Lelaki Berdada Bidang

Ida Cholisa

 

Lelaki itu memiliki dada yang bidang. Pada bagian tengah dadanya tumbuh bulu-bulu lebat berwarna hitam. Mula pertama aku mengenal dan menyanggupi permintaannya untuk menikahiku, aku sama sekali tak menyangka bahwa dada bidangnya bagaikan dataran luas yang ditumbuhi segerombol rimba hitam.

Lelaki itu telah empat bulan menjadi suamiku. Setelah perkenalan tak sengaja di sebuah pasar hingga berujung pada pertemuan intens itu, aku luluh pada lamarannya untuk menjadikanku sebagai istrinya. Mengingat usiaku telah di ambang senja, ditambah pesona menghanyutkan lelaki itu, aku pun menerima lamarannya tanpa berpikir panjang. Maka menikahlah kami tanpa pesta meriah seperti layaknya para pengantin pada umumnya.

Ia mengajakku ‘berbulan madu’ di sebuah kampung kecil di ujung Jawa Timur. Di situlah kali pertama aku terhanyut pada pesona luar biasa suami baruku. Aku melihatnya bagaikan arjuna tampan tanpa cela saat ia mengajakku mandi bersama di sebuah sungai jernih yang dingin airnya. Di kaki gunung itulah aku menemukan sensasi luar biasa pada raga suami tercinta. Ia betul-betul macho. Dada bidang dengan bulu-bulu lebat nan hitam itu membuatku terkapar dalam pelukan sepanjang malam. Inilah kali pertama aku mengenal manisnya mengecap tubuh sang arjuna. Harum keringatnya menyihir penciumanku hingga sedikit pun aku tak mau berpaling dari mendekapnya.

Aku hanyut dalam gelora asmara tanpa batas. Di kaki gunung yang senyap cinta itu terus menggunung. Cinta yang setiap waktu selalu disudahi dengan kenikmatan demi kenikmatan yang selalu ia berikan kapan pun aku membutuhkan. Lelaki itu telah menjadi pemuas atas nafsu besarku yang tak berbatas. Ia sungguh hebat!

Satu yang tak pernah membuatku terusik tentang keberadaannya adalah siapa ia, dari mana ia, dan seperti apa  masa lalunya. Bagiku telah cukup mendapatkan lelaki yang sekian waktu aku tunggu. Lelaki macho berdada bidang dengan kenikmatan cinta yang tak tertandingkan. Dan lelaki itu pun tak pernah mempermasalahkan siapa aku, dari mana asalku, bagaimana masa laluku, dan lain sebagainya. Kami berkomitmen bahwa yang kami jalani adalah saat sekarang ini. Apa yang ada di balik diri kami, masa lalu kami, itu tak menjadi soal bagi kami. Dan selalu kenikmatan pada permainan cinta yang menjadi muara hidup kami. Orang-orang yang lapar dan haus kasih sayang, itulah kami. Maka pertemuan dalam jalinan perkawinan yang kami lakukan dengan cara kami pun menjadi ladang kami menumpahkan hasrat tanpa kendali. Kami melakukan apa pun yang kami mau. Sebab bagi kami hidup adalah surga atas cinta kami.

Tapi kini kepalaku pening bukan kepalang. Sebuah celah terkuak hingga aku mendapati kenyataan yang menghancurkan segenap perasaan. Lelaki itu adalah saudara kandungku yang tercecer saat kami berpencar mencari penghidupan. Setelah perceraian orang tua kami yang entah di mana sekarang rimba mereka, aku yang saat itu masih berumur satu tahun dibawa pergi salah seorang tetangga. Lelaki itu, abangku, yang saat itu berumur tiga tahun pun hidup sebatang kara hingga akhirnya kebaikan hati seseoranglah yang menyelamatkannya hingga ia beranjak dewasa. Kami terpisah oleh keadaan selama puluhan tahun, hingga kami dipertemukan dalam cinta durjana dengan sebab ketidaktahuan.

“Persetan dengan semua cerita itu. Bukankah kita telah sepakat untuk tak mengulik masa lalu? Aku tak memercayai dongeng itu. Dan kalau pun engkau benar adik kandungku, aku tak pernah mempersoalkan itu. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku menyukai harum tubuhmu. Dan aku tak akan melepaskanmu.”

Begitulah, lelaki itu tak jua mau mendengar kisah masa lalu itu. Ia terus mendatangiku dan mengajakku bercinta kapan pun ia mau. Celakanya aku pun menyukai semua itu, dan berat bagiku untuk melepaskannya dariku. Kami bercinta penuh kerakusan hingga menutup mata pada semua berita yang masuk telinga.

Dada bidang dengan bulu-bulu hitam itu terus mendekapku tanpa mau melepasku, Aku bercinta dengan penuh api gelora yang tak pernah padam meski kebenaran terus saja menohok perasaan…

Hingga suatu ketika aku melihatnya mati dengan ujung pisau menghujam daerah kemaluannya, serta darah membanjir pada pergelangan tangan yang telah terputus sebagian. Pada sisi jasad kakunya yang berlumuran darah aku menemukan secarik kertas bernoda merah;

“Istriku Rima, terpaksa kusudahi diriku dengan cara seperti ini. Aku tak bisa mengendalikan hasrat besarku saat berada di dekatmu, meski kutahu benar bahwa cerita yang selama ini beredar adalah benar. Aku menyayangimu dan tak mungkin melepasmu. Aku berada dalam pusaran hati yang selalu bertentangan, tetapi aku tak sanggup menggapai kebenaran. Aku… aku mesti menyudahi semua ini dengan caraku sendiri, agar tak lagi aku berada dalam pijakan dua sisi yang menggelisahkan hati. Aku tahu, caraku salah, tapi aku tak mampu berpikir jernih lagi. Selamat tinggal. Suamimu, abang kandungmu, Rico.”

Aku sesenggukan membaca secarik kertas itu. Tubuh lelaki berlumuran darah yang tergeletak di lantai kamar di dusun sunyi itu membuatku duduk membisu. Tak tahu aku harus berbuat apa. Hatiku dipenuhi berjuta rasa. Pedih itu begitu luar biasa.

Tiba-tiba… akal tak warasku mulai bergerilya saat padanganku tertuju pada dada bidang ditumbuhi rambut hitam legam itu. Entah mengapa… hasrat hiperseks-ku meradang dan menggelora…

Aku tak bisa menahannya, aku ingin melakukannya. Maka kucumbu mayat kaku itu. Dada bidang itu berkali-kali kuhisap hingga beberapa helai rambut hitamnya tercerabut. Aku terus memainkan semuanya, sama persis seperti aku melakukannya saat ia masih hidup.

Pakaianku penuh lumuran darah. Aku mencapai klimaks setelah melakukan semua yang biasa aku lakukan. Tubuh kaku itu semakin memucat. Aku terengah-engah dengan busana separo terbuka. Sesudahnya aku tertidur pulas.

Gemuruh suara lamat-lamat membangunkan kesadaranku. Tanganku yang memeluk erat jasad kaku lelakiku tiba-tiba terenggut dengan kasar. Mataku nanar.

“Mereka bersaudara kandung, Pak Polisi. Sudah lama saya memata-matai mereka!” seorang lelaki berkumis lebat menunjuk ke arah kami.

Beberapa lelaki berseragam polisi berjalan mendekati kami. Berpuluh tubuh berjubel memenuhi pintu kamar tidurku. Dalam keasadaran yang belum begitu penuh… aku melihat jasad lelakiku dimasukkan ke dalam kantong plastik jenazah. Aku sendiri dibawa pergi beberapa polisi setelah mereka terlebih dulu memerintahkanku untuk merapikan pakaian berlumur darah yang aku kenakan. Aku berjalan gontai dengan pikiran melayang-layang. Hendak dibawa ke manakah aku?

Tampak di sekelilingku lautan manusia memandangku dengan tatapan jijik. Antara sadar dan tidak, aku membalas tatapan mereka dengan tawa terbahak-bahak…

***

 

15 Comments to "Lelaki Berdada Bidang"

  1. capt.y.y.sunariyanto  22 June, 2012 at 09:29

    Cinta buta,alias bahaya mudah mudahan tdk pernah ada cukup dikaryanyabu guru saja

  2. IWAN SATYANEGARA KAMAH  2 May, 2012 at 18:48

    Perkelahian birahi.

    Ida hebat.

  3. Chadra Sasadara  1 May, 2012 at 13:31

    kisah yg menggetarkan!!

  4. Dewi Aichi  30 April, 2012 at 03:45

    Ini bukan kesalahan si lelaki dan wanita itu jika akhirnya keduanya saling mencintai…tetapi jika akhirnya mengetahui siapakah pasangannya yang ternyata saudara kandung, beban batin yang sangat berat…sungguh pilu jika ada kisah nyata seperti ini.

  5. anoew  30 April, 2012 at 02:25

    Ulekan dan smash-smash tajam yang dilontarkan bisa diterima dengan manis oleh si perempuan, dan dikembalikan dengan lob-lob indah ke si lelaki berdada bidang. Drop shoot, melompat, menghujam ngeeek…

    *selalu suka tulisan Ida.*

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.