Tiga Perempuan Mahabharata

Linda Cheang – Bandung

 

Salam kepada semua teman di Baltyra,

Tulisan saya ini memang pernah tayang di situs yang lain sebelum ada Baltyra. Sudah saya ganti beberapa kata dan kalimat selain karena memang perlu dikoreksi, juga dibuat agar lebih enak dibaca.

 

Teman-teman Pembaca Baltyra,

Epik Mahabharata karya Resi Wiyasa (ada yang menulis Vyasa) yang saya jadikan acuan kajian saya tentang perempuan kali ini saya ambil dari versi India, BUKAN versi Jawa, karana ada di tulisan saya ini sedikit singgung tentang praktek poliandri yang India sana, boleh jadi merupakan peristiwa yang wajar. Saya minta dengan setulusnya kepada pembaca yang mengerti pewayangan Jawa memaklumi pilihan saya menggunakan Mahabharata versi India, jika di tulisan saya nanti ada yang sepertinya tidak sesuai dengan pakem pewayangan a la Jawa. Beberapa referensi yang saya gunakan adalah paparan mengenai Mahabharata di Wikipedia edisi Bahasa Indonesia dan English, dan kemungkinan kurang akuratnya Wikipedia tsb agar dimaklumi saja.

Saya juga ingin sampaikan dalam membaca epik Mahabharata, supaya melupakan dulu logika, karena di dalam maha karya sastra ini, logika umum diabaikan sehingga terasa kesan magis, gaib dan mistiknya.

Saya hanya membatasi untuk membahas 3 karakter dari epik ini.

1. Shakuntala

Merupakan nenek moyang dari Pandawa dan Kurawa. Lahir dari pasangan Resi Wiswamitra dan bidadari cantik Menaka. Sebetulnya bidadari Menaka ini diutus oleh Dewa Brahma untuk menggoda tapa bratanya Wiswamitra dan berhasil, sehinga Wiswamitra sempat menjalin cinta dengan Menaka selama beberapa tahun. Ketika Wiswamitra tahu bahwa Menaka hanya utusan dewa untuk menggodanya dari tapa bratanya, ditinggalkannya Menaka dan si bidadari ini pulang ke kahyangan dalam keadaan hamil. Tiba waktunya melahirkan, Menaka pergi ke tepi Sungai Malini dan lahir seorang bayi perempuan tetapi bayi itu ditinggalkannya tanpa rasa kasih sayang sedikitpun.

Alkisah bayi perempuan itu ditemukan oleh seorang Resi Kanwa atau ada yang menulis sebagai Bagawan Kanwa, bayi itu sedang dirawat oleh seekor burung Sakuni. Jangan tanya saya seperti apa burung Sakuni itu, karena saya juga tidak bisa membayangkannya.  Timbul belas kasihan dari Bagawan Kanwa, diangkatnya bayi itu sebagai anaknya dan dinamakan Shakuntala, karena bayi itu sebelumnya dalam perawatan burung Sakuni. Shakuntala tinggal bersama ayah angkatnya di kaki Gunung Himawan.

Singkat cerita, Shakuntala setelah beranjak dewasa, bertemu Prabu Duswanta, seorang raja yang sedang berburu di hutan Gunung Himawan. Prabu Duswanta adalah raja dari satu kerajan India kuno yang kelak akan membangun Dinasti Kuru. Shakuntala dibujuk Prabu Duswanta untuk bersedia dinikahi karena sang prabu jatuh cinta padanya karena kecantikan Shakuntala. Mulanya Shakuntala selalu menolak, tetapi karena sang prabu tidak lelah membujuk, maka Shakuntala bersedia dinikahi dengan syarat bahwa anak yang dilahirkannya kelak mesti menjadi pewaris resmi kerajaannya Prabu Duswanta. Sang Prabu setuju saja dan kemudian dari pernikahan mereka lahir seorang putra dinamakan Sarwadamana yang kelak berganti nama menjadi Bharata.

Selesai menikahi Shakuntala, Prabu Duswanta kembali ke kerajaannya tapi tak kembali lagi selama bertahun-tahun untuk menjemput istri dan anaknya. Melihat Shakuntala yang sering termangu menanti suaminya tak kunjung menjemput, maka Bagawan Kanwa memerintahkan agar Shakuntala pergi ke ibukota untuk menemui Prabu Duswanta dan membawa anaknya, Sarwadamana untuk diakui oleh Prabu Duswanta. Shakuntaka menurut dan berangkatlah dia ke ibukota.

Apa daya, setibanya di istana kerajaan sang prabu, ketika Shakuntala dan Sarwadamana menemui Prabu Duswanta di tengah rapat umum, justru sang prabu malah menyangkal kehadiran Shakuntala dan Sarwadamana. Hingga singkat ceritanya, tiba-tiba terdengar sabda dari langit yang malah membenarkan perkataan Shakuntala tentang dirinya dan tentang Sarwadamana. Ada satu versi lain yang pernah saya baca, untuk membuktikan keberanan perkataannnya, Shakuntala meminta pertolongan dewa untuk memiliki kesaktian agar dapat berjalan melayang di udara sebagai bukti kesucian hatinya.

Setelah sabda dari langit, Prabu Duswanta tidak bisa mengelak lagi karena disaksikan orang banyak, akhirnya Prabu Duswanta mengakui Shakuntala sebagai istrinya dan Sarwadamana sebagai putranya, dan atas sabda dari langit, Sarwadamana berganti nama menjadi Bharata. Bharata inilah yang kelak menurunkan raja-raja Astinapura sehingga kelak lahir kisah Pandawa dan Kurawa.

 

2. Kunti

Kunti yang saya maksud disini bukan singkatan dari Kuntilanak, salah satu anggota geng makhuk gaib, tetapi adalah ibu dari Pandawa Lima, istri Prabu Pandu. Kunti bernama asli Pritha, putri Raja Surasena dan ketika diadopsi oleh Raja Kunthiboja, Pritha diganti nama menjadi Kunti.

Ada satu versi menyatakan Kunti di masa gadisnya pernah menyalahgunakan mantra sakti Adityaredhaya, pemberian seorang Resi Durwasa untuk dapat memanggil dewa-dewi sesuai yang dikehendakinya. Ketika di suatu hari Kunti menggunakan mantra tersebut, Dewa Surya terpanggil dan Kunti akhirnya mengandung putra dari Dewa Surya karena penyalahgunaan mantra tersebut. Padahal maksud dari Kunti adalah untuk menguji kebenaran kesaktian mantra anugrah tsb. Karena Kunti tidak ingin keperawanannya terkoyak, maka dikisahkan digunakan berbagai kesaktian di kerajaan ayahnya untuk melahirkan puteranya, tidak melalui jalan lahir tetapi melalui telinganya, maka putranya dinamakan Karna, sebab dikeluarkan dari telinga. Setelah putranya lahir, Kunti justru membuang putranya ke Sungai Aswa.

Kunti menikah dengan Pandu, Raja Kuru, namun Pandu tidak bisa memperoleh anak secara bersenggama normal dengan Kunti dan Madri, istri Pandu yang lain karena Pandu kena kutukan seorang resi yang mengutuknya Pandu akan mati saat bersenggama. Karena itu berbekal kesaktian mantranya Kunti memanggil tiga dewa yaitu Dewa Yama yang memberinya anugrah seorang putra bernama Yudhistira, Dewa Bayu yang memberi anugrah seorang Bima dan Dewa Indra yang memberi anugrah seorang Arjuna. Dikisahkan dalam epik ini, semua anak-anak Kunti tersebut disilsilahkan sebagai putra Pandu atas pertolongan tiga dewa tersebut. Madri, yang juga diberitahukan kesaktian mantra Adityaredhaya mencobanya untuk memanggil Dewa Aswin, kemudian Madri mendapakan putra kembar Nakula dan Sadewa.

Pandu kemudian meninggal sesuai kutukan saat mencoba bercinta dengan Madri, dan karena Madri ingin ikut mati bersama Pandu dengan menjatuhkan diri ke api kremasi yang membakar Pandu, maka Kuntilah yang akhirnya menjadi ibu dari kelima anak Pandu tsb. Kunti bersedia mengasuh Nakula dan Sadewa putra Madri seperti anaknya sendiri, mungkin sifat ini yang membuat Kunti menjadi dambaan para pria zaman dulu di Tanah Jawa ketika mencari istri.

 

3. Drupadi

Drupadi atau Dropadi atau Draupadi ini Putri Prabu Drupada dari Kerajaan Pancala, hasil dari proses upacara Putrakama Yadnya, suatu upacara permintaan kepada dewa untuk memperoleh keturunan. Drupadi lahir dari api suci yang timbul dari upacara tsb. Dikisahkan Drupadi jadi hadiah kompetisi bagi para ksatria yang bisa memenangkan perlombaan memanah hanya melihat bidikan dari bayangan. Karna putra Kunti, memenangkan pertandingan dan seharusnya Drupadi jadi istri Karna, tetapi Drupadi menolak dengan alasan Karna bukan dari kalangan ksatria. Pertandingan dibuka kembali untuk semua kalangan dan Arjuna yang saat itu sedang menyamar sebagai brahmana, memenangkan pertandingan dan mendapatkan Drupadi. Tapi ternyata yang jadi suami Drupadi bukan cuma Arjuna!

Arjuna membawa Drupadi, pulang bersama saudara-saudaranya menemui Kunti. Di pikiran Kunti, kelima anaknya pulang dari mengemis, maka Kunti meminta hasil mengemis dibagi sama rata di antara Pandawa, tetapi Kunti kaget ketika melihat bahwa Arjuna juga mendapatkan Drupadi selama periode mengemis tsb. Karena Kunti tidak bersedia menarik ucapannya sebab emoh berat kena kenapa-kenapa atas keputusannya sendiri, maka Drupadi pun menjadi istri dari Pandawa lima, dan melayani Pandawa Lima diatur waktunya secara bergilir. Setiap suami dapat jatah setahun didampingi Drupadi. Wow! Dikisahkan juga supaya adil ketika Drupadi sedang saatnya melayani salah satu dari Pandawa Lima, maka jika ada di antara Pandawa Lima tsb ada yang mengusik kemesraan Drupadi, maka pengganggu akan diasingkan ke hutan selama setahun tahun dan itulah yang didapatkan Arjuna ketika memaksa masuk ke kamar kakaknya, Yudhistira yang sedang mendapat jatah kemesraan dari Drupadi, untuk mengambil senjata.

Hidup dalam pernikahan poliandri bukan berarti kebahagiaan senantiasa buat Drupadi. Dia pernah jadi sita jaminan ketika Yudhistira kalah mernain dadu dengan Duryodana dan Dursasana. Salah satu bagian dari Mahabharata yang terkenal ketika Dursasana dengan kasar menelanjangi secara kasar menarik kain sari Drupadi untuk mempermalukannya di depan umum. Tetapi berkat pertolongan Sri Kresna, kain yang ditarik Dursasana tidak habis-habis sehingga Drupadi urung dipermalukan. Pertolongan dari Kresna itu murni karena karma baik dari pertolongan Drupadi, yang membebat tangan Kresna ketika terluka terkena Cakra di satu peristiwa upacara Rajasuya.

Drupadi melahirkan satu putra untuk setiap ksatria Pandawa Lima. Jadi total Drupadi melahirkan lima putra yang disebut Pancawala atau Pancakumara. Dalam pewayangan versi Jawa, Drupadi merupakan permaisuri Prabu Yudhistira melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Pancawala. Namun dari versi India maupun versi Jawa, pewaris takhta Dinasti Kuru setelah Yudhistira bukan berasal dari salah satu putra Drupadi, melainkan Parikesit, cucu Arjuna dari Abimanyu, putra Subadra.

Dari sekian banyak istri Pandawa Lima, hanya Drupadi yang diajak untuk melakukan perjalanan suci sebelum masuk ke surga. Namun Drupadi mati lebih dulu di satu gurun sebelum tiba di Himalaya karena kesalahannya, hanya mencintai Arjuna dan tidak berlaku adil karena tidak memberikan cintanya juga kepada para ksatria Pandawa Lima yang lainnya.

Sebetulnya masih banyak perempuan di Mahabharata yang bisa dijadikan bahan kajian, seperti Gandari, istri Prabu Dretarastra, ibu dari Kurawa. Tapi kalau diceritakan di sini, pasti akan makan banyak tempat. Lagipula tiga tokoh perempuan yang saya pilih sudah cukuplah mewakili karakter perempuan sepanjang jaman.

Saya melihat Shakuntala sebagai pewakilan perempuan yang tidak hanya cantik secara fisik namun juga secara kepribadian. Setia tetapi juga tegas dan berani dalam kebenaran meski untuk menjadi berani mengupayakan hak-haknya tahu akan menghadapi kemungkinan terburuk. Keberanian ini yang menjadi modal Shakuntala ketika diragukan oleh suaminya, apalagi diragukan didepan khalayak ramai. Bahwa kebenaran selalu akan terungkap sebagai pemenang, karena kebenaran pula, suami Shakuntala tidak bisa mengelak lagi untuk tidak mengakui Shakuntala dan anaknya.

Tetapi saya juga melihat peran ayah angkat Shakuntala yang pasti mendidiknya dengan baik sehingga Shakuntala tumbuh baik menjadi perempuan yang punya karakter kuat. Ini bisa sebagai contoh peran didikan orang tua berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya anak. Jika orang tua mendidik dengan baik, maka anak-anaknya akan tumbuh baik pula. Saya berpikir alangkah idealnya jika bisa ada perempuan punya sikap seperti Shakuntala, tetapi secara pribadi, banyak hal dari saya yang berbeda jauh dari Shakuntala. Saya tidaklah seideal Shakuntala.

Kunti, sikapnya ketika masih muda amat ceroboh, memainkan mantra sakti sampai beroleh seorang Karna yang malah dibuangnya. Meski kelak akhirnya Kunti mengakui Karna, namun saya bisa memahami Karna sudah kadung sakit hati dan malah mengganggap Radha, istri seorang kusir istana Astinapura sebagai ibunya.

Saya bisa memaklumi di masa mudanya Kunti yang mungkin seperti hanya para perempuan remaja lainnya penuh ingin tahu, jadi sembarangan memanfaatkan anugerah. Meski Kunti dikenal sebagai ibu yang penuh kasih sayang kepada Pandawa Lima, tetapi kenapa keras kepalanya tidak hilang sehingga membuat menantunya, Drupadi, mesti menjadi piala bergilir? Saya juga menyesalkan sikap Kunti yang bersikukuh tidak mau mencabut supatanya, membuat Drupadi akhirnya menjadi pelaku poliandri, meski sebetulnya pernikahan macam gini lumrah saja di beberapa bagian di India sana. Tokoh ibu ini yang dipuja anak-anaknya dan oleh orang-orang yang paham Mahabharata, untuk satu hal saja tidak mau mengalah. Namun Kunti mewakili sosok ideal perempuan di sepanjang masa yang juga tidak luput dari kesalahan, kesombongan dan kelemahan. Apakah Kunti takut kuwalat akan perkataannya sendiri?

Drupadi, pilihan saya berikutnya karena, kisah hidupnya unik. Lahir tidak dari rahim seorang perempuan, karena supata ibu mertuanya, Drupadi memiliki lima suami kakak-beradik sekaligus. Entah apakah ini merupakan keberuntungan atau kesialan buat Drupadi, yang jelas dari pernikahan poliandrinya, seorang Drupadi jelas tidak bisa berlaku adil terhadap setiap suaminya. Bahwa untuk Drupadi seorang hanya mencintai Arjuna daripada secara adil membagi dengan empat suami yang lainnya. Saya bisa memaklumi perasaan cinta Drupadi sejatinya hanya terhadap Arjuna, tapi kelak hal itu dianggap sebagai dosanya Drupadi karena tidak memenuhi kewajiban seorang perempuan yang harus mencintai semua suaminya sama rata. Akibat dosa tsb, dikisahkan Drupadi akhirnya mati lebih dulu daripada ksatria Pandawa Lima sebelum sempat masuk ke nirwana sebagai manusia. Dari kisah Drupadi ini saya bisa mengambil kesimpulan para lelaki pelaku poligami juga sangat mustahil bisa berlaku adil seadil-adilnya terhadap semua istrinya. Dan apakah setiap ksatria Pandawa Lima ada perasaan cemburu kepada saudara – saudaranya ketika melihat Drupadi digilir?

Dari sudut pandang lain tentu di posisi Drupadi sangat sulit karena meski Drupadi adalah pelaku poliandri yang sah pada saat itu, Drupadi juga hidup dalam pernikahan poligami para suaminya. Arjuna, suami yang paling dicintainya, ternyata juga menikahi beberapa perempuan lain setelah Drupadi. Kelak berdasarkan kisah Mahabharata, keturunan Arjuna dari Subadralah, yang menjadi penerus tahta Kuru.

Dikisahkan pula dalam Mahabharata itu, selama hidupnya Drupadi mampu mengelola permikahan yang unik dan tidak lazim tsb.

Jika saja Drupadi ini nyata, saya ingin sekali menanyakan langsung kepadanya, siapa, sih, di antara ksatria Pandawa Lima yang pertama kali mendapatkan keperawanannya Drupadi? Arjuna sang pemenang sayembara ataukah Yudhistira si sulung? Siapakah suami yang paling romantis? Siapa yang performa sambung raganya paling yahud? Hahahahaha.

Saya pikir mungkin saja Drupadi akan menjawab : Arjuna, karena hanya Arjuna yang dicintai Drupadi sepenuh hati. Apakah di antara teman-teman, khususnya perempuan, yang ingin “seberuntung” Drupadi? Saya harap para pembaca perempuan bisa lebih tegas daripada Drupadi.

Namun tokoh perempuan dalam kebudayaan Hindu yang menurut saya lebih ideal jadi panutan para perempuan adalah Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, seni dan kebijaksanaan.

 

Sampai di sini saya berkisah. Saya tidak mau kena timpuk Ki Dalang…

Salam

Linda Cheang-Bandung

Maret 2012

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

25 Comments to "Tiga Perempuan Mahabharata"

  1. Linda Cheang  21 April, 2012 at 09:46

    Indri terima kasih sudah bersedia mampir, membaca dan memberi komentar pada tulisan saya tetnang sebahian kecil dari Mahabharata di atas.

    Hal yang ditanyakan Indri tsb adalah benar umum terjadi dalam masyarakat India, itu berdasarkan pengamatan saya dan beberapa pencarian saya dari mmepelajari kultur negara tsb. Bahkan kasus poliandri yang dikisahkan dialami Drupadi, meski Drupadi sebenarnya tak menghendakinya, ternyata sampai detik ini masih ada terjadi di beberapa desa kecil di tengah India. Di situ sudah tidak aneh bila seorang perempuan menikahi lelaki kakak-beradik sekaligus, dengan anggapan para saudara lelaki suamiya akan ikut menjaga si perempuan, istri kakak mereka.

    Di beberapa kantung kemiskinan di sana, memang praktik penyiksaan, pembuangan, penyiksaan masih ada. Atau yang sulit kita terima, menikahkan anak-anak dengan hewan, seperti anjing dan sapi, karena dalam mitologi Hindu anjing dan sapi dianggap sebagai hewan suci. Anjing adalah satu-satunya hewan yang membuat Yudhistira tidak mau masuk nirwana bila anjingnya tidak boleh masuk ke nirwana oleh para dewa, sedangkan sapi dianggap suci karena merupakan kendaraan Dewa Wishnu.

    Tapi saya tidak bisa menghakimi hal-hal aneh yang dilakukan mereka sebvagai hal yang salah atau menyalahi norma kemanusiaan, sebab bagi masyarakat di sana, seperti itu adalah hal-hal yang sangat wajar.

    Salam dan selamat berakhir pekan.

  2. Indriati See  21 April, 2012 at 03:34

    Terima kasih Linda tuk menceritakan kembali tentang Epik Mahabharata … terus terang saja kalau saya sedikit prihatin tentang gambaran moral dari Epik diatas seperti contohnya: membuang anak kandung, penghianatan, poligami/andri, mempermalukan seseorang di depan umum dst … yang tentunya semuanya ini bisa terjadi pada diri seorang manusia … dan pertanyaan saya; “Apakah mungkin, kasus pembuangan, pembunuhan anak perempuan, menyengsarakan istri bahkan melukainya jika suami tidak mencintainya lagi dan berbagai macam kejahatan yang terjadi dalam masyarakat India karena pengaruh cerita diatas ? … maksud saya dianggap normal karena Epik diatas begitu melekatnya dalam keyakinan mereka ?” …

    Salam hangat dan met week-end sis

  3. Linda Cheang  21 April, 2012 at 00:26

    Nyi EQ sebetule aku juga menyukai membaca karya sastra, tapi karenaa Mahabharata dan Ramayana termasuk karya sastra yang berat, baik isi filosofinya maupun bentuk bukunya, maka aku agak ogah-ogahan untuk bikin resensinya berdasarkan pandanganku pribadi.

