Balada Negeri Tercinta

Rachmat Budi M

 

INI pertanyaan yang kesekian atau bahkan mungkin telah puluhan kali sering  diajukan kepadaku oleh banyak orang. Biasanya pertanyaan seperti ini tidak menggangguku. Tapi ketika  pertanyaan itu diajukan oleh teman buleku yang sedang berlibur dan menginap di rumahku, aku tersentak dan membuat aku merenung berkepanjangan.

“Apakah engkau bangga ataukah malu pada negerimu?” Tanya dia.

Temanku itu datang dari negara di benua jauh seberang sana, dia bertanya demikian padaku apakah karena betul-betul ingin tahu atau mungkin hanya ingin menyindir? Aku tidak begitu faham tujuan pertanyaannya. Mungkin saja dia memang kagum pada alam negeriku ini. Atau mungkin dia justru bangga pada negerinya sendiri dan ingin membandingkan kebanggaannya dengan orang lain? Tentu dengan kebanggan yang mereka terjemahkan sendiri. Bagiku kata kebanggaan adalah relatif.  Hemm…boleh jadi aku hanya terlalu sensitif.

Terhadap negeri mereka sendiri yang pernah aku kenal (aku pernah berkunjung di banyak kota Eropa), dengan kota-kotanya yang mewah, kondisi jalannya yang teratur  rapi, nyaman dan bersih, aku meyakini bahwa mereka pasti membanggakan. Bagi mereka, kota-kota di sana yang pernah aku jejaki adalah kota penuh kebanggaan. Entah bangga pada bagian yang mana dan karena apa? Aku tidak begitu tahu. Tapi aku merasa iri.

Dalam situasi perasaan yang seperti ini membuat ingatanku terseret kembali pada satu rangkaian cerita yang bertumpuk di kepalaku, yang lama tersimpan dan ingin kucurahkan.

Saat aku bekunjung di salah satu negara Eropa Timur, tanpa kuduga aku bertemu dengan saudara-saudara dari Indonesia. Aku berjumpa di salah satu tempat yang luas, serupa alun-alun di sebuah pinggiran kota. Saat itu hari minggu pagi, mendekati  musim dingin. Mereka tengah menikmati hangatnya matahari pagi di udara terbuka dengan sinarnya yang terakhir di musim panas. Mereka tengah berolah raga ringan.  Dan kebanyakan dari mereka telah berumur sepuh. Saat kudatangi mereka dan menyapanya dengan akrab, mereka menyambut dengan kegembiraan yang lama telah tertahan, seolah bertemu dengan saudara yang lama hilang. Kuberi mereka oleh-oleh cerita tentang kondisi terkini tanah air. Mereka antusias mendengarkan dengan wajah yang dipenuhi kerinduan yang dalam. Mereka memang telah berpuluh tahun tinggal di negeri orang. Mereka di sana tinggal dan menjalani  sisa-sisa hidupnya. Mereka sangat jauh dari negerinya sendiri, berada di negeri yang jauh berbeda tradisi dan budayanya. Walau di sana mereka tercukupi, namun aku tahu di palung hatinya yang terdalam sebenarnya mereka rindu akan ibu pertiwi. Tanah air bagi mereka adalah masa lalu yang terukir kuat dan mengakar di hati mereka, tapi mereka tak terjanjikan atas keadilan dan juga hak-hak mereka. Kita semua tahu, mereka beberapa puluh tahun lalu telah terusir dengan paksa lewat tangan kekuasaan. Dan peristiwa itu hingga kini tidak pernah tuntas duduk soalnya.

Tentu mereka kecewa atas itu semua!

Di antara mereka pasti merindukan matahari jingga yang pijarnya menghangatkan tanah sepanjang tahun, atau mungkin mereka bahkan merindukan kesemerawutan kota-kota dengan debu dan polusinya, dengan bisingnya klakson dan makian sopir yang kasar berebut penumpang di rimba jalanan. Banyak orang tentu geram ketika berada di dalam kendaraan umum yang berjejal dengan panasnya yang menyelubungi bumi sementara laju kendaraan dikendalikan dengan ugal-ugalan oleh supir yang juga sedang emosi. Dan tiba-tiba hanya bisa terdiam terpaksa menerima karena jalanan ditutup beberapa waktu berhubung ada pejabat yang lewat. Semua penumpang melongok ingin tahu pejabat yang lewat itu dengan hati mangkel, karena mereka tahu pejabat itu telah membawa kabur hak-hak yang mereka miliki.

Kini, malukah aku?

Mungkin aku malu. Manakala aku melihat beribu-ribu anak jalanan yang seharusnya dipelihara negara, tetapi tetap saja masih terlantar dan tergadaikan hidupnya dengan keping-keping recehan rupiah. Itu tak seberapa, di tempat lain, di pojok-pojok kota negeri ini–terlihat atau tidak terlihat– nyawa mereka seakan tak ada harganya.

(Google Images)

Kebodohan, kebebalan atau ketakmampuan para memangku negeri dan mereka yang duduk di kursi-kursi harapan banyak orang, yang telah membuat aku malu. Oleh karena moral mereka itu, bangsaku menjadi lemah dan bobrok. Badut-badut dan pesulap-pesulap kekuasaan itulah yang sering membual dan berdusta manakala berbicara dengan rakyatnya.

Hormatkah aku?

Aku hanya bisa tersenyum sambil kubayangkan bunga melati yang selalu mekar setiap pagi. Putih dan hanya putih bersih, yang banyak menghias taman dan tanah halaman rumah-rumah negeri ini. Mereka adalah kuncup-kuncup generasi putih negeri. Tapi kelak, apakah masih ada harapankah untuk dapat tumbuh mekar atau hanya sekedar tersenyum membayangkan sebuah kepastian?

Aku tersedak. Aku takut pada ketidakpastian. Yang kutahu di sini tidak ada tonggak untuk menjadi sandaran, juga tak ada teman untuk bersandar ketika banyak orang menghadapi ketidakpastian atas nama hukum ketika diinjak-injak oleh kesewenangan. Aku getir dan takut, seperti di sebuah hutan gelap gulita tanpa arah dan setiap detik siap terpleset lumut hijau atau termakan harimau yang mendadak muncul dari depan.

Lalu apa yang aku bisa tatap dari negeriku. Selalukah aku harus melihat berduyun-duyun barisan orang yang tersuruk menjemput sisa nasi yang telah basi di atas tanah berlumpur, sedang bedebah-bedebah itu asyik menggembungkan perut dan melemaskan mata di kafe-kafe terus menerus dan kemudian lelap tidur sambil berbantal uang. Mereka tidur mendengkur, memejamkan mata dari kenyataan-kenyataan pahit yang merajalalela.

Apakah aku bangga?

Aku ingat kini. Tentang kebohongan di masa lalu. Guruku yang mengajarkan tentang kebohongan, yang mengajarkan kenyataan yang samar, agar kami setidaknya pernah merasa bangga pada negara. Sebuah negeri yang indah, yang orang-orangnya saling bersahabat, yang menegakkan kebenaran. Dan kebohongan itu terus diwariskan untuk mengungkung banyak orang hingga kini.

Lantas apa lagi yang harus kubanggakan?

Aku hanya bisa malu. Tapi selalu kusadari. Aku masih harus terus mencari  dalam sebuah ruang kegelapan. Bergandengan bersama dari generasi ke gererasi. Kami masih ingin berlari dan terus bertanya akan kebanggaan pada tanah air. Kami berlari di antara puing-puing yang rusak. Namun di sudut sana aku merasa masih ada kebanggaan yang harusnya kami lihat, yang belum tampak namun nyata. Masih ada di sekeliling sana, walau kami harus lebih dulu mendobrak dan melawan kungkungan para pembual yang katanya mewakili kami.

Aku tersenyum, aku bangga dengan matahari katulistiwa yang bersinar sepanjang waktu, dan kami akan terus belajar dan berjuang untuk sebuah arti kebanggaan. Habis gelap terbitlah terang.*

Yogyakarta, 2012

 

11 Comments to "Balada Negeri Tercinta"

  1. RBM  25 April, 2012 at 13:16

    Kita sungguh sangat mencintai negara tercinta Indonesia, dengan kecintaan ini kita tergugah
    untuk selalu mengkritisi dan berani bicara demi kebaikan bangsa ini. Kita akan terus mencintai
    dan memiliki Indonesia, smg semuanya menjadi lebih baik, maju dan sejahtera…

    Terimakasih kepada semua teman2 atas apresiasinya..
    Terkhusus, terimakasih sekali kepada Mbak Dewi, yg telah memberi ruang di forum ini..

    Salam
    RBM

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.