Lukisan Purnama dan Daun-daun Gugur

Linda Cheang – Bandung

 

Holla Kris, mi querido amigo. Como estas?

Ya, Kris. Itulah penggalan namamu. Setengah Latin dan setengah India. Ku menganggapmu bagai Sri Krisna, dewa di kisah Mahabharata yang menolong Drupadi dari dipermalukan oleh Dursasana putra Gandari. Nan kau tak sedikitpun paham akan Krisna yang itu. Karena bagiku, ketulusanmu seperti layaknya ketulusan Sri Krisna. Juga, tentang Kristus Sang Mesias yang kulihat hadir dalam hidupmu. Walau kau harapkanku menyebutmu dengan nama yang kau sukai, namun aku bersikeras, kau adalah Sri Krisna bagiku. Ah, kau memang bukan penggemar kisah wayang.

Ailin, itulah aku. Seorang oriental berdarah campur lokal, lahir di satu malam purnama yang sendu. Kau hanya tersenyum mendengar jawabku bahwa purnama menjadi saksi kelahiranku. Pula kau hanya tertawa renyah, ketika kujelaskan bahwa namaku itu pemberian ayahku yang asal saja beri, karena Ayah tak mau susah mencari nama untukku. Untung saja nama itu Ayah berikan dengan  mengharapkan kelak aku akan jadi sosok yang mudah dicintai oleh siapa saja.

***

Sebuah lukisan tentang purnama kau berikan padaku, bertahun setelah pertemuan terakhir kita. Sebentuk purnama berkilau menerangi daun-daun gugur. Kau katakan, kau suka sekali memandangi purnama saat kau menutup pagar rumahmu di malam hari, tempat tinggalmu saat ini.

***

“Ailin, memandangi purnama, mengingatkanku akan senyummu,’’ lanjutmu lagi. Di percakapan jarak jauh kita.

“Di purnama ada kelinci!” kataku mantap.

“Ah, bukan!” itu katamu kemudian.

“ Kalau bukan kelinci, lalu menurutmu apa?”

“Naga!”, jawabmu. Tak pelak membuatku tertawa.

Akupun bertanya, “ Di mana ada naganya?”

“Ailin, naganya ada di sini!” tukasmu.

Ternyata, kau maksud naga itu adalah kau, Kris.

 

 

“Aku, yang hanya mereproduksi lukisan ini pun takjub,” Kris bertukas, sambil berikan sebuah lukisan purnama dengan daun-daun gugur. Sebuah representasi dari lukisan Hiroshige.

“Ku ingin kau tuliskan sajak indah di sana, Ailin.”

Aku terdiam.

“Tulisanmu sendiri, ya!”. Kris tegas berkata.

“Baiklah, Kris, Akan kucarikan Shu Fa yang singkat saja.” kataku kemudian.

Sekian waktu berlalu, yang dapat kutuliskan hanyalah :

Air Kehidupan.

Betapa indah berkat Tuhan

Di sebuah sudut di bawah lukisan goreasnmu, Kris. Aku tak hendak merusak gambar indah karyamu.

***

Mengenalmu pertama, saat itu aku masih seorang yang naif, ibarat baru masuk ke kolam yang besar setelah sebelumnya nyaman di kolam kecil. Gegar budaya kulewati dari alam anak-anak ke alam remaja, lalu menuju dewasa. Tubuhku ringkih, nyaris saja tenggelam ditelan teman-teman sekelasku yang tampak nyaris tak berbelas kasihan.  Sedangkan kau, sudah di awal kedewasaanmu. Seorang pemuda gagah dan tampan dari tempat yang jauh, di luar kota. Tatapanmu tegas namun membawa ketenangan, tubuhmu tegap meski sedikit gempal. Namun tak kusangka perasaanmu sangat halus. Sungguh menyenangkan bisa kenal kau, sesosok lelaki muda yang menenangkan.

Kau bangga dengan khayalanmu yang selalu kau katakan padaku, bahwa kau adalah seorang jawara, entah jawara apa, aku juga tak paham. Di pikiranku, seorang jawara itu bertubuh kekar, dengan gelang akar bahar melingkar di lengannya, namun kau? Badan yang agak gempal, rambut tertata rapi, tak ada nuansa seram padamu. Cukup sebuah liontin Kristus tersalib, tergantung di lehermu. Aku menyentilmu dengan kalimatku, apa hebatnya seorang lelaki pakai kalung? Kau tak menjawab pasti saat itu. Entah kau tertohok, entah kau tak paham. Tatapanku lekat padaku, menyiratkan sebuah tanda.

Kris, sahabatku terkasih. Tak banyak tersisa dalam ingatanku, bagaimana kita berinteraksi  Ketika waktu khusus satu pelajaran  bersama-sama. Tak banyak pula tertinggal ketika kita satu masa pada satu kesempatan pentas sebuah perayaan. Tapi satu yang tak kumengerti, caramu menatapku, seakan ingin katakan sesuatu. Sesuatu berkilau penuh misteri ada di sana, dalam tatapanmu.

Satu masa kau bicara padaku, makna dari tatapanmu. Bahwa sebuah ketulusan dari hatimu terdalam, kau tawarkan padaku. Ketulusan yang aku tak juga paham hingga bertahun kemudian, sampai aku terlambat menyadarinya, aku menyesalinya. Tanggapanku, hanya bingung, hanya tatapan kosong tanpa paham  apa maksudmu. Tak percaya, seorang pemuda gagah di hadapanku, saat itu sedang berhalus rasa kepadaku? Apa yang terjadi?