    Tulisan di atas itu juga bisa tertulis karena aku melihat dari sisi nyelenehnya.

    Lagi nunggu kabar Ramayana versi Sri Lanka, yang mengisahkan Rahwana justru merupakan pahlawan, bukan tokoh jahat

  4. EQ  20 April, 2012 at 16:58

    Parikesit menjadi raja pengganti Pandawa, karena kesalahan Pandawa sendiri. Pada waktu meminta restu hendak berangkat perang, Para kesatria Pandawa ini hanya meminta restu dan kehidupan bagi kelima bersaudara Pandawa, dan lupa meminta restu untuk anak2 mereka, akibatnya semua anak2 Pandawa gugur di medan perang. Parikesit adalah satu2nya keturunan Pandawa yang tersisa.
    Kisah Mahabaratha adalah campuran antara kisah nyata dan imajinasi. Dan sebetulnya yang paling disukai dari kisah2 wayang ini adalah ajaran hiudp filosofinya yang dalam, serta ajaran2 dharma dan karma yan dianggap sebagai salah satu ajaran tuntutan hidup manusia. Keinidahan fantasi adalah bumbu2 saja, pakaian yang membungkus ajaran di dalamnya.
    Kira2 begitu lah ( saya salah satu pecinta cerita Mahabaratha-Ramayana, dan sampai kapan pu saya tetap sangat menyukainya )

  5. Linda Cheang  20 April, 2012 at 08:50

    JC lebih asyik menyimak San Guo Yan Yi, troilogi Sia Tiaw Eng Hiong, Sin Tiaw Hiap Lu, To Liong To dan serialnya Ko Pong Hoo sekalian daripada menyimak Mahabharata. Setidaknya dalam trilogi itu dna Ko Ping Ho, asal-usul tokohnya lebih jelas daripada asal tokoh Mahabhbarata yang lebih sering absurdnya.

    Kapan-kapan aku mau ceirta tragisnya cinta Rama-Shinta di Ramayana. Ini lagi cari versi yang Sri Lanka dulu, biar ada pembandingnya.

    Alvina nama Saraswati memang nama yang bagus. Masalahe ortuku tidak suka baca kisah-kisah macam Mahabharata atau pewayangan, jadi enggak pakai nama itu untuk namaku, hehehe

  6. Alvina VB  19 April, 2012 at 21:51

    Setuju…. saya juga suka Dewi Saraswati dibandingkan tokoh2 wanita yg lainnya dlm pewayangan.
    Banyak juga temen/ kenalan saya wanita Indonesia/ India yg pake nama Saraswati/Sarasvati.

  7. J C  19 April, 2012 at 21:30

    Jujur bicara, kisah-kisah seperti ini, aliran atau pakem yang berasal dari India untuk aku tidak berkesan mendalam, walaupun harus diakui jalinan ceritanya sangat menarik, rumit dan luar biasa. Aku lebih klop membaca kisah-kisah dari Tanah Jawa, baik yang history-based seperti Babad Tanah Jawi, ataupun pewayangan Punakawan’nya, atau aliran populer lama seperti Bende Mataram (walaupun adopsi total Sia Tiauw Eng Hiong) atau populer yang lebih baru seperti Senopati Pamungkas, buat aku lebih pas di hati dan fantasi.

  8. Linda Cheang  19 April, 2012 at 21:12

    JC sebetule sampai sekarang aku masih bingung, kenapa (masih) banyak orang suka dengan kisah pewayangan yang asal usul tokohnya seringkali tidak jelas (tidak jamaknya orang berasal) seperti asalnya Drupadi? Mungkin karena keindahan fantasinya, terlepas dari nilai-nilai pekerti yang disampaikan. Tapi kalo aku baca kisah Mahabharata lagi secara komplet, biarpun menarik, sekarang mungkin udah keburu eneg, hehehe..mbuh, enggak tau, ya, kalo sekiranya dibikin gaya komik seperti komik Mahabharata terbitan Toko Buku Maranatha di Ciateul yang pernah ditulis Mas Osa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.