Wednesday, 25 April 2012
Nunuk Pulandari
Saya yakin bahwa banyak di antara teman-teman di Baltyra yang jauh lebih tahu tentang hal yang akan saya tuliskan di bawah ini. Lagi pula memang sudah banyak tayangan yang membahasnya baik lewat media cetak maupun lewat media elektronik. Atau paling tidak pasti sudah banyak di antara teman-teman yang pernah mendengarnya. Atau bahkan mungkin sudah pernah mengalaminya sendiri. Achhh, hanya selingan saja.
Terus terang, sebelum peristiwa ini terjadi pada beberapa anggota keluarga besar (inti) saya, sesungguhnya saya tidak terlalu banyak menaruh perhatian. Memang saya membacanya. Tetapi hanya sebatas membacanya saja. Tidak pernah terpikirkan bahwa hal yang seperti ini juga akan menimpa dan terjadi pada keluarga dekat saya. Daaaannn ketika hal ini terjadi tentu saja semuanya menjadi kejutan luar biasa yang sekaligus merupakan pukulan yang amat sangat keras ketika saya mendengar sendiri dari para (4) anggota keluarga saya bagaimana mereka semua mengalami hal itu.
Mengerikan dan juga menggemaskan. Lalu terpikirkan apa yang saya bisa lakukan untuk mengingatkan teman-teman di Baltyra bahwa ternyata hal tersebut di atas bisa terjadi pada kita semua tanpa memandang bulu lagi. Satu-satunya yang bisa saya lakukan , setelah saya bersilang e-mail dengan dimas JC, ya menulis lewat CERITA di Baltyra.
Saya menuliskan hal ini tidak dengan maksud untuk menakut-nakuti atau membuat anda menjadi khawatir.. Saya menuliskannya dengan maksud agar kita semua menjadi lebih waspada dan hati-hati sejalan dengan semakin HALUS dan LIHAInya para PENIPU dalam menggunakan TRIK-TRIKnya untuk merogoh dan menguras rekening kita.
Saya akan menuliskan tentang cara kerja OPLICHTER (Penipu bukan kata yang tepat karena sesungguhnya lebih jahat dari penipu) di Jakarta yang super geraffineerd (cerdik dan lihat serta halus) dalam menggunakan kesempatan dan kesempitan yang ada.
Penipuan ini telah menimpa kakak saya di Bandung. Kebetulan kakak mau menjual rumah dan pasang iklan dengan menyertakan nomor Hpnya segala. Pada akhirnya memasang nomor HP di media terbuka adalah satu kesalahan besar. Hal ini sering disalahgunakan oleh orang-orang yang bermaksud jelek. Mungkin lebih baik menggunakan nomor pemasangan iklannya dan nomor telefoonnya hanya diketahui oleh bureau pemasang iklannya. Lalu nantinya bureau pemasang iklan yang akan menghubungi kita.
Memang karena pasar jual beli rumah sedang lesu, peminatnya tidak terlalu banyak. Walaupun tetap ada orang yang menelefoon untuk menanyakan harga dan informasi lainnya. Di antara salah satu peminat ini menyatakan sangat membutuhkan rumah yang letaknya memang sesuai dengan letak rumah kakak dan pas cocok untuk mereka. Dekat Universitas, transportasi umum mudah dll, dll. Sayangnya pada akhirnya kita tahu bahwa ternyata dia termasuk kelompok PENIPU SUPER BERAT. Inilah cerita lengkapnya dan cerita lain yang menimpa 2 adik saya.
Suatu hari betapa mas saya bahagianya mendapatkan telefoon yang intinya ada seseorang yang berminat membeli rumahnya dengan harga seperti yang dimintakan oleh mas. PENIPU ini mengatakan bahwa dia berminat sekali dengan rumah yang akan dijual karena letaknya yang dekat dengan Universitas dan jumlah kamarnyapun cocok seperti yang mereka inginkan dll, dll. Harganyapun dia setuju. Bahkan dia akan segera memberikan uang muka sebagai tanda jadi sebesar satu juta yang akan ditransfer segera setelah mereka menerima nomor rekening kakak saya. Dua hari kemudian mas mendapatkan telefoon dari si PENIPU yang menanyakan apakah rekeningnya sudah dicek. Lalu mas mengatakan bahwa dia belum sempat mengeceknya dan akan segera melakukannya. Tetapi karena jadwal kesibukannya yang padat, dia ternyata juga lupa untuk mengeceknya.
Satu minggu kemudian, ketika kakak saya sedang ada di Pekan Baru untuk menghadiri satu tugasnya, ada telefoon masuk. Kakak saya terkejut, karena yang menelefoon si PENIPU. Si PENIPU bertanya:”Bapak sudah mencek rekeningnya belum. Saya ingin menyelesaikan pembelian rumah bapak”. Dalam kejujuran dan kepolosannya mas saya menjawab bahwa dia belum melakukannya. Dan berjanji akan mengeceknya setelah sampai di Bandung. Lagi-lagi mas lupa…

Beberapa hari kemudian si PENIPU kembali menelefoon, seolah dia memang serius dan a.s.a.p.mau menyelesaikan pembelian itu semua. Si PENIPU minta mas saya mencek sekali lagi apakah uangnya sudah masuk. Lalu mas berjanji untuk melakukannya sore itu dan menelefoonnya kembali. Mas saya mengeceknya. Dan ternyata dalam saldo rekening mas tidak ada pertambahan sebanyak Rp 1.000.000,- seperti yang dijanjikan si PENIPU. Mas saya menghubungi balik dan mengatakan apa adanya. Lalu terdengar suara dari si PENIPU yang bernada terkaget-kaget dan seolah kebingungan kok uangnya belum masuk. Lalu si PENIPU minta mas saya untuk menghubungi telefoon Costumer Service bank untuk urusan rekening mas saya. Mungkin uangnya belum masuk.
Dan menurut si PENIPU hal itu hanya bisa dilakukan kalau mas saya melakukannya lewat ATM tetapi tidak lewat HPnya dan langsung menghubungi Costumer Servicenya. Singkatnya, setelah menelefoon, mas saya melakukan tahapan me-refresh rekeningnya yang hanya bisa dilakukan di salah satu ATM bank (mas saya) yang ditunjukkan oleh si PENIPU. Lalu mas saya mengikuti semua tahapan yang disebutkan oleh si PENIPU.
Sesungguhnya mas saya, mengatakan bahwa mas sudah agak curiga. Tapi malam itu mas saya baru selesai praktek, dan dalam kebimbangan dan keraguan yang ada, si mas sesungguhnya juga ingin urusan rumah segera selesai. Lagi pula si PENIPU mendesak terus, katanya takut ada peminat lain dll, dll..Jadilah apapun yang dikatakan oleh si PENIPU diikuti oleh mas saya…Daaaannnnn. Dan ketika semua selesai lalu mas mencek rekeningnya…. Dan ternyata yang tersisa hanya beberapa ribu rupiah…Sisa nominal lainnya lenyap tak berbekas…
Habislah, jumlah yang ada di sana.. Yang tertinggal hanya rekening kosong.

Dalam kelinglungannya mas masih menghubungi si PENIPU. Dan waktu nomor telefoon si PENIPU dihubungi, ternyata sudah tidak bekerja lagi…
Mas saya bercerita: ”Nuk, aq seperti orang gila dan bingung seperti orang linglung. Dan semua anggota badan terasa lemes mes”. “Aq nggak ngerti harus berbuat apa dan harus kemana”: Melanjutkan mas saya.
Nah, rupanya pada saat di ATM, itu mas saya dikerjain. Dan mas saya baru sadar betul setelah semua proses hampir selesai dan terdengar suara orang mulai tertawa-tawa. Mas saya masih bertanya: “Aduuuuhhhhh, sial. Kalian ngerjain saya ya”. Tetapi tidak ada jawaban…
Lalu mas saya lemes sak lemesé.. Mas saya mengatakan: “Aduh, Nuk, nék aku nggak kuat wis edhan lan gendheng lan pingsan sisan. Waktu itu, kalau nggak ada Taryo (supir keluarga) waaahhhh, embuh deh”.. Dan menurut mas saya semuanya itu hanya berlangsung dalam bilangan menit saja ….. UUUUeeeedhaaaannnnn..
Aduuuuuuhhhh, saya jadi sedih bukan sekali tetapi berjuta kali dan juga gemes dan jadi was was, ketika mendengar berapa uang yang telah hilang. Suatu jumlah yang kebetulan super besar. Juga untuk pengertian kita yang tinggal di Belanda…Tidak terbayangkan uang hasil praktek setiap hari sampai jam 23.00 malam dan praktek lainnya dan uang hasil jerih payah mengajar selama bertahun-tahun… Semua hanya dalam waktu yang singkat dilahap dengan mudah oleh si PENIPU.
Saya lalu bertanya macam-macam, misalnya tentang penanganan polisi, bank, ATM ada Cameranya tidak dll, dll. Mas menceritakan:” Polisi sudah dihubungi, bank sudah dapat nomornya si Penipu dan kegiatan dari mulai ambil uang sampai ditutup yang hanya makan waktu beberapa menit juga sudah terjajaki.”. Sayangnya tanggapan yang ada dari banyak pihak sepertinya semua lepas tangan… Atau….Yang jelas mereka sungkan dan terlihat malas untuk menindak lanjuti. Oooallllaaaahhhh biyung….. Terus apa artinya bahwa nasabah adalah raja bahwa keamanan dan kenyamanan bisa terjamin…. Wahaaaalllaaaah, whaaallaaaahhhh..Jebule mung sumur sing jem**** wis garing kringking….

Yang menjadi tanda tanya besar lainnya untuk saya adalah: ”Apakah di sistem perbankan Indonesia tidak ada sistem yang membatasi jumlah maksimal standart nominal yang boleh diambil seseorang dalam satu hari? Apakah di sistem perbankan Indonesia tidak ada sistem pengamanan yang bisa MENYETOP secara otomatis bila seseorang akan menarik sejumlah uang yang tidak lazim jumlahnya dalam satu kali dan terjadi di luar jam kantor”. Di Belanda ada sistem yang bekerja secara otomatis dengan MENYETOP proses penarikan kalau jumlah nominalnya di atas, 20.000 Euro misalnya. Kepada pelanggan diberitahukan bahwa untuk penarikan itu harus ada persetujuan dan clearing resmi. Artinya tidak bisa lewat ATM tetapi harus ada persetujuan tertulis dari pemilik di depan petugas bank. Apakah hal pengamanan semacam ini tidak bisa diterapkan di berlakukan di Indonesia?
Dengan system pengamanan seperti di atas (mungkin jumlah nominalnya bisa disesuaikan dengan standart perbankan Indonesia), saya kira sangat membantu para nasabah bank yang ada agar tidak mengalami hal yang merugikan.
Juga akan membantu MENJAGA nama baik BANK yang telah dijadikan lahan PENIPUAN dan PERAMPOKAN terselubung ini. Atau hal semacam ini tidak pernah terpikirkan.
Ada satu kejadian serupa pada teman yang tinggal di Leiden. Dia mengalami hal yang sama, dengan jumlah nominal 20.000 Euro. Menurut teori seharusnya bank tidak bertanggung jawab, karena teman saya melakukan refreshingnya atas kemauan sendiri. Tetapi toch bank menggantinya 100%. Mengapa . Hanya karena mengingat NAMA BAIK dan TANGGUNG JAWAB bank (yang memang mengakui belum sempurna pengamanannya). Jadilah karena teman saya menggugat bank lewat pengadilan toch teman saya mendapatkan ganti nominal yang sama. Apakah hal semacam ini TIDAK bisa dilakukan di Indonesia. Apakah tidak ada tanggung jawab moral yang bisa ditunjukkan dari pihak bank pada para nasabahnya… Kalau demikian keadaannya saya bisa mengerti MENGAPA BANYAK ORANG BERADA di Indonesia yang menyimpan uangnya di Luar Negeri…
Bagaimana seandainya ada orang yang mau menuliskan dan membuka permasalahan ini secara gamblang lewat media baik dalam negeri maupun luar negeri. Apakah yang berwenang baik dari perbankan sendiri maupun dari kepolisian atau pemerintah tidak akan tercoreng wajahnya. Dan apakah yang berkepentingan dengan dunia perbankan tidak tergerak otaknya untuk memperbaiki sistem perbankannya.
Saya bisa mengertilah kalau di Indonesia orang bisa dengan mudah mendapatkan dan menggunakan beberapa alamat dan sangat berbelit untuk menelusuri alamat atau data si pemilik rekening. Tetapi kalau syarat membuka rekening diperketat, misalnya TIDAK hanya cukup dengan KTP saja tetapi misalnya harus ditambah dengan surat kepemilikan tanah, rumah, surat keterangan dari kantor, perusahaan dll, dll, apakah hal ini TIDAK menjadikan pertimbangan bagi si PENIPU yang memegang rekening di bank untuk mempertimbangkannya sebelum dia melakukan PENIPUAN … Dan tentunya setelah itu ya dijebloskan ke NUSA KAMBANGAN, dengan dibiarkan berenang sendiri dan diawasi dari jauh saja…Terserah, kalau saya mau dikatakan sadis yo monggo…Saya terima dalam kasus ini ya…
Teman-teman di Baltyra yang lucunya lagi beberapa hari kemudian waktu saya masih di Jakarta , saya mendapatkan sms lewat nomor telefoon Indonesia yang saya pakai dengan pesan: ”Ibu, harap uangnya ditransfer ke rekening nomor yang berikut ini..Nomornya saya lupa.”. Memang agak sedikit bingung waktu membacanya. Tetapi karena HP itu milik adik saya lalu saya menghubungi adik dan menanyakan tentang hal ini . Saya tidak tahu apakah adik ada janji dll dengan nasabahnya atau terlupakan untuk membayar sesuatu…
Adik saya langsung mengatakan dan terdengar agak panik: ”Bude nggak transfer khan dan bude nggak menghubungi balik orang itu khan”. Tentu saja saya tidak melakukannya. Lalu adik minta saya agar segera menghapus dan membuang nomor itu. Kata adik bahwa itulah salah satu cara kerja para PENIPU pada awal akan mengorek rekening kita. Begitu kita menanggapinya, dengan mudah akan dirasuki oleh trik-trik mereka untuk “merampok” rekening kita. OOOOO aaalllaahhh.. Jadi saya sudah diperingatkanNYA dan diberikan satu contohnya…Thanks God, saya jadi agak terbuka…
Kebetulan setelah saya kembali di Belanda, saya bertemu dengan salah seorang sahabat lama yang kebetulan sedang berkunjung ke KBRI. Lalu bergabung dan nimbrunglah beberapa teman lainnya. Jadi ramai dengan berbagai cerita. Tentu saya menceriterakan dan menanyakan tentang praktek hal-hal semacam kejadian ini. Mereka serentak mengatakan: ”Mbak Nuk, please jangan ditanggapi. Itu mah sudah menjadi makanan kita sehari-hari. Tersenyum saja dan jangan menanggapi secara serius”. Saya masih bertanya: ”Jadi kalau SMS yang nggak puguh pengirimnya tapi jelas tujuan permintaannya yang akhirnya menipu itu, dianggap hal yang sudah “WAJAR” di Indonesia (kota-kota besar). Terus yang TIDAK wajar yang bagaimana”. Mereka semua sambil tertawa hampir bersamaan mengatakan: ”Yang TIDAK WAJAR kalau ada yang berwewenang bisa menangkapi dan membasmi semua itu”… Achhhhhh….Mau dibawa kemana Indonesiaku ini….
Teman-teman di Baltyra, satu lagi cerita lain tentang usaha “merampok” isi dompet yang terjadi pada adik saya di Jakarta. Adik saya bercerita melalui telefoon tentan g hal yang baru dialaminya.
Pagi itu , setelah sholat pagi jam 05.00-an, telefoon adik saya tiba-tiba mendering. Sebelum adik sempat berbicara satu katapun tiba-tiba terdengar SUARA seorang ibu yang menangis ‘NGGERO-NGGERO” (apa ya bahasa Indonesianya, maaf) dan keras seperti kesakitan. Lalu suaranya seolah semakin melemah, seperti kalau orang kehabisan nafas mau pingsan. Lalu telefoon segera diambil alih seorang laki-laki. Dia mengatakan bahwa ada kecelakaan dan ibu tadi memutar nomor adik.
Dia mengatakan bahwa si ibu yang menangis mendapat kecelakaan ini mencari adiknya dan bermaksud minta adiknya untuk menolongnya sebelum dibawa ke Rumah Sakit. Adik saya yang juga agak kebingungan masih bisa bertanya: ”Siapa bapak dan dari mana” Si bapak mengaku dari kepolisisan yang sedang menyelesaikan semuanya. Ketika ditanyakan siapa namanya dan mau cari siapa, ehhh bukannya menjawab dengan jelas tapi malah marah. Dan justru malah menanyakan siapa nama adik saya berkali-kali dengan suara yang mengancam: ”Ibu ini siapa sih, saya akan laporkan bahwa ibu mempersulit penyelesaian orang kecelakaan”. Lalu adik saya membentak: “Bapak ini siapa, dan dari kepolisian mana. Silahkan mau dilaporkan.” Tidak terdengar jawaban agak lama.
Sekali lagi si bapak menanyakan: “Nama ibu siapa sih, saya dari kepolisian, saya akan laporkan ibu pada atasan saya”… Lalu adik saya membentak dan ganti mengancam : ”Kamu mau tipu-tipu ya, siapa nama kamu, cari kerja yang benar sana” Terus terdengar suara Hpnya ditutup… Adik menceritakan bahwa saat itu dia akhirnya hanya bisa mengucapkan, Thanks God, semuanya sudah Engkau selesaikan dengan baik. ..Aduuuhhh, hampir terjadi lagi “perampokan” , kalau kita tidak waspada.
Yang anehnya beberapa jam kemudian, telefoon Wimpie (anak laki-laki adik saya yang kecil) juga berdering. Karena Wimpie masih di kamar mandi, masnya (Aldi) yang mengangkat telefoon. Karena Aldi bingung dan kaget mendengar suara seorang ibu yang juga nggero-nggero menangis seperti kesakitan dari seberang telefoon, dia segera lari mencari ibunya, ya adik saya. Segera memberikan telefoonnya pada ibunya (adik saya). Lalu ketika adik saya mendengar suara seorang lelaki yang mengaku dari Kepolisian ) tetapi tidak mau memberikan data dan namanya dan mencari saudara perempuan si ibu yang nggero-nggero, adik saya langsung membentak. Dia mengatakan: ”Jangan macam-macam ya. Kalau mau uang jangan pakai tipu-tipu. Sana kerja” … Lalu…Terdengar Pesawat telefoon ditutup lagi….Dan selesai pertelefonan yang ada….Mudah-mudahan untuk selamanya.
Lalu adik bercerita bahwa setelah mencek nomor telefoon yang dipakai.. Ternyata nomor kedua pengirimnya memang berbeda. Tetapi mendengar nada tangis dan cara serta aksen bicara si pria yang mengaku dari Kepolisian, dua-duanya sama. Untuk adik saya sudah jelas apa tujuannya. Mereka ingin menipu adik saya dengan mengatakan bahwa “seorang saudara”mendapatkan kecelakaan dan perlu bantuan. Ujung-ujungnya ya akan merampok uang adik saya secara halus…
Ketika menuliskan ini saya jadi teringat bahwa adik saya yang lainnya pernah mengalami hal serupa beberapa tahun lalu. Saya kira kami/kami sudah mulai melupakannya.
Ini menceriterakan tentang pengalaman adik yang mendapatkan telefoon, yang isinya pemberitahuan bahwa dia menerima hadiah utama sebuah mobil dari kupon dengan nama toko, nomor serinya dll yang persis sama seperti yang ada di tangan adik saya. Prosesnya berjalan beberapa hari. Karena adik sempat mengecek nomor rekening di Mandiri, mengecek alamat dll, dll. Tetapi pada akhirnya dengan melalui tipu daya yang super canggih dan halus serta lihai, adik saya sempat menyetor sejumlah 30 juta rupiah. Beberapa tahun lalu jumlahnya masih cukup banyak. Baru setelah semua surat/surat dibawa ke toko, ke dealer yang disebutkan dalam surat/surat mobilnya, orang dealer mengatakan bahwa semuanya itu palsu…Adik saya sampai pingsan karena darah tingginya naik…Wahhh, berminggu/minggu dia dibimbing agar bisa tenang dan merelakan serta memaafkan semuanya…Aduuuuhhhh…
Ini ya, kadang saya juga bingung. Kita yang dipejundangi kok kita yang harus merelakan dan memaafkan perbuatan orang lain… Logikanya khan, yo si PENIPUnya yang harus minta maaf dulu, kalau sudah ditangkap terus digebuki ramai/ramai atau diceplungké sumur sisan….Waaahhhh, entahlah…
Teman/teman di Baltyra yang saya cintai, please take care dan waspada selalu pada semua orang, terutama yang pada pertemuan pertama saja sudah memberikan dan menimbulkan keran meragukan atau mencurigakan. Please dengarkan kata hati nurani anda, hati nurani ini akan memberikan kesan pertama apakah seseorang itu baik atau tidak…. Dan jangan lupa, sebelum anda melangkahkan kaki ke luar pintu, mohonlah perlindungan dariNYA. Hal ini juga penting….
De rest kita serahkan semuanya padaNYA. Bukankah DIA yang memberikan dan akan memintanya kembali… Walaupun caranya TIDAK LAZIM..
Sampai lain kali dengan cerita perjalanan selanjutnya. Di Solo ya..Di bagian 3 dimas Handoko.
Groeten en selamat menyambut musim semi nan indah…Nu2k
April 25th, 2012 at 13:20
DimasP pangkat 4 en de rest, selamat jadi nomor satu di semua lapak. Saya baru dengar memang hal-hal seperti itu sedang semarak di Indonesia. Di Belanda sudah jauh berkurang, tetapi bank masih tetap selalu mengingatkan para nasabahnya untuk tetap waspada dengan trik-trik yang super hebat dari para OPLICHTERS. Salam en werkt ze, nu2k
April 25th, 2012 at 13:02
Bu Nunuk, serupa dgn pak Wahnam, no telp customer service yg mana yg dihub oleh masnya?
April 25th, 2012 at 11:01
Bu Nunuk , Ibu Menulis :” Dan menurut si PENIPU hal itu hanya bisa dilakukan kalau mas saya melakukannya lewat ATM tetapi tidak lewat HPnya dan langsung menghubungi Costumer Servicenya. Singkatnya, setelah menelefoon, mas saya melakukan tahapan me-refresh rekeningnya yang hanya bisa dilakukan di salah satu ATM bank (mas saya) yang ditunjukkan oleh si PENIPU. Lalu mas saya mengikuti semua tahapan yang disebutkan oleh si PENIPU.”
Pertanyaan saya: Bagaimana si penipu bisa dgn mudah mengambil HANYA dgn “Me-refresh” rek. Mas nya di ATM ? yg ini saya masih kurang jelas maksudnya
April 25th, 2012 at 10:42
Bu Nunuk, ikut prihatin atas kejadian yang menimpa kakak Panjenengan. Kalau masalah penarikan, tergantung kebijakan bank dan level nasabah. Misalnya level nasabah priority banking dan kartu ATM’nya platinum, si nasabah bisa menarik dana 100jt dalam sehari dan transfer semua dana yang ada as long as dia sendiri present di bank yang dilayani banking officer one on one karena dia nasabah priority (minimal ada simpanan 500jt). Urusan seperti ini memang susah dan aparat serta pihak bank lebih banyak lepas tangan.
April 25th, 2012 at 10:41
ikut prihatin, Bu. Modus penipuan kayak gitu memang sudah biasa di sini, dan benar sudah jadi makanan sehari-hari, tapi aparat keamanan yang sila;ori masih bisa tenang-tenang saja. Maka diri kita sendirilah yang harus banyak, banyak waspada…
Bu Nunuk juga harus waspada, karena tidak mau ketemu saya di Bandung, hehehe… *just kidding*
groetjes…
April 25th, 2012 at 10:38
penipuan begini memang sering terjadi, tapi nggak ada yang mau menyelesaikan urusan beginian. selesai satu muncul lagi seribu. penipuan sms, telepon, hipnotis (katanya) sering terjadi. intinya jangan gampang percaya, dipikir dulu masuk akal apa nggak dan jangan gampang tergoda. kalau di atm kayaknya ada pembatasan jumlah transfer dalam sehari (misal BCA max 15jt sehari). terus cek di atm kalau ada transfer (laporan sms dan internet banking bisa diedit).
April 25th, 2012 at 09:20
penipu harian via SMS : ma, tolong dong isi vulsa 20rb, penting buruan ya’..
April 25th, 2012 at 08:59
Penipuan serupa pernah terjadi di Kupang. Modusnya jualan permata. Bahkan transfer yang dilakukan oleh penipu saat itu mencapai 10 juta. Setelahnya, hampir 2 M yang ada di rekening ludes.
April 25th, 2012 at 08:50
Penipuan model ini sering di indonesia, jangan pernah percaya kalo dapet hadiah apapun apalagi kalo lewat sms…. ngibul, ntar buntut2nya kudu transfer uang dulu. NAH!!… udah tutup aja telponnya, jangan ngomong panjang2, rugi di pulsa jg.
Ada satu lagi jenis penipuan lewat hipnotis, pura2 nanya arah jalan, trus ntar mencoba dikasih token terimakasih…. jangan pernah di terima….
semoga semuanya di relakan, dan dijadikan pelajaran berharga. kalo dalam hati sudah curiga, lebih baik di stop….
salam…
April 25th, 2012 at 08:36
Absen no satoe….
sebelum
Absen seharian dari komputer…. (out for meeting)