Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Biarkan Pemerintah Mengikuti Irama Kita

Wednesday, 25 April 2012

Viewed 1229 times, 2 times today | 10 Comments |

Cechgentong

 

Ternyata banyak orang hebat di dunia ini. Menurut saya, orang hebat bukan hanya mempunyai gelar dan kekuasaan saja tetapi bermanfaatkah dirinya bagi banyak orang terutama di lingkungannya. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh seorang Tevita Niuvou dan saya selalu mengingatnya.

”Sebagai petani, saya tidak akan berdiam diri dan berpangku tangan saja. Biarkan pemerintah dan aparatnya mengikuti irama saya… “

Saya mengenal pertama kali pada saat di kota Suva ada event “ Agriculture Show 2011 ” yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian Fiji. Pada saat itu saya tertarik dengan produk kakao olahan Tevita, walaupun diproduksi dengan cara yang sederhana. Tetapi saya melihat ada energi kuat di dalam diri Tevita untuk menjadi orang sukses. Dengan semangatnya Tevita menceritakan tentang diri dan kebun kakaonya. Sampai akhirnya saya berjanji kepada Tevita untuk berkunjung ke kebun kakaonya di Korovou. Ternyata baru Sabtu kemarin saya dapat memenuhi janji dan uniknya bertepatan dengan hari anniversary saya hehehe…

Rumah sekaligus tempat riset tanaman kakao di desa Namau, Korovou (dok cech)

Dengan menggunakan kendaraan umum, akhirnya saya tiba juga di rumah Tevita di desa Namau (Namau Settlement), Lodoni, Korovou. Alhamdulillah perjalanan menuju rumah Tevita lancar saja walaupun jalan menuju Namau Settlement masih berupa tanah yang dilapisi berbatuan sekadarnya sehingga pada saat hujan jalan menjadi licin.

Begitu taksi yang membawa saya berhenti di depan rumahnya, Tevita sudah menunggu dengan wajah gembira. Tak ada yang berubah dari Tevita, selalu semangat dan awet muda. Selanjutnya Tevita mempersilahkan saya masuk ke rumahnya.

Di atas meja ruang tamunya, saya sudah disuguhkan Banana Cookies khas Fiji, buah kakao, markisa dan minuman susu coklat (coklatnya berasal dari kebun kakao Tevita). Beberapa menit saya melepaskan lelah, Tevita menyodorkan secarik kertas yang berisi rencana acara kunjungan saya ke kebun kakao. Rencana tersebut dibuatnya agar kedatangan saya tidak sia-sia dan fokus. Hal ini dilakukan pula terhadap tamu-tamu yang datang ke tempatnya. Setelah menikmati susu coklat dan banana cookies, saya memutuskan untuk berkeliling ke kebon coklatnya.

Sebelum berkeliling, Tevita menunjukkan foto-foto dan brosur yang terpasang pada papan di depan rumahnya. Dengan semangat, Tevita menceritakan perjuangannya selama 5 tahun untuk mengembangkan tanaman kakao di desa Namau tanpa bantuan pemerintah sekalipun sehingga bisa terkenal di Fiji. Memang di foto-foto tersebut terlihat Tevita sedang diwawancarai jurnalis berbagai media Fiji, Tevita bersalaman dengan PM Fiji Bainimarama yang berkunjung ke kebunnya, kedatangan ahli kakao Swedia dan Portland Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Tetapi dari semua itu yang menarik bagi saya adalah sebuah tulisan dengan huruf besar ”CACAO IS GOLDMINE “. Apa maksudnya ya ?

Tevita menunjukkan luas lahan yang ditanami kakao (dok. Cech)

 

Tanaman kakao yang ditanam secara organik (dok. Cech)

Dalam perjalanan mengelilingi kebun kakao Tevita  berjumlah 12.800 pohon yang ditanam pada areal ribuan hektar, barulah saya mengerti apa yang dimaksud dengan CACAO IS GOLDMINE”. Tanaman kakao tersebut adalah warisan ayah Tevita. Pada tahun 1990, ayah Tevita sempat menanam beberapa bibit kakao yang berasal dari Srilanka. Tetapi tanaman kakao tersebut dibiarkan saja atau sekadar pelengkap tanaman di kebun. Sebelum meninggal, Ayah Tevita berpesan kepada anak-anak terutama Tevita kalau beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali “harta karun” yang tertanam di kebunnya yang luas.

Pada saat itu Tevita sempat berpikir memang benar ayahnya meninggalkan “harta karun”. Bayangkan saja segala jenis tanaman ada di kebun. Mulai dari sukun, cabai, mangga, markisa sampai kakao. Tetapi yang menjadi pertanyaan dalam benak Tevita adalah mana yang bisa dijadikan “Tambang emas” bagi dia dan keluarganya.

Foto bersama Tevita di kebun kakaonya (dok. Cech)

 

Sebulan lagi panen kakao (dok. Cech)

 

Cocoa Jam, produksi Tevita (dok. Cech)

” Kita tidak boleh berdiam diri dan berpangku tangan. Tuhan telah memberikan berkah di tanah kita. Tuhan telah memberikan otak supaya kita berpikir maka itu cara berpikir (mindset) kita harus diubah. Kita harus mengolah atas segala yang diberikan oleh Tuhan di tanah yang dimiliki “ Begitulah kata Tevita pada waktu itu.

Dengan ilmu dan pengalaman yang terbatas dan kebiasaan menanam secara tradisional, Tevita berusaha mengembangkan segala jenis tanaman yang ada di kebun warisan tersebut. Sampai akhirnya Tuhan mendengarkan keinginannya. Tanpa sengaja Tevita bertemu dengan pembeli dari Selandia baru yang sedang mencari buah kakao di Fiji. Kemudian Tevita mengajak pembeli tersebut ke kebunnya. Setelah melihat kebun Tevita, pembeli tersebut hanya geleng-geleng kepala dan menyayangkan penanganan tanaman kakao milik Tevita. Pembeli tersebut memberikan saran kepada Tevita, kalau buah kakaonya ingin dibeli olehnya maka Tevita harus mengolah dan mengembangkan tanaman kakao miliknya dengan serius. Bukan hanya menjual buah kakao saja sebagai bahan mentah tetapi harus mengolahnya menjadi produk olah kakao yang berkualitas seperti bubuk kakao, kakao beku sampai candy bar (permen coklat). Terbukalah pikiran Tevita tetapi bagaimana caranya?

Secara bertahap Tevita mulai mempelajari tanaman kakao dengan bertanya kesana kemari kepada orang-orang yang mengerti kakao terutama pusat penelitian pertanian Fiji. Pada saat itu tanaman kakao di Fiji masih jarang yang menanam dan mengolahnya. Dengan keuletannya, akhirnya Tevita sedikit menemukan jawaban. Yang pertama dilakukannya adalah peremajaan tanaman kakao. Beberapa tanaman kakao warisan ayahnya dilakukan perkembangbiakan dengan cara penyetekan. Sedikit demi sedikit hasil penyetekan ditanam di kebunnya yang luas. Hal ini dilakukannya sejak tahun 2005 dan tanpa terasa sampai sekarang sudah tertanam 12.800 tanaman.

Tempat pengeringan kakao yang sedang direnovasi (dok.cech)

 

Tempat pengeringan biji kakao yang baru (dok.Cech)

 

Biji kakao yang sedang dikeringkan 9dok. Cech)

 

Kulit kakao yang sedang dikeringkan untuk dijadikan pakan ternak (dok. Cech)

Selama 5 tahun itulah Tevita rajin bertanya dan melakukan kontak dengan pembeli dari Selandia Baru. Dari situlah Tevita mendapatkan ilmu bagaimana menggarap dan mengolah hasil tanaman kakao sehingga menghasilkan kualitas biji kakao yang baik. Dengan peralatan yang sederhana, Tevita melakukan proses penanganan pasca panen kakao. Pada saat ini Tevita telah memanfaatkan mesin cuci bekas yang diperolehnya di Suva untuk mencuci biji kakao yang telah dikupas. Air perasaan biji kakao diolah menjadi minuman Wine dengan proses fermentasi lanjutan (disimpan dalam drum drum berbulan-bulan). Sedangkan biji coklat yang masih dilapisi selaput dilakukan fermentasi selama 5-6 hari. Hal ini dilakukan untuk memisahkan selaput dengan biji kakao. Setelah itu biji kakao dikeringkan secara alami pada terik matahari.

Dari keinginannya yang kuat untuk belajar dan bekerja, Tevita mengerti bagaimana biji kakao dapat diolah menjadi bubuk kakao, jam kakao, kakao padat (pure cocoa 100%) dan ada satu keinginannya untuk mengolah kulit kakao menjadi pakan ternak. Semua orang yang datang ke kebunnya selalu diajak diskusi bagaimana dapat mengembangkan tanaman kakaonya termasuk saya. Khusus diskusi dengan saya terungkap keinginan Tevita untuk menggunakan mesin tepat guna yang dapat mengolah biji kakaonya. Akhirnya saya menunjukkan beberapa alat dan mesin tepat guna yang dipakai oleh petani dan produsen kakao di Indonesia.

Mesin cuci bekas yang diubah menjadi pencucian biji kakao (dok. Cech)

 

Tanaman Markisa sebagai tambang emas berikutnya (dok. Cech)

 

Buah markisa, hasil panen di kebun Tevita (dok.Cech)

 

Tanaman Cabai yang tubuh subur dan berbuah lebat di kebun Tevita (dok. Cech)

Selain itu terungkap pula tambang emas lain yang ada di kebun Tevita. Selain kakao, markisa dan vanili bisa dijadikan tambang emas lain. Tanpa disadari oleh Tevita, dari kebiasaanya menanam tanaman yang ada di hutan ke kebunnya mulai terlihat hasilnya yaitu tanaman markisa dengan buah lebat yang merambat di pohon sukunnya. Kemudian tanaman vanila yang tampak subur merambat pula di pohon kakaonya. Betapa terkejutnya Tevita setelah saya mengatakan tanaman markisa dan vanila bisa diproses menjadi produk olahan pangan dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Mengapa tidak dikembangkan bersamaan dengan tanaman kakaonya ? Jadi bukan lagi “COCOA IS GOLDMINE, BUT STAY AND BE RICH ON GOLDMINE” ujar saya.

” Ternyata apa yang saya lakukan ada benarnya juga. Tidak lelahnya saya melakukan komunikasi dengan banyak orang, dari manapun (silaturahim bahasa Islamnya). Akhirnya saya mengetahui banyak hal terutama pengembangan tanaman kakao. Saya tidak hanya ingin menjual buah kakao terus selesai. Tidak ! Saya ingin menjual kakao sampai produk akhir olahan kakao. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri dan jangan tergantung pada bantuan orang lain termasuk pemerintah. Dan kita harus menciptakan irama positif agar hasil yang diperoleh juga positif. Pada akhirnya pemerintah yang akan mengikuti irama positif kita… “

NB: Hasil kerja kerasnya selama 5 tahun, Tevita diundang oleh Kementerian Pertanian Fiji untuk memperkenalkan produk kakao sebagai produk kakao asli Fiji pada Agriculture Expo 2011. Selain itu kebun kakao Tevita dijadikan pusat pengembangan tanaman kakao di Fiji. Hal ini mempengaruhi masyarakat sekitar desa Namau bahkan wilayah Korovou untuk menamam dan mengembangkan kakao.

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 25 April 2012 on 08:28.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

10 Responses to “Biarkan Pemerintah Mengikuti Irama Kita”

  1. 10
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Kok markisa lain ya Mas Cech? Gak terlalu sama yg saya lihat di kampung saya di Sulawesi Selatan.

    Senang nih baca artikel pertanian. Apalagi coklat.

  2. 9
    cechgentong Says:

    Kang JC, rasanya sama dengan coklat tapi yang ingin ada rsa madunya hehehe ekspor? waduh boleh juga tuh

    Mbak Linda, ayo mulai dari sekarang dan jalankan rencananya. kapan lagi kalau bukan sekarang

    Ibu Nu2k, setuju. kuncinya kemauan dan keuletan… salam juga dari negeri angin sepoi2

  3. 8
    cechgentong Says:

    P@sP4mPr3s, terima kasih juga dan saatnya tidak berandai2

    Mas Handoko, dimanapun bisa asal ada kemauan dan tekad yang kuat

    MAs Tok, terima kasih dan alam telah diberikan oleh Tuhan agar kita dapat memanfaatkannya.

  4. 7
    nuk2k Says:

    “Kemauan dan keuletan adalah dua hal penting dalam usaha untuk mencapai hasil yang optimal”: Kata orang tua-tua. Selamat mencicipi selai coklat..Gr. dari negeri yang selalu dingin. Nu2k

  5. 6
    Linda Cheang Says:

    senangnya jadi petani (rencana masa depan saya)

  6. 5
    J C Says:

    Contoh jelas dan nyata yang pasti bisa diterapkan di Indonesia…mantap sekali Kang Cech. Btw, itu cocoa jam rasanya kayak apa? Apa kayak coklat oles yang dijual di Indonesia? Kalau berbeda, bisa tidak coba-coba export ke sini? Lumayan juga kalau bisa…

  7. 4
    MasTok Says:

    Ini membuat kita banyak termanja oleh alam..Artikel nya mantappppp… salam Bumi Hijau….

  8. 3
    P@sP4mPr3s Says:

    mantap chech… menarik sekali kemauan dan usaha keras para petani dan orang2 fiji…..
    andaikan….

    indonesiaku….

    ahhh…. (balik mengandai andai)…

  9. 2
    Handoko Widagdo Says:

    Terima kasih Chech untuk sharingnya tentang pertanian di Fiji. Flores sebenarnya membutuhkan model semacam ini. Ayla, ayo ajak Max untuk membuktikannya.

  10. 1
    P@sP4mPr3s Says:

    Absen no satoe….
    sebelum
    Absen seharian dari komputer…. (out for meeting)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)