Kemenyan (2)

Chandra Sasadara

 

Artikel sebelumnya:

Kemenyan (http://baltyra.com/2011/10/09/kemenyan/)

 

Suara adzan subuh mulai bersautan di kejauhan. Aku merasa memiliki alasan untuk meninggalkan bapak yang masih duduk tepekur di depan gentong kemenyan warisan ibu. Aku bermaksud untuk melakukan sholat subuh lebih dulu di ruang tengah. Kakak kelihatan sudah masuk ke kamar ibu. Tepatnya kamar yang pernah ditempati oleh ibu ketika masih hidup sampai nafas terakhirnya. Sebelum mengambil air wudlu, aku tawarkan kepada iparku, suami kakakku untuk beristirahat atau berjamaah subuh bersamaku. Iparku memilih menyusul kakak di kamar ibu, mungkin ia butuh istirahat.

Selesai sholat subuh aku kembali ke ruang tamu bermaksud untuk menemani bapak yang masih duduk di depan gentong kemenyan ketika aku tinggalkan untuk sholat subuh tadi. Aku berharap bapak mau memberikan penjelasan secara sukarela alasan meninggalkan ibu ketika itu. Sebelum bapak datang, selama enam tahun ini mungkin aku satu-satunya anaknya yang bernafsu untuk bertanya dan mendapat jawaban alasan bapak meninggalkan ibu.

Sejak dititipkan kepadaku dan kakakku menjelang ajal ibu, pertanyaan ibu itu terus menghantuiku dan mendera kesadaranku sebagai anak. Tidak jarang, kemarahan memenuhi kepalaku mengingat tindakan bapak meninggalkan ibu tanpa penjelasan apapun. Namun setelah orang yang aku harap bisa memberikan jawaban itu datang, ketika sekarang ia kembali pulang justru aku merasa tidak perlu bertanya lagi. Aku ingin bapak memberikan jawaban tanpa harus ditanya atau didesak oleh anak-anaknya.

Bapak ternyata sudah tidak ada di ruang tengah. Mungkin ia sedang sholat subuh di tajug sebelah rumah. Sambil menunggu bapak pulang dan kakak keluar dari kamar ibu aku masuk ke dapur menemani istriku yag sedang menggoreng tahu, menggerus kacang dan merendam thokol dengan air panas secara bergantian. Aku memang meminta istri memasak nasi lengko untuk makan pagi. Menu kesukaan bapak itu semoga bisa menghadirkan kembali ingatanya terhadap ibu, perempuan yang hampir setiap pagi selama puluhan tahun memasak nasi lengko untuk makan paginya.

Kakak keluar dari kamar ibu, menanyakan keberadaan bapak. Aku hanya bisa menjawab, mungkin sholat subuh di tajug. Ia kembali masuk kamar sambil mengatakan “aku subuh dulu, kawani bapak kalau datang dari tajug.” Ada apa dengan kakak pikirku, sepertinya ia sangat berkepentingan dengan bapak. Aku pikir kedatangan kakak hanya mengantar bapak untuk pulang ke rumah. Apakah ia juga belum tahu alasan bapak meninggalkan ibu atau ia didera oleh perasaan bersalah yang sama denganku karena merasa belum mendapat jawaban atas pertanyaan ibu. Entalah, aku sudah tidak bersemangat lagi untuk bertanya soal itu. Lagi pula apapun jawaban bapak tidak akan mengembalikan keadaan, tidak juga akan mengobati perasaan sakit hati ibu sampai menjelang ajalnya.

*****

Bapak datang, langsung masuk ke dapur. Berbicara dengan istriku, menanyakan keadaan anakku yang belum pernah dilihatnya. Aku keluar dari dapur menuju ke ruang tengah, menunggu bapak seperti yang diminta oleh kakak untuk menemaninya. Istriku datang memberitahukan bahwa makan pagi telah siap dan bapak sudah menunggu di meja makan. Aku berharap kakak dan suaminya mau makan pagi bersama kami agar suasana mencair. Sejak kedatangan mereka kemarin sore, kami belum sempat berbicara bersama. Bapak duduk tepekur di depan gentong kemenyan, kakak mencari-cari alasan menjauh dari bapak dengan menemani anakku dan aku sendiri pura-pura sibuk berbicara dengan suami kakak.

Kakak memilih makan bersama suaminya setelah aku, bapak dan istriku menyelesaikan makan pagi. Bagiku, pilihan kakak untuk tidak makan bersama kami memberikan tanda tidak baik. Kakak seperti mengambil jarak dari bapak, entah apa alasanya tapi aku khawatir ia akan bertanya bahkan memojokkan bapak. Semoga dugaanku salah, mungkin kakak belum berubah seperti yang aku duga. Kakak memang pernah ribut dengan bapak soal gentong air, bungah tiga warna dan kemenyan dalam cobek ketika ibu melakukan ibadah haji. Tapi aku tahu, kakak tidak pernah membenci bapak.

Entah mengapa, aku marasa tegang.  Perasaanku campur aduk antara harapan dan kekhawatiran. Aku khawatir kakak akan mencecar bapak soal alasannya meninggalkan ibu delapan tahun silam. Kami duduk di ruang tengah, aku, kakak, bapak dan suami kakak. Namun tidak berapa lama, suami kakak meninggalkan kami. Mau jalan-jalan pagi keliling desa katanya. Aku mengerti, iparku itu sengaja memberi kesempatan kepada kami untuk berbicara.

Duduk berhadpan dengan bapak membuatku leluasa memperhatikan perubahan fisiknya. Aku memang tidak begitu memperhatikan ketika bapak datang, kecuali jenggotnya yang panjang. Hampir semua rambutnya putih, wajahnya lebih tua apalagi dengan jenggot panjang dan matanya itu. Seperti mata orang yang mengalami kelelahan dalam hidupnya. Kelihatanya selera berpakainya juga berubah, bapak sekarang menggunakan baju gamis sampai paha dengan celana longgar. Aku tidak berani menduga, namun beberapa kawanku pernah bilang bahwa pakainan seperti itu merupakan anggota jamaah yang berasal dari luar negeri. Mereka bertujuan untuk membersihkan agama dari noda-noda syirik akibat bercampur dengan budaya dan kepercayaan lokal. Entalah, aku tidak mengerti hal-hal seperti itu.

“Mengapa kemenyan dalam gentong itu tidak kamu jual?” Aku gelagapan, pertanyaan itu ditujukan kepadaku.

“Maksud bapak?”

“Apakah  kamu mewarisi kebiasaan ibumu membakar kemenyan?”

“Iya Pak”

“Mengapa kamu campur agama dengan tradisi syirik itu?”

“Aku tidak mengerti Pak, bagian mana yang bapak anggap syirik?”

“Kamu beragama, sholat, puasa dan lain-lain, tapi kamu juga membakar kemenyan”

“Apakah bapak pernah mendengar alasan ibu membakar kemenyan?”

“Puluhan kali aku mendengar ibumu menjelaskan alasanya membakar kemenyan, tapi justru alasan itu yang membuat bapakmu ini menilai perbuatan itu menyekutukan Tuhan.”

Aku terdiam. Harus aku akui bahwa hanya sampai di situ pengertian dan pemahamanku tentang alasan ibu membakar kemenyan. Aku tidak pernah mengganggap apa yang dilakukan oleh ibu itu perbuatan menyekutukan Tuhan. Bagiku, perbuatan ibu yang aku warisi itu tidak lebih dari cara mempertahankan tradisi leluhur. Itu bukan ritual keagamaan, hanya sebatas tanda agar tetap menjaga keseimbangan pergaulan di alam yang tidak hanya dihuni oleh bangsa manusia. Ada makluk lain tidak kasat mata yang juga membangun kehidupan di sekeliling kita. Mengapa kita tidak hidup bersama mereka tanpa harus saling mengganggu. Mereka juga butuh ketenangan seperti halnya manusia. Menurut ibu, membakar kemenyan itu agar kita tidak nerak mewaler lan paugeraning  urip sapodo. Yang tidak pernah aku lupakan adalan pesan ibu, jangan sampai meminta apapun kepada makluk-makluk itu. Hanya Gusti Allah tempat manusia bergantung dan meminta katanya.

“Apakah karena alasan kemenyan yang dibakar ibu itu bapak meninggalkanya?” Kakak mulai mengajukan pertanyaan, aku mulai khawatir terjadi perdebatan sengit.

“Ya”

“Aku pikir bapak mengerti agama, ternyata tidak”

“Apa maksud kamu?” Wajah bapak merah, aku mulai tidak nyaman duduk.

“Mengapa meninggalkan ibu ketika bapak menganggap ibu melakukan perbuatan dosa?”

“Anggap saja penilaian bapak itu benar tentang ibu, mengapa bapak justru lari dari tanggung jawab?”

“Bukankah agama memerintahkan agar setiap orang melindungi diri dan keluarganya dari api neraka?”

“Mengapa bapak seperti ingin mendapat surga sendiri dengan cara melarikan diri dari ibu, dari kami semua?” Suara kakak seperti orang menjerit.

Sekarang bapak yang diam, entah sedang mencari jawaban atas pertanyaan kakak atau sedang menahan marah karena dihujani pertanyaan yang menyudutkan. Ini situasi yang sejak tadi aku khawatirkan. Meskipun aku menjadi tahu bahwa alasan bapak meninggalkan ibu karena kebiasaan membakar kemenyan pada kamis malam seperti yang aku duga sebelumnya. Menurutku itu alasan yang terlalu remeh untuk meninggalkan seorang perempuan yang telah hidup bersama selama puluhan tahun. Apalagi aku dan kakakku telah dewasa untuk mengerti setiap persoalan menyangkut hubungan suami istri.

