Sepeda Lamaku

Linda Cheang – Bandung

 

Para Pembaca Baltyra,

Beberapa waktu lalu Lani menceritakan kisah sepeda barunya yang jadi tunggangannya sekarang, kalau aku saat ini mau ceritakan tentang sepeda lamaku, tungganganku  yang sudah kumiliki sejak 1987, dibelikan oleh Bokap sebagai hadiah kelulusan dari SD.

Sepeda lamaku itu dibeli dengan cara tukar-tambah, jadi Bokap menukar dua buah sepeda usang kami miliki sebelumnya, sebuah sepeda eks punya kakak dan sebuah sepeda mini yang kupakai belajar mengendarai sepeda pertama kali, kemudian ditukar dan tambah bayar dengan sepeda yang gambarnya kulampirkan. Sebuah sepeda merek Golden Eagle 86, buatan pabrikan Wellgo, Taiwan, entah apakah sampai sekarang pabrik itu masih ada, aku tak pernah berusaha mencari tahu. Aku juluki “Si Hitam”.

Perihal Si Hitam menjadi tungganganku lagi sekarang ini, memang ada beberapa alasan, seperti menghemat ongkos untuk naik angkot, terutama untuk jarak dekat, sampai jarak 3 KM dari rumah. Namun alasan utamanya adalah karena aku mulai mendapat persoalan di bagian lutut yang sudah mulai berderak-derak ketika dipakai jalan untuk waktu yang lama, apalagi lari dan naik tangga. Dari berbagai artikel kesehatan yang kubaca, diketahui bunyi berderak dari salah satu lututku itu adalah gejala awal Osteo-Arthritis disingkat OA,  berupa radang sendi dengan tanda awal mulai berkurangnya pelumas (senyawa glukosamin) di antara sambungan lutut, dan jika aku terus  membiarkan lututku dipakai berlari atau jalan yang lama, maka kelak di masa tua nanti lututku akan membawa masalah lebih besar lagi kalau tidak  mau dioperasi ganti sendi lutut.

Mumpung masih gejala awal, guna mengatasi OA, aku mendapat masukan agar selain aku harus menurunkan berat badan, juga agar aku tidak lagi berolah raga lari, jogging, atau jalan cepat yang membuat beban terhadap lutut semakin berat. Padahal sewaktu masih kuliah, akulah mahasiswi yang terbaik dalam kegiatan olah raga lari untuk kecepatan maupun ketahanan. Aku dianjurkan untuk berolah raga renang dan bersepeda. Pucuk dicinta ulam tiba! Aku memang suka berenang, namun karena masalah sinusitisku yang hobi kambuhan, jadilah Si Hitam yang sudah lama teronggok di sudut gudang sampai karat pun sudah menghiasi beberapa bagiannya, dikeluarkan lagi untuk direparasi. Ini pun demi penghematan biaya daripada beli sepeda baru.

Si Hitam ini memang tidak memiliki gir, jadi kalau kupakai melintasi kontur jalanan yang menanjak, sudah pasti aku harus mengeluarkan tenaga ekstra mengayuh pedalnya. Si Hitam diistirahatkan di gudang untuk waktu yang sangat  lama, karena ketika kondisi lalu lintas sudah mulai ramai penuh mobil dan motor berseliweran seenaknya, aku disarankan Bokap untuk mengendarai mobil miliknya saja, atau pakai angkutan umum, daripada kalau naik sepeda nanti jadi “makanan” truk atau bus. Ada alasan lain, yaitu aku sempat merasa rendah diri ketika mengendarai Si Hitam karena pada suatu masa, saat ketika sepeda gunung alias MTB (Mountain Bike) sedang trend dan karena aku hanya mengendarai Si Hitam yang sangat sederhana yang mirip versi modernnya sepeda onthel, jadilah aku sukses dicibir sampai diejek teman-teman yang mengendarai MTB. Ya sudah, Si Hitam ditaruh saja di gudang, untuk kelak akan dipakai lagi. Kalau aku mau pakai sepeda, aku pinjam saja MTB si adik, MTB untuk cowok.

Berbeda ketika aku sempat pinjam pakai MTB, milik si adik yang memiliki gir untuk mengatasi tanjakan, enak sekali ditungganginya, tetapi ketika zaman saya menungganggi MTB si adik, saat itu belum lazim seorang perempuan dengan tubuh yang kecil, mengendarai sepeda MTB cowok apalagi dengan ban ukuran 26 cukup besar untuk jadi tunggangan seorang cewek, sehingga ketika Si MTB kutunggangi ke kampus, banyak orang iseng di sepanjang perjalananku yang berusaha menggodaku, dari cara halus, sampai cara yang kurang ajar. Padahal, pikirku, apa salahnya cewek bisa mengendarai MTB cowok selama bisa mengendalikan? Memang MTB si adik sangat nyaman, apalagi kalau sedang menuruni kontur jalanan curam yang berbatu-batu atau berkerikil, sepeda MTB akan mental-mentul, dan aku cukup berdiri di atas pedal, menikmati laju menurun cepat sepeda yang memantul akibat roda sepeda menggilas bebatuan, sambil berteriak : wheeeeeeeee…….. Sensasinya itu, lho! Mungkin sekarang mirip cabang olah raga bersepeda gunung khusus nomor down hill.

Sekarang, dengan dimulainya kembali gerakan go green, mengurangi polusi udara, dan mulai banyak lagi pengendara sepeda dengan berbagai jenis sepeda, termasuk jenis seperti Si Hitam dan Sepeda Onthel, akhirnya karena akupun memang memerlukan terapi untuk lututku, Si Hitam dibawa kepada seorang tukang reparasi sepeda di dekat rumah, untuk direparasi, mulai dari diganti karet remnya untuk ban depan, distel semua velgnya, distel stangnya yang sempat bengkok, diperbaiki bentuk keranjang di depan stang yang sempat bengkok tidak rapi, diperlengkapi kunci sepeda yang dibungkus plastik warna merah tua, sampai ganti karet ban-ban dalamnya karena karet ban dalam bawaan asli Si Hitam sudah tua dan banyak bocor kecil di permukaannya.

Ukuran ban Si Hitam 24, diisi udara dengan tekanan maksimal 40 PSI, jadi mantap mengendarainya. Total biaya yang kukeluarkan untuk mereparasi Si Hitam dalam beberapa kali kunjungan, menghabiskan Rp 107.000,- belum termasuk perlengkapan lain yang akan dibeli seperti bel atau klakson sepeda dan lampu. Bandingkan bila kalau harus beli sepeda baru yang modelnya mirip Si Hitam, di toko sepeda tempat aku mereparasi sepeda menawarkan harga tidak kurang dari Rp 800.000,-, untuk MTB ukuran ban 24 di kisaran Rp 1 juta ke atas dan untuk Seli alias Sepeda Lipat buat orang dewasa, harga jual barunya adalah Rp 2 juta. Wow! Lagipula, sudah tidak ada lagi yang mencibirku karena sudah banyak orang yang menggunakan sepeda semodel dengan Si Hitam.

Aku yakin, Lani pasti akan nyengir lebar melihat tingginya stelan  sadel Si Hitam yang memang kuminta si tukang reparasi untuk distel tinggi, sehingga serasa aku mengendarai Sepeda Onthel. Tingginya stelan sadel membuat aku nyaris tak bisa menjejakkan kakiku ke tanah kalau aku mendudukinya, tapi itu tak masalah buatku, karena kalau menghentikan Si Hitam, aku rem dan segera turun saja dari sadel, atau jika ingin kakiku bisa memijak, aku pakai saja Kelom Geulis kayuku yang bersol tebal, hehehe.

Perihal setelan sadel yang tinggi, dimaksudkan agar aku bisa duduk dengan posisi tulang belakang tegak lurus, sehingga mengendarai Si Hitam atau Sepeda Onthel merupakan satu terapi yang bagus bagi penderita cedera ringan tulang belakang. Jika aku masih pakai MTB, maka badanku akan condong jadi bungkuk, walaupun bisa saja posisi punggung dibuat tegak, hanya siku tangan yang menyiku. Jika si sadel masih kurang nyaman stelannya, maka stelan  sadel bisa kuatur sendiri, karena di rumah, Bokap memiliki kotak peralatan mekanik yang sangat lengkap, jadi mencari kunci pas alias closed ended key ukuran 12 dan 13 mm, untuk memegang kepala baut dan mur pengencang si sadel, bukan hal sulit, karena aku masih mampu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan mekanik sejak zaman bersekolah kejuruan teknik dulu.

Si Hitam dalam gambar terlampir tampak dari kiri baru selesai dicuci dengan shampoo mobil, sehingga terlihat kinclong. Di keranjangnya biasa kutaruh satu stel pakaian hujan – iya, pakaian, bukan jas hujan – terbuat dari plastik kalau sewaktu ketika aku mengendarai Si Hitam, mendadak turun hujan. Kunci sepeda aku lingkarkan saja di penyangga keranjang, karena kalau kusimpan di keranjang, bisa-bisa nanti ada orang iseng yang ambil atau aku yang malah lupa membawanya.

Si Hitam ini masih memiliki dinamo yang masih berfungsi, dari gambar tampak kanan, tetapi kedua lampu bawaannya sudah pecah, entah, aku lupa apa musababnya. Aku belum membelikan lampu untuk Si Hitam karena Si Hitam kebanyakan kupakai di pagi, siang dan petang hari, ketika hari masih terang tanah. Sebagai pengganti lampu sementara, jika aku mengendarai Si Hitam lewat waktu maghrib, maka aku tempelkan saja stiker oranye yang akan menyala kalau tersorot lampu pengendara kendaraan lain. Jika aku perlu keluar rumah pada malam hari seperti ke Sekolah Malam Bahasa Mandarin, aku lebih memilih pakai angkot saja, sekalian menemani teman-teman sesekolah yang sama-sama menggunakan angkot.

Mengendarai Si Hitam sekarang sudah nyaman, walau sadelnya sudah ada bagian yang sobek, tetapi masih kuat. Aku biasa menggunakan perlengkapan sebuah topi kain bundar Ocean Pacific warna biru, karena aku belum sempat membeli helmet untuk bersepeda. Masih harus menabung  dulu karena helmet sepeda yang bagus, tidak murah juga harganya. Maka aku kalau bersama Si Hitam cukup di pinggir jalan saja pelan-pelan menyusuri jalan atau melewati gang-gang kecil yang sempit dengan kewaspadaan tinggi karena banyak anak-anak kecil sembarangan lewat, dan kalau mau menyeberang jalan raya, lebih baik aku turun dari sepeda dan kutuntun saja Si Hitamnya, lebih lagi kalau melalui jalan secara melawan arah arus lalu lintas.

Ketika menuruni kontur jalan berbatu di dekat rumah, kali ini berteriaknya cukup dalam hati saja. Wheeeeeeee… asyiknya ngegowes…………….

 

Salam gowes,

Linda Cheang

April 2012

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

33 Comments to "Sepeda Lamaku"

  1. capung2  16 March, 2013 at 09:34

    bersepeda mmg mengasyikkan sekali… slm gowes !

  2. Linda Cheang  3 May, 2012 at 06:54

    Liebe Hennie sebetulnya bersepeda di jalanan dekat rumahku juga sudah lumayan mengerikan, sih, tapi, yah, kalau tidak dibikin berani, selamanya akan takut terus. Sepeda statis juga ada, buat latihan kaki sambil nonton televisi

  3. HennieTriana Oberst  2 May, 2012 at 17:49

    Linda, model sepeda gini nih ang mestinya aku punyai. Terakhir aku naik sepeda sudah jaman dahulu. Paling sekarang-sekarang cuma naik sepeda statis, nggak takut nabrak

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *