Tuhan dalam Sekotak Konsep

Wesiati Setyaningsih

 

Mataku menyapu ruangan. Ruang yang terang benderang dengan cat yang masih baru, dua AC yang menyala, disinari dua lampu yang dihidupkan untuk mendukung cahaya matahari yang terhalang buram kaca jendela. Dua puluh anak menempati satu meja.

Sungguh berbeda dengan sekolah tempat aku menjadi pengawas UN tahun lalu. Cuma ada satu kelas di ruangan yang ‘menyedihkan’. Begitulah pendidikan di negeri ini. Fasilitasnya memang belum merata.

Aku menghela nafas. Baru berjalan setengah jam. Masih ada waktu satu setengah jam lagi. Mapel Ujian Nasional yang dujikan hari ini cuma satu, Bahasa Indonesia. Jam sepuluh nanti baru akan selesai. Teman pengawas sedang mengedarkan daftar hadir. Dia mengambil alih pekerjaan karena mungkin menurut dia usahaku menuliskan nomor dan nama dua puluh anak di tiga lembar daftar hadir sudah cukup.

Aku melirik ke buku yang kubawa untuk memecah kebosanan. Biksu Tibet yang sedang tersenyum lebar di cover buku seolah sedang tersenyum ke arahku. Tiba-tiba pikiranku melayang pada sebuah konsep ketuhanan.

Entah kapan aku pernah menjawab pertanyaan dua anakku saat mereka bertanya Tuhan itu dimana. Aku juga tak ingat apa yang kukatakan pada mereka sebagai jawaban. Mungkin saja aku menjawab, “Entahlah.”

Aku teringat seorang teman yang mengatakan padaku bahwa meditasi tidak melibatkan Tuhan. Aku tersenyum. Paham. Memang bahkan Rinpoche juga hampir tidak menyebutkan Tuhan dalam bukunya. Dia hanya menyebut nama Budha.

Dulu sekali ada teman yang mengatakan padaku dalam konteks negatif, bahwa orang Budha itu tidak punya Tuhan. Aku tidak tahu apakah itu benar. Hanya saja lantas timbul pertanyaan dalam diriku masak sih begitu? Seumur-umur aku tahu bahwa agama di Indonesia ada lima, termasuk Budha, dan setahuku tiap agama percaya pada Tuhan.

Tuhan memang pencipta skenario yang sangat canggih. DIA seperti menata skenario sedemikian rupa supaya aku bertanya-tanya, kemudian DIA melemparkan aku pada jawaban-jawaban. Tak berapa lama, ada lagi seorang teman yang menjelaskan bahwa memang dalam Budha, Tuhan itu tidak pernah dibahas. Bukan karena mereka tidak percaya pada Tuhan. Tapi karena mereka tidak ingin Tuhan dikonsepkan. Mereka membebaskan umatnya untuk memiliki konsep masing-masing tentang Tuhan. Maka sebenarnya bisa dikatakan, konsep berketuhanan mereka adalah : tanpa konsep.

Jadi Tuhan itu dimana?

Andai anak-anak bertanya lagi, “dimana Tuhan berada?”, mungkin lain kali aku akan berkata,

“Pejamkan matamu, rasakan nafasmu, nanti akan terasa ada Tuhan dalam hatimu.”

Toh memang dalam agama kami juga dikatakan Tuhan itu lebih dekat dari urat nadi. Terbayang Dila dan Izza akan menatap penuh tanya. Lalu bertanya apa maksudnya. Mungkin mereka masih belum bisa paham. Tak apa. Mereka nanti juga pasti akan menemukan Tuhan dalam diri mereka sendiri bila tiba saatnya.

Waktu berlalu. Kutengok jam tangan. Masih satu jam lagi. Masih ada waktu untuk membaca-baca lagi beberapa petuah biksu Tibet itu yang kemarin-kemarin terlewat dari konsentrasiku.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

55 Comments to "Tuhan dalam Sekotak Konsep"

  1. wesiati  23 April, 2012 at 13:57

    mas bread : wakakakkaka….

  2. Our Daily Bread  22 April, 2012 at 23:14

    Wesiaty,sotoy kalau ngak salah soto yumi2 ya,saya paling doyan.Memang betul itu haknya pribadi masing2,makanya Itisme kanbilang seperti cerita dalam B film,saya hanya beri contoh dan misalnya,kan ngak beneran,anggap saja saya sedang menyutradai filmnya dan Itisme adalah aktornya

  3. Our Daily Bread  22 April, 2012 at 23:08

    Itisme,sudah bikin schedulenya belum kapan mau landingnya di Amrik.Kan Gepeng pernah bilang:Untung ada saya,hhhaaahhhaaahhhaaa

  4. wesiati  22 April, 2012 at 20:14

    ODB, bukan mau belain itsme, cuma yang dibilang ODB itu ‘sotoy’ deh. apapun yang membuat seseorang jadi atheis, atau bahkan agamis sekalipun, sepertinya itu urusan masing-masing.
    cuma kalo memang itsme layak dianiaya, ya mangga ajah… wakakkakak….

    (baru tau kalo komentarnya nambah setelah iseng main. biasanya ada noti masuk di email, kok hari ini enggak ada. well, yang nengok juga buanyak yah… heheh…

  5. Itsmi  22 April, 2012 at 18:27

    ODB : kalau nanti anda ke Amrik/Florida saya akan menemani anda mencarikan,semuanya yg berkenaan dengan B film dan adult movie,berikut segala pernik2nya

    Lebih baik begitu dari pada “Tea Party”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.