Evi Widi
Putihnya kertas yang Anda Pakai, dan sebanyak apa yang Anda habiskan, tanpa disadari telah menyumbang dalam peran penebangan hutan. Semakin banyak penggunaan kertas, maka semakin banyak pula pohon yang mati.
Isu pemanasan global dan semakin parahnya kerusakan paru-paru dunia di Indonesia, menyebabkan banyak orang akhirnya mulai berfikir untuk mengurangi penggunaan kertas. Meskipun sampai detik ini, manusia masih belum bisa lepas sepenuhnya untuk tidak menggunakan kertas sama sekali.
Teknologi yang lahir dari pemikiran untuk penghematan kertas, seperti Kindle, Nook, dan lain-lain adalah hasil wacana yang timbul untuk menghemat penggunaan kertas. Juga sistem penerbitan secara Print On Demand yang saat ini sudah mulai menjamur. Dengan adanya media eletronik dan sistem tersebut, penggunaan kertas nyaris dapat dikurangi. Meskipun kenikmatan membaca buku dalam format cetak belum tergantikan oleh alat elektronik tersebut, selain juga penggunaan listrik yang harus tersedia.
Memasuki tahun 2011, di mana dicanangkan sebagai International Year of Forests, 2011 (Forests 2011), seakan menyentil sedikit kesadaran kita, akan pentingnya perlindungan hutan dan manfaat tentang kelestarian hutan. Meskipun belum ada agenda penting untuk aksi penyelamatan hutan dari pemerintah kita (yang lebih sibuk mengurus Gayus, PSSI, dan Blackberry), namun ada baiknya kita atas kesadaran sendiri untuk melakukan aksi kecil. Misalnya lebih menghemat penggunaan kertas, tidak membuang sampah sembarangan, menanam 1 pohon atau sayur di pot.
Bersamaan di awal tahun ini pula, Kompas sebagai media besar di tanah air, telah meniadakan edisi cetak lembar daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Jawa Barat dan sisipan khusus di Sumatera Utara dan Selatan, seperti yang dilansir dalam berita di Kompas beberapa waktu lalu. Tentu ada makna esensial yang hanya diketahui oleh Kompas sendiri, yang saat ini banyak konsentrasi dalam pengembangan aplikasi berbasis teknologi. Dan tentu juga ada sisi positif, dan sisi negatif yang barangkali dirasakan oleh sebagian orang dari keputusan ini. Apakah memang terkait denganInternational Year of Forests, 2011 (Forests 2011) ataukah bukan, sisi posistif yang bisa dipetik adalah semakin berkurangnya penggunaan kertas untuk produksi koran.
Jika sedari jauh hari kita menyadari akan pentingnya kelestarian hutan, dan tanaman, hal mendasar yang bisa dirasakan adalah kita tidak akan mengalami bencana tanah longsor akibat penggundulan hutan. Saat ini, kita seperti tikus yang mati di lumbung padi. Potensi hutan, laut yang begitu melimpah tapi gagal membuat rakyak sejahtera. Bahkan sekarang kita menghadapi harga cabai yang lebih mahal dari harga daging! Cobalah tanyakan yang barangkali punya saudara di luar negeri, seperti Filipina, Bangladesh, Thailand, apakah harga cabai mereka semahal harga cabai di Negara kita?
Sungguh sangat disayangkan, kita sebagai pemilik tanah nan subur ini, justru kelimpungan dengan harga tanaman yang seharusnya bisa didapat dengan murah. Barangkali yang bisa dilakukan jika memang benar Anda “tidak bisa hidup tanpa cabai” adalah menanam sendiri di pot, memupuknya dan memanennya. Tidak perlu pergi ke pasar jika tidak ingin pingsan dengan harga-harga sayur di pasar.
Lagi-lagi kesadaran. Kesadaran untuk menghemat penggunaan kertas akan membantu kelestarian hutan dan lingkungan. Kesadaran dari pelaku industri yang peduli akan kelestarian hutan juga sangat membantu. Dan jika ada mukjizat, kesadaran dari pemerintah kita untuk ikut peduli. Mari kita selagi bisa, melakukan untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar kesadaran akan kelestarian. Bila kita sendiri tidak peduli, lantas siapa lagi yang akan peduli?
Eviwidi
13/01/2011
Referensi:
http://www.un.org/en/events/
http://cetak.kompas.com/read/
April 30th, 2012 at 22:58
Saya pikir, kertas masih tetap akan diperlukan, meski sistem digital sudah mulai dipakai. Buat saya pribadi, ada beberapa hal yang tetap lebih afdol pakai kertas, seperti perjanjian penting yang ditandatangani para pihak yang berjanji, meskipun pada akhirnya perjanjianya akan dipindau dan disimpan dalam bentuk digital, tetapi satu saat pasti akan perlu kertas juga untuk mencetak perjanjian tsb.
Membaca berita secara digital itu juga bagus, tetapi saya toh, masih suka juga baca koran versi cetak di kertas. Apalagi perusahaan media dituntut untuk berinovasi agar edisi cetaknya tetap bisa eksis. Masih banyak tenaga kerja bergantung pada kelangsungan edisi cetak sebuah media.
Yang tidak bisa tergantikan oleh digital adalah kalau saya membuat Shu Fa, Guo Hua, lukisan serta sketsa gambar pakai cara digital, itu bisa hilang seni keindahannya…
April 30th, 2012 at 21:53
Bener juga tuh, kita memang sudah sewajarnya lebih peduli terhadap lingkungan. klo tidak punya uang untuk beli kindle dan semacamnya, gpp pake kertas tapi harus diimbangi dengan kegiatan-kegiatan penghijauan
April 30th, 2012 at 15:53
Mas tok said : Jadi Ingat Basuki rahmat, Leces, Mblabag magelang, padalarang Bandung……..
iya ya jadi ingat masa lalu…,
hemmm. “katanya, pembaca koram, majalah,dan lain-lain sekarang cuma 15 %, ada yang punya data yang valid? Nanti ada saat nya Istilah “hitam di atas putih tidak berlaku lagi”
April 30th, 2012 at 15:45
Saya kira orang sudah sadar tapi problemnya membaca dokumen di screen, mata tidak kuat….. jadi orang lebih senang membaca yang di cetak di kertas….. juga dengan digitalisasi, pruduksi menulis meningkat….
April 30th, 2012 at 15:13
Ada yang pernah mengalami pakai buku sampul biru apa sampul coklat ya dengan tulisan N.V Papier Fabriek Padalarang atau yang satu lagi merek Leces (kalau ga salah ingat sih)?
April 30th, 2012 at 14:41
Pernah baca satu novel, setting waktunya adalah masa depan di mana kertas merupakan barang mewah dan barang langka. Memang harus diakui bahwa kertas produksi Indonesia salah satu yang terbaik di dunia.
April 30th, 2012 at 11:30
Kalau tidak perlu sekali, tak mau pakai printer.
April 30th, 2012 at 08:49
kalau tak ada kertsa, nanti saa tidak punya media lagi untuk membuat Shu Fa dan Guo Hua :cry
April 30th, 2012 at 08:16
Jadi Ingat Basuki rahmat, Leces, Mblabag magelang, padalarang Bandung……..