Volkshochschule (Sekolah Tinggi Rakyat) Jerman Non-akademik

Indriati See – Jerman

 

Salah satu dari fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Jerman untuk rakyatnya adalah Volkshochschule (Sekolah Tinggi Rakyat) yang sering disingkat VHS. VHS adalah Sekolah Tinggi Rakyat nonakademik, atau dengan kata lain Sekolah Lanjutan setelah pendidikan dasar formal (SMA/High School).

Volkshochschule ada di setiap kota dan merupakan pusat pendidikan pada setiap komunal dengan servis yang ditawarkan kepada setiap warga yang berusia dari 0 sampai 99 tahun.

Servis yang ditawarkan oleh VHS seperti: kursus Bahasa Jerman dan bahasa-bahasa asing lainnya, bermacam-macam jenis Olah Raga, Komputer, Seni Prakarya, Tari, Musik, Touristik, Politik, Seminar, Study tour bahkan mengadakan kursus karena permintaan sekelompok warga.

Mengapa bisa dimulai dari usia 0 tahun ? karena VHS juga menyediakan kursus-kursus untuk para wanita hamil seperti senam hamil, senam untuk Ibu dan Bayi dan sebagainya.

Kursus Komputer untuk Orang Tua

 

 

Senam Ibu dan Bayi

VHS menerima dana dari sumber-sumber bantuan sebagai berikut:

– Landes (Provinsi-provinsi)

– Gemeindes (Kota/Komunal)

– Landkreises (Kabupaten)

– Peserta Kursus/Pendidikan

– Asosiasi Penyumbang Dana, Lembaga Tenaga Kerja, Dana Sosial Eropa dst.

Adapun sejarah berdirinya VHS, dimulai pada akhir abad ke-19 dipelopori oleh asosiasi pendidik dan pengrajin sebagai pengganti universitas yang ada dengan sistem kuliah terbuka nonakademik. VHS pertama sering disebut Akademi Humboldt dimana mulai tahun 1879 memberi kuliah ilmiah nonakademik.

Pengembangan pendidikan pada VHS di Jerman banyak dipengaruhi oleh sistem VHS Denmark yang didirikan oleh Nikolai Frederik Severin Grundtvig pertama kali pada tahun 1844.

Tanggal 13 Januari 1902 di Berlin, VHS pertama didirikan pada masa Deutschen Reich, dan pada masa Republik Weimer, berdasarkan pasal 141 konstitusi 1919 resmi secara hukum sebagai pusat pendidikan dan sekolah lanjutan.

Menurut info yang diambil dari BPB (Bundeszentrale für politische Bildung) atau Pusat Pendidikan Politik, pada tahun 2006 terdapat 974 VHS di seluruh Jerman, hampir 558.000 kursus dan 79.000 event/program dengan 6,5 juta peserta kursus dan pada setiap event dihadiri oleh 2,2 juta pengunjung, dimana usia peserta pada saat itu adalah 15 tahun atau lebih.

Dari semua kursus-kursus yang ditawarkan oleh VHS, yang paling diminati adalah kursus tentang “Kesehatan” dengan jumlah peserta 2,1 juta, urutan kedua adalah kursus bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, lalu kultur, politik dst.

Jumlah jam yang ditawarkan dari setiap kursus, sangat berberda-beda biasanya per paket bisa berisi min.1- max.15 jam dengan harga per paket kira-kira antara 15-85 Euro.

Melihat servis yang ditawarkan dengan biaya yang boleh dikatakan terjangkau oleh rakyat, tidak mengherankan jika VHS banyak dikunjungi oleh pelajar-pelajar asing yang ingin melanjutkan kuliah di Jerman dimana mereka bisa memperdalam penguasaan bahasa Jerman mereka sebagai persiapan masuk ke universitas.

 

Salah satu logo dari VHS

Sampai sekarang saya sendiri masih menjadi murid di VHS terutama untuk hobby dan bersosialisasi.

Berharap reportase di atas berguna untuk para pembaca dan tentunya juga jika sistem VHS ini bisa diterapkan di Indonesia, dengan demikian kita bisa membantu para pelajar yang tidak bisa mengikuti jenjang kuliah di universitas tetapi mendapat kepintaran dan ketrampilan yang efisien untuk bekal mereka dalam mencari pekerjaan … semoga !

Salam Baltyra

 

Source: villingen-schwenningen.de, op-online.de, vhs-buchloe.de, rohrmueller-web.de, de.wikipedia.org, bpb.de-vhs

 

19 Comments to "Volkshochschule (Sekolah Tinggi Rakyat) Jerman Non-akademik"

  1. Itsmi  4 May, 2012 at 14:02

    Alvina, sampai berak pun atau banyaknya tai itu semua di tentukan politik…

  2. Alvina VB  2 May, 2012 at 10:13

    Indri…ini intermezo dari kiriman temen di German:

    Re: Komentar anggota DPR Venna Melinda ketika diprotes Mahasiswa Indonesia di Berlin baru2 ini

    Venna: “Politik itu penting lho dan kalian sebenarnya di sekolah sudah berpolitik. Coba.. kalian klo mau ujian biar bagus, pasti baik2in dosen disini kan?”

    Mahasiswa: “Nggaaa…itu hanya di Indonesia saja”

    Venna: “Oh di Indonesia aja ya? Salah sendiri kuliahnya di Jerman.”

    Gubrakkkkk dyeh kl anggota DPR kok cuma segitu aja nanggapi penolakan kunjungan mereka di Jerman. Menurut mhw Ind di Jerman, stl itu besoknya mereka tanpa malu2, betulan pada belanja……cek..cek….. betul perkiraan saya studi banding tas, dkk……….Mungkin nanti laporan di Jkt: setelah dibanding2kan ternyata murahan di Jerman tasnya, ya…kami borong aza, buat sekalian dijual lagi di kantor, lumayan kannnn…..Btw, ini pake uang sapa ya…..

  3. Lani  2 May, 2012 at 05:29

    AKU BUTO : laaaaaah mbok nek ngenyek rak sah banget2 to yooooooo……sampe ada yg terkili-kili…..pdhal prekkkkkk banget aku……..wakakka……..kinyi2 mah kudu kuwi………..harusssss……..klu ndak gitu, ndak pas pake yg kiwir2……..soal gaptek nah itu nyusul…….hahahahha

  4. Lani  2 May, 2012 at 05:27

    AKI BUTO : wong gemblunk rak sah diurusi…….nggarai ubanan durung mangsane………sorry Indri OOT dilapakmu……..

  5. Alvina VB  2 May, 2012 at 04:54

    Danke Indri…..mustinya di Ind ada program yg pemerintah subsidi spt ini, jadi rakyatnya tambah pinter dari pada biayain anggota DPR buat studi banding (banding2 harga tas, kemeja, dsb) ke LN..he..he….

  6. matahari  1 May, 2012 at 22:20

    Di negri kita sptnya kalau spt ini ada juga..tapi mereka sebut dengan kursus…apa itu kursus bhs Inggris…kursus montir ..bhs German..bhs Perancis..mengetik…nari .kursus piano..dll.. dan kursus2 spt itu tidak memberikan gelar…dan sayang sekali karena di negri kita masih banyak perusahaan yang memberi prioritas kepada lulusan univ tertentu bahkan menentukan IP para calon pelamar kerja …sehingga mereka yang hanya punya keahlian lewat kursus…dan tidak bergelar…harus berusaha untuk membuka lahan kerja sendiri yang sering sekali perlu modal besar…dan biasanya kursus ini berbentuk partikulir …tdk di subsidi seperti di Eropa…

  7. Kornelya  30 April, 2012 at 21:32

    Indri, disini pendidikan luar sekolah seperti ini ada disetiap district. Selain melalui sekolah formal aku belajar, jahit, menenun pada institusi ini. Belajar bahasa Spanyol dan dansa kami bertiga satu kelas. Sangat bermanfa’at murah meriah, 2x seminggu, durasi 3 bulan ongkosnya hanya $90/orang. Di Indonesia ada, namanya BLK tetapi untuk masuk kesana persyaratan administrasinya rumiiit. Tabe.

  8. Dewi Aichi  30 April, 2012 at 17:55

    Indri..terima kasih sharingnya, di Brasil, meski pendidikan menurutku kualitasnya masih di bawah Indonesia..namun kemudahan masih mendingan…bagi siapapun, umur berapapun, mau melanjutkan ke sekolah apapun masih memungkinkan. Remaja hamil juga tidak akan berhenti sekolah…untuk sekolah sekolah yang mirip seperti yang kau tulis itu juga banyak sekali. Sangat memungkinkan juga, seorang yang tidak lulus SD misalnya, nanti setelah menikah akan meneruskan lagi, juga ngga masalah, ibu dari salah satu kenalan ku, sudah punya anak yang jadi dokter, ibunya sekarang melanjutkan sekolahnya masuk ke setingkat SMP,

    Aku pengen masuk ke sekolah dansa he he he he…sudah banyak yg ngajak, tapi kok males ya….

  9. J C  30 April, 2012 at 16:51

    Itsmi, umur Lani? Hahahaha…aku tidak mau ikut-ikut ah…hahaha…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.