Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Pentas Ujian

Thursday, 26 April 2012

Viewed 1677 times, 2 times today | 42 Comments |

Probo Harjanti

 

Meskipun di banyak tempat, seperti sekolah, institusi pendidikan tinggi, instansi pemerintah, serta instansi lain tari klasik kurang mendapat tempat, tetapi ada banyak calon penerus, yang akan selalu melestarikannya. Dengan semangat belajar tinggi, sabar, dan selalu siap bekerja sama, calon penari dan benteng budaya bangsa ini, di usianya yang masih belia, tekun berlatih menari tari klasik gaya Yogyakarta. Tari  yang bagi sebagian generasi muda sekarang ‘tak dianggap’ karena kuno.

Itu artinya, kami para orang tua, guru tari, pemerhati tari, tidak perlu kuatir akan masa depan tari klasik gaya Jogjakarta. Adalah Yayasan Pamulang Beksa Sasmita Mardawa (YPBSM), yang tahun ini berusia 50 tahun, merupakan salah satu lembaga pendidikan tari yang berkedudukan di Dalem Pujokusuman. April tanggal 20-21 tempo hari, YPBSM menyelenggarakan ujian kenaikan tingkat. Uji pentas ini merupakan yang ke 23. Kali ini diikuti seratusan peserta, sebagian dari mereka tidak bisa mengikuti ujian karena sedang Praktek Industri (PI) semacam PKL yang bukan pedagang kaki lima…..

Dengan semangat siswa di kelas anak-anak datang mruput, setelah pulang langsung ke Dalem Pujokusuman untuk dirias, meski ada yang pentasnya jam 17.00, tetapi jam 13 sudah siap di tempat. Ragil saya termasuk yang ikut ujian, dia sudah hampir 1 tahun belajar di YPBSM. Saya sempat pangling setelah dirias dan disanggul, anak saya memakai kostum. Saya susul ke tempat  ganti baju,  tidak ada, di situ ada dua guru yang sedang memasang kostum, dan dua anak yang sedang memakai kostum. Saya tanyakan pada gurunya, di mana anak saya. Mereka tertawa, begitu juga anak yang di depan saya. Ternyata dia ada di depan mata saya! Saya benar-benar pangling, biasanya memakai kacamata, jadi  terlihat sangat berbeda.

Pentas selalu mendatangkan sensasi tersendiri, menjadi pengalaman luar biasa. Selain uji nyali (keberanian), pentas juga menjadi pengalaman tak terlupa, mereka mengalami demam panggung karena nervous hingga merasa kebelet pipis, setelah nari kebeletnya sembuh. Dukungan  keluarga besarnya ditunjukkan  dengan datang menonton beramai-ramai.  Saat putra-putrinya tampil menari, mereka terlihat amat bangga, hingga tak heran mereka dengan setia menunggu dari saat dirias sampai giliran pentas.

Melegakan sekali, sekaligus mengharukan, melihat bocah-bocah imut itu menari tari klasik. Ada anak TK sudah nari Golek, anak SD nari Beksan Srikandi melawan Surodewati. Namun ada juga yang sudah ibu-ibu paruh baya menari tari Srimpi, satu kelompok dengan anak usia SMP. Artinya tari klasik takkan pernah mati. Apalagi, banyak manfaat yang  dipetik kalau seseorang bisa menari.

Beberapa hari lalu, ada ibu-ibu yang menghendaki les privat tari klasik bagi putrinya, yang mendapat beasiswa ke mancanegara. Saya hanya bisa tersenyum agak kecut (tapi masih manis), kenapa tidak dari dulu belajar tari klasik ya…… Kalau orang Indonesia mau ke manca negara, mestinya bisa menceritakan tentang budaya tradisional kita. Jangan bawa piano-biola ke sana, tapi bawa rebab dan gender atau siter, mereka bakal takjub dan terkagum-kagum. Tetapi kalau bawa piano dan biola, mereka tak heran, karena sangat mungkin mereka lebih jago. Saya  tahu teman-teman saya sering memberi les privat bagi pelajar/ mahasiswa yang mau ke mancanegara. Hasil les privat, tak akan sebagus yang les reguler, jadi mendapat kemampuannya secara bertahap. Yang instan bakal cepat hilang begitu pentas usai. Meski harapan gurunya, setelah pulang ke Indonesia mereka melanjutkan belajar tari. Bukan sekedar syarat saja, semoga!

Tari Nawung Sekar, penarinya masih TK O kecil

 

Tari Retno Asri

 

Jengkeng, posisi ini tidak mudah, apalagi berkain panjang

 

Hidung minimalis ternyata manis juga kalau dandan

 

Perpaduan yang manis, bangunan antik dan penari cantik. Bangunan ini rusak saat gempa, hingga latihan dialihkan tempatnya. Bank Mandirilah yang memperbaikinya.

 

Golek Kenyo Tinembe, dibawakan kenya (gadis) imut….

 

Menyempatkan diri potret usai menari, bersama putri teman kantor saya. Awalnya dia ogah banget latihan nari, tapi ibunya telaten, sekarang dia amat menikmati proses latihan nari.

 

Share This Post

Posted by Thursday, 26 April 2012 on 10:50.

Categories: Budaya. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

42 Responses to “Pentas Ujian”

Pages: « 5 4 3 2 [1]

  1. 10
    Kornelya Says:

    Bu GUcan, luar biasa, menurunkan budaya tari pada generasi muda, terutama anak gadisnya yang cantik. Salam.

  2. 9
    Alvina VB Says:

    Penarinya ayu2 tenan, yg nari Nawung Sekar cuteeeee sekale….
    Bu Probo, semoga yg nguji tarian adil ya…..melihat tariannya ketimbang ini anaknya si A,B/Z begitu….
    Pengalaman temen saya dulu di sekolahan tari di Yogya begitu katanya, entah saat ini masih begitu/ sudah gak ada lagi….

  3. 8
    Handoko Widagdo Says:

    Ayu-ayu…pinter-pinter…kenes-kenes…

  4. 7
    Anastasia Yuliantari Says:

    Mbaaakkk…aduhh kostum, penari dan tempatnya apik kabeh. Dari dulu aku tahu Pujokusuman tuh tempat latihan nari, tapi engga pernah ke sana buat nonton. Suk nek neng Jogja kudu kluyuran rono….hehehe. Kancani yo Mbak.

  5. 6
    nu2k Says:

    Jeng Probo, ketemu lagi… Pasti sedang sibuk ya sampai belum ditengok lapaknya. Jeng tari opo toch namanya… Duuuhhhh, bisa mengerti betapa bangganya sang mama melihat puterinya tampil pentas untuk ujian. Apalagi kalau baru pertama kali… Saya berkali-kali melihat Birrutte dan Lei pentas Salsa dan Bachatan saja selalu bangga… Yang namanya ibu ya jeng…Podo aé… Ha, ha, haaa…
    groetjes en dag dag dari negeri yang anginnya sedang berhembus dengan kencangnya…, Nu2k

  6. 5
    Lani Says:

    MBAK PROBO : itu yg dibilang HIDUNG MINIMALIS, putri tercinta????? heheheh…….nek ngono aku tambah siji meneh punya hidung mendelep……….sing penting PD to……..

    jiaaan ora kaget lan ora gumun, ibu dan anak sami mawon pinter dan jago nari……..TOP!

  7. 4
    Linda Cheang Says:

    Bu Guru, memang yang membikin ngeri itu adalah ujian praktek.

  8. 3
    nu2k Says:

    Jeng Proboooooo, baru lihat foto-fotonya saja dan selintas bacanya… Nanti siang akan saya baca serius… Cium, cium, cium untuk sang penari dan mamanya…Dari jauh sekali ya… Nu2k

  9. 2
    J C Says:

    Like mother like daughter! LUAR BIASA, mbakyu Probo, luar biasa!!

  10. 1
    Chadra Sasadara Says:

    ini dia yg aku suka. ada generasi yg ngauri-uri (melestarikan) budaya ditampilkan dengan gambar yg cantik. matur nuwun Bu’ Probo. iki apik tenan

Pages: « 5 4 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)