Ironi dalam Pendidikan Indonesia

Wesiati Setyaningsih

 

Setelah Kamis siang pulang dengan lega dari jaga ujian nasional, Sabtu sudah mesti jaga ulangan tengah semester. Meski sama-sama jaga, dua peristiwa ini sangat berbeda. Jaga ujian nasional itu mempertaruhkan harga diri dan kehormatan diri kita dan sekolah. Wah, kesannya heboh ya? Begitulah.

Bagaimana tidak? Di ujian nasional ini kami jaga silang. Jadi jaga di sekolah lain sementara anak-anak kita dijaga dari guru sekolah lain. Saat jaga di sekolah lain inilah kita benar-benar harus berlaku baik. Kalau tidak, kepala sekolah di sekolah tempat kita jaga bisa melapor pada kepala sekolah kita tentang perilaku kita, lalu kita ditarik dan diganti dengan personil lain. Di kemudian hari, bisa jadi guru yang dilaporkan ini tidak akan lagi jaga di sekolah tersebut. Begitulah. Kami, guru-guru yang jaga ujian nasional ini benar-benar seperti budak. Hal ini bisa seekstrim itu kalau kepala sekolah tempat kita jaga juga ‘sok raja’. Melarang ini itu, menyuruh ini itu, yang intinya kita harus benar-benar taat pada aturan yang dia buat hingga kadang malah mengabaikan aturan yang semestinya.

Pernah saya jaga di satu sekolah yang Kepala Sekolahnya tiap pagi brifing dengan menekankan ini itu. Semua pertanyaan kami yang logis diabaikan. Bayangkan. Ruang ujian tidak dikunci dan kami masuk dalam keadaan anak-anak sudah ada dalam ruangan dan sedang ramai-ramai belajar. Woi..ini ujian sekolah! Di sekolah saya saja, saat ulangan tengah semester begini, ruang dikunci dan baru dibuka oleh pengawas saat mau masuk kelas. Ini ujian sekolah kok malah sama sekali tidak steril begini. Alasannya waktu itu, pihak sekolah mesti memasukkan lebih dulu air minum kemasan yang sudah diberi doa saat istigotsah. Hadeh.. Sudah begitu anak-anaknya seperti tidak menghormati kami sebagai tamu. Kesannya, kami yang harus melayani mereka agar mereka benar-benar nyaman. Sampai-sampai kalau diperingatkan saat berisik di waktu mengerjakan soal, mereka tidak peduli.

Lebih parah, waktu teman saya cerita di kelas dia ada anak yang ketahuan membaca contekan kecil berisi jawaban, pasangan jaganya cuma berani memperingatkan untuk disimpan. Mestinya ini dilaporkan pada pengawas independen, yaitu pada dosen dari universitas yang ikut mengawasi pelaksanaan ujian nasional. Tapi teman saya cuma bilang, “Sudahlah. Biarin aja. Nanti panjang urusannya.” Duh..

Tidak semua selebay itu. Tahun depannya, saya jaga di sekolah yang membuat saya nyaman jaga. Kepala sekolahnya benar-benar menyerahkan anak-anaknya pada kami sebagai pengawas. Ibaratnya mau diapain juga ‘mangga’. Anak-anaknya sendiri sangat hormat pada kami seolah kami benar-benar tamu yang memang layak dihormati dengan sebaik-baiknya. Dengan perlakuan begini malah kami ikut merasa anak-anak ini anak kami juga. Dengan tulus hati kami melayani mereka yang juga bersikap sangat tenang waktu mengerjakan ujian.

Menatap anak-anak yang sedang UTS dan berusaha mengerjakan soal-soal mereka sebaik mungkin, muncul sebuah keprihatinan atas sebuah ironi. Buat apa sih belajar seberat itu kalau nanti saat ujian nasional semua bisa dikacaukan dengan kebocoran soal? Sudah tampak jelas bahwa setiap ujian nasional ada kebocoran soal. Anak-anak yang malas dan sehari-hari nilainya jelek, tiba-tiba saat ujian nasional nilainya melambung. Guru-guru terjebak dalam dilema, apakah akan bersyukur atau menghujat. Kalau mesti bersyukur, darimana dia bisa belajar sehari semalam dan dapat nilai yang nyaris sempurna begitu? Kalau ingin menghujat, bukannya guru mestinya senang muridnya dapat nilai baik?

Akhirnya semua jadi seperti tanpa arti. Di sekolah saya, anak yang mendapat nilai ujian nasional tertinggi diberi penghargaan uang. Dan Dinas Pendidikan membuat peringkat sekolah-sekolah berdasar nilai tertinggi dalam ujian nasional. Sekolah akan bangga kalau siswanya mendapat nilai tertinggi dalam satu mata pelajaran. Tidak ada lagi yang peduli apakah itu didapat dari belajar sendiri atau dari sms teman.

Orang boleh bilang bahwa ujian nasional sudah dijaga sedemikian rupa bahkan ada polisi di sekolah saya (saya tahu saat saya mampir ke sekolah untuk satu urusan sepulang mengawas), kok masih ada kebocoran? Toh nyatanya anak-anak bisa mengerjakan dengan ‘sangat baik’ dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Mana mungkin seorang anak sudah mengerjakan semua soal bahasa Inggris saat materi listening sedang diperdengarkan? Bagaiman dia bisa menjawab dengan sangat cepat materi Fisika bahkan hanya setengah jam sejak soal boleh dibuka?

Kalau ada yang berpikir positif dengan mengatakan, “ah, kali aja dia sedang beruntung.” Yah, bolehlah. Tapi toh kita tidak bisa mengesampingkan logika. Dan kalau logika itu terus diabaikan, jangan-jangan kita malah terperosok dalam sebuah sistem pendidikan yang bukannya memajukan negeri ini, namun justru menghancurkan. Mau?

Saya masih menatap anak-anak yang sedang mengerjakan UTS dan mulai seperti cacing kepanasan ketika waktu sudah tinggal lima belas menit dan sepertinya masih ada beberapa soal yang belum terjawab. Mereka sungkan menengok ke kanan kiri karena sejak tadi saya mengawasi. Padahal saya hanya menatap wajah-wajah mereka dengan prihatin.. Itu saja.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

16 Comments to "Ironi dalam Pendidikan Indonesia"

  1. wesiati  28 April, 2012 at 11:30

    yah. saya mikir juga gitu mas Iwan. lebay…. memang waktu itu, keliatan banget kepala sekolah seperti ‘melindungi’ anak2nya dengan segala cara…

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 13:28

    Ini apaan nih ada trend seperti dalam kalimat ini:

    “Alasannya waktu itu, pihak sekolah mesti memasukkan lebih dulu air minum kemasan yang sudah diberi doa saat istigotsah”

    Ini gak bener. Bukan saya tak menghormati keyakinan orang lain. Tapi ini jelas keblinger!

  3. wesiati  27 April, 2012 at 12:02

    alvina: saya tidak tahu apakah depdik itu departemen dengan korupsi terbesar atau tidak. wong depag aja juga korupsinya besar2an… butuh survey yang valid kalo untuk menjawab pertanyaan itu.

    kornelya : pengennya saya juga gitu.

    paspampres : masalahnya bukan gitu sih. kan kita liat proses juga. wong tiap hari ada pelajaran tambahan jarang datang. di kelas enggak perhatiin guru. ngerjain tugas malas: ulangan harian jelek di ulangan umum bagus, saya tanyanya, pas menjalani prosesnya gimana? kenapa ulangan hariannya jeblok? apa memang malas juga atau sebenarnya perhatian ke pelajaran juga rajin, tapi ulangan harian jeblok? yang saya sampaikan itu masalahnya antara proses dengan hasil tidak seimbang. pas proses malas minta ampun. sejak kelas satu juga gitu2 aja. di kelas tiga enggak insap juga, nah pas UN hasilnya nilai 90an… boleh nggak si kalo kita curiga?

  4. [email protected]  27 April, 2012 at 09:12

    Anak-anak yang malas dan sehari-hari nilainya jelek, tiba-tiba saat ujian nasional nilainya melambung. Guru-guru terjebak dalam dilema, apakah akan bersyukur atau menghujat

    Bu Wesiati, saya adalah salah satu model seperti itu lho…. =) bukan karena saya mencontek, atau mendapatkan soal sebelum ujian, tapi emang kenapa… kalo ujian akhir selalu mendapat nilai yang nyatanya jauh lebih baik daripada ulangan sehari hari.
    Apa karena saya lebih niat (sedikit) belajar….
    atau karena keberuntungan…

    tapi yang jelas, nilai ulangan umum itu jauh lebih baik daripada ulangan harian.

  5. Kornelya  27 April, 2012 at 04:30

    Ironis, kelulusan hanya ditentukan oleh nilai ebtanas murni. Disini ujian nasional setiap semester, untuk mengetahui lulus atau tidaknya kita bisa lihat dari akumulasi ujian-ujian sebelumnya. Tahun terakhir SMA, murid tidak lagi memikirkan UN, tetapi Universitas mana yg menerima lamaran mereka dan membanding-bandingkan biayanya sesuai bakat anak dan kantong orang tua. Salam.

  6. Alvina VB  26 April, 2012 at 22:54

    Bu Wesiati,
    Kayanya ujian di Ind yg paling terheboh di seluruh dunia, he..he……
    Di sini mah simple aja kok 1x ujian sekollah trus 1x ujian negara, lulus dpt ijasah dah beres.
    Yg saya denger sich….dept. pendidikan adl deparment yg terbesar korupsinya, apa betul begitu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.