Teluk Kiluan

Adhe Mirza Hakim

 

Sudah lama tidak nulis travel notes walau masih hutang tulisan untuk Serawak-Sabah,  gak ada salahnya aku seling dengan notes pendek tentang Lumba-lumba Teluk Kiluan, harap dimaklumi ya Baltyrans semoga aja notes ini bisa mengembalikan mood menulis yang sempat mandek, hehe…alasan klise untuk tidak menyebut “malas nulis”.

Langsung ke kisah long weekend trip kami kali ini, tujuan ke Teluk Kiluan memang sudah lama ada dalam itinerary ku, hanya perlu menunggu waktu yang pas aja, sabar menanti itu baik….waktunya tiba juga di tanggal 6 April 2011 yang bertepatan dengan libur Paskah.

Aku perlu jelaskan sedikit dimana letak Teluk Kiluan dan apa yang istimewa dari tempat itu. Teluk Kiluan berada di Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, kurang lebih 75 KM dari kota Bandar Lampung. Tempat ini bisa dicapai dengan naik mobil kurang lebih 2,5 jam perjalanan, sebaiknya pakai mobil jenis Van, SUV atau Jeep jangan pakai mobil sedan karena medan jalan yang sebagian ada yang berlubang cukup dalam. Rambu-rambu jalan cukup jelas, dari arah Teluk Betung ambil tujuan ke Padang Cermin, ikuti jalan utama sampai ketemu Pangkalan AL Piabung, tetap mengikuti jalan utama nanti akan ketemu petunjuk jalan ke Teluk Kiluan yang berjarak 32 KM lagi dari Pangkalan AL.

Jalannya cukup lancar hanya agak berkelok-kelok sedikit, tetap mengikuti jalan utama, desa terakhir sebelum Teluk Kiluan adalah Desa Bawang, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran, sinyal handphone masih bisa diterima di sini. Teluk Kiluan berada di perbatasan antara Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Tanggamus, tetapi masuk dalam teritori Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Jika sudah masuk lokasi Teluk Kiluan dari Desa Bawang hanya berjarak 7 KM, sinyal handphone sudah “timbul tenggelam”. Jika untung kita bisa dapat sinyal 2G (Edge) di titik tertentu.

Buat para Backpackers yang mau ke sini dengan cara naik bus dan angkot, bisa naik bus dari Bandar Lampung di Terminal Bus Rajabasa, pilih bus jurusan Rajabasa-Teluk Betung, lalu stop di Gudang Garam (nama tempat di Teluk Betung) dari sana bisa nyambung naik angkutan pedesaan yang biasa nge-tem di sana, yang tujuannya langsung ke Desa Bawang, harap jangan kesorean, angdes ini hanya standby sampai pukul 2 siang. Jika sudah tidak ada angdes tersebut, bisa naik  omprengan ke Desa Hanura, dari Teluk Betung. Tarif  angdes dan omprengan ini tidak lebih dari Rp. 10.000,-  Kalau sudah kesorean bisa naik ojek dari Hanura ke Teluk Kiluan, Cuma ongkosnya mahal, Rp.80.000/Orang. Kalau rombongan sebaiknya carter mobil travel sekalian.

Keistimewaan Teluk Kiluan kita bisa menikmati indahnya pemandangan laut serta atraksi ikan lumba-lumba di laut lepas, karena di sini habitat ikan lumba-lumba, konon katanya terbesar di Indonesia. Jika ingin melihat lumba-lumba di alam aslinya ya ke Teluk Kiluan, kalau mau ke Lovina-Bali kan perlu biaya yang cukup besar, so…dari pada jauh-jauh ke Bali mending ke Lampung ya, alamnya masih natural banget, dengan ongkos yang relative lebih murah, hanya fasilitasnya harap dimaklumi, belum ada Resort atau Hotel Berbintang di sini, yang ada penginapan sekelas Cottages yang lumayan baik, Losmen kecil dan Homestay di rumah penduduk setempat.

Berhubung long weekend banyak cottages yang sudah terisi full, jadi kami menginap di Homestay Pak Yamin, Rp. 150.000.-/malam, fasilitas ya lumayan lah…bisa tidur nyenyak. Aku sudah mewanti-wanti anak-anakku, bahwa kondisi di Teluk Kiluan sangat sederhana, jangan mengharap fasilitas hotel berbintang, aku membayangkan anak-anakku dengan Reality Show di Trans TV “Jika Aku Menjadi”, hehe…nah kan bisa dilihat sederhananya kehidupan para warga setempat. Tapi masih baguslah kondisinya, ada kipas angin plus TV dengan Antena Parabola.

Mobil yang kami tumpangi diparkir di tempat penitipan mobil tidak jauh dari homestay pak Yamin. Insyaallah aman, karena para penduduk sadar potensi kunjungan para wisatawan ke Teluk Kiluan harus didukung dengan keamanan lingkungan setempat.

 

Jum’at 6 April 2012

Kami bertolak dari Bandar Lampung sekitar pukul 11.30 siang,  karena hari Jum’at Bapake dan anak-anakku harus sholat Jum’at dahulu di Masjid yang kami temui di daerah Padang Cermin.  Perjalanan ke Kiluan cukup  lancar, walau sempat hujan sebentar. Selanjutnya cuaca cerah, selama dalam perjalanan ke Teluk Kiluan, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah, catet ya…asal jangan jalan malam hari, asli gelep gak bisa melihat indahnya alam hehe… pemandangan laut, sawah dan perbukitan berpadu serasi dengan rumah-rumah panggung asli Lampung Pesisir.

Rumah Adat Lampung Pesisir

 

Gapura Teluk Kiluan

Begitu memasuki lokasi wisata Teluk Kiluan, akan ditemui Pura umat Hindu, komunitas penduduk keturunan Bali banyak terdapat di sini. Saat kami tiba di sini, sempat melihat rombongan umat Hindu sedang menjalankan upacara di Pura. Sebelumnya, kami sudah bertemu dengan contact person buat ke Kiluan, pak Darto. Dia sudah menunggu di Desa Bawang, dengan dia kami dipandu masuk ke lokasi desa wisata Teluk Kiluan. Ada Gapura besar yang menjadi pintu masuk ke Teluk Kiluan.

Pemandangan Indah Menuju Homestay

Kami tiba kurang lebih pukul 3 sore, suasana di Teluk Kiluan tenang banget….alamnya masih natural,  tidak tampak pelancong yang seliweran seperti tempat-tempat wisata di pulau Jawa dan Bali. Untuk penginapan ada alternatif mau menginap di pulau atau di kampung  darat. Jika ingin di Pulau Kelapa (Pulau Kiluan) ada fasilitas penyewaan kamar, kalau gak salah ingat semalam Rp. 250.000,-/kamar. Kalau mau pakai tenda juga bisa tapi kurang jelas berapa jasa buat pakai tenda ini. Kalau mau sewa cottages tarifnya Rp. 350.000 – Rp. 400.000,- / malam.

Homestay Pak Yamin

Kami harus memarkir mobil sekitar 100 meter dari lokasi homestay, sudah ada 2 mobil yang parkir duluan. Kami berjalan kurang lebih 5 menit ke pondok pak Yamin,  rumahnya cukup sederhana dan bersih menghadap ke arah Teluk Kiluan. Kami disediakan sesisir pisang raja sereh dan air putih, setelah beramah tamah dengan ibu Yamin, kami melihat-lihat suasana di sekitar Teluk Kiluan. Perahu-perahu Jukung terhampar di tepi pantai yang sedang surut airnya, beberapa tukang kayu sedang mengerjakan beberapa cottages baru. Kami tertarik ingin melihat pulau Kelapa, mumpung masih terang hari.

Pukul 4 sore kami menyeberang ke Pulau Kelapa (Pulau Kiluan) walau cuaca agak gerimis, dengan perahu jukung kecil, satu orang dikenai tarif Rp. 10.000,-/orang, perjalanan ke pulau kurang dari 10 menit. Kami mau mencoba pengalaman naik perahu jukung, karena jadwal menyaksikan atraksi Lumba-lumba dilakukan keesokan harinya, biar terbiasa dengan ayunan perahu itu.

Pantai Pulau Kelapa

 

Teluk Kiluan yang permai

 

Awalnya agak ngeri juga dengan kondisi perahu yang agak sempit  tanpa jaket pelampung  pula karena  jaraknya dekat. Pulau Kelapa begitu menawan, pasirnya bewarna putih bersih, air lautnya bening banget, saat kami tiba di sana, banyak pelancong yang sedang main-main air dan snorkeling di tepi pantai. Retribusi masuk ke Pulau Kelapa ini Rp. 5.000,-/orang.  Aku memotret pantai Pulau Kelapa yang indah, tanpa sengaja nemu sinyal 2G dititik tertentu, langsung deh upload foto ke FB, hihihi….asli narsis kumat.  Kami tidak lama di Pulau Kelapa karena bapak jagawana pulau kasih tau bakal ada badai jadi yang naik perahu dari darat harus segera pulang.

Main Pasir

 

Pantai yang tenang

Rasa penasaran mengexplore lingkungan setempat membuat kami tertarik untuk trekking di dekat homestay, selain itu moment sunset begitu menggoda untuk diabadikan walau harus menyisir bukit. Sebenarnya waktu sudah menjelang malam, cuma rasa penasaran membuat kami tetap mencoba melintasinya. Jalan setapak yang kami lalui agak naik turun dengan kondisi agak licin dan cukup curam, sempat ketemu hewan kelelawar yang terbang melintas melewati pepohonan, hmmm kebayang vampire hihihi… kami berjalan beriringan, aku, bapake dan anak-anak, saat tiba di spot ideal membidik sunset, ternyata moment sunset sudah lewat hiikss… ya motret seadanya aja.

Kami segera berjalan kembali ke pondok, dalam suasana yang mulai gelap. Asli aku sebenernya ngeri, jalan setapaknya lumayan sempit, di sisi yang satu jurang dengan laut di bawahnya, sedang di sisi satunya tebing kombinasi pohon dan bebatuan.  Agak terasa tekanan darahku turun, ini kaki koq jadi gemeteran yak…mungkin faktor U sudah mewarning jangan suka nekad, hehehe…. dalam hati aku berdo’a jangan sampai kepleset, bisa mati konyol judule. Anak-anak malah berjalan dengan tenang dan cepat meninggalkanku yang berjalan pelan-pelan sambil berpegangan di antara bebatuan dan pohon. Akhirnya sampai juga di jalanan dekat pondok, Alhamdulillah lega rasanya.

Kami membersihkan badan, lalu sholat maghrib dan isya berjama’ah. Menu makan malam yang dimasak ibu Yamin cukup menggugah selera, khas makanan rumah, ada semur tahu, tumis kacang panjang, telur dadar dan ikan goreng serta kerupuk, biaya makan ditarik terpisah, satu kali makan Rp. 15.000,-/orang. Kami tidur lelap malam itu, di luar hujan mengguyur agak deras, aku hanya berdo’a semoga besok hari cuaca cerah.

 

Sabtu 7 April 2012

Selepas subuh, kami bersiap-siap untuk melihat atraksi lumba-lumba, hujan sudah reda bersyukur banget, kami sarapan pagi dengan Pop Mie dan minuman instant yang kami bawa dari rumah. Sedikit catatan, tidak ada salahnya membawa makanan instant dari rumah, karena di lokasi pondokan jauh dari warung, kalaupun ada warung, belum tentu menjual makanan atau minuman yang kita inginkan.

Perahu Jukung yang akan kami naiki kondisinya agak lebih besar dari yang kami naiki sore hari sebelumnya,  harga sewa perahu Rp. 250.000,-/perahu, max hanya bisa menampung 3 penumpang tidak boleh lebih, jika lebih dikuatirkan mengganggu keseimbangan perahu Jukung.  Pak Darto mencarikan perahu yang agak besar agar kami bisa terangkut dalam satu perahu, sesuai keinginan bapake. Otomatis bayarnya agak dilebihkan, jadi Rp.350.000,-/perahu, kami kan berempat. Berhubung waktu di laut sekitar 1,5 jam tidak ada salahnya membawa air mineral atau soft drink, kalau haus kan repot nggak mungkin minum air laut? Hihihi…

Kami harus memakai safety jackets yang sewanya Rp.10.000,-/jacket, kami bertolak dari darat pada pukul 7 Pagi. Lumba-lumba biasanya menampakkan diri antara pukul 7 – 9 pagi, perahu kami berjalan pelan menuju laut lepas, kira-kira 1 jam perjalanan kemungkinan baru menemukan gerombolan lumba-lumba. Hadeew….kebayang berayun-ayun di laut lepas, aku kuatir anak-anak gak nyaman dan cepat-cepat minta pulang. Syukurlah…anak-anak malah tenang, perahu jukung berjalan diatas ayunan ombak pagi, pemandangan alam pagi itu indah banget, kabut tipis melapisi deretan bukit barisan yang berjejer rapih, deburan ombak memecah karang yang buih-buihnya bersinar gemerlap ditimpa sinar mentari pagi yang sudah mulai menampakkan diri setelah tertutup awan karena cuaca hujan. Aku hanya bisa berdo’a mengucap syukur pada-NYA, masih diberi kesempatan menikmati cantiknya alam Indonesia yang permai. Sepertinya niat untuk traveling menjelajah tempat-tempat wisata yang cantik di Indonesia harus diniatkan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita tahu cantiknya alam Indonesia justru dari orang asing, hehehe.

Kami tidak sendirian, ada banyak perahu-perahu jukung lainnya yang membawa para pelancong untuk melihat atraksi lumba-lumba. Kurang lebih 1 jam, akhirnya lumba-lumba yang dinanti muncul juga, mereka berlompatan lincah, berombongan dan hilir mudik di antara perahu-perahu Jukung yang berseliweran, benar-benar atraksi yang harmonis antara alam dan hewan ciptaan-NYA, semua pelancong tampak excited tak terkecuali kami, lumba-lumba melompat-lompat dengan lincah bahkan ada yang melompat dengan gaya split. Kata tukang perahu kami, kalau lumba-lumba yang besar biasanya hanya melompat menunjukkan siripnya saja, berbeda dengan anak lumba-lumba karena badannya lebih kecil mereka bisa melompat jauh lebih tinggi. Tukang perahu berkisah bahwa dia pernah 4 kali membawa pelancong untuk melihat lumba-lumba tapi si lumba-lumba tidak muncul sama sekali, buat yang mau ke sini jangan kuatir ya kebanyakan sih ketemu…sama si lumba-lumba.

Kami mengabadikan penampakan si lumba-lumba dengan camera pocket dan hp saja, tidak berani mau bawa DSLR, kuatir kecebur hehe, jadi hasil fotonya ya alakadarnya.  Ada beberapa pelancong yang memakai camera-camera DSLR bertele besar, mungkin mereka memang niat dan hobby photografi. Setelah 30 menit menyaksikan atraksi lumba-lumba, sang mentari pagi sudah mulai menyengat sinarnya, kami beranjak pulang tapi mau mampir dulu di Pulau Kelapa. Kami penasaran mau melihat Laguna yang ada di sana.

Kami sempat menyisir tebing karang untuk mencari lokasi Laguna, hanya kurang beruntung karena air laut sedang pasang, Laguna yang dicari tidak terlihat. Jadi kami main air saja sambil foto-foto lagi. Aku sempat kenalan dengan backpackers dari Tangerang, Citra dan Ferry, mereka baru pertama kali ke Lampung dan langsung ke Teluk Kiluan, aku tanya mereka naik apa, mereka jelaskan jalan ke Teluk Kiluan dengan cara estafet, naik bus, terus kapal laut nyebrang dari Merak – Bakauheni, lanjut naik bus ke Bandar Lampung disambung naik bus, angdes dan ojek. Wah….bener-bener seru, aku justru dapat info kendaraan umum ke Teluk Kiluan dari mereka berdua. Mereka menginap di homestay juga dengan tarif Rp. 100.000,-/malam.

Pukul 10 pagi kami putuskan untuk segera pulang ke daratan, cukup rasanya 3 jam menikmati indahnya alam, sudah waktunya mandi dan segera berkemas-kemas untuk pulang ke rumah. Tiba di pondok pak Yamin, kami segera membersihkan badan, hanya anakku yang sulung masih mau main perahu, dia mencoba mengayuh sendiri perahu Jukung yang berukuran kecil. Setelah urusan mandi dan berkemas selesai, bu Yamin menghidangkan makan siang buat kami, menunya tetep tahu dan telur dengan sedikit variasi yang berbeda, tetap enak koq, apalagi kami memang lapar.

Main Perahu

Ba’da sholat Dzuhur kami beranjak pulang meninggalkan Teluk Kiluan yang indah. Pak Darto merekomendasikan kami untuk mampir dahulu ke Pantai Pasir Putih, untuk ke sana kami harus naik ojek dengan tarif Rp. 25.000,-/ojek PP. Lokasi pantai ini masih di sekitar Teluk Kiluan juga, mobil kami parkir di rumah penduduk. Kami menyewa 3 Ojek untuk ke sana, jarak tempuh tidak lama paling hanya 5 menit , hanya medan jalannya yang seru abis naik turun bukit yang curam, hiiii….aku sampe nutup mata sangking ngerinya, tapi para Ojekers ini sangat trampil membawa motornya, gak perlu kuatir deh.

Pantai Pasir Putih sekilas mirip pantai Karang Bolong yang ada di Pelabuhan Ratu, hanya panjang garis pantainya lebih pendek, ombaknya lumayan besar, sebaiknya gak usah mandi atau berenang di sini, kuatir keseret ombak. Kami hanya melihat selintas dan foto-foto, warna pasirnya agak abu-abu tidak seputih pasir pantai di Pulau Kelapa. Tidak lama di sana kami putuskan segera pulang. Setelah membayar jasa Ojek dan jasa guide pak Darto (Rp. 50.000,-/trip) kami berpamitan meninggalkan Teluk Kiluan, penduduk di sini ramah-ramah, komunitasnya beragam, bukan hanya suku Lampung pesisir ada juga, Sunda, Jawa, Bugis dan Bali. Mereka ramah dan bersahabat dengan para pelancong. Di jalan pulang, kami bertemu lagi dengan Citra dan Ferry, mereka berdiri di tepi jalan, rupanya mereka tertinggal mobil travel yang baru saja berangkat. Mereka minta tolong apakah boleh ikut menumpang sampai ke Teluk Betung, dengan senang hati kami mengajak mereka, bahkan kalau mau kami antar langsung ke Terminal Rajabasa, agar bisa sekalian naik bus AC ke pelabuhan Bakauheni.

Kami mengajak Citra dan Ferry mencicipi kuliner local, yaitu Mie Khodon, syukurlah masih kebagian mencicipi mie goreng dan mie rebusnya, setelah menikmati kuliner Mie Khodon, Citra dan Ferry berpamitan karena ada teman mereka yang mau menjemput , oke deh…selamat pulang kembali ke rumah ya…aku merekomen toko oleh-oleh Yen-yen jika ingin membeli penganan/snacks khas Lampung.

Berakhir sudah liburan singkat kami di Teluk Kiluan, semoga travel notes dan foto-foto yang aku tampilkan bisa membuat  Baltyrans  tertarik untuk mengunjungi tempat ini.

Sedikit info contact person buat berwisata ke Teluk Kiluan:

*Pak Tatang  “Pondok Anak Abah” :  +62821 8539 3027 (FB Kiluan Dolphin, Twitter @KiluanDolphin )

Pak Yamin :   +62828 8015 2556 dan +62813 7908 7598

Pak Darto :    +62813 7964 0440

“Selamat berlibur happy selalu”

AMH, BDL 09042012.

 

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Teluk Kiluan"

  1. Lani  20 April, 2012 at 14:00

    AKI BUTO : klu mo liat lumba2 dekat ya ke HAWAII…….mo nyekel, ngelus2…….iso wae krn ada tour berenang dgn lumba2…….aku mikir mrk pasti seneng krn dikira kamu jg lumba2 oleh mrk wakakkakak……….

  2. Lani  20 April, 2012 at 13:59

    ADHE : mmg utk liat lumba2 di Hawaii mudah……mrk itu sptnya udah bersahabat sama manusia…….mrk sering berenang ketepian…berombongan…….sok akrab gitu….dan pamer gaya heheheh

    rak usah iri………kamu jg sering JJS……..aku jg seneng krn ndak pernah tau, mengenal daerah2 yg kamu kunjungi……..yg namanya JJS aku sll semangaaaaaaat……..love it!

  3. Adhe  20 April, 2012 at 09:52

    @Nia, kangen sama pantai dan makanan rumahan ya? thanks yaa sdh sempatin baca. ntar sempatin liburan kesini ya.
    @cik Lani……wah seneng yaa denger ceritamu yg sering berjumpa dg lumba2, mereka hewan yg bersahabat, kalo cik Lani emang hobby nya jjs ya…hehehe, keluar notes jjs di NZ bikin iri hehehehe
    @Nino, thanks mba sudah mampir baca, ya kereen alamnya dan atraksi lumba2nya.
    @JC……..hehehe masih hutang tulisan sambungan notes Sarawak dan Sabah, ditunggu aja yaa….ini masih sibuk ama urusan lain2 hehe…thanks ya JC sdh memposting artikel ini.
    @mba Kornelya, hihihi…bisa aja nie mba, hayuu ke Kiluan……mau telpon aku dulu juga boleh hehe.

  4. Kornelya  19 April, 2012 at 22:41

    Nba Adhe, terima kasih sudah diajak jalan-jalan ke pulau Kiluan. Aku ikut saran pa Handoko aja, kalau warga Baltyrans mau kesana tinggal telp mba Adhe. hahahaha.

  5. J C  19 April, 2012 at 20:54

    Wuiiiiihhhh…lautnya keren, pantainya bagus, tempatnya secara umum bagus banget, hanya sayang lumba-lumbanya kurang dekat penampakannya… terima kasih diajak jalan-jalan ke Kiluan, mbak Adhe…

  6. elnino  19 April, 2012 at 18:21

    Keren banget cik Dhe. Pantainya bagus n bersih, bonus lumba2 lagi

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.