“Bapak datang bukan untuk diadili.” Bapak mulai mengatakan sesuatu setelah diam cukup lama.

“Bapak ke rumah ini untuk memberitahukan bahwa kalian berdua memiliki seorang saudara waris.”

“Tidak perlu diceritakan, aku sudah tahu semuanya.” Kakak memotong kalimat bapak.

Ulu hatiku seperti dihantam palu, dadaku sesak mendengar pengakuan bapak. Ternyata ia telah menikah lagi dan telah memiliki seorang anak. Apalagi ketika kakak bercerita tentang pernikahan bapak. Aku seperti terlempar di sudut bumi yang panas dan pengab. Menurut penuturan kakak, sebelum meninggalkan ibu bapak sebenarnya telah didorong oleh kawan-kawannya untuk masna. Setelah meninggalkan ibu delapan tahun lalu, bapak menikah dengan seorang perempuan yang dikenal di lingkungan jamaahnya, padahal ibu masih menjadi istri sah yang berhak mendapat nafkah. Rasa hormat bapak terhadap ibu berkurang karena anggapan bahwa ibu pelaku syirik. Bapak merasa tidak perlu meminta ijin ibu untuk mengambil istri kedua.

“Mengapa bapak melakukan hal itu?” Aku memotong cerita kakak, dadaku hampir meledak menahan marah.

“Apa maksudmu?”

“Mengapa bapak menikah tanpa meminta restu ibu sebagai istri sah?”

“Mengapa aku harus meminta ijin kepada ibumu? Kalau ibumu mau menghentikan kebiasaannya membakar kemenyan bukan hanya meminta ijin untuk menikah, bahkan bapakmu ini tidak akan meninggalkan rumah.”

Jawaban bapak itu justru membakar kepalaku. Aku penasaran, apakah betul penilaian bapak terhadap ibu itu berdasarkan pengetahuannya atau hanya mengikuti penilaian yang diberikan oleh jamaah pengajian dan gurunya. Tapi mulutku terbungkam. Marahku justru membuat mulutku tidak bisa mengeluarkan satu katapun. Hanya jantungku yang berpacu lebih cepat.

“Apakah bapak pernah melihat atau mendengar langsung ibu meminta tolong pada jin, setan atau demit pada saat membakar kemenyan?”  Kakak akhirnya mewakiliku, menanyakan sesuatu yang tidak bisa aku katakan.

“Apakah bapak pernah melihat ibu memuja bekasa’an, atau bersekutu dengan iblis setiap Kamis malam?”

“Tidak tahukah bapak bahwa ibu tidak berhenti puasa setiap Senin dan Kamis, menyebut nama-nama suci Tuhan ratusan kali setiap malam. Memohon kepada Tuhan agar semuanya dimudahkan?”

“Tidak ada orang yang lebih dekat dengan ibu kecuali bapak, harusnya bapak tahu apa yang dilakukan ibu.”

“Bapak tidak tahu hati orang lain, tapi berani menilai apa yang tersembunyi di dalamnya .”

“Bapak tidak paham tradisi membakar kemenyan, tapi telah memberikan penilaian dan tergesa mengambil sikap.”

Akhirnya kakak menghentikan pertanyaannya. Bapak terdiam, aku menunduk dan kakak bercucuran air mata. Kakak berdiri dari tempat duduknya, menubruk kaki bapak dan bersujud di bawah lututnya. Tidak henti-hentinya ia meminta maaf sambil terus menangis. Bapak juga tidak kuasa menahan air matanya, apalagi aku. Kami bertiga tenggelam dalam tangis rindu, sesal dan keinginan merajut kembali kehidupan seperti dulu meskipun tanpa ibu.

Tidak sadar kalau sejak tadi ada perempuan berbaju longgar warna hitam dengan anak kecil sedang berdiri di depan pintu. Bapak berdiri dan memperkenalkan bahwa ia adalah istri dan anaknya. Aku menggandeng adik baruku dan kakak memberikan salam sambil mecium tangan ibu berbaju longgar itu. Terlintas lagi dalam pikiranku tentang keluarga orang tuaku yang lengkap. Ada kakak, aku, bapak, istrinya dan adik baruku.

 

Daftar Kata :

Tajug               : Musholah/langgar/surau/tempat sholat

Thokol            : Kecambah dari kacang hijau

Masna              : Istri kedua

Bekasa’an        : Makluk dari kelompok pengganggu/ganggon

Nerak mewaler lan paugeraning  urip sapodo : Melanggar aturan dan etika pergaulan sesama hidup

 

30 Comments to "Kemenyan (2)"

  1. Chadra Sasadara  28 April, 2012 at 20:37

    Ibu Hennei : betul banyak sekali cerita sperti ini. lebih banyak lagi laki-laki yg lebih egois dari si Bapak itu

  2. Chadra Sasadara  28 April, 2012 at 20:35

    terima kasih Bu’ Dewi

  3. HennieTriana Oberst  28 April, 2012 at 00:49

    Mas Chadra, cerita seperti ini banyak ya di masyarakat.
    Si Bapak egois sekali.

  4. Dewi Aichi  27 April, 2012 at 22:30

    gambar kemenyannya kok lain dengan kemenyan yang sisimpan simbahku di lemari ya?

    Dian, kalau di Brasil, banyak wanita yg memanfaatkan UU perkawinan yang berpihak kepada wanita, maka banyak wanita yang justru menggila…

    pak Chadra, sebuah kisah yang sangat menarik…menarik…

  5. Chadra Sasadara  27 April, 2012 at 17:32

    mas Iwan : cerpen ini sebenrnya ingin mengatakan bahwa “jangan mudah mengatakan seseorang atau kelompok lain melakukan syirik” sebab itu lebel “keras” dalam agama. lagi pula karena itu wilayah hati, maka biarkan “Penguasa” hati saja yg mengevaluasi..hehehe

  6. Chadra Sasadara  27 April, 2012 at 17:17

    Mas Iwan : pendapat sampean yg ini pun saya stuju, bahwa kemenyan itu stereotipe. tapi begini. ada beberapa istilah yang kudu clear ketika berbicara soal mistik, klenik dan syirik.

    1) terminologi mistik terkait dengan konsep taraqhatul suluk (pendakian spiritual) dalam tradisi sufisme atau kehidupan selibat. istilah ini kemudian dipertukarkan dengan klenik.
    2) klenik sendiri merupakan tradisi di masyarakat yg berkaitan dengan kekuatan tidak kasat mata, pemujaan terhadap benda dll. kemenyan biasanya digunakan sbg sarana itu melakukan ritual klenik ini. dalam agama islam hal itu disebut tahayul dan kurafat.
    3) syirik (tindakan menyekutukan Tuhan) dianggap sbg konsep yg terbuka, artinya semua org bisa dg mudah melakukan judgment kepada org lain melakukan syirik atau menimbulkan perbuatan syirik. padahal ini konsep yg rumit dalam agama. seperti kelompk masyarakat yg menghacurkan patung Bimasena di purwakarta beberapa waktu lalu. org bisa syirik dg FB atau Tweeter, tapi jangan lupa org juga bisa melakukan syirik kalau salah menempatkan alqur’an, ka’bah bahkan ibadah dalam beragama.

    nah ini yg saya maksud syirik itu bukan koep yg mudah. syirik berkaitan dengan pemaknaan terhadap sesembahan yg bersifat personal. siapa yg menyembah, siapa yg disembah dg cara apa hamba menyembah agar sesembahan dinalai benar dan tidak jatuh pada predikat syirik?

  7. IWAN SATYANEGARA KAMAH  27 April, 2012 at 16:28

    Masalahnya Mas Chadra, stereotip menyan sangat lekat dekat dunia sirik. Padahal itu masalah fragrance. Di agama saya bila ingin shlat disunahkan untuk berharum ria.

    Coba lihat tuh, orang2 kaya Timteng di Eropa, mereka dgn pakaian gamisnya yg buatan Piere Cardin lalu memakai “kemenyan” dengan mengasapi gamis dengan wewangian entah dari Oscar de la Renta atau entah apa Coco Chanel.

    Kemenyan itu fragrance, bukan mistik. FB dan twitter itu sirik.

  8. Chadra Sasadara  27 April, 2012 at 16:20

    Paten Mas Iwan, setuju sekali. saat saya dan istri akan melangsungkan pernikahan. malam hari sebelum pernikahan (calon) mertua perempuan saya membakar kemenyan, seorang tokoh agama menasehati agar tidak perlu membakar kemenyan. calon mertuaku dg cuek bilang “biar ga ada nyamuk, malam ini ada org melekan (begadang untuk) pengantin”. saya mendengar sambil tertawa..heheheheh

  9. Chadra Sasadara  27 April, 2012 at 16:15

    Sabar Mas P4m, mungkin trend mode sekarang sedang kearab-araban..hehehehe

  10. Chadra Sasadara  27 April, 2012 at 16:13

    Bu’ Dian : begitulah seharusnya, tetap menghormati pilihan org. lagi pula siapa yg memberi hak untuk mengadili keyakinan org..hehehehe

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *