The Story from the Top End (2)

Nyai EQ yang lagi menikmati sore

 

Menikmati Pasar, Matahari Tenggelam dan Karya Seni

Perjalanan melihat-lihat kota Darwin kita lanjut lagi yuk. Kali ini saya ingin mengajak Baltyrans jalan-jalan menyusuri pantai, menikmati udara segar sambil menunggu matahari tenggelam.

Jika cuaca cerah, suasana pantai di sekitar Darwin akan sangat indah. Yang akan saya ceritakan adalah pantai-pantai di wilayah Nightcliff dan sekitarnya. Pantai yang berada tak jauh dari tempat saya tinggal selama saya berada di Darwin.

Biasanya saya hanya berjalan kaki saja menuju ke pantai, sebab hanya tinggal menyeberang jalan, melintasi sebuah taman, dan sampailah sudah.

Suasana sore hari di taman sekitar pantai cukup ramai. Beberapa orang tampak berjogging. Ada yang bersama teman-temannya, ada yang sendirian. Ada juga pasangan-pasangan usia baya yang masih tampak rukun berjalan-jalan sehat, atau berlari pelan-pelan. Yang lainnya membawa anjing-anjing mereka berjalan-jalan santai. Ada juga yang bersepeda. Biasanya mereka yang sendirian akan menyumpal telinga dengan headphone yang dihubungkan pada iPod yang terletak di lengan atau pinggang. Tampak juga beberapa keluarga yang terdiri dari ibu, bapak dan anak-anak.

Mobil-mobil diparkir dengan rapi, meskipun tidak tampak ada tukang parkir dan tidak ada loket parkiran. Saya yakin, kalau di Indonesia pasti akan dipasang palang dan loket parkir.

Parkir Rapi

Di tepi pantai juga akan terlihat beberapa orang duduk di bangku taman sambil ngobrol dan ngemil. Ada juga yang sengaja membawa kursi-kursi lipat, aneka makanan dan minuman untuk bekal menikmati udara yang cerah dan matahari yang mengenakan gaun tidur warna merah cantik.

Duduk menikmati udara sore bersama teman dan para burung camar laut

Sementara itu cuaca mulai menjadi gelap sedikit demi sedikit. Matahari semakin merona dan mempesona dengan warnanya yang begitu matang. Sungguh indah ciptaan Tuhan itu.

Beberapa foto di bawah ini adalah potret suasana matahari tenggelam di pantai Nightcliff dengan warna-warna alam yang begitu cantik.

Dan langitpun menutup semesta dengan jubah hitam. Matahari tidak begitu saja pergi, ditinggalkannya selarik sinarnya pada bulan, agar bisa dibagikan pada mahluk-mahluk malam.

Suasana kota Darwin di sekitar tempat saya tinggal terasa begitu tenang dan ayem. Ada sebuah klub malam tak jauh dari tempat saya tinggal. Klub itu hampir tak pernah kosong. Orang-orang berkumpul untuk minum dan ngobrol dengan teman. Bila akhir pekan tiba, tempat tersebut menjadi sangat ramai. Beberapa kali saya pergi ke tempat itu untuk sekedar meneguk beberapa gelas bir dingin atau jake-coke, sambil ngobrol, kadang-kadang jika musiknya bagus, saya turun ke dance floor untuk sekedar bergoyang kiri-goyang kanan. Tapi lebih sering saya menghabiskan waktu malam hari dengan tinggal di rumah, nonton tv atau duduk di teras atas sambil ngobrol dengan tenang. Sesekali akan terdengar suara burung hantu di kejauhan.

Sabtu pagi tiba

Hari Sabtu ada pasar yang digelar di daerah Parap. Pasar tersebut berlangsung dari mulai pagi hari sampai sore hari. Yang dijual diantaranya adalah pakaian, perhiasan, manik-manik (yang kebanyakan produk dari Bali),  suvenir Australia, keperluan rumah tangga, makanan dari berbagai negara (Malaysia, Cina, Vietnam, Thailand) dan minuman segar, es krim, sayur dan buah-buahan, bumbu-bumbu dapur, jasa seperti  misalnya pijat a la Thailand, juga pembacaan Tarot, pengamen yang membawakan lagu-lagunya di pojokan pasar dengan peralatan yang cukup lengkap dan gitar bagus, bahkan ada juga yang melakukan semacam happening art. Berikut ini ada beberapa foto tentang suasana Parap Market hari Sabtu.

Papan Parap Market

Suasananya memang sangat ramai. Para ibu dengan anak bayinya, para lelaki, tua muda dan anak-anak, bahkan kadang-kadang satu keluarga 3 generasi (orangtua, anak dan nenek). Petugas kebersihan pun sibuk bekerja untuk menjaga supaya pasar tidak menjadi kotor penuh sampah. Tempat-tempat sampah besar ada di berbagai tempat, dan orang-orang akan membuang sampah pada tempatnya tanpa harus diingatkan. Para pengamen tidak asal genjrang-genjreng. Saya lebih suka menyebut mereka itu para seniman, para musisi jalanan.

Saya bahkan berpikir akan melakukan hal itu kalau saja saya bersama dengan teman-teman saya “pengamen” di Jogja. Bahkan ada yang menjadi patung berbaju putih. Rela berdiri berjam-jam dengan kostumnya yang mengejutkan. Saya benar-benar kaget sewaktu sang “patung” tiba-tiba bergerak berputar pelan seperti boneka di atas music box, sebab memang kotak tempat dia berdiri itu melantunkan lagu-lagu seperti dalam music box. Di depannya ada kaleng yang dibungkus dengan kertas putih, tempat kita memberikan uang seiklasnya. “Boneka” tersebut tersenyum sepanjang pertunjukan. Benar-benar luar biasa.

Lewat tengah hari, setelah makan beberapa macam makanan dan minum segelas besar jus buah seharga AUD $ 9, saya beranjak pulang. Tidak ada yang saya beli, karena hampir semua barang bisa saya temukan di Bali dengan harga yang jauh lebih murah. Ah ya, saya membeli sebuah anting-anting kecil bermotif bunga liar yang dikeringkan, diplatkan pada fiber dan logam yang dilapis emas 18 karat. Cukup mahal tapi saya menyukainya, katanya sih handmade.

Hari berikutnya tentu saja hari Minggu. Saatnya untuk mengunjungi pasar yang lain. Kali ini berlokasi di tepi pantai Mindil. Oleh sebab itu di sebut sebagai Mindil Market. Diadakan setiap hari Minggu sore sampai matahari tenggelam dan cuaca menjadi gelap.

Pasar Mindil lebih menyerupai pasar malam yang diadakan pada sore hari. Suasananya agak berbeda dengan pasar Parap. Barang yang digelar pun agak berbeda. Tidak ada sayur dan buah-buahan. Kebanyakan adalah makanan, minuman dan beberapa suvenir. Orang-orang datang untuk berjalan-jalan sambil jajan bersama pacar, teman atau keluarga dan tentu saja sambil menunggu matahari tenggelam. Jika pasar Parap dikunjungi oleh para orang tua (sebagian besar), maka pasar Mindil kebanyakan dikunjungi oleh para remaja dan kaum muda. Sepertinya ini menjadi alternatif nongkrong dan hangout selain di Cas ( Casuaruna Square).

Suasana pantai Mindil sore hari dan sunset di Pantai Mindil

 

Suasana pasar sore Mindil & Antre membeli makanan ringan dengan tertib

Setelah puas berjalan-jalan, jajan makanan, matahari sudah tenggelam, saatnya pulang. Namun ternyata di tengah kegelapan taman masih ada sebuah pertunjukan menarik, yaitu tarian api.

Seorang laki-laki muda (sepertinya orang Asia) berdiri di tengah-tengah para pengunjung, menari dengan membawa obor yang menyala. Tak lupa dia juga menyembur-nyemburkan api dari mulutnya. Keren !

Tarian Api di tengah taman pantai Mindil

Hari Senin sampai Jumat adalah hari kerja. Kebetulan saya juga punya beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan. Selain beberapa jadwal meeting, juga ada beberapa janji bertemu dengan kawan-kawan dari Universitas Charles Darwin.

Di samping itu juga ada undangan pembukaan pameran yang ingin saya hadiri. Pameran itu disebut dengan nama TOGART adalah pameran paling bergengsi di wilayah Nothren Teritory. Dalam pameran akan tampil karya-karya para seniman besar yang berdomisili di wilayah tersebut, sebab syarat utama pesertanya adalah penduduk NT. Akan ada 3 pemenang karya terbaik dalam pameran tersebut, dengan hadiah uang yang besar. Semua seniman di wilayah NT menginginkannya. Tidak hanya karena hadiah uangnya yang besar, tapi juga prestisse dan gengsinya. Tidak semua seniman NT bisa masuk dalam seleksi. Bukan hanya seniman kulit putih, namun juga seniman dari suku Aborigin, diantaranya adalah 2 orang teman kami Timothy Cook dan Conrad. Keduanya adalah seniman-seniman besar Aborigin yang sudah mendunia dengan karya-karya lukis mereka yang khas dan unik. Ada juga beberapa teman lain yang ikut serta dalam pameran ini. Pada pameran kali ini yang memenangkan hadiah utama adalah Chips McKinolty, seorang seniman fotografi kawakan.

Acara akan diadakan di Gedung Parlemen di City. Tentu saja, karena itu adalah Gedung Parlemen, maka ada pemeriksaan khusus ketika memasuki ruangan Parlemen. Dan hanya diperkenankan membawa tas tangan. Pakaian para undangan pun “harus” bagus dan pantas. Sungguh sebuah pesta pembukaan pameran yang elegan. Hidangan yang disajikan sangat lezat, begitu juga champagne, pink champagne, red wine, white wine dan beberapa macam cocktail yang diramu dengan cita rasa tinggi. Tak ketinggalan pula air putih dan bir. Minuman yang terakhir ini seperti minuman wajib di Darwin.

Pidato pembukaan pameran Togart di halaman belakang gedung Parlemen Darwin (lihat awan di atasnya-bukan rekayasa).

Para seniman dan undangan Togart

Diapit oleh 3 orang seniman Togart : Conrad, Rob Brown dan Tim Cook.

Setelah acara Togart yang elegan dan menawan, hari berikutnya saya kembali menghadiri sebuah pembukaan pameran. Tidak seperti Togart, pameran ini adalah pameran biasa yang para pesertanya adalah seniman-seniman Aborigin yang bekerja sama dengan Universitas Charles Darwin.

Universitas paling bergengsi di Darwin ini mempunyai andil besar dalam membesarkan para seniman Aborigin. Mereka punya program khusus yang mengirim beberapa dosen untuk pergi ke pulau Bathrust, wilayah pemukiman asli penduduk Aborigin. Mereka juga bekerja sama Jilamara dan Larakkia Foundation. Sebuah yayasan yang mengembangkan potensi seni para seniman Aborigin.

Perempuan Aborigin menari pada pembukaan pameran di CDU

 

Beberapa karya dalam pameran di CDU, yang terakhir adalah karya Tim Cook.

 

Perjalanan selanjutnya adalah menuju City. Atau ibukota wilayah Darwin. Jadwal hari Jumat sangat padat. Selain mengunjungi pelabuhan (wharf), juga mengunjungi Katedral, Museum Kelenteng Cina, makan siang di pusat pertokoan, mengunjungi musuem  kapal dan yang terakhir adalah bertemu dengan sejumlah kawan untuk menghabiskan sore di Sky City, sebuah tempat untuk berkumpul, minum dan menikmati sore hari menjelang matahari tenggelam di tepi laut.

Saya rasa untuk kunjungan ke City akan memakan satu jilid penuh, jadi lebih baik saya akhiri saja dulu di sini.

Saya akan mempersiapkan jilid selanjutnya…

Salaaaam……………..

 

15 Comments to "The Story from the Top End (2)"

  1. Lani  22 April, 2012 at 04:10

    EQ : mmg gitulah……namanya suhu, lurah, jd dia mau ber experiment dgn apa saja……….hahahha……..lempar umpan, tp nanti klu direspond njur jawabane : aku ora melu2 kkkkkkkkkk

  2. EQ  21 April, 2012 at 20:34

    Cie Lani : kanjenge buto memang senengnya dolanan apa wae kok, kqkqkkqkq…ya kuda, bumerang, apa ajalah..hihii…

  3. Lani  21 April, 2012 at 08:42

    AKI BUTO : 6 mmm, pertanyaanmu “sempat dolanan bumerang”? hahah……ini nampaknya kebawa arus dgn dolanan kuda…..cm beda aja…….hahah…..woalah aki…….

  4. EQ  21 April, 2012 at 00:41

    Om Hand : ini udah di Jogja lagi kok…..
    Cie Lani : iyaaaa…saya juga suka sekali….sekalipun sampe gempor dan kekeyangan, tetep aja gak kapok…asyik soalnya……dan saya pasti akan balik ke Darwin lagi…
    Kanjenge Buto : hah !! nyoba tattoo Aborigin ? ra ana kie…..motifnya memang apik, tapi tattoone tattoo temporary, itu setahuku lho, soale durung pernah weruh wong Aborigin tattoo’an je…
    Chandra S : itu kain dari Bali. Banyak banget di Darwin…..semacam batik printing gitu.
    Pampam : kenapaaaaa kok aduh ? hehehehe….
    Om ODB : iya, kita belum berjodoh, saya tunggu telponnya, mungkin pas telpon, pas eror…soalnya XL suka gitu…tiba2 eror….semoga lain kali kita bisa bertemu ya om….kemungkinan bulan Mei saya mau ke jakarta om….nanti saya kabari deh…
    Mbak Silvia : makasih ya…
    Kornelya : iya, sunset di Darwin memang cantik sekali, terutama kalo pas cuaca cerah…wow !! cerita berikutnya menyusul…

  5. Kornelya  20 April, 2012 at 21:39

    EQ, foto sunsetnya bagus-bagus. Kota dan manusianya tertib , dan rapih. Ditunggu kisah selanjutnya. Salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.