Satu hari kau berikanku sebuah tanda mata, yang kutahu itu sangat berharga untukmu. Kuberpikir, hanya sesuatu yang tak penting. Sekedar untuk menjaga relasi baik di antara kita. Tanda mata yang baru kubuka lama setelah aku menerimanya. Itu, liontinmu! Sang Kristus tersalib…..dan aku tak sanggup berkata-kata…..

Con los aňos que me quedan….di tahun-tahun yang telah kulewati….

Sang Kristus tersalib pun hilang dari genggamanku entah ke mana. Akupun lupa entah di mana aku menyimpannya, dan Kris, si pemuda itu hilang bagai ditelan bumi. Membawa hati perih karena saat itu ku tak hendak membalas ketulusanmu. Tanpa tahu, sebuah jejak akan benih ketulusan telah tertanam dihatiku, yang tak menyadarinya.

***

Lukisan bulatan purnama indah menerangi daun-daun gugur di atas air bergemericik sejuk. Lamat-lamat terngiang di telingaku, suara halus berbisik.

Si negaras mi presencia en tu vivir

Bastaría con abrazarte y conversar

Tanta vida yo tedí

Que por fuerza tienes ya

Sabor a mi  *)

 

Kris, adakah itu suara hatimu?

***

Con los aňos que me quedan….di tahun-tahun yang telah kulalui

Waktu bagai enggan menggangguku meski sekedar menggoreskan kerut tipis di wajahku. Tak jua sudi menumbuhkan sedikit uban di kepalaku. Hanya tubuhku kini tak ringkih bagai dahulu.

Waktu lebih dua windu sejak pertemuan terakhirku denganmu, Kris. Kuduga, kau telah mengarungi hidupmu dengan bahagia dan nyaman. Hingga, berbisik kabar kau di satu negeri nan eksotis, sejauh setengah bulatan bumi dari tempat asal kau berpijak. Tempat kau dapat melihat La Sagrada Familia dari rumahmu di ujung sebuah jalan. Sendirian dalam keheningan.

Kau kisahkan cerita hidupmu selama kita terpisahkan jarak dan waktu.  Kutemukan kau, dengan tatapan seperti dulu dengan kilauan misteri yang menyertainya. Tak jua hilang, meski kau tak hendaki ku mampu  membacanya. Matamu, adalah jendela hatimu. Sesuatu tulus itu masih ada di sana. Enggak pergi beranjak.

Kini, guratan waktu telah terukir di wajahmu, di rambutmu, di tubuhmu yang makin menggempal. Mungkinkah timbunan Paella di sana, mengukir bentuk menggantikan siluet gagahmu dulu? Rasa halusmu, mengantarmu menjadi seorang yang penuh seni, menggoreskan apapun yang kau pikirkan, dengan sapuan halus di atas kanvas. Sungguh indah. Pula sang purnama bulat berkilau.

***

Kalimat indah tertulis dibelakang sapuan cat air melukis bulatan purnama menerangi daun-daun gugur.

Para mi querida Ailin, Julio 2011.

***

Sang Kristus tersalib telah bersedia ditemukan.  Seiring kau datang  membawa senyuman manismu nan menawan.  Menemani lukisan purnama menerangi daun-daun gugur di atas air gemericik. Lamat-lamat terdengung di hatiku, suara lembut berbisik penuh kerinduan.

“Bacalah hatinya yang bergetar merambat bagai gelombang samudera, dia ‘kan berlabuh di pantai jiwamu.”

Getaran itu telah labuh di hatiku. Getaran halus membuncahkan keinginan terdalam yang tersembunyi. Jejakmu telah tumbuh bersemi mengisi hari-hari sunyi. Jejakmu tak pernah hilang di sana. Terjejak kuat.

Akankah kau berikanku kesempatan, membalaskan ketulusanmu? Ketulusan yang sama, bergetar, merindu berlabuh di teluk jiwamu yang damai, Sri Krisnaku.

No me dejes de querer…..jangan pernah berhenti mengasihiku….

 

Linda Cheang

Finales de Marzo, 2011


*) jikalau pun kau ingkari kehadiranku di hidupmu

pelukanku dan tutur-tutur halus kan buktikan

berlawanan dari ingkaranmu itu

telah banyak bagian hidupku kuberikan padamu

kini, tak kan lagi kau berdaya mengelak

untuk terima nyata,

jejak diriku ada di hidupmu

 

Ilustrasi Gambar :  Lukisan  “The Moon Seen Through The Leaves” – Ando Hiroshige (1797 – 1858)

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

95 Comments to "Lukisan Purnama dan Daun-daun Gugur"

  1. elnino  15 May, 2012 at 17:42

    Vie, masih penasaran atau bacanya belum tuntas nih
    Setuju sama komen Vie no.92.

  2. Silvia  15 May, 2012 at 14:52

    Amin&tx Lin. *Peluk Linda*

  3. Linda Cheang  15 May, 2012 at 14:49

    Mak SU, dari hasil main comot sana sini kata-kata indah produksi teman-teman, jadilah sebuah karya sastra di atas.

    Tuhan memberkati Mak juga…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.