Bertualang di Dunia Pendidikan

Dinanda Nuswantara Buwana

 

Artikel untuk peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012

Ketika Seorang yang bernama Charley dalam karya besar Karl May “Trilogi Winnetou”  bermetamorfosis dari seorang Guru privat menjadi seorang petualang, maka sesungguhnya ia menjalani suatu proses pembelajaran yang begitu dahsyat dalam hidupnya. Betapa dia yang sudah merasa pandai dengan berbagai disiplin ilmu yang telah dipelajari sebelumnya, ternyata harus menghadapi kenyataan bahwa dia tidak ada apa-apanya di padang Prairi yang liar.

Bahkan oleh rekan-rekannya`yang telah berpengalaman dalam dunia petualangan, dia dianggap sebagai seorang Greenhorn, seorang yang masih polos, dan “hijau”. Namun kemudian  dalam setiap petualangannya dia terus mengalami proses belajar yang tak henti. Yang tidak terjebak pada dikotomi Ilmu Alam dan Ilmu Sosial. Suatu petualangan yang bukan saja berdimensi secara fisik tapi juga secara Bathiniah. Itulah Seorang guru yang kemudian menjadi petualang dan berganti nama menjadi Old Shaterhand, Jagoan humanis pembela bangsa Indian dari berbagai penindasan. Sekaligus seorang yang ahli dalam Sejarah, Botani, Zoologi, Navigasi, Geodesi, dan berbagai kecakapan lainnya seperti, bertarung, mencari jejak, menembak dan berkuda.

Lalu Bagaimana dengan orang-orang yang justru menjadi guru dalam petualangannya? Yang pada awalnya tidak punya bekal khusus untuk menjadi seorang guru? Kemudian terjun menjadi seorang guru untuk mengajar di sebuah sekolah gratis, di mana para peserta didiknya adalah anak-anak termajinalkan dari hiruk pikuk kota, yang drop out dari sekolah formal karena himpitan Ekonomi ataupun faktor faktor lain, mereka lantas mencari nafkah di Jalanan dan Pasar untuk mengurangi beban kehidupan keluarganya, sehingga waktu merekapun tidak ada yang tersisa untuk bersekolah di sekolah formal. Anak-anak yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan,dan tidak biasa terikat dengan waktu dan jadwal. Mereka telah demikian terbiasanya dengan ”kebebasan jalanan”,

Suatu tantangan tersendiri bagi para guru adalah berupa kendala psikis berupa kesiapan mental para peserta didik, karena para peserta didik yang datang dan belajar  tidak sama kondisi mentalnya dengan para  Siswa di sekolah formal. Siswa di sekolah formal sudah terbiasa dengan aturan-aturan yang ketat yang telah disepakati bersama dan mereka sadar akan konsekuensi jika melanggarnya, dan para siswa ini tentulah tahu berapa uang yang telah dikeluarkan para orang tua mereka untuk membayar SPP serta pungutan lainnya. Sedangkan peserta didik di Sekolah ini berlomba dengan kebutuhan hidup, yaitu mencari nafkah, karena kebanyakan dari mereka, khususnya untuk tingkat SD, adalah Child Labour, penjual kantong plastik dan sebagian kuli panggul, di samping profesi lainnya seperti pencuci kendaraan bermotor, pedagang asongan, pengamen, ojek payung, dll. Sehingga sangat sulit bagi mereka yang biasa ”merdeka” untuk mengatur jadwal mencari uang jika harus disiplin dengan jadwal belajar serta harus taat pada peraturan, acapkali konsentrasi belajar mereka terganggu jika uang mereka belum cukup untuk kebutuhan hidup hari itu.

Sebagian dari mereka tidak dapat berkonsentrasi penuh untuk belajar disebabkan larangan dari orang tua mereka, sebagian para orang tua beranggapan bahwa belajar di Sekolah ini hanya memotong jam kerja mereka, sehingga mengurangi penghasilan mereka. Dan terkadang mereka belajar dalam keadaan mengantuk, ini dapat dimaklumi karena sebagian dari mereka berkerja sebagai kuli panggul di pasar, dan harus sudah bekerja sejak pukul 00.00 dini hari, saat di mana sebagian besar dari kita sedang nikmat-nikmatnya tidur.

 

Padang Prairi

Itulah Barangkali Padang Prairi bagi saya, beserta rekan-rekan yang lain sesama Guru di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Suara Hati di Pasar Cibinong Kab. Bogor. Sebuah wadah pendidikan yang memberikan pendidikan kesetaraan sekaligus keterampilan hidup (life skill) bagi para peserta didiknya. Saya dan, rekan-rekan datang dari berbagai disiplin ilmu, dan sebagian besar tidak punya ilmu kependidikan dan keguruan formal. Rekan-rekan bersedia menjadi Pangajar mungkin karena panggilan hati atau karena kepedulian sosial, atau juga dalam rangka long life education, karena berprinsip bahwa dengan mengajar maka kita dapat belajar.

Dan ternyata berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen, dinyatakan bahwa guru adalah pendidik professional, dan mengajar disekolah formal, berarti pendidik yang belum profesional belum dapat disebut sebagai Guru. Demikian halnya menurut mantan Rektor ITB (Prof. Dr. Kusmayanto Kadiman), guru tidak sekedar pendidik atau dosen, tapi sesorang yang menjadi sosok dengan keilmuan , kearifan dan kharisma yang tinggi, Selalu ikhlas menyebarkan ilmu dan mendidik generasi. Ghu dan ru sebagai asal kata guru berarti dari kegelapan menuju terang, kini Guru telah menjadi kosa kata dalam bahasa Inggeris yang berarti empu. Oleh karenanya saya dan rekan-rekan lainnya tidak pantas menyandang predikat Guru, terlalu adiluhung, dengan demikian penggunaan kata  Guru  dalam tulisan ini, dalam konteks kegiatan kami, saya ganti dengan kata pengajar atau tutor.

Kami di wadah Pendidikan ini, bagai menjadi Old Shaterhand, mengalami proses pembelajaran yang terus menerus dan berharga dalam setiap petualangannya, ternyata  ilmu yang dipelajari dan didapat selama ini tidak cukup apa-apa, betapa ”pengdikotomian” antara IPA dan IPS dapat menjebak. Padang prairi di sini hanya sekedar menggambarkan betapa kami para Pengajar seperti berada di padang luas yang arahnya kadang membingungkan serta berhadapan dengan berbagai hal yang belum dapat diprediksi sebelumnya, layaknya carut marut dunia pendidikan di negeri ini. Kebijakan-kebijakan yang membingungkan dan juga berbagai kendala birokrasi.

Di sisi lain, kami harus bisa melakukan improvisasi, karena Di Sekolah ini seorang Pengajar IPA tentulah pula menjadi seorang Pengajar IPS karena kompleksitas sosial di dalamnya. Seorang Pengajar yang mengajar IPA juga sekaligus dapat bertindak sebagai seorang Psikolog, Seorang Pengajar Bahasa Indonesia Tidak hanya mengajarkan Sastra, dan bahasa Indonesia baku yang baik dan benar, tapi juga belajar dan  mengajar bagaimana caranya berbahasa hati dan bertutur kata yang santun. Seorang Pengajar Biologi, tidak hanya mengajarkan tentang Taksonomi, Anatomi, Lingkungan biotik dan abiotik, namun ia juga adalah seorang Pengajar yang menerangkan betapa bahayanya penyalahgunaan Narkoba dan Minuman keras terhadap fisiologi tubuh dan otaknya serta bahaya seks bebas yang dapat mengancam kesehatannya.

Dalam mengajarkan ilmu Ekonomi, tidak serta merta kami bisa mengajarkan mereka tentang, Tentang Ekonomi Makro, tentang Ekonomi Pasar Bebas, tentang Fundamentalisme Pasar, Tentang Hedge fund, apalagi jika ditambah dengan persamaan-persamaan matematis pada Kurva penawaran, kurva penerimaan, dan titik equilibrium. Karena yang diajarkan lebih cocok dengan hal hal yang berkaitan langsung dengan mereka, semisal jenis-jenis alat pembayaran, Macam-macam Bank, dan  Jenis-jenis Pasar.

Itu hanyalah sedikit contoh, betapa rekan-rekan saya harus terus melakukan improve dalam pengajaran, tidak bisa berpegang teguh pada  Kurikulum, RPP, dan Silabus. Pengajaran yang diberikan tergantung pada situasi dan kondisi yang aktual dan yang terjadi di lapangan.

Jelaslah, bahwa dalam materi pengajaran  penekanan tidak pada aspek Kognitif, tapi lebih pada aspek Afeksi, untuk menyentuh rasa dan hati mereka terlebih dahulu, dan tidak kalah penting adalah aspek psikomotorik yang diwujudkan dalam berbagai keterampilan kecakapan hidup, semisal pembuatan pupuk kompos dan berbagai kerajinan dari limbah plastik.

 

Harapan ke Depan

Para Pengajar di Sekolah ini tentulah tidak dapat bertindak seperti Guru di Sekolah formal yang dapat memberi sanksi atau hukuman jika para peserta didik tidak disiplin dan melanggar aturan, dibutuhkan kesabaran dan trik khusus untuk itu. Karena jika kita kaku menerapkannya, maka dijamin Sekolah akan bubar karena para peserta didik akan kabur. Para peserta didik  tidak diperlakukan seperti berada dalam tembok kurungan, sebaliknya para peserta didik belajar seperti dalam sebuah rumah. Karena secara terminologi sekolah ini dapat dikategorikan sebagai Homeschooling. Sehingga mereka akan merasa enjoy dan secara psikologis mereka merasa diakui sebagai peserta didik, dan berada dalam suatu keluarga, lebih lanjut  mereka merasa diakui eksistensinya sebagai bagian dari warga negara Indonesia.

Indonesia bersama dengan Bangladesh, Pakistan, India, dan Mesir merupakan salah satu negara yang lebih dari separuh jumlah penduduknya berada dalam usia sekolah. Generasi usia sekolah yang ada sekarang ini merupakan generasi yang akan menjadi lokomotif bagi Bangsa Indonesia 10-20 tahun ke depan, yang akan memberi arah perkembangan bagi bangsa ini. Bagi yang beruntung, walaupun terus di bayangi oleh tingginya biaya sekolah, mereka dapat bersekolah di tempat yang layak dengan segala fasilitas yang memadai, dan bagi yang lebih beruntung lagi dapat bersekolah dengan biaya SPP yang tinggi dengan fasilitas dan infrastuktur yang sangat bagus, bahkan ada pula yang Biaya SPP-nya dibayar dengan mata uang Dollar, walaupun lokasi sekolah mereka masih berada di wilayah NKRI.

Tapi Bagaimana dengan anak-anak usia sekolah yang drop out karena himpitan ekonomi? apakah mereka akan dibiarkan saja dihimpit kemiskinan dan menjadi beban bagi kita? Mungkin saja ada sebagian orang dengan sikap egonya yang berpendapat bahwa itu adalah urusan masing-masing, atau urusan pemerintah semata.

Tentulah kita semua tidak ingin ini semua terjadi, karena persoalan ini tidak lantas menjadi urusan masing-masing. Karena cepat atau lambat kita akan merasakan dampaknya. Berbagai kerawanan sosial sedang dan akan terus mengintai seperti bom waktu, pada akhirnya akan terjadi gangguan kamtibmas dan berbagai tindak kriminal yang meresahkan Masyarakat secara luas.

Karenanya diperlukan perhatian lebih serius dari berbagai pihak untuk mengelola suatu wadah pendidikan semacam PKBM, sebagai ”langkah Kecil” penyelamatan  generasi. Segala upaya dari Pemerintah, kelembagaan,  perorangan maupun  Swadaya masyarakat pada umumnya di harapkan menjadi kekuatan sinergis, seperti yang sudah tertuang dalam Peraturan  Pemerintah Indonesia Nomor 39 tahun 1992 tentang Peran Serta Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional. Selanjutnya pada UU RI THN 2003 SISDIKNAS   tentang pendidikan non formal / PLS, pasal 26; ayat  3 disebutkan bahwa Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat merupakan salah satu dari beberapa Satuan pendidikan non formal.

Demikian halnya sebagai pengajar atau tutor yang mengajar di Sekolah ini, kami sadar sepenuhnya bahwa kehidupan ini adalah sekolah yang sesungguhnya, sehingga dengan keikutsertaan mereka dalam Sekolah ini, serta berbagai kegiatan yang dilakukan, menjadi tempat belajar bagi kami, dan tidak akan terhenti sebagai suatu petualangan semata, segala aktivitas dalam  sekolah atau PKBM Suara Hati ini menjadi laboratorium yang berharga bagi Saya dan Rekan-rekan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012.

 

17 Comments to "Bertualang di Dunia Pendidikan"

  1. dinanda  10 May, 2012 at 08:11

    @Rina…., saya sudah berbicara, oughw…..

  2. rina s  4 May, 2012 at 21:16

    suka sekali dengan perumpamaan padang prairi , saya menyuka karya-karya karl may…

  3. dinanda  3 May, 2012 at 10:22

    Sekali lagi terimakasih buat semuanya atas tanggapannya, pada bung Chadra, mbak silvia, mbak Alvina, dan pada bu Nunuk : wah bu tulisan mengenai “keberhasilan” beberapa murid itu rasanya menimbulkan kekhawatiran pada saya, maksudnya saya khawatir nanti membuat saya menjadi subyektif…, mungkin suatu saat saya akan ntuliskan dalam kemasan yang tidak menimbulkan kesan bahwa itu adalah prestasi saya secara pribadi.. : )

  4. Alvina VB  3 May, 2012 at 05:11

    Bravo buat bung Dinanda dkk. utk usahanya dlm dunia pendidikan, pasti anak2 terinspirasi dan mendpt harapan utk masa depan mereka…

  5. Silvia  2 May, 2012 at 20:39

    Artikel nan apik.

  6. Chadra Sasadara  2 May, 2012 at 20:21

    hebat..hebat.. ini sangat menginspirasi. terima kasih

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.