The Story from the Top End (3): Jalan-jalan ke City

Nyai EQ di dalam bis kota yang adem

 

Setelah beberapa hari yang lalu kita jajan di pasar Parap dan Mindil, jalan-jalan di sore hari melihat-lihat matahari tenggelam dengan warna-warninya yang begitu cantik, mengunjungi pembukaan pameran yang seru, hari ini kita akan berpiknik ke City, atau ibukotanya Darwin. Namanya sih Darwin City, tapi saya dengar-dengar banyak yang cuma menyebutnya sebagai City. Mungkin ini seperti nama Daerah Istimewa Yogyakarta, tapi orang-orang lebih sering menyebutnya sebagai Yogya atau Jogja saja.

Agenda hari ini adalah wharf atau pelabuhan, kemudian klenteng Cina yang juga museum, lalu ada sebuah Katedral, kemudian makan siang di salah satu kafe di pusat perbelanjaan, lalu pulang. Ada yang harus dirayakan di rumah.

Perjalanan dimulai dari pukul 9 pagi. Matahari sudah bersinar dengan ceria. Saya memakai rok mini (ahay!!), kacamata hitam, bawa tas kecil dari kain bikinan orang Aborigin, pake sepatu santai yang nyaman. Jalan kaki menuju bus stop yang jaraknya kira-kira setengah kilometer. Menunggu bis bernomer 10. Duduk manis di bus stop yang teduh. Ada 2 orang anak kecil, satu pria bertopi laken dan ibu-ibu gendut dengan anak bayinya dalam kereta bayi warna hitam penuh gantungan mainan.

Begitu bis datang, dengan tertib kami antre masuk. Mula-mula ke dua anak kecil (masing-masing berusia kurang lebih 8 tahun-tanpa orang tua), kemudian pak sopirnya turun, mengeluarkan semacam tangga polos (tanpa anak tangga) khusus untuk kursi roda dan kereta bayi. Si ibu gendut dengan tenang masuk ke dalam bis sambil mengucapkan: “thank you”. Kata terima kasih sangat mudah diucapkan dan sering terdengar di sini. Ketika kita mendapatkan tiket bis, ketika turun dari bis, ketika ada yang memberikan jalan, ketika selesai membayar belanjaan di kasir dan lainnya. Begitu juga kata “excuse me”. Kadang-kadang jika ada penumpang tua, atau berkursi roda, pak sopir akan dengan suka rela turut membantu naik/ turun penumpang tersebut. Beberapa penumpang lain juga akan melakukan hal sama tanpa diminta. Saya melihat banyak orang-orang tua yang bepergian sendiri naik bis. Baik kakek-kakek maupun nenek-nenek. Begitu juga orang buta dengan anjingnya. Bahkan juga orang tua dengan penyangga kaki tiga (penyangga untuk orang stroke).

Setelah pria bertopi laken masuk ke dalam bis, kemudian giliran saya. Uang receh 2 dolar saya ulurkan, sebagai gantinya saya mendapatkan selembar tiket kecil berwarna kuning yang berlaku dalam kurun waktu 3 jam. Bis penuh. Beberapa orang berdiri di jalur tengah dalam bis. Orang tua, wanita hamil atau wanita membawa bayi dalam kereta dan orang cacat mendapat tempat tersendiri. Dan tak ada seorang pun yang pura-pura bego menempati tempat tersebut jika ada orang tua/ cacat atau perempuan hamil/ membawa bayi dalam kereta yang membutuhkannya.

Saya berdiri di antara para penumpang. Ada garis batas di belakang sopir yang tidak boleh dilampaui oleh penumpang. Udara dalam bis cukup sejuk meskipun penuh manusia. Suara lagu yang diputar dalam bis melantunkan musik klasik yang enak sekali di dengar.

Beberapa perhentian telah dilewati. Penumpang turun naik silih berganti. Sampai di halte CDU ( Charles Darwin Univ), banyak penumpang yang turun, kebanyakan adalah mahasiswa CDU. Saya meneruskan perjalanan. Dan baru turun setelah sampai di salah satu halte di City. Dari sana kami berjalan kaki menuju wharf. Cukup jauh juga perjalanan kami. Dan panas! Tetapi untungnya saya sangat suka berjalan, dan di Indonesia jarang sekali saya bisa menikmati jalan-jalan seperti ini, mengingat tidak ada pedestrian yang aman dari warung tenda dan parkir sepeda motor. Wharf adalah sebuah pelabuhan yang cukup besar.

Memasuki halaman pelabuhan. Bagi pengendara mobil harap pelan-pelan sebelum masuk lokasi parkir pelabuhan.

Nama lengkapnya adalah Stokes Hills Wharf. Merupakan salah satu tempat tujuan wisata di Darwin. Banyak kapal-kapal pesiar yang berlabuh di sini. Begitu juga beberapa industri kelautan dan perkapalan. Pelabuhan ini sudah ada sejak tahun 1800. Pada tanggal 19 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Darwin, dan pelabuhan ini menjadi salah satu sasaran bom. Pada tahun 1974 pelabuhan ini kembali mengalami kerusakan hebat. Kali itu menjadi sasaran keganasan cyclon Tracy yang memporak-porandakan Darwin.

Pelabuhan Darwin dengan lautnya yang indah dan bersih


Saat ini lokasi tersebut menjadi obyek turis. Banyak toko-toko suvenir, khususnya suvenir mutiara. Juga ada restoran, warung-warung es krim, museum kecil, tempat untuk berenang, persewaan kapal, jet ski dan selam. Di tempat itu juga terkenal dengan area pemancingan. Kami berhenti sebentar untuk sekedar makan hidangan laut yang ada di salah satu restoran.

Kemudi kapal sebagai aksesoris restoran

Cukup lapar setelah berjalan kaki di bawah siraman sinar matahari. Restorannya unik dan asyik, meskipun harganya lumayan mahal. Maklum, harga turis.

Daftar menu

Selain seafood, daging ayam, daging sapi ada juga menu daging buaya, onta (camel), kangguru, dan kerbau. Begitu juga burgernya. Tidak hanya hamburger (babi), chicken burger, beef burger, tapi ada juga barra burger (ikan barra), camel, croc, kangaroo dan buffalo burger.

Harga paling mahal adalah barra fillet, AUD $13.90. Itu yang kami pesan. Sebab pilihan lainnya terasa ajaib. Saya pernah makan daging kangguru dan daging kerbau, tapi untuk mencoba daging onta dan buaya kok rasanya belum tega sama lidah dan perasaan.

Barra adalah sejenis ikan laut ukuran cukup besar yang sangat terkenal di Darwin. Para pemancing sering mendapatkan jenis ikan ini. Dagingnya lembut tapi kesat. Gurih dan tidak banyak durinya. Yang kami pesan dihidangkan beserta “lalapan” berupa salad, kentang goreng yang diiris besar (wedges) dan jeruk lemon. Kami juga pesan udang goreng tepung, bersama dengan barra fillet-nya. Yummmy…!!

Piringnya plastik, tapi makanannya enak sekali

Setelah puas menikmati pelabuhan yang panas, kami melanjutkan perjalanan menuju kelenteng Cina dan Katedral di City. Sekali lagi kami menempuh perjalanan dengan kaki. Kali ini menempuh rute yang berbeda. Kami menyusuri jalanan yang panas, tapi terasa lumayan sejuk karena banyak pepohonan.

Setelah itu kami melewati sebuah bukit kecil yang teduh. Jalannya naik turun (namanya juga bukit). Rute itu dikenal dengan nama Traveler’s Walk. Konon menurut cerita, rute itu dulunya ditempuh para pioner, dari arah lautan (sekarang pelabuhan) menuju ke suatu daerah yang sekarang bernama Palmerston. Di daerah tersebut mereka mendirikan sebuah kota yang diberi nama Palmerston. Sampai saat ini kota tersebut sudah berkembang sangat pesat.

Prasasti Traveler’s Walk

Di sepanjang jalan perbukitan tersebut terdapat tangga yang memudahkan para pejalan untuk melintasinya. Selain itu juga ada mosaik yang dibuat pada tembok di sepanjang rute. Mosaik tersebut dibuat dari bebatuan. Bagus sekali.

Mosaik batu yang dibuat pada tembok di sepanjang rute Traveler’s Walk

Pada mosaik tersebut juga dipasang foto-foto tentang sejarah para pioner. Hebatnya baik mosaik dan foto-fotonya tidak ada yang rusak sama sekali. Semuanya utuh, seperti ketika pertama kali dipasang sebelum tahun diresmikannya rute itu (13 April 2000).

Setelah melintasi bukit kecil yang teduh dan sepi, sampailah kami diujung rute. Menuju jalan raya, menyeberanginya, melintasi beberapa bangunan diantaranya adalah bangunan gedung Konsulat Republik Indonesia. Saya menyempatkan diri untuk berpose di depannya (tak lama sesudahnya, ternyata saya menjadi sering mengunjungi kantor konsulat sehubungan dengan adanya kerja sama kesenian Jogja-Darwin).

Gedung Konsulat RI di Darwin

Baru kemudian sampailah kami di sebuah bangunan berwarna serba merah. Itulah yang saya sebut sebagai klenteng Cina. Menurut cerita, klenteng itu adalah klenteng kuno, namun dipugar kembali sehingga nampak baru. Ada museumnya juga, namun sayang sekali hari itu tutup.

Karena tutup ya saya numpang foto di depannya saja

Meskipun museumnya tutup, tapi klentengnya tetap buka. Dan betapa saya beruntung, sebab selagi saya clingak-clinguk, seorang biokong mendatangi saya, dan bertanya apakah saya mau berdoa di situ (mungkin karena dilihatnya saya orang Asia). Saya bilang iya. Kemudian saya membeli satu peralatan sembahyang yang terdiri dari lilin, hio, dan beberapa lembar kertas doa, seharga AUD $5, tapi karena saya cuma punya lembaran 10 dollar, maka itu saja yang saya berikan dan saya tidak minta kembalian. Biokong itu sangat senang dan bahkan ikut mendoakan saya. Dia membimbing saya berdoa, mengajari urutannya dan membantu menyalakan lilin, hio dan membakar kertas doa. Hmmm….lega.

Di dalam kelenteng : serba merah

Setelah selesai semuanya, tak lupa saya mengucapkan terima kasih pada biokong muda yang baik hati itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke katedral. Tapi tentu saja kami harus makan (lagi) dulu. Barra fillet beserta uba rampenya tadi tidak cukup mengenyangkan perut kami, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan. Kami menuju sebuah kafe yang banyak berjajar di sepanjang jalan. Kemudian kami memesan segelas besar bir dingin dan wedges sepiring besar (ternyata benar-benar banyak sekali). Jadilah wedges porsi buto, semangkuk salad sayur, 2 gelas besar bir dingin dan segelas besar es lemonade cruz menambah energi untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Katedral !!

Katedral yang dimaksud tidak terlalu jauh dari tempat kami makan. Letaknya memang berada di tengah kota. Konon menurut cerita juga, bangunan ini termasuk salah satu bangunan kuno di Darwin. Bentuknya memang unik dan cantik.

Katedral Darwin di City

Dari luar tidak tampak seperti sebuah gereja katolik, namun begitu masuk, aroma kristianinya terasa sangat kental. Gereja tersebut sangat sepi, karena sedang tidak ada misa. Namun demikian pintunya tidak dikunci, sehingga saya tetap bisa masuk dan berdoa. Setelah mengambil air suci dan membuat tanda salib, saya berdoa. Suasana yang hening dan tenang membuat saya merasa nikmat dan khusuk berdoa. Tak lupa saya juga berdoa dengan membakar lilin di bawah patung Bunda Maria dan Jesus, di dekat jendela sayap kanan dan kiri.

Hari itu saya membakar banyak lilin, hio, banyak mengucap doa. Jika ada yang bertanya, kok saya berdoa di klenteng, tapi juga di gereja? Lalu agamanya apa? Ah…kalau soal itu dibuat artikel sendiri saja (kalau saya mau).

Setelah sejenak melepas lelah, berdoa dan meneduhkan jiwa, dengan hati yang “penuh” dan gembira kami bergerak menuju ke poin berikutnya : rumah !

Hari itu adalah hari ulang tahun saya. Mengunjungi Katedral dan Klenteng Cina adalah cita-cita saya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Darwin, 2 tahun sebelumnya.

Dan Tuhan mengabulkannya, tepat di hari ulang tahun saya. Benar-benar hadiah yang tak terlupakan.

Sebelum sampai rumah, dalam perjalanan dari bus stop saya bermaksud untuk mampir ke pantai. Saya ingin “bicara” dengan semesta. Benar-benar sebuah peristiwa yang membuat saya takjub.

Ketika saya berada di pantai, saat itu sudah sore. Saya berdiri di tepi laut. Kaki saya tertancap kuat di dalam pasir yang lembut. Sekitarnya adalah air laut yang bergelombang datang dan pergi. Angin berhembus melintasi seluruh tubuh, dan membuat rambut saya berkibar-kibar. Saya memandang lurus ke arah lautan lepas. Jauh di sana, di ujung tangan kanan saya (jika saya merentangkan kedua tangan menyamping ke atas) ada bulan berwarna kuning pucat bundar yang nampak di langit yang berwarna biru abu-abu. Di sebelah kiri tangan saya, nun jauh di cakrawala, langit berwarna merah oranye. Matahari keemasan beranjak turun pelan-pelan.

Saya merasa sangat kecil dan absurd. Seluruh unsur alam ada di sekeliling saya. Air, angin (udara), api (matahari dan bulan), tanah (pasir pantai). Saya berada diantara siang dan malam. Merah dan putih. Darat dan laut.

Tak henti saya berucap doa. Semua bahasa doa yang saya mengerti.

Tuhan maha Ajaib. Dan hari itu hari ulang tahun saya.

Setelah berada di “dunia antara” beberapa saat (sekitar 2 jam), saya pulang ke rumah. Di taman saya dicegat mahluk ajaib lain ciptaan Tuhan. Seekor binatang seperti iguana, berwarna coklat, tiba-tiba ada di depan saya dengan leher terkembang bagai leher jubah drakula. Menyeringai mengancam….duh, cepat-cepat saya ambil kamera dari saku. Saya jepret, lalu pelan-pelan menyingkir, dan lariiiiiiii……!!

Selamat sampai di rumah, lalu mandi, kemudian segera menuju meja makan. Beberapa teman datang membawakan bir, cocktail dan wine. Ada kue tart kecil, Chocolate Cheese Cake besar, salad, kentang tumbuk dan pork roast yang begitu crunchy dan lezat menanti untuk dinikmati bersama.

Sampai bertemu di jilid selanjutnya…

Peta rute perjalanan kami (garis putus-putus hitam)

 

18 Comments to "The Story from the Top End (3): Jalan-jalan ke City"

  1. EQ  29 April, 2012 at 12:28

    Kornelya : yeps !

    Cie Lani : wahahahha…….GPSnya kanjenge Buto mati….jadi yo keblasuk-blasuk……
    Lha saya berdoa di mana-saja, kapan saja…..hahahhaha…..
    saya kebetulan kalo ulang tahun gak pernah di rumah…pasti pas lagi traveling (sengaja dipas’in) hahahha…

    Kang Anoew : wuaaah….kalo saya pake rok “dibawah lutut” ndak sing seneng akeh…..gak ah, gak enak jadi orang terkenal, kqkqkqkq…..

  2. anoew  28 April, 2012 at 19:50

    Nyi, kok kowe gk pakai rok di bawah lutut thooo..? Nanti biar tak jepret wisss

    Itu si leher mekrok, jangan-jangan pas liat dirimu pakai rok mini jadi gitu? Hahaha… Reaksi spontan tuing tuing jegrik

  3. Lani  28 April, 2012 at 06:23

    EQ, AKI BUTO : Makanya aku bilang, aku tidak akan heran, di akhir kisah hanimun ini nanti Lani bilang akan masuk biara jadi biarawati aku tidak akan heran, tanda-tandanya sudah semakin jelas
    ++++++++++++

    loooooooo……….iki komentar aki buto keblasuk ke artikelnya NYAI EQ??????? wakakakak………klu nyai trs mo jd apa???? dia doa dikelenteng jg di gereja……….kkkkkkk…….biar aja bikin aki mumet……….

    EQ…….ultah dirumah teman2 datang……..pasti seneng krn diperhatikan……….aku malah diajak jalan2 seminggu nutuk di south island……..aaaaaah bahagianya tiada terkirakan……….

  4. Kornelya  27 April, 2012 at 23:06

    Mba EQ, pelabuhan Darwin bersiiiiiih dan teratur. Ditunggu kisah selanjutnya. Salam.

  5. EQ  27 April, 2012 at 22:05

    Hennie T.O : makasih udah baca ya……hehehe…iya, ulang tahun yang benar-benar berkesan.
    Mbak Vina : part 1 dan 2 nya masih berputar-putar di darwin kok mbak….tar nabung buat ke Canada ah…..
    Tammy : ahahaha…iya ya, kok ya saya masih sempat motret, mungkin karena itulah saya di bilang freak hahaha…

  6. Tammy  27 April, 2012 at 21:32

    Kok ya masih sempat2nya motret binatang itu kalo takut. Kalo aku wis langsung lari histeris. Hahaha…

  7. Alvina VB  27 April, 2012 at 19:41

    Wah……dah ketinggalan kereta ternyata udah part 3, part 1 dan 2nya kemana aja EQ?
    Trims dah berbagi cerita di sini….

  8. HennieTriana Oberst  27 April, 2012 at 18:23

    EQ, terima kasih cerita jalan-jalannya.
    Ulang tahun berada di tempat yang berbeda dari keseharian pasti berkesan ya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.