Sebuah Pelangi

Angela Januarti Kwee

 

Sesampai di rumah dengan menempuh perjalanan lebih dari dua jam. Aku langsung bertanya dimana keberadaan ponakanku pada orang yang kujumpai di rumah.

“Ven-ven …,” aku menyembut nama panggilan sayang yang kami berikan padanya dengan volume suara sedang.

“Tua i ….” Wajah polos tiap kali ia menyambut kedatanganku selalu membuat hati rindu bila jauh darinya.

“Tua i bawa makanan loh nong.” Ia segera mencari dan membongkar barang-barangku. Kuajak ia duduk di lantai dapur dan membuka kantong belanjaanku. Raut wajah gembiranya terlihat saat mendapati oleh-oleh yang kubawa. Ia memasukannya ke lemari pendingin untuk didinginkan sebelum disantap.

Hampir dua minggu terlewatkan ketika aku tidak bisa berakhir pekan di kampung halaman. Kali ini aku menemani ponakanku bermain sepeda di halaman depan rumah. Kuajari ia menginjak pedal dengan kaki mungilnya dan menggayuh sepeda perlahan. Terlihat penuh perjuangan tapi ia tak putus asa, hingga kami sampai ke rumah kakek nenekku yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.

Aku berkesempatan mengunjungi mereka. Berbincang sembari mengawasi ponakan dan  empat orang adik sepupuku bermain. Sepeda hanya dua, kecil dan besar. Mereka bergiliran menggunakannya. Kulihat adik sepupuku yang berusia kurang lebih tiga tahun menggayuh sepeda kecil yang dipinjamkan ponakanku. Kakaknya yang berusia hampir enam tahun mendamping dengan sabar menunggu giliran. Satu sepeda untuk orang dewasa digunakan kakak perempuannya yang lain. Sungguh satu permandangan yang indah, ketika kakak beradik bisa akur dan bermain bersama.

Saat tengah asyik berbincang, ponakanku melihat papanya akan berangkat bermain sepakbola. Kebetulan jarak lapangan tidak terlalu jauh dan ia sangat suka bermain di lapangan yang luas itu. Ia bersemangat mengikuti dan tanpa komando naik ke motor yang digunakan papanya.

Sopai jaga a Hen?” aku mencoba memastikan ada yang menjaga ponakanku ketika papanya bertanding sepakbola.

Misik, ikau jak.” Ia memintaku menjaga anaknya.

Dolok jak, kolak aku jalan kaki.”

Aku memilih untuk menemani ponakanku bermain. Kuajak dua adik sepupuku dan berjalan kaki menuju  lapangan. Memang sudah cukup lama aku tidak berjalan-jalan seperti ini. Biasanya saat liburan, aku lebih senang menghabiskan waktu di rumah. Bersantai di toko dan membantu orangtuaku.

Lapangan di kampungku sangat luas. Setahuku tanah ini milik satu orang kaya di kampung yang disumbangkan kepada masyarakat untuk digunakan bersama. Rumputnya hijau dan terdapat sebuah pohon peluntan di salah satu sudutnya. Sejak aku SD pohon ini sudah ada dan masih bertahan hingga sekarang. Di sebelah kiri terdapat satu kantor polisi desa. Tidak jauh di belakangannya terdapat area perkuburan keluarga yang berpagar rapi. Terdapat juga sekolah negeri untuk tingkat dasar. Lapangan sepakbola ini berada di tengah-tengahnya.

Namun ada yang memprihatinkan, lapangan ini tidak terawat. Rumputnya yang hijau membuat beberapa orang pemilik ternak membiarkan sapi-sapinya menyantap dan membuang kotoran di tempat yang sama. Sampah juga berserakkan dihampir tiap sudut lapangan. Hanya area tempat bermain yang terlihat aman dari kotoran ternak.

Waktu terus berjalan, aku masih mengawasi mereka bermain. Kupandangi sekitar seraya bersantai. Tiba-tiba aku tersadar mendapati satu pelangi muncul di langit yang mulai cerah setelah hujan. “Wah … ada pelangi.” Betapa bahagianya hatiku, aku bahkan seperti anak kecil dan meloncat kegirangan. Segera kuminta salah satu adik sepupuku pulang untuk mengambil handphone agar aku dapat memotret pelangi itu. Sungguh, hari ini sangat indah. Sudah sekian lama aku ingin melihat pelangi. Ketika tak terpikirkan, Tuhan kembali hadirkan pelangi dan membuatku bersukacita.

Dalam keceriaan bersama mereka hingga mendekati senja, aku terpikirkan sesuatu. Bisa juga dibilang aku merenungkan semua yang terjadi selama beberapa jam. Mungkin orang akan bingung, tapi aku merasa menemukan jawaban pelangi yang sebenarnya. Pelangi yang terrindukan dan kembali datang. Pelangi itu adalah keluargaku. Saat aku bekerja dan jauh dari mereka, rindu terus menyapa. Ketika aku memiliki waktu untuk mereka, kegembiraan sebenarnya datang memenuhi relung hatiku. Aku juga diajak merasakan dunia ponakan dan adik-adik sepupuku yang masih kecil. Menikmati hari-hari tanpa beban, tertawa lepas dan bebas mengekspresikan diri.

Satu perenungan, ketika ada waktu luang baiknya kugunakan untuk sejenak memperhatikan sekitarku. Ada banyak hal butuh perhatian khusus. Contohnya saja lapangan yang ada di depanku saat ini. Ia seperti kehidupan. Ada sudut yang bersih dan indah untuk dilihat, namun ada sudut lain yang memprihatinkan. Bila tiap mata mau mengalihkan pandangannya sejenak, mungkin hatinya akan tergerak melakukan satu perubahan kecil bagi lingkungan sekitar.

Kalau aku memilih tidak menemani mereka sore ini, aku tidak akan melihat pelangi.

Saat pelangi tak terlihat, aku tak akan merenung.

Bila renungan tak ada, semua terlihat sempurna.

Tapi nyatanya? Kesempurnaan mungkin masih jauh dari harapan.

Tapi syukurlah, kali ini aku melakukan pilihan dengan tepat.

 

*Satu sore di Hari Kartini*

Rawak, 21 April 2012

 

#Tua i adalah sapaan untuk bibi tertua dari pihak ibu.

#Nong adalah panggilan sayang yang biasa diberikan untuk anak-anak.

# Sopai jaga a = Siapa yang menjaganya. (Bahasa melayu masyarakat Rawak)

# Misik, ikau jak = Tidak ada, kamu saja.

# Dolok jak, kolak … = Duluan saja, nanti …

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

23 Comments to "Sebuah Pelangi"

  1. Angela Januarti  3 May, 2012 at 21:35

    Ibu Nunuk : Waktu standar saya menggunakan motor dua jam perjalanan. Jalannya sudah bagus, hanya mungkin di beberapa tempat sedikit berdebu.

    Kak Alvina : Iya lagu NIKITA ^_^

  2. Alvina VB  3 May, 2012 at 05:35

    Dewi, masih ingat ternyata…..
    Angela, iya lagunya: Seperti pelangi sehabis hujan bukan ya….yg nyanyi kl gak salah si Nikita.

  3. nu2k  2 May, 2012 at 13:38

    Dear mbak Angela, mbak Alvina dan dimas Handoko, terima kasih informasinya. Jauh sekali ya. Bagaimana dengan sistem transportasinya, anda harus berapa lama di perjalanan sebelum sampai di tempat sang keponakan…Memang sering sekali diperlukan perjuangan yang cukup besar untuk menyampaikan rasa kasih dan sayang..Selamat memuaskan rasa kangennya dan juga menikmati keasrian kota/ desa? Rawak.. gr. Nu2k

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.