Jangan Beli Tiket Titanic

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

JAUH sebelum kapal Royal Merchant Ship Titanic (nama resminya) tenggelam pada Senin pagi dini hari pukul 2.20 tanggal 15 April 1912 di perairan dekat pantai Newfoundland di laut Atlantik utara yang dingin, sebenarnya kapal itu sudah “tenggelam”.

Tahun 1898 sebuah novel yang mirip-mirip judulnya dengan cerita tentang sebuah kapal bernama Titan yang tenggelam. Titan atau Titanic bukan nama keperkasaan lagi atau kesombongan. Titanic adalah kemalangan dan juga bermakna kematian di akhir cerita.

Sampai kini tidak ada kapal sebesar apapun mengambil nama ‘Titanic 2’ atau ‘New Titanic’ atau ‘New Unsinkable Titanic’. Karena kalaupun ada, tak ada yang mau membeli tiket Titanic.

 

32 Comments to "Jangan Beli Tiket Titanic"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  15 May, 2012 at 14:06

    Mohon maaf teman-teman Baltyra dan pembaca. Ternyata analisa saya salah besaer bahwa tidak akan ada kapal bernama Titanic lagi. Ternyata….. ini baru saya tahu setelah sebulan tulisan ini dibuat.

    Seorang milyuner Australia, Clive Palmer, pemiliki dan raja tambang, sudah membuat kapal besar sekelas Titanic yang tenggelam. Namanya Titanic II dan akan diluncurkan tahun 2012 ini.

    Maaf.

  2. Handoko Widagdo  23 April, 2012 at 13:25

    Perdukunan modern?

  3. Linda Cheang  23 April, 2012 at 07:19

    jangan beli tiket Titanic termasuk untukku, enggak mau beli tiket nonton film Titanic yang biasa maupun 3D, karena enggak tahan nonton film panjang, hehehe…

    no comment, lah kalo Titanic dikatikan dengan politik

    aku akan selalu bilang : NEVER MIND THE POLITICS! *Margareth “Iron Lady” Thatcher mode : on*

  4. Indriati See  22 April, 2012 at 20:55

    Lieber Mas Iwan,

    Duh … saya salah mengerti Mas, kalau memang yang dimaksud “membeli ticket Titanic” seperti yang Mas Iwan jelaskan ya saya juga “emoh” … apalagi kalau disuruh memilih yang sudah kita tahu “tidak becus” untuk menjalankan tugas dan wewenangnya … kalaupun kita lakukan juga berarti kapasitas kita setinggi dingklik ya … Hm … berharap kita semua sadar dan lebih jeli untuk mengambil keputusan dalam “memilih” “yang ditawarkan”

    Kalau boleh saya koreksi:
    cara penulisan yang benar adalah:

    Lieber Mas Iwan (penulisan Liebe dengan “r” untuk kt.benda maskulin)
    Liebe Indri (penulisan Liebe tanpa “r” untuk kt.benda femina)

    Salam hangat balik juga … dan bagi saya yang penting sharing saya dibaca Mas dan berguna bagi yang membaca

  5. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 April, 2012 at 20:42

    Lieber Indriati, terima kasih banyak atas komentarnya. Saya senang membacanya seperti saya memaca komentar sebelumnya.

    Soal WTC bagi saya itu bukan kutukan. Tetapi keteledoran yang tak terpikirkan. Tahu 1993, bagian ground WTC sudah pernah dibom oleh teroris. Pemboman itu menjadi berita dunia dan seharusnya AS menjadi waspada dengan tingkat tinggi. Tetapi ternyata tidak. Jadi memang “agak mirip” dengan kasus tenggelamnya Titanic.

    Soal resiko hidup mungkin mBak Indriati agak sejalan dengan Itsmi dalam menangkap maknanya. Hidup memang penuh resiko dan saya pribadi sering mengalami kegagalan karena tidak ada pola sebelumnya. Namun bila kita tahu bahwa hasilnya akan berakibat buruk, itu yang saya maksud seperti membeli tiket kapal Titanic.

    Seperti yg saya katakan, bila sudah 20 kali saya menipi mbak Indriati, masak sih mBak mau ditipu lagi untuk ke 21 kalinya? Itu artinya seperti membeli kapal Titanic. Lain halnya bila ada sesuatu yang baru yang semua kita tahu bahwa itu tidak ada yang tahu prediksinya. Untuk itu, semua orang akan melalukannya dan itu tidak seperti membeli tiket kapal Titanic.

    Kejadian yang hasilnya sudah ada polanya bagi saya seperti membeli tiket kapal Titanic. Sudah tahu tidak pakai seatbelt membahayakan kita, masa kita akan berkata, “hidup ini penuh resiko, so apa gunanya pakai seatbelt?”

    Terima kasih banyak ya mBak Indriati. Mohon maaf saya agak jarang memberi komentar di tulisan lain, karena banyak masalah domestik.

    Salam dan selamat berakhir pekan.

  6. Indriati See  22 April, 2012 at 20:21

    Sentilan Mas Iwan pedih juga ..

    Membeli ticket Titanic dalam bahasan diatas apakah bisa saya sebut “sugesti ?” seperti juga kasus 11.9 untuk WTC NY bukannya sebelum pemboman tsb sudah ada jenis mainan (video game) tentang pemboman WTC ?
    Hidup ini penuh dengan “resiko” dan “resiko” ini selalu setia menyertai kita … bahkan seorang anak bayi yan ingin belajar “berjalan” sudah berani mengambil “resiko” yaitu “jatuh” yang sudah pasti akan membuat si bayi tsb “sakit” … tetaoi si bayi akan terus mengulangi perbuatannya sampai dia bisa berjalan

    Begitu juga dalam hidup perkawinan, pasangan mana yang tahu kalau perkawinan mereka akan berakhir bahagia ? resiko menjadi janda atau duda, cerai bahkan selingkuh bisa saja terjadi …

    Hm … jadi menurut saya pribadi, dalam hidup ini “jangan pernah” takut untuk mengambil resiko … jalankan saja dan tentunya lakukan semua yang ingin dilakukan dengan “tulus” dan “rela”

    Terima kasih tuk sharingnya ya Mas Iwan … sangat inspiratif

    Salam hangat dan met menjalankan pekan yang baru

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 April, 2012 at 20:17

    Lieber Hennie…danke schön.

    Salam sayang 4-3

  8. HennieTriana Oberst  22 April, 2012 at 19:27

    Lieber Iwan, wah tulisannya dalem…
    Salam sayang 3-4.

  9. IWAN SATYANEGARA KAMAH  22 April, 2012 at 18:53

    Om itsmi apakah menerima imigran Maoroko spt membeli tiket Titanic bagi Belanda?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *