Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

I’m Baaack…

Wednesday, 2 May 2012

Viewed 1538 times, 5 times today | 37 Comments |

Tammy – Shanghai

 

Minggu 25 maret 2012. Akhirnya hari itu untuk pertama kalinya kami bisa santai, setelah berbulan-bulan sibuk ini itu, mengatur dan mengerjakan apa saja yang perlu dikerjakan saat orang akan pindah tempat tinggal ke negara lain. Untuk sementara kami tinggal di sebuah serviced apartment dekat tempat suami bekerja. Di seberang jalan ada deretan restoran yang banyak dikunjungi para expat. Di antara restoran satu dan lainnya ada taman kecil sebagai pemisah. Tersedia juga bangku di sana sini. Asri sekali kelihatannya.

Di belakang restoran ada sungai. Minggu pagi itu kami bejalan-jalan menyusuri sungai. Sekali-kali kami duduk di bangku yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran sungai. Nggak banyak orang di sana. Hal yang sangat jarang kami jumpai, mengingat padatnya penduduk kota ini.

Ada dua orang berkostum koki yang sedang menjaring sesuatu. Mereka pasti koki di salah satu restoran tersebut. Rupanya jam sepuluh masih terlalu pagi buat mereka untuk memulai kerja. Apa tidak ada yang perlu disiapkan? Bukankah katanya kerjaan seorang koki dimulai jauh sebelum restoran buka? Anyway, ternyata mereka mendapatkan seekor kura-kura. Entah mau diapakan itu kura-kura. Dipelihara sebagai pet atau berakhir di wajan penggorengan?

Ada juga beberapa orang yang duduk-duduk memancing, walaupun sudah ada tanda dilarang memancing. Hmm… Some things stay the same here. Kulihat seorang bapak sedang menjaring sesuatu. Ternyata yang dijaring adalah snails (bekicot?). Aku minta ijin motret beliau nggak keberatan. Aku tanya, hasil tangkapannya itu untuk apa, beliau jawab, “Dimakan. Ditumis enak sekali.”

Di seberang sungai ada jalan menuju sebuah taman. Tapi di jalan masuk ada pos satpamnya. Kami coba-coba berjalan masuk, ternyata pak satpam diam saja. Belakangan baru kami tau kalau taman itu bebas untuk keluarga/anak kecil hanya saat weekend saja. Jadi pas hari kerja kalau kita mau masuk bawa anak kecil tidak akan diperbolehkan. Di taman itu ada danau yang cukup besar. Di sekitar danau ada beberapa gedung perkantoran. Area ini dinamakan Office Park. Aku bayangkan enak sekali kerja di lingkungan seperti ini. Saat jeda makan siang bisa makan sambil duduk-duduk di pinggir danau.

Daerah ini memang daerah baru. Sepuluh atau lima belas tahun yang lalu mungkin hanya ada sawah. Kemudian mulai bermunculan pabrik, disusul perkantoran. Sekarang banyak kompleks apatemen dan perumahan. Jalan rayanya lebar, juga ada bicycle lane. Jalur untuk pejalan kaki juga lebar. Karena banyak perusahaan internasional, maka banyak expat di daerah ini. Maka bermunculanlah restoran yang market utamanya adalah orang asing.

Sambil sesekali ngobrol dengan suami, aku sekali-sekali melamun. Begini toh yang namanya “nyantai” itu. Enaknya nggak perlu mikir packing, bersih-bersih rumah, atau appointment dengan real estate agents. Setelah 2 minggu keluar masuk sekitar 20 apartemen, akhirnya kami memutuskan yang mana yang kami tawar. Tinggal menunggu jawaban dari prospective landlord.

Pikiranku melayang ke dua minggu yang telah berlalu. Ada beberapa kejadian yang menurutku lucu.

Kejadian 1:

Di Australia kalau kami ke restoran dan ditanya datang berapa orang, kami selalu menjawab “two and a half”. Yang setengah artinya anak kecil yang memerlukan high chair atau baby seat. Kalau di sini, anak kecil juga dihitung satu, jadi kami selalu menjawab “san wei” (tiga orang). Nah yang menurut kami lucu itu, saat waiter/waitress datang membawa teh atau buku menu, kadang kami diberi tiga. Apa bayi-bayi di sini umur 15 bulan juga minum teh dan sudah bisa membaca ya?

 

Kejadian 2:

Hari ke-2 setelah kami tiba, suamiku bertanya ke sopir sambil menunjuk ke dashboard mobil, “CD?” Suamiku memang hanya bisa sedikit sekali bahasa lokal. Maksud suamiku, dia tanya CD playernya di mana, kok nggak kelihatan. Ternyata letaknya jauh di bawah, dan tertutup botol minum pak sopir.

Besoknya, waktu kami pakai mobil, sama pak sopir diputarkan CD lagu-lagu berbahasa Jerman. Entah apa pak sopir salah sangka waktu suamiku tanya CD player, dikira minta disediakan CD. Kami juga nggak tau apa dia tau itu bahasa Jerman dan bukan bahasa Inggris. Tiap kali dia putar CD itu kami sampai geli sendiri. Kami sebenarnya nggak enjoy mendengarnya, tapi nggak berani minta untuk dimatikan saja CD-nya, karena takut pak sopir jadi malu atau terlukai perasaannya. Jadinya PR: Next time ke toko DVD mesti cari juga CD musik.

 

Kejadian 3:

Tiga hari setelah nyampai di sini, kami minta ke receptionist untuk disediakan childproof gate. Karena kamar yang kami tempati ini dua lantai, kami kuatir si kecil memanjat tangga dan jatuh. Sewaktu kami booking kamar kami sudah bertanya mengenai childproof gate ini dan mereka menyanggupi.

Nah waktu itu dua orang datang menenteng gate kayu. Juga ada seorang wanita muda yang sepertinya adalah supervisor membawa walkie talkie. Dia memberi instruksi ke dua tukang tersebut dan keluar. Aku rada terheran-heran melihat gate yang mereka bawa. Jauh berbeda dari safety gate yang sering kujumpai di Australia. Ini kok seperti pagar kandang di desa-desa ya? Terus itu masangnya gimana?? Keningku sampai berkerut.

Mereka diskusi sesuatu dan sibuk mengukur dan menandai tembok. Diskusi lagi. Mereka ke atas untuk ngukur yang di atas.  Diskusi lagi. Aku tambah bingung. Salah satu tukang itu berkata, “Sekarang kami akan ngebor tembok. Suaranya keras, Anda tutupi telinga anak Anda.” Hah?!? Pasang safety gate aja mesti ngebor tembok? Takjub dot com.

Habis mengebor mereka diskusi. Entah ngomong apa, karena mereka menggunakan bahasa daerah. Aku nggak nyangka hal seperti  ini bisa jadi bahan diskusi yang kayaknya sulit banget. Mereka memanggil supervisor. Diskusi lagi. Kemudian mereka memberi tahu ke aku, “Anda punya tali? Ini nanti dipasang tali di sini untuk buka tutupnya.” Dia menunjukkan di mana tali mesti dipasang (yaitu di mana letak handuk berada pada gambar di bawah).

“Hah? Kan ribet banget kalau mesti buka tutup tali?” jawabku

Kemudian mereka diskusi lagi. Sementara itu datang dua orang housekeeping. Mereka menyapu bekas bor. Aku nggak ngerti kenapa menyapu saja mesti butuh dua orang. Satu tukang dan sang supervisor keluar. Sampai saat ini total sudah 40 menit berlalu sejak mereka pertama kali mengetuk pintu. Entah berapa kali pintu depan dibuka tutup dengan begitu banyaknya orang dan seringnya mereka keluar masuk.

Akhirnya tukang yang keluar itu masuk lagi membawa tali. Tali itu diikatkan di ujung gate bagian atas. Jadi membukanya tinggal digeser/diangkat.

“Begini bisa?” tanya si tukang.

Total sudah 50 menit sejak mereka datang. Nggak mungkin aku bilang tidak. Aku takut membayangkan berapa lama harus menunggu mereka cari solusi yang lain jika aku bilang tidak. Aku cuma berharap semoga saja gate itu nggak ambrol kalau didorong si kecil. Aku betul-betul nggak nyangka kalau masang childproof gate saja bisa jadi big project di sini.

 

Kejadian 4:

Saat kami bertiga keluar bareng, banyak orang lokal yang bertanya tentang si kecil, “Dia ngerti Mandarin nggak?” atau, “Dia bisa ngomong Mandarin?”

Kami bingung jawabnya. Menurut kami ini pertanyaan yang aneh sekali. Seumur-umur kami nggak pernah kepikir tanya seperti ini. Di Australia sering ketemu immigrant juga nggak pernah nanya ke mereka bayinya bisa ngomong Bahasa Inggris nggak.  Lah wong masih 15 bulan, belum bisa ngomong. Paling banter ya manggil mama papa. Diajak ngomong bahasa apa pun ya nggak benar-benar ngerti. Mereka kayaknya nggak tau kalau anak kecil itu diajak ngomong bahasa apa pun boleh-boleh saja. Nah waktu ada yang tanya bisa nggak ngomong Mandarin, aku jawab singkat “nggak bisa”, ada yang berusaha ngomong bahasa Inggris: “Halou! You welly good!”

Selasa 17 April 2012.  Akhirnya kami masuk apartemen sewaan, di kompleks yang sama di mana kami dulu tinggal. It certainly brings back a lot of memories. Hari pertama pindah pun kami sudah merasa betah. Walau ada yang berubah di sekitar kompleks, tapi masih banyak yang sama. Masih terasa seperti kembali ke rumah. It’s so good to be back. I love Shanghai!

 

Share This Post

Posted by Wednesday, 2 May 2012 on 10:26.

Categories: Dunia. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

37 Responses to “I’m Baaack…”

Pages: « 4 3 [2] 1 »

  1. 20
    Tammy Says:

    Lani:
    1. Lah makanya, aku sampe mendelik liat gatenya. Kok kayak kandang.
    2. Begitulah. Di saat kau bersenang-senang hanimun, ku refot mau pindahn.
    3. Jgn heran ya. Orang2 yg pertama kali liat china modern biasanya terkaget-kaget. Gedung2nya lebih megah drpd kebanyakan negara maju sekali pun. Jalan2 baru juga lebar dan bersih.

  2. 19
    Gandalf the Grey Says:

    wah kayak di Minhang district….
    welkam bak to sh, kapan ke sz?

  3. 18
    HennieTriana Oberst Says:

    Tammy, wah senang ya back to SH.
    Ini di mana ya? hehehe…mau tau aja
    Sekarang giliran aku yang mau pindahan juga bulan depan, back to Germany.
    Lucu, pintunya diiket handuk Lumayanlah, daripada anak jatuh.

  4. 17
    Sierli Says:

    Tammy, aku masih terbawa arus sedih, habis baca artikelnya YMEA (Teruntuk wanita2 tangguh)
    elalah..saat baca artikel kamu kok aku dah ketawa2 pake acara ngakak..hahaha…

    Indah nian lokasi kamu tinggal Tam..seperti di eropah ya..
    Semoga betah di tempat yg baru dan salam peluk cium buat baby-mu…muaaaaach.

  5. 16
    J C Says:

    Hahahaha…Tammy, satu keuntungan sebagai cowok kalau jalan-jalan blusukan sendiri di China. Kalau sangsi dan sempoyongan di toilet di tempat-tempat mblusuk, lebih nyaman di pinggir jalan atau ndepis di pepohonan untuk langsung mak-thuuuurrr… Lha memang rada repot kalau yang buang air besar sih…biasanya di hotel masih ok lah, walaupun hotel kecil. Prinsipnya berhati-hatilah di public toilet di tempat-tempat yang tak jelas, mblusuk atau terpencil…hahaha…

  6. 15
    Tammy Says:

    Pas: wah kalo itu sudah jelas. Indonesia skrg ketinggalan jauh. Politikusnya rebutan kursi dan jatah, gak ada waktu buat mikiri kemajuan negara.

    Han: kembali kasih.

    Han, Lani: jawaban JC sudah tepat sekali. Yg sangat2 serem itu biasanya di desa2 ato yg blusukan2 gitu. Contohnya di SH ini. Kotanya luas sekali. Di tempat2 yg blm dimodernisasi sangat mungkin masih ada toilet umum model selokan. Tp kalo pertokoan yg biasa2 standard toilet umumnya ya kayak di indo lah, toilet jongkok.. Kalo mall2 baru biasanya ada toilet duduk. Tergantung mallnya, ada yg kinclong, disediakan toilet paper, tp ada juga yg gak ada toilet paper, makanya kita ke mana2 mesti sangu.
    Malah aku yakin banyak mall, resto, hotel di sini yg toiletnya jauuuhh lebih wah drpd di indo.

    Kalo ke mau wisata ke china tp takut toilet ya jgn blusukan. Ikut tour aja, mainnya ke tempat2 yg banyak dikunjungi turis. Maka toiletnya juga gak serem. Nggak kinclong sih. Ya sama lah kayak di indo, malah mungkin masih bagusan dikit. Begono.

  7. 14
    J C Says:

    Lani, pak Hand, PamPam, seperti yang Lani tulis sampai tergilo-gilo dengan kisah toilet di China dan pak Hand bilang “kecuali toiletnya”, ya memang benar adanya dengan catatan di kota kecil dan mblusuk. Kalau di kota-kota besar seperti Shanghai, Hangzhou, Suzhou (yang aku pernah pergi) masih lebih banyak yang bersih dan mendingan ketimbang yang modal-madul. Kalau melihat foto-foto artikel ini, sepertinya kawasan itu bersih toiletnya. Sekali lagi memang masih ada saja toilet yang nggilani, karena itu menyangkut habit, tingkat pendidikan dan kematangan social awareness yang sangat-sangat bervariasi di China.

  8. 13
    Lani Says:

    TAMMY : ngakak sek yo wakakakak………..

    1. liat child proof nya jd kelingan temanku punya gate kayak gitu, tp utk anjing piaraannya…..agar jgn sampai nylonong keluar rumah……….

    2. jd sekrng balik lagi ke china to?

    3. lingkungan dr foto2 blasssssss ndak menyangka klu ini disatu tempat di china

    4. mmg indah china, aku akui……..tp WC, TOILET?????? wuiiiiiiiiih nggilani dan memedenikan……..amit2 jabang bayi jok kaget. wlu aku durung pernah melihat dgn mataku sendiri………..tp udah banyak crita to disini?????

  9. 12
    Handoko Widagdo Says:

    PASPEMPRES, Kecuali toiletnya .

  10. 11
    P@sP4mPr3s Says:

    Hmmm….. ternyata cina lebih maju daripada indonesia….
    lebih teratur dan tertata rapi…

Pages: « 4 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)