah sangat membantu… matur nuwun…

  5. Chadra Sasadara  19 April, 2012 at 20:05

    Mas Hand : saya sudah coba tanya kepada org-org tua dikampung tentang leluhur kami. semua bilang, kami ini jowo kletek..hehehe. tapi beruntung dg “wajah nusantara” yg saya miliki, dari sabang sampai rote mereka menggangap saya sodara..hehehehe

  6. Chadra Sasadara  19 April, 2012 at 20:02

    Mbak Indriati : kalau sedang ada pekerjaan di flores wajah yg saya miliki membuat cepat akrab dengan org di sana.

    betul memang saya beruntung, sejak kecil bapak sering mengajak saya nonton wayang dan setiap malam jum’at, minggu dan kamis ada wayang semalam suntuk di RRI TUban, Pati atau Rembang. radio Cawang milik bapak itu sangat membatu saya mengingat cerita pakeliran.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *