Penipu dan Cara Kerjanya (De Oplichter en zijn werkwijze)

Nunuk Pulandari

 

Saya yakin  bahwa banyak di antara teman-teman di Baltyra yang jauh lebih tahu tentang hal yang akan saya tuliskan di bawah ini. Lagi pula memang sudah banyak tayangan yang membahasnya baik lewat media cetak maupun lewat media  elektronik. Atau paling tidak pasti sudah banyak di antara  teman-teman  yang pernah mendengarnya. Atau bahkan mungkin sudah pernah mengalaminya  sendiri. Achhh, hanya selingan saja.

Terus terang, sebelum peristiwa ini terjadi pada  beberapa anggota keluarga besar (inti) saya, sesungguhnya saya tidak terlalu banyak menaruh perhatian. Memang saya membacanya. Tetapi hanya sebatas membacanya saja. Tidak pernah terpikirkan bahwa hal yang seperti ini juga akan menimpa dan terjadi pada keluarga dekat saya.  Daaaannn ketika hal ini terjadi  tentu saja semuanya menjadi kejutan luar biasa  yang sekaligus merupakan pukulan yang amat sangat keras  ketika saya mendengar sendiri  dari para (4)  anggota keluarga  saya  bagaimana mereka  semua mengalami hal itu.

Mengerikan dan juga menggemaskan. Lalu terpikirkan apa yang saya bisa lakukan untuk mengingatkan teman-teman di Baltyra bahwa ternyata hal tersebut di atas bisa terjadi pada kita semua tanpa memandang bulu lagi. Satu-satunya  yang bisa saya lakukan , setelah saya bersilang e-mail dengan dimas JC, ya menulis lewat CERITA di Baltyra.

Saya menuliskan hal ini tidak dengan maksud  untuk menakut-nakuti  atau membuat anda menjadi khawatir.. Saya menuliskannya dengan maksud agar kita semua menjadi lebih waspada dan hati-hati  sejalan dengan semakin HALUS dan LIHAInya para PENIPU dalam menggunakan TRIK-TRIKnya untuk merogoh dan menguras rekening kita.

Saya akan menuliskan  tentang cara kerja OPLICHTER (Penipu bukan kata yang tepat karena sesungguhnya lebih jahat dari penipu) di Jakarta yang super geraffineerd (cerdik dan lihat serta halus) dalam menggunakan kesempatan dan kesempitan yang ada.

Penipuan ini telah menimpa kakak saya di Bandung. Kebetulan  kakak mau menjual rumah  dan  pasang iklan dengan menyertakan nomor Hpnya segala. Pada akhirnya memasang nomor HP di media terbuka adalah satu kesalahan besar. Hal ini sering disalahgunakan oleh orang-orang yang bermaksud jelek.  Mungkin lebih baik menggunakan nomor pemasangan iklannya dan nomor telefoonnya hanya diketahui oleh bureau pemasang iklannya. Lalu nantinya bureau pemasang iklan yang akan menghubungi kita.

Memang karena pasar jual beli rumah sedang lesu, peminatnya tidak terlalu banyak. Walaupun tetap ada orang yang menelefoon untuk menanyakan harga dan informasi lainnya. Di antara salah satu peminat ini menyatakan sangat membutuhkan rumah yang letaknya memang sesuai dengan letak rumah kakak dan pas cocok untuk mereka. Dekat Universitas, transportasi umum mudah  dll, dll. Sayangnya pada akhirnya kita tahu bahwa ternyata dia  termasuk kelompok PENIPU SUPER BERAT.  Inilah cerita lengkapnya dan cerita lain yang menimpa 2 adik saya.

Suatu hari betapa mas saya bahagianya mendapatkan telefoon yang intinya ada seseorang yang berminat membeli rumahnya dengan harga seperti yang dimintakan oleh mas. PENIPU ini mengatakan bahwa dia berminat sekali dengan rumah yang akan dijual karena letaknya yang dekat dengan Universitas  dan jumlah kamarnyapun cocok seperti yang mereka inginkan dll, dll.  Harganyapun dia setuju. Bahkan dia akan segera memberikan uang muka sebagai tanda jadi sebesar satu juta yang akan ditransfer segera setelah mereka menerima nomor rekening kakak saya. Dua hari kemudian mas mendapatkan telefoon dari si PENIPU yang menanyakan apakah rekeningnya sudah dicek. Lalu mas mengatakan bahwa dia belum sempat mengeceknya dan akan segera melakukannya. Tetapi karena jadwal kesibukannya yang padat, dia ternyata juga lupa untuk mengeceknya.

Satu minggu kemudian, ketika kakak saya sedang ada di Pekan Baru untuk menghadiri satu tugasnya, ada telefoon masuk. Kakak saya terkejut, karena yang menelefoon si PENIPU. Si PENIPU bertanya:”Bapak sudah mencek rekeningnya belum. Saya ingin menyelesaikan pembelian rumah bapak”. Dalam kejujuran dan kepolosannya mas saya menjawab bahwa dia belum melakukannya. Dan berjanji akan mengeceknya setelah sampai di Bandung. Lagi-lagi mas lupa…

Beberapa hari kemudian si PENIPU kembali menelefoon, seolah dia memang serius dan a.s.a.p.mau menyelesaikan pembelian itu semua. Si PENIPU minta mas saya mencek sekali lagi apakah uangnya sudah masuk. Lalu mas berjanji untuk melakukannya sore itu dan menelefoonnya kembali. Mas saya mengeceknya. Dan ternyata dalam saldo rekening mas tidak ada pertambahan sebanyak Rp 1.000.000,- seperti yang dijanjikan si PENIPU.  Mas saya menghubungi balik dan mengatakan apa adanya. Lalu terdengar suara dari si PENIPU yang bernada terkaget-kaget dan seolah kebingungan kok uangnya belum masuk. Lalu si PENIPU minta mas saya untuk menghubungi telefoon  Costumer Service bank untuk urusan rekening mas saya. Mungkin uangnya belum masuk.

Dan menurut si PENIPU hal itu hanya bisa dilakukan kalau mas saya  melakukannya lewat ATM tetapi tidak lewat HPnya dan langsung menghubungi Costumer Servicenya. Singkatnya, setelah menelefoon, mas saya melakukan tahapan  me-refresh rekeningnya yang hanya bisa dilakukan di salah satu ATM bank (mas saya) yang ditunjukkan oleh si PENIPU. Lalu mas saya mengikuti semua tahapan yang  disebutkan oleh si PENIPU.

Sesungguhnya mas saya, mengatakan bahwa mas  sudah agak curiga. Tapi malam itu mas saya baru selesai praktek, dan dalam kebimbangan dan  keraguan yang ada, si mas sesungguhnya juga ingin urusan rumah segera selesai. Lagi pula si PENIPU mendesak terus, katanya takut ada peminat lain dll, dll..Jadilah apapun yang dikatakan oleh si PENIPU diikuti oleh mas saya…Daaaannnnn. Dan ketika semua selesai lalu  mas mencek rekeningnya…. Dan ternyata  yang tersisa hanya beberapa ribu rupiah…Sisa nominal lainnya lenyap tak berbekas…

Habislah, jumlah yang ada di sana.. Yang tertinggal hanya rekening kosong.

Dalam kelinglungannya mas masih menghubungi si PENIPU. Dan waktu nomor telefoon si PENIPU dihubungi, ternyata sudah tidak bekerja lagi…

Mas saya bercerita: ”Nuk, aq seperti orang gila dan bingung seperti orang linglung. Dan semua anggota badan terasa lemes mes”. “Aq nggak ngerti harus berbuat apa dan harus kemana”: Melanjutkan mas saya.

Nah, rupanya pada saat di ATM, itu mas saya dikerjain. Dan mas saya baru sadar betul setelah semua proses hampir selesai dan terdengar suara orang mulai tertawa-tawa. Mas saya masih bertanya: “Aduuuuhhhhh, sial. Kalian ngerjain saya ya”. Tetapi tidak ada jawaban…

Lalu mas saya lemes sak lemesé.. Mas saya mengatakan: “Aduh, Nuk, nék aku nggak kuat wis edhan lan gendheng lan pingsan sisan. Waktu itu, kalau nggak ada Taryo (supir keluarga) waaahhhh, embuh deh”.. Dan menurut mas saya semuanya itu hanya berlangsung dalam bilangan menit saja ….. UUUUeeeedhaaaannnnn..

Aduuuuuuhhhh, saya jadi sedih bukan sekali tetapi berjuta kali dan juga gemes dan jadi was was,  ketika mendengar berapa uang yang telah hilang. Suatu jumlah yang kebetulan super besar. Juga untuk pengertian kita yang tinggal di Belanda…Tidak terbayangkan uang hasil praktek setiap hari sampai jam 23.00 malam dan praktek lainnya dan uang hasil jerih payah mengajar selama bertahun-tahun… Semua hanya dalam waktu yang singkat dilahap dengan mudah oleh si PENIPU.

Saya lalu bertanya macam-macam, misalnya tentang penanganan polisi, bank, ATM ada Cameranya tidak dll, dll. Mas menceritakan:” Polisi sudah dihubungi, bank sudah dapat nomornya si Penipu dan kegiatan dari mulai ambil uang sampai ditutup yang hanya makan waktu beberapa menit juga sudah terjajaki.”. Sayangnya tanggapan yang ada dari banyak pihak sepertinya semua lepas tangan… Atau….Yang jelas mereka sungkan dan terlihat malas untuk menindak lanjuti. Oooallllaaaahhhh biyung….. Terus apa artinya bahwa nasabah adalah raja bahwa keamanan dan kenyamanan bisa terjamin…. Wahaaaalllaaaah, whaaallaaaahhhh..Jebule mung sumur sing jem**** wis garing kringking….

Yang menjadi tanda tanya besar lainnya  untuk saya adalah: ”Apakah di sistem perbankan Indonesia tidak ada sistem yang membatasi jumlah maksimal standart nominal yang boleh diambil seseorang dalam satu hari? Apakah di sistem perbankan Indonesia tidak ada sistem pengamanan yang bisa MENYETOP secara otomatis bila seseorang akan menarik sejumlah uang yang tidak lazim jumlahnya  dalam satu kali dan terjadi di luar jam kantor”.  Di Belanda ada sistem yang bekerja secara otomatis dengan MENYETOP proses penarikan kalau jumlah nominalnya di atas, 20.000 Euro misalnya. Kepada pelanggan diberitahukan bahwa untuk penarikan itu harus ada persetujuan dan clearing resmi. Artinya tidak bisa lewat ATM tetapi harus ada persetujuan tertulis dari pemilik di depan petugas bank. Apakah hal pengamanan semacam ini tidak bisa diterapkan di berlakukan di Indonesia?

Dengan system pengamanan seperti di atas (mungkin jumlah nominalnya bisa disesuaikan dengan standart perbankan Indonesia), saya kira sangat membantu para nasabah bank yang ada agar tidak mengalami hal yang merugikan.

Juga akan membantu MENJAGA nama baik BANK yang telah dijadikan lahan PENIPUAN dan PERAMPOKAN terselubung ini. Atau hal semacam ini tidak pernah terpikirkan.

Ada satu kejadian serupa pada teman yang tinggal di Leiden. Dia mengalami hal yang sama, dengan jumlah nominal 20.000 Euro. Menurut teori seharusnya  bank tidak bertanggung jawab, karena teman saya melakukan refreshingnya atas kemauan sendiri. Tetapi toch bank menggantinya 100%. Mengapa . Hanya karena mengingat NAMA BAIK dan TANGGUNG JAWAB bank (yang memang mengakui  belum sempurna pengamanannya). Jadilah karena teman saya menggugat bank lewat pengadilan  toch teman saya mendapatkan ganti nominal yang sama. Apakah hal semacam ini TIDAK bisa dilakukan di Indonesia. Apakah tidak ada tanggung jawab moral yang bisa ditunjukkan dari pihak bank pada para nasabahnya… Kalau demikian keadaannya saya bisa mengerti MENGAPA BANYAK ORANG BERADA di Indonesia yang menyimpan uangnya di Luar Negeri…

Bagaimana seandainya ada orang yang mau menuliskan dan membuka permasalahan ini secara gamblang lewat media baik dalam negeri maupun luar negeri. Apakah yang berwenang baik dari perbankan sendiri maupun dari kepolisian atau pemerintah tidak akan tercoreng wajahnya. Dan apakah yang berkepentingan dengan dunia perbankan tidak tergerak otaknya untuk memperbaiki sistem perbankannya.

Saya bisa mengertilah kalau di Indonesia orang bisa dengan mudah mendapatkan dan menggunakan beberapa alamat dan sangat berbelit untuk menelusuri alamat atau data si pemilik rekening. Tetapi kalau syarat membuka rekening diperketat, misalnya TIDAK hanya cukup dengan KTP saja tetapi misalnya harus ditambah dengan surat kepemilikan tanah, rumah, surat keterangan dari kantor, perusahaan dll, dll, apakah hal ini TIDAK menjadikan pertimbangan bagi si PENIPU yang memegang rekening  di bank untuk mempertimbangkannya sebelum dia melakukan PENIPUAN … Dan tentunya setelah itu ya dijebloskan ke NUSA KAMBANGAN, dengan dibiarkan berenang  sendiri dan diawasi dari jauh saja…Terserah, kalau saya mau dikatakan sadis yo monggo…Saya terima dalam kasus ini ya…

Teman-teman di Baltyra yang lucunya lagi beberapa hari kemudian  waktu saya masih di Jakarta , saya mendapatkan sms lewat nomor telefoon Indonesia yang saya pakai dengan pesan: ”Ibu, harap uangnya ditransfer ke rekening nomor yang berikut ini..Nomornya saya lupa.”. Memang agak sedikit bingung waktu membacanya. Tetapi karena HP itu milik adik saya lalu saya menghubungi adik dan menanyakan tentang hal ini . Saya tidak tahu apakah adik ada janji dll dengan nasabahnya atau terlupakan untuk membayar sesuatu…

Adik saya langsung mengatakan dan terdengar agak panik: ”Bude nggak transfer khan dan bude nggak menghubungi balik orang itu khan”. Tentu saja saya tidak melakukannya. Lalu adik minta saya agar segera menghapus dan membuang nomor itu. Kata adik bahwa itulah salah satu cara kerja para PENIPU pada awal akan mengorek rekening kita. Begitu kita menanggapinya, dengan mudah akan dirasuki oleh trik-trik mereka untuk “merampok” rekening kita. OOOOO aaalllaahhh.. Jadi saya sudah diperingatkanNYA  dan diberikan satu contohnya…Thanks God, saya jadi agak terbuka…

Kebetulan setelah saya kembali di Belanda,  saya bertemu dengan salah seorang sahabat  lama yang kebetulan sedang berkunjung ke  KBRI. Lalu bergabung dan nimbrunglah beberapa teman lainnya. Jadi ramai dengan berbagai cerita.  Tentu saya menceriterakan dan menanyakan tentang praktek hal-hal semacam kejadian  ini. Mereka serentak mengatakan: ”Mbak Nuk, please  jangan ditanggapi. Itu mah sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Tersenyum saja dan jangan menanggapi secara serius”.  Saya masih bertanya: ”Jadi  kalau SMS yang nggak puguh pengirimnya tapi jelas tujuan permintaannya yang akhirnya menipu itu, dianggap hal yang sudah “WAJAR”  di Indonesia (kota-kota besar). Terus yang TIDAK wajar yang bagaimana”. Mereka semua sambil tertawa hampir bersamaan mengatakan: ”Yang TIDAK WAJAR kalau ada yang berwewenang bisa menangkapi dan membasmi semua itu”… Achhhhhh….Mau dibawa kemana Indonesiaku ini….

Teman-teman di Baltyra, satu lagi cerita lain tentang usaha “merampok” isi dompet yang terjadi pada adik saya di Jakarta. Adik saya bercerita melalui telefoon tentan g hal yang baru dialaminya.

Pagi itu , setelah sholat pagi jam 05.00-an, telefoon adik saya tiba-tiba mendering. Sebelum adik sempat berbicara satu katapun tiba-tiba terdengar SUARA seorang ibu yang menangis ‘NGGERO-NGGERO” (apa ya bahasa Indonesianya, maaf)  dan keras seperti kesakitan. Lalu suaranya seolah semakin melemah, seperti kalau orang kehabisan nafas mau pingsan. Lalu telefoon segera  diambil alih seorang  laki-laki. Dia mengatakan bahwa ada kecelakaan dan ibu tadi memutar nomor adik.

Dia mengatakan bahwa si ibu yang menangis mendapat kecelakaan ini mencari adiknya dan bermaksud minta adiknya untuk menolongnya sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Adik saya yang juga agak kebingungan masih bisa bertanya: ”Siapa bapak dan dari mana”  Si bapak mengaku dari kepolisisan yang sedang menyelesaikan semuanya. Ketika ditanyakan siapa namanya dan mau cari siapa,  ehhh bukannya menjawab dengan jelas tapi malah marah. Dan justru malah menanyakan siapa nama adik saya berkali-kali dengan suara yang mengancam: ”Ibu ini siapa sih, saya akan laporkan bahwa ibu mempersulit penyelesaian orang kecelakaan”.  Lalu adik saya membentak: “Bapak ini siapa, dan dari kepolisian mana. Silahkan mau dilaporkan.” Tidak terdengar jawaban agak lama.

Sekali lagi si bapak menanyakan: “Nama ibu siapa sih, saya dari kepolisian, saya akan laporkan ibu pada atasan saya”… Lalu adik saya membentak dan ganti mengancam : ”Kamu mau tipu-tipu ya, siapa nama kamu, cari kerja yang benar sana” Terus terdengar suara Hpnya ditutup… Adik menceritakan bahwa saat itu dia akhirnya hanya bisa mengucapkan, Thanks God, semuanya sudah Engkau selesaikan dengan baik. ..Aduuuhhh, hampir terjadi lagi “perampokan” , kalau kita tidak waspada.

Yang anehnya beberapa jam kemudian,  telefoon Wimpie (anak laki-laki adik saya yang kecil) juga berdering. Karena Wimpie masih di kamar mandi, masnya (Aldi)  yang mengangkat telefoon.  Karena Aldi bingung dan kaget mendengar suara seorang ibu yang juga nggero-nggero menangis seperti kesakitan dari seberang telefoon, dia segera lari mencari  ibunya, ya adik saya.  Segera memberikan telefoonnya  pada ibunya (adik saya). Lalu ketika adik saya mendengar suara seorang lelaki yang mengaku dari Kepolisian ) tetapi tidak mau memberikan data dan namanya dan mencari saudara perempuan si ibu yang nggero-nggero, adik saya langsung membentak. Dia mengatakan: ”Jangan macam-macam ya.  Kalau mau uang jangan pakai tipu-tipu. Sana kerja” … Lalu…Terdengar Pesawat telefoon ditutup lagi….Dan selesai pertelefonan yang ada….Mudah-mudahan untuk selamanya.

Lalu adik bercerita bahwa setelah mencek nomor telefoon yang dipakai.. Ternyata nomor kedua pengirimnya memang berbeda. Tetapi mendengar nada tangis dan cara serta aksen bicara si pria yang mengaku dari Kepolisian, dua-duanya sama. Untuk adik saya sudah jelas apa tujuannya. Mereka ingin menipu adik saya dengan mengatakan bahwa “seorang saudara”mendapatkan kecelakaan dan perlu bantuan. Ujung-ujungnya ya akan merampok uang adik saya secara halus…

Ketika menuliskan ini saya jadi teringat bahwa adik saya yang lainnya pernah mengalami hal serupa beberapa tahun lalu. Saya kira kami/kami sudah mulai melupakannya.

Ini menceriterakan tentang pengalaman adik yang mendapatkan telefoon, yang isinya pemberitahuan bahwa dia menerima hadiah utama sebuah mobil dari kupon dengan nama toko, nomor serinya dll yang persis sama seperti yang ada di tangan adik saya. Prosesnya berjalan beberapa hari. Karena adik sempat mengecek nomor rekening di Mandiri, mengecek alamat dll, dll. Tetapi pada akhirnya dengan melalui tipu daya yang super canggih dan halus serta lihai, adik saya sempat menyetor sejumlah 30 juta rupiah. Beberapa tahun lalu jumlahnya masih cukup banyak. Baru setelah semua surat/surat dibawa ke toko, ke dealer yang disebutkan dalam surat/surat mobilnya, orang dealer mengatakan bahwa semuanya itu palsu…Adik saya sampai pingsan karena darah tingginya naik…Wahhh, berminggu/minggu dia dibimbing agar bisa tenang dan merelakan serta memaafkan semuanya…Aduuuuhhhh…

Ini ya, kadang saya juga bingung. Kita yang dipejundangi kok kita yang harus merelakan dan memaafkan perbuatan orang lain… Logikanya khan, yo si PENIPUnya yang harus minta maaf dulu,  kalau sudah ditangkap terus digebuki ramai/ramai atau diceplungké sumur sisan….Waaahhhh, entahlah…

Teman/teman di Baltyra yang saya cintai, please take care dan waspada selalu pada semua orang, terutama yang pada pertemuan pertama saja sudah memberikan dan menimbulkan keran meragukan atau mencurigakan.  Please dengarkan kata hati nurani anda, hati nurani ini akan memberikan kesan pertama apakah seseorang itu baik atau tidak…. Dan jangan lupa, sebelum anda melangkahkan kaki ke luar pintu, mohonlah perlindungan dariNYA. Hal ini juga penting….

De rest kita serahkan semuanya padaNYA. Bukankah DIA yang memberikan dan akan memintanya kembali… Walaupun caranya TIDAK LAZIM..

Sampai lain kali dengan cerita perjalanan  selanjutnya. Di Solo ya..Di bagian 3 dimas Handoko.

Groeten en selamat menyambut musim semi nan indah…Nu2k

 

90 Comments to "Penipu dan Cara Kerjanya (De Oplichter en zijn werkwijze)"

  1. nu2k  7 May, 2012 at 03:31

    Kangmas O de Boom, mijn beste. Whalah-whalah… Muaaaleees lah.. Nanti sudah telefoon dari Belanda, nggak tahunya di putar-putarkan karena nggak ketemu orang yang akan bisa menjawab pertanyaan saya… Kalau saya tahu pasti bahwa nomor yang saya putar adalah nomor “seseorang” atau operator yang bisa menyambungkan dengan yang berkepentingan sih boleh-boleh saja… Tapi achhhh, susah-susah.. Nanti malah tambah susah… Bukan tambah jelas malah tambah berabé kan kangmas.. Ha, ha, haaa

    Yang jelas tararengkyu untuk informasinya. Dan pastinya kangmas sekarang sudah terug naar Florida. Gezond en wel, neem ik aan… Doe doei en gr. nu2k

  2. Orlando Daytona Beach  5 May, 2012 at 23:18

    #79 Beste &liefde zusje Nu2K,coba saja dihubungi dan ditanyakan dengan pihak kepolisian,apa benar seperti yg diberitakan TV bahwa para penipunya sudah tertangkap

  3. nu2k  5 May, 2012 at 16:22

    Mbakyuuu Clara, mborong atau just looking-looking… Titip mata yang sebelah kanan ya…ha, ha, haa..Mbakyu, kapan mulai obralannya…Aq tunggu yang seperti di Paris.. ha, ha, haaa.. salam en met weekend, Nu2k

  4. Clara  5 May, 2012 at 15:14

    EEEEh eh, hayo , ganggu orang tua , gak iliok lho!!!!
    Nyai Lor Polder + Nyai Loro Kona sama dan sebangun!!Tukang nggoda & ngglitik!!
    Wis aku arep inspeksi ning toko sik!!
    Met week end !!Sun.dut!!!

  5. nu2k  5 May, 2012 at 03:26

    Jeng lani, mbakyunda di kidul Perancis, sudah sunyi senyap ditelan Pulau Kapuk… Wis jok dhi rasani… ben istirahat… Cucunya baru pulang semua..Atauuuu, mau digoda sekalian…. Itu lho jeng.. Pakai tali tipisss, terus diujungnya digantungkan garam sebesar kuku jari jenthik, terus gantungan garam ini dimasukkan sedikit sampai kena lidah dan terus dikeluarkan lagi… Terus dimasukkan lagi dan dikeluarkan lagi… Terutama kalau yang tidurnya melongo… Lihat reaksinya… Anda pasti akan tertawa-tawa… Ha, ha, haaaa… erg ben ik héh..Gr. Nu2k.

  6. nu2k  5 May, 2012 at 02:44

    Mbakyu Nyai Loro Kidhul é Perancis, wouuuwww sedang renovasi toilet dan douche toch.. menyambut poro tamu bén gak rebutan nék arep podho neng toilet… ha, ha, haaa…Nanti kalau sudah selesai aq yang inspeksi yo mbakyu… Kalau lulus dari inspeksiku, baru boleh dipakai oleh orang lain.. ha, ha, haaa, Nu2k

  7. Lani  5 May, 2012 at 02:38

    MBAK NUK, MBAK CLARA : wakakaka…….mmg hebat opo malah wuediaaaaaaan????? bayi kok iso koyok ngono gayanya…….hehee…..ngalah2ke sing tuek……jgn2 dlm hal ini yg disalahkan yg tuek pula krn mrk yg ngajari??????

  8. nu2k  5 May, 2012 at 02:26

    Mbakyu Clara sudah saya baca… Lucunya, kita berdua ngguyu sak ngguyuné.. Konco ngajeng hanya komentar:”Udah dimakan belum pil kamu”… Ha, ha, haaa, itu yang selalu dia katakan kalau saya tertawa sampai terkekeh-kekeh… ha, ha, haaa.. Sakjané koyok kesambet opo piyé yo yu… Asal dhudhuk cucunya panjenengan saja… ha, ha, haaa.. gr. en selamat ngeteh yo yu.. Nu2k

  9. clara  5 May, 2012 at 02:20

    Nyai Lor Polder lha kok glitik2an to , mengko kelebon lho!!!Opo manèh karo Nyai penjaga selatan lautan Kona, iso2 bubar kabèh!!Bèn ora keno hypnotis, nganggo baju besi waé !Dijamin anti glitik+ anti hypnotis!!Wis maos emailku ?
    Aku lagi istirahat , putu2 wis bali wingi!!Omah koyo emprit pecah !!Endi satu kamar mandi juga lagi direstorasi, jadi komplit pecahnya!!
    Scoubidou!!!

  10. Lani  5 May, 2012 at 02:07

    MBAK NUK : klu hrs dicoba dulu ya angellllllllll………..plg cepet tiap org ngaku saja bagian mana yg plg tergelitik…..ampe megap2…….opo klepek2 bak ikan didaratan???????

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.