Microhydro Kampung Ansok

Handoko Widagdo – Solo

 

Seri 2 dari catatan perjalanan ke Sintang

Kampung Ansok berjarak kurang lebih 3 jam perjalanan mobil dari Sintang. Untuk menuju kampung ini kami harus melewati perkebunan sawit. Setelah kebun sawit kami masuk jalan kampung yang belum diperkeras. Jalanan kadang mendaki, kadang menurun tajam.

Yosef Bantul dan KA Kemtinir (Kepala Dusun) mendengar ada listrik yang dihasilkan dari sungai. Dia mencari tahu. Ternyata, pemerintah memberi bantuan gratis pembangunan listrik yang dihasilkan dari sungai. Namanya Microhydro. Yosef Bantul membicarakan hal tersebut kepada tetangga-tetangganya di kampung Ansok. Warga kampung setuju untuk mengutus Yosef Bantul mencari bantuan supaya di kampungnya bisa dibangun listrik microhydro. Maka, berangkatlah Yosef Bantul dan KA Kemtinir ke Kantor Kabupaten. Mereka mengajukan supaya di kampungnya, yang terdapat sungai deras bisa dibangun instalasi microhydro.

Setelelah menunggu dua tahun, ternyata Yosef Bantul hanya mendapat janji. Mereka telah menunggu sejak tahun 2005 sampai 2007, listrik microhiydro tak kunjung datang. Suatu hari Yosef Bantul dan KA Kemtinir mendengar ada microhydro swadaya di Kampung Gurung Male. Mereka pikir bahwa ini adalah jenis microhydro lain. Maka berangkatlah mereka berdua ke Gurung Male untuk mencari tahu. Ternyata microhydro swadaya adalah listrik sungai yang dibangun dan didanai oleh masyarakat sendiri. Di satu sisi mereka kecewa, di sisi lain mereka merasa bahwa kalau orang Gurung Male bisa, kenapa orang Ansok tidak?

Maka mereka membahas rencana untuk membangun microhydro dengan dana sendiri. Beberapa warga menertawakan gagasan tersebut, karena pesimis akan pendanaannya. Belum lagi apakah benar listriknya nanti bisa menyala. Hanya 20 warga saja yang bersedia untuk bergabung. Maka melalui kelompok 20 orang tersebut, Yosef Bantul mengajukan kredit kepada Credit Union yang sudah bekerja di kampungnya. Kredit tidak serta merta disetujui.

Mereka mendengar ada ahli microhydro yang sedang membangun instalasi listrik sungai di kampung tetangga. Maka dijemputnya orang tersebut untuk melakukan survai kelayakan. Ternyata, sungai di Kampung Ansok cukup memadai untuk microhydro. Informasi ini melegakan mereka. Segeralah dibuat janji antara petugas dari Credit Union dan ahli microhydro untuk melakukan survai detail dan menyusun anggaran. Kredit pun cair sebesar Rp 230.000.000. Pada awal tahun 2008, pembangunan microhydro di Kampung Ansok pun dimulai. Keduapuluh kepala keluarga secara bergiliran membangun bendung, memasang pipa, membangun rumah dinamo dan memasang instalasi listrik ke masing-masing rumah. Pada April 2009 listrik mulai menyala.

Lokasi microhydro terletak di atas bukit di belakang kampung. Bendungan yang dibangun mampu menampung air dari sungai untuk menyalakan listrik selama 6 jam.

Kini rumah-rumah tersebut terang-benderang. Kredit mereka sudah lunas. Mereka bisa menghemat karena tidak lagi harus membeli minyak tanah untuk menyalakan pelita, atau membeli minyak untuk menyalakan genset. Mereka hanya membayar Rp10.000 bagi yang punya TV dan Rp 5.000 bagi yang tidak ada TV. Biaya ini dipakai untuk pemeliharaan microhydro.

Keduapuluh kepala keluarga dilatih untuk mengoperasikan microhydro tersebut. Dengan semua kepala keluarga terlibat, maka perhatian dari semua pengguna menjadi sangat baik. ”Listrik kami tetap baik, meski sudah berjalan 3 tahun. Saat regulatornya rusak, kami bisa membeli dari dana yang kami kumpulkan. Sementara microhydro yang dibangun pemerintah di kampung sebelah sudah rusak dan tidak berfungsi lagi. Sebab mereka mengharapkan bantuan untuk membetulkan kerusakan tersebut”, demikian Pak Kemitir menjelaskan kepada kami. ”Karena bantuan maka tidak dipelihara”, sambung Yosef Bantul.

Mereka punya rencana untuk membangun instalasi microhydro satu lagi. Ketika saya tanya apakah mereka akan minta bantuan pemerintah? Mereka menjawab: ”Berikan anggarannya kepada kami. Kami bisa bangun sendiri. Yang penting tidak diproyekkan. Sebab pengalaman microhydro yang dibangun oleh pemborong kualitasnya rendah. Baru dipakai beberapa bulan sudah rusak. Bahkan ada yang salah disain sehingga tidak bisa menyala.”

Membanggakan bukan?

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

36 Comments to "Microhydro Kampung Ansok"

  1. Handoko Widagdo  27 April, 2012 at 15:53

    Sebab mengurus kemaluan dan kerakusan tidak bisa disambi dengan jadi aparat.

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 15:51

    Huahahahaha…sekalian cuti untuk selamanya aja karena mereka tak guna juga.

  3. Handoko Widagdo  27 April, 2012 at 15:50

    Kalau rakyat semua berbuat begini, maka akan ada kesempatan bagi pemerintah untuk ambil cuti masal diluar tanggungan negara untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka. Masalah korupsi, masalah kemaluan dan lain-lain.

  4. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 13:46

    Jelas bangga ada orang-orang seperti ini. Tapi mbokya kasihan pemerintah, namanya selalu jelek kalau dihubungan dengan proyek2 spt ini. Ya semuanya Gayus dan orang dari Partai Demokrat sih.

    Dulu lebih parah semasa Orde Baru. Bila ada pemikiran cemerlang inovasi spt ini pasti selalu dicurigai.

    Selamat ya….asal jangan kepinteran dan bisa bikin reaktor nuklir mini buat ukuran desa.

  5. Handoko Widagdo  27 April, 2012 at 09:32

    Cak Warno, saya akan selalu menyuarakan apa saja yang dibuat oleh rakyat yang menunjukkan bahwa kita dalah bangsa yang besar dan bisa berbuat. Bukan sekedar BANGSAT besar.

  6. Cak Warno  27 April, 2012 at 09:28

    Betul,…suatu prestasi yang membanggakan, apabila desa-desa terpencil di seantero nusantara mempunyai semangat seperti warga Kampung Ansok, slogan MEMBANGUN BANGSA DARI DESA akan cepat terwujud. Mas Han kalau ada yang mengembangkan keswadayaan listrik/energy dari sumber panas matahari, angin atau ombak samodra shere juga agar ada pencerahan bagi kawan-kawan yang tidak mempunyai sungai.